
Sasha, Cinta dan Bumi masih tetap duduk di kursi mereka saat perkuliahan hari ini selesai. Mereka bertiga terlihat menundukkan kepala mereka. Suasana yang cukup sunyi, sendu dan perasaan sedih telah menyelimuti mereka hari ini.
Bagaimana tidak, minggu ini adalah minggu terakhir Cinta dan juga Bumi bersama sahabat mereka Sasha.
"Kuliahmu bagaimana, Sha?" tanya Bumi membuka suara.
"Gue cuti dulu untuk pengobatan gue, Bom." Sasha masih menundukkan kepalanya dan tak berani menatap wajah kedua sahabatnya.
"Sayang banget, Sha. Padahal, tinggal selangkah lagi untuk lulus dan menjadi sarjana." Kali ini Cinta membuka suara dan menatap wajah Sasha yang terlihat sedih.
"Mau gimana lagi, Ta. Prioritas utama gue saat ini adalah sehat seperti dulu lagi. Gue masih pengen lulus, membahagiakan nyokap gue, masih ingin menikah dan masih ingin berjumpa dengan kalian berdua," katanya terdengar lirih.
Cinta menggenggam kedua tangan sasha dengan erat. Ia menatap sahabatnya itu dengan nanar.
Cinta sama sekali tidak menyangka jika sahabatnya itu akan mengalami hal yang paling menyedihkan seperti ini. Tapi, bagaimana pun, Cinta sangat bangga pada sahabatnya itu. Karena semangat hidupnya masih tinggi. Dan, hal itulah yang patut diapresiasi oleh semua orang yang mungkin mengidap penyakit yang sama seperti Sasha.
"Walau kita nantinya akan terpisah oleh jarak dan waktu, kapan pun elo membutuhkan teman untuk bercerita, kami selalu siap siaga 24 jam untuk lo, Sha." Bumi tersenyum lebar dan memegang bahu Sasha dengan lembut.
"Terimakasih banyak, Bom."
"Jangan sampai putus komunikasi yah, Sha." Suara Cinta mulai terdengar parau dan ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak meneteskan air matanya.
"Jangan lupain gue yah, Cikur, Bombom. Doain gue supaya gue bisa cepat sembuh."
"Doa kita selalu menyertaimu, Sha." Kali ini kedua bola mata Bumi mulai terlihat berkaca-kaca dan berusaha untuk menahan rasa sedihnya.
__ADS_1
"Gue sayang kalian berdua."
Cinta memeluk Sasha dengan erat. Melihat kedua sahabatnya berpelukan, Bumi bergabung bersama sahabatnya dan berpelukan erat dengan rasa persahabatan yang mereka miliki.
Mereka bertiga menangis bersama. Walau perjanjiannya mereka tidak akan menangis, tapi rasa sedih yang menyelimuti mereka begitu membelenggu dan itu membuat ketiganya tidak kuasa menahan air mata mereka lagi.
Langit berdiri di dekat pintu kelas Sasha. Ia melihat Sasha sedang bersama kakaknya dan juga sahabatnya. Melihat kehadiran Langit, Cinta mengajak sahabatnya itu untuk berjalan menghampiri adiknya.
"Jaga sahabat gue baik-baik yah, Lang," tutur Cinta pelan sambil menepuk pundak Langit pelan kemudian pergi.
Langit menganggukkan kepalanya pelan. Bumi mengikuti Cinta dari belakang. Ia tersenyum tipis dan memegang bahu kanan Langit kemudian pergi menyusul Cinta.
Sepeninggalnya Cinta dan juga Bumi, Sasha dan Langit saling beradu pandang. Mereka saling bertatapan dengan rasa yang bercampur aduk yang menyelimuti mereka. Ada perasaan Sedih, senang, rindu dan juga cinta yang mereka rasakan saat ini.
Saat berada di parkiran, Kejora yang hendak pulang tidak sengaja melihat Langit dengan Sasha yang sedang bergandengan tangan. Bahkan, sikap manis Langit yang membukakan pintu mobil untuk Sasha membuat Kejora merasa cemburu dan juga sedih.
"Kenapa elo melepaskan Langit begitu saja, Ra? Kalau lo masih sayang sama Langit, harusnya elo tidak memutuskan hubungan lo dengannya," kata Keke yang berdiri di belakang Kejora dan melihat ada tatapan merintih pekik dari kedua bola mata sahabatnya itu.
"Gue sama Langit putus baik-baik ko, Ke."
"Yang namanya putus gak ada yang baik-baik saja, Ra. Yang namanya putus pasti akan ada perasaan terluka. Dan, hal itu akan membuat kalian akan saling melukai satu sama lainnya."
Pernyataan Keke barusan membuat Kejora terdiam. Pernyataannya memang benar, tapi nasi sudah menjadi bubur. Dan, inilah pilihan Kejora untuk hubungan singkatnya dengan Langit yang harus ia terima dengan lapang dada.
"Gue bahagia melihat mereka bahagia, Ke."
__ADS_1
"Tapi, elo tidak bahagia dengan hubungan mereka, Kejora," tegas Keke yang terlihat kesal.
"Gue cukup bahagia, Ke. Karena sebenarnya di sini gue yang salah. Sejak dulu, mereka berdua saling mencintai. Gue seperti menjadi dinding pemisah diantara cinta Langit dan juga Sasha. Gue yang masuk dalam kehidupan cinta mereka berdua, Ke. Elo tahu? Cinta mereka berdua tulus. Dari mereka berdua, gue mendapatkan satu pelajaran berharga tentang cinta.
"Cinta mereka begitu kokoh, indah dan juga murni, Ke. Dalam diamnya, mereka tetap saling mencintai satu sama lainnya. Dan, gue rasa tidak ada cinta seindah Sasha untuk Langit, begitu pun sebaliknya. Gue banyak belajar dari mereka.
"Tapi, dengan tulus gue selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua."
"Walau pun hati lo tersakiti?" tanya Keke yang kali ini menyindir sahabatnya dengan perkataan pedasnya.
"Walau pun hati gue tersakiti, Ke."
"Jadi, apa keputusan lo? Elo akan benar-benar putus dengan Langit dan melupakannya?"
"Cinta gue untuk Langit juga tulus, Ke. Menjadi kekasihnya dalam beberapa bulan ini, walau sangat singkat tapi itu bermakna untuk gue."
Keke menghela nafas panjang. Kejora meneteskan air matanya saat melihat mobil Langit melaju pergi. Keke tahu percis rasa suka Kejora untuk Langit sejak dulu. Perjuangannya sungguh luar biasa, mulai dari menyukainya secara diam-diam, hingga mereka memutuskan untuk berpacaran walau pada akhirnya berpisah.
"Semoga lo bahagia, Ra. Gue harap lo bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Langit."
Kejora kembali meneteskan air matanya. Ia langsung memeluk Keke dengan begitu erat dan menangis dalam pelukannya.
"Biarkan hari ini gue tenggelam dalam gelapnya kesedihan gue, Ke."
"Elo pasti bisa, Ra. Elo gadis yang kuat. Gue selalu ada bersama lo."
__ADS_1