
“Langit!” panggil seseorang yang membuyarkan semua lamunannya hingga membuat Langit langsung menatap wajah seseorang yang telah memanggil namanya.
"Sha?”
“Kenapa lo? Lagi ada masalah?" tanya Sasha yang langsung duduk di sebuah kursi kosong tepat di hadapan Langit seraya menyimpan gelas minuman yang baru saja dipesannya.
Langit terdiam beberapa detik. Namun, ia kembali menatap wajah Sasha yang terlihat mungil dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat serius.
“Sha, kalau cewe suka sama seseorang tapi seseorang itu gak suka sama dia, biasanya apa yang mereka lakukan?” tanya Langit tiba-tiba sambil menghadap ke arah Sasha dan menatapnya begitu lekat.
“Suka sama seseorang?”
Langit mengangguk pelan dan semakin memperdekat jarak duduknya dengan wanita yang berada di hadapannya itu.
“Ada banyak hal yang biasanya dilakukan oleh seorang perempuan kalau dia mengalami hal seperti itu. Itu sih tergantung tipe perempuannya dulu seperti apa.”
“Salah satunya?”
“Mungkin ada yang menyerah dan hanya menyimpan rapat-rapat perasaannya itu. Asalkan orang yang dicintainya itu bahagia dan selalu tersenyum walau senyumannya itu bukan untuk kita,” tutur Sasha sambil menatap kedua bola mata Langit dengan seksama.
“Tapi, seharusnya perempuan itu mengatakan perasaannya yang sebenarnya. Pria kan tidak akan pernah tahu kalau ada seseorang yang menyukainya.”
“Itulah perbedaannya perempuan dengan laki-laki, Lang. Laki-laki itu tidak pernah peka dengan lingkungan sekitarnya. Ada beberapa hal yang tidak harus diucapkan dan dikatakan oleh seorang perempuan kalau itu menurutnya yang terbaik. Mungkin dia akan terus menunggu.”
“Menunggu hal bodoh yang tidak pasti? Wanita memang aneh, kita sebagai pria pasti bingunglah kalau perempuan yang suka sama kita itu tidak mengatakan apa-apa. Bagaimana mau peka kalau dia tidak berbicara. Sesuatu hal itu harus dibicarakan bukan untuk dipendam. Bersikap realistis dan simple, itu akan mempermudah semuanya.”
Sasha tersenyum kecil dan meneguk segelas juice lemon tea miliknya, “Cinta itu bukan untuk di ucapkan Langit, tapi cinta itu untuk dirasakan. Ketika cahaya itu berubah menjadi gelap dan mulai sirna, semua akan terasa rumit. Tapi, ketika kegelapan itu mulai bersinar kembali, kenikmatan yang kita rasakan dalam hati akan berkembang dan tumbuh menjadi besar. Cinta adalah cahaya dan cahaya adalah keindahan yang dirasa.”
Langit menatap wajah Sasha begitu lekat. Ia bisa melihat dengan jelas hidung Sasha yang mancung dan kedua bola matanya yang indah. Walau rambutnya terlihat bergelombang, namun Langit bisa melihat perempuan yang kini duduk di hadapannya itu terlihat menarik dan sangatlah manis.
Senyuman lebarnya itu sangat menenangkan hati. Langit merasa kagum dengan semua yang sudah di ucapkan oleh Sasha tadi. Perempuan yang selama ini berteman dekat dengannya itu memang selalu membuat Langit terkagum-kagum dengan hal apa pun yang ia lakukan. Dan kekagumannya terhadap Sasha itu, ternyata membuat hatinya tergerak untuk melakukan sesuatu hal yang jauh lebih dalam.
"Gue kagum sama lo, Sha."
"Gue tahu itu, Lang," ujar Sasha sambil tersenyum tipis namun ia menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Gue . . . . "
"Jangan mengatakan sesuatu hal yang nantinya membuat gue menjauh dari lo, Lang," potong Sasha cepat hingga membuat Langit langsung menatap wajah Sasha dengan bingung.
"Kenapa, Sha?"
"Gue takut suatu saat nanti lo akan menyesal. Dan, gue takut kalau nantinya gue akan terjebak dalam sebuah ruangan gelap tak berpintu."
Langit terdiam. Ia kembali menatap wajah Sasha dan memandanginya dengan tatapan mata yang sangat sulit diartikan.
"Gue bisa buka ruangan gelap itu, Sha."
"Elo tidak akan mampu, Lang."
"Gue mampu kalau lo sedikitnya membuka kegelapan itu dengan setitik cahaya yang lo miliki."
"Lang, gue??"
"Oh iya, gue lupa. Elo sudah memiliki cahaya itu. Maaffin gue, Sha," ujarnya yang kemudian pergi.
"Lang???" teriak Sasha memanggil Langit. Namun, Langit pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun kepadanya.
Ada sesuatu hal yang terjadi diantara mereka. Dan, gue yakin, gue tidak akan mampu menembus masuk ke dalam rumah yang mereka bina selama ini. Batin Kejora.
♪♪♪
“Cinta!” panggil Pelangi yang tiba-tiba saja membuka pintu kamar kakaknya dengan kasar.
“Lo gak sopan banget sih, kalau mau masuk itu ketuk-ketuk dulu kek gitu! Main nyelonong gitu aja, gimana kalau gue lagi telanjang coba?” sewot Cinta yang kebetulan sedang mengerjakan tugasnya.
“Sejak kapan lo akrab dengan Awan?” tanya Pelangi yang membuat Cinta cukup terkejut dan sesaat menghentikan aktivitas mencatatnya. “Kenapa elo nggak pernah bilang sama gue kalau lo berteman akrab dengannya? Apa yang lo sembunyiin dari gue?”
“Maksud lo apa, sih?”
“Gak usah berlaga ****, gue tahu kalau lo sama Awan itu berteman baik. Elo tahu sendiri kan, kalau gue itu suka sama Awan. Kenapa elo ngerebut Awan dari gue? Saudara macam apa yang mengambil keuntungan dari saudaranya kandungnya seperti itu?”
__ADS_1
“Eh, jaga ya tuh mulut lo! Siapa juga yang ngerebut Awan dari lo? Lagian, Awan kan bukan cowo lo juga. Kenapa lo harus sewot?”
“Tapi, elo kan tahu sendiri, sejak dulu gue suka banget sama Awan. Dan, gue paling gak suka kalau lo bohong sama gue. Elo suka sama Awan? Kalau lo suka sama Awan, kenapa lo gak bilang dari awal? Pake bilang kalau Awan bukan tipe lo segala lagi, tahu gak itu artinya apa? Elo itu munafik!”
“Jaga mulut lo, Pelangi!” teriak Cinta hingga membuat Langit yang baru saja pulang terkejut dengan teriakannya.
“Ada apaan sih ribut-ribut? Jangan-jangan mereka berantem lagi! Gawat!” seru Langit yang langsung bergegas menuju lantai dua.
“Elo yang seharusnya jaga mulut lo! Elo udah ngebohongin gue. Gue fikir, kalau saudara sendiri itu gak akan nusuk gue dari belakang. Tapi, ternyata gue salah. Elo malah lebih berbahaya dari cewe munafik!”
Plakk . . . tiba-tiba saja Cinta menampar pipi Pelangi begitu keras hingga membuat Langit terkejut dengan apa yang sudah dilakukan oleh kakaknya itu.
“Cinta, elo apa-apaan?” teriak Langit yang terlihat sangat terkejut.
“So . . . sorry, Ngi! Gue . . . gue gak bermaksud!”
“Elo tampar gue? Mamih sama papih aja belum pernah nampar gue, tapi lo udah berani nampar gue?” teriak Pelangi yang mulai menitikkan air matanya. “Gue kecewa sama lo. Gue benci sama lo!” tangisnya yang kemudian pergi.
“Ngi . . . Pelangi!” teriak Cinta yang berusaha untuk mengejar Pelangi, namun dihalangi oleh Langit.
“Elo gila? Elo udah gak waras nampar adik lo sendiri? Dia itu adik lo, saudara kembar lo sendiri! Cuma gara-gara cowo, elo nampar adik lo? Sakit jiwa lo!” teriak Langit yang tampak kecewa kemudian pergi meninggalkan Cinta di kamarnya.
Cinta terlihat sangat syock dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia menatap telapak tangannya yang sudah menampar saudara kembarnya sendiri. Sementara Pelangi, ia langsung pergi begitu saja sambil mengendarai mobil Mercy milik ayahnya dengan air mata yang terus berjatuhan dari pelupuk matanya.
“Ngi, tunggu dulu! Aduh, kenapa pake acara pergi segala sih, malah bawa mobil lagi! Dia kan belum lancar bawa mobil. Argghh, damn!”
Langit langsung mengambil kunci mobilnya dan langsung mengejar kepergian adiknya itu. Pelangi terlihat mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Tanpa ia sadari, ia sudah berhenti tepat di depan rumahnya Bumi. Entah apa yang difikirkan olehnya saat ini? Tapi, fikirannya saat ini sangatlah kacau. Karena sudah terlanjur berada di rumah Bumi, Pelangi pun memutuskan untuk meneleponnya.
“Hallo, Pe? Ada apa?” tanya Bumi yang baru mengangkat telepon ketika ia sedang mengejarkan tugas di dalam kamarnya.
“Gue ada di depan rumah lo.”
“Depan rumah gue? Tunggu, gue ke depan.”
Bumi langsung menutup teleponnya dan bergegas menuju halaman rumahnya. Saat melihat Pelangi yang baru saja keluar dari mobil Mercy yang terparkir di depan rumahnya, ia langsung menghampiri Pelangi yang terlihat sangat kacau.
__ADS_1
“Pelangi? Elo kenapa? Kenapa elo nangis?”
Tiba-tiba saja Pelangi memeluk Bumi begitu erat dan menangis hebat di dalam pelukannya. Bumi yang dipeluk secara tiba-tiba seperti itu begitu terkejut. Ia hanya bisa membalas pelukannya dengan memeluknya begitu erat dan mencoba untuk menenangkannya.