
Pelangi langsung melepaskan dirinya dari Bumi. Dengan reflek, ia langsung menamparnya dengan begitu keras dan terlihat begitu kesal dengan perlakuan Bumi yang tiba-tiba saja mencium bibirnya.
“Sorry, Ngi! Gue gak bermaksud . . . . ”
“Elo merebut ciuman pertama gue!” teriaknya sambil menangis kemudian pergi.
“Pelangi!!” teriak Bumi yang langsung mengejar kepergiannya.
"Jangan mengikuti gue!" teriak Pelangi kembali sambil menunjuk wajah Bumi dengan penuh emosi.
Bumi terlihat merasa bersalah sekali dengan apa yang sudah ia lakukan kepada gadis yang sangat ia cintai itu. Karena merasa frustasi dengan apa yang telah ia lakukan, Bumi berteriak begitu keras dan mengacak-ngacak rambutnya dengan kesal.
Awan terlihat begitu khawatir saat melihat Cinta yang sejak tadi tidak bersuara. Melihatnya yang nampak murung seperti itu, ia berinisiatif untuk mengajaknya pergi ke sebuah lapangan yang tak jauh dari arah rumah Cinta.
“Ngapain elo ngajak gue ke sini?”
“Kita main bola gimana? Yang kalah nanti harus menggendong yang menang. Setuju?”
“Gue lagi bad mood banget, lebih baik gue pulang aja!” katanya pelan kemudian pergi.
“Elo boleh mengeluarkan semua jurus karate lo, Ta. Elo boleh pukul gue sesuka hati lo. Tapi, please, elo jangan seperti ini terus. Gue nggak suka lo yang pemurung seperti ini!” teriak Awan hingga membuat Cinta menghentikan langkahnya.
Cinta menatap wajah Awan dengan seksama. Tiba-Tiba saja ia berlari ke arah Awan dan mengaitkan kakinya ke arah kaki kiri Awan dan melipat kedua tangannya ke belakang hingga Awan merunduk dan tak melawan dengan apa yang sudah Cinta lakukan padanya.
Ia juga mulai menjatuhkan Awan ke dasar tanah dan menjatuhkan dirinya sendiri ke arah tubuh Awan yang tergeletak di tanah.
“Arghh!” teriak Cinta begitu kerasnya.
“Sudah puas?” tanya Awan sambil menatap wajah Cinta.
“Ya, gue puas banget!” teriak Cinta tersenyum riang.
Mereka berdua saling melempar senyum dan menatap suasana langit malam yang penuh dengan ribuan bintang yang berkelap-kelip begitu indah.
__ADS_1
“Cinta?” panggil Awan pelan.
“Iya?”
Awan beranjak berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya sambil memandang ke atas langit dengan sorotan mata yang sangat sulit diartikan.
“Elo harus tetap tersenyum, yah? Walau cinta lo bertepuk sebelah tangan, walau lo tidak bisa mendapatkan orang yang lo sukai, elo harus tetap tersenyum seperti ini.”
“Kenapa tiba-tiba elo jadi serius begini?”
“Elo cinta banget ya sama sahabat lo itu?” tanya Awan hingga membuat Cinta terdiam sejenak. “Apa dia salah satu alasannya yang membuat lo menolak gue? Apa elo tidak bisa belajar untuk mencintai orang lain?”
“Gue bukannya menolak lo karena Bumi, Wan. Tapi, gue nggak mau mencintai lo setengah hati. Gue nggak mau badan gue ada bersama lo, tapi hati dan raga ini pergi bersama orang lain. Gue ingin mencintai lo bukan karena suatu paksaan atau suatu alasan. Tapi, gue ingin mencintai lo karena hati gue telah memilih lo untuk bersama gue.”
"Apakah lo pernah merasakan rasa yang lo rasakan saat ini terhadap Bumi untuk gue, Ta?"
Cinta kembali terdiam. Ia menatap ke atas langit kemudian tersenyum tipis.
"Gue tidak pintar soal rasa cinta, Wan. Tapi, gue nyaman saat bersama lo. Dan, elo adalah salah satu pria yang membuat gue akhir-akhir ini bahagia."
Cinta memang tidak bisa dipaksakan dan itulah alasan kenapa Awan tidak ingin memiliki Cinta. Karena ia tidak ingin Cinta memilihnya karena sebuah keterpaksaan.
“Sekarang, gue mengerti kegelisahan yang sedang lo hadapi, Lang,” tutur Kejora membuka suara saat dirinya tengah duduk bersama di teras depan rumah hingga Langit menatap wajahnya.
“Gue bukannya lancang ingin ikut campur dalam urusan kisah cinta saudara-saudara lo. Tapi, gue hanya bisa mengatakan kalau jujur itu lebih baik meski itu menyakitkan.”
“Itu saran yang bagus, tapi salah satu diantara mereka belum ada yang mau berkata jujur, Ra. Maka dari itu, kesalah fahaman sering terjadi diantara mereka.”
“Yang gue tahu, sejak makan malam tadi, Awan terus memperhatikan Cinta dan Bumi juga sepertinya terus memandangi Pelangi. Dan, rasa suka Awan untuk Cinta sepertinya lebih dalam.”
“Kenapa lo bisa mengatakan hal itu?” tanya Langit begitu penasaran.
Kejora mengatur nafasnya secara perlahan. Ia mulai menatap wajah Langit dengan berani dan menarik-narik ujung pakaiannya dengan gugup.
__ADS_1
“Jujur, gue kagum dengan pribadi yang lo miliki, Lang. Sejak awal masuk kuliah, gue sering memperhatikan lo. Saat gue menonton pertandingan basket lo, gue sering mendapati Awan tengah memandangi Cinta dari kejauhan.”
“Apa? Lo serius?” tanya Langit begitu terkejut.
Kejora menganggukkan kepalanya.
“Gue sering memergoki Awan yang sering menonton pertandingan karate Cinta, gue juga pernah mendapatinya tengah memperbaiki ban motor milik Cinta yang kempes. Bahkan, gue juga pernah melihat Awan menyimpan payung miliknya di dekat loker milik Cinta saat hujan turun begitu derasnya,” ceritanya panjang lebar.
“Jadi, selama ini Awan diam-diam menyukai Cinta? Bukan Pelangi?”
Kejora menganggukkan kepalanya lagi seraya membenarkan kacamatanya yang melorot.
“Awan sudah menganggap Cinta begitu istimewa. Perhatiaannya secara diam-diam, mengisyaratkan kalau rasa sukanya untuk Cinta begitu dalam dan sudah begitu lama. Sama halnya seperti rasa yang gue miliki untuk lo,” ungkapnya secara tiba-tiba hingga membuat Langit begitu terkejut mendengarnya.
“Maksud lo, Ra?”
“Seperti yang gue bilang sebelumnya, gue sudah mengagumi lo sejak awal perkuliahan. Sama halnya rasa kagum Awan untuk Cinta, jadi gue bisa merasakan apa yang dirasakan Awan untuk saudara lo.”
Kejora mencoba untuk mengatur nafasnya. Ia mulai terlihat gugup dan bibirnya yang semula mengatup kini mulai bergetar. Ia mulai memegang ujung bibirnya dengan telunjuknya.
“Langit, gue suka sama lo," katanya pelan sambil menatap wajah Langit dan membuat Langit begitu terperangah mendengarnya.
"Ra, gue . . . ."
"Elo tidak usah menjawab, Lang. Gue tahu siapa perempuan yang ada di hati lo sekarang. Sejujurnya, dengan elo yang mengajak gue ke rumah lo untuk makan malam bersama keluarga lo saja itu sudah membuat gue senang. Gue bisa mengenal lo lebih dekat saja itu hadiah terindah untuk gue."
Langit terdiam. Ia tidak menyangka jika Kejora akan mengungkapkan perasaannya. Ia juga tidak menyangka kalau Kejora sudah menyukainya sejak lama.
"Ra, gue nyaman sama lo. Gue senang bisa mengenal lo, bahkan gue kagum dengan pribadi lo yang hangat. Untuk beberapa saat, gue pernah mengalami hal di luar nalar saat sedang bersama lo. Gue pernah merasakan rasanya debaran jantung yang tidak biasanya saat bersama lo. Tapi . . . . "
"Gue faham, ko, Lang."
"Gue ingin meyakini hati gue dulu, Ra. Gue nggak mau menyakiti hati gue sendiri. Gue juga tidak ingin menyakiti hati lo. Elo gadis yang baik, Ra. Gue nggak mau membuat lo kecewa atau pun menangis karena gue."
__ADS_1
“Biarkan perasaan ini melebur dengan sendirinya, Lang. Gue sudah tidak ingin memendam rasa ini lagi. Jadi, biarkan ke depannya takdir yang menentukan jalan hidup kita.”