
Selama hampir 2 jam di dalam perjalanan, Langit memparkirkan mobilnya begitu tiba di salah satu tempat yang banyak ditumbuhi oleh pepohonan yang menjulang tinggi.
"Kita sudah sampai," tutur Langit begitu sampai di tempat yang ia tuju.
"Tempatnya bagus juga, Lang. Elo sering ke sini?"
Langit tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis kemudian membuka seatbelt. Begitu membukakan pintu mobil untuk Sasha, Langit mengulurkan tangan kanannya ke arah Sasha bermaksud untuk membantunya untuk keluar dari mobil dengan sikap manisnya.
Sasha tersenyum simpul. Ia membalas uluran tangan Langit kemudian meraih tangan kanannya. Mereka berdua saling melempar senyum. Setelah itu mereka berdua pun memutuskan untuk berjalan-jalan bersama-sama mengelilingi tempat yang cukup teduh dan rindang itu.
"Sha." Langit memanggil nama Sasha pelan dengan tangannya yang tiba-tiba saja menggandeng tangan Sasha yang mungil.
"Hmm . . . "
"Terimakasih sudah hadir di dalam kehidupan gue."
Sasha menghentikan langkah kakinya. Kemudian ia menatap wajah Langit dengan kedua bola matanya yang terlihat berkaca-kaca.
"Walau pun sangat singkat, tapi itu sangat bermakna untuk gue, Sha. Maaffin gue juga karena mencintai lo di waktu yang salah. Harusnya, gue tidak boleh memendam perasaan ini di saat lo memiliki Guntur. Gue mungkin sedikit egois."
"Gue sama Guntur kan sudah berpisah, Lang. Jadi, nggak masalah kan kalau elo memendam perasaan itu? Toh, kita juga sudah sama-sama tahu tentang perasaan masing-masing."
"Iya, gue tahu itu. Tapi, kalau saja gue bungkam, kalau saja gue diam, mungkin kejadiannya akan berbeda."
Sasha tersenyum simpul. Ia memegang kedua pipi Langit dengan kedua tangannya seraya menatapnya dengan lembut.
__ADS_1
"Cinta itu tidak pernah salah, Lang. Cinta itu memang kadang selalu datang di saat waktu yang tidak tepat. Kita memang tidak bisa mengendalikannya, tapi kita saling mengenal juga karena Cinta bukan?" katanya sambil tersenyum lebar.
Langit tertawa lebar dan Sasha pun ikut tertawa bersamanya. Memang benar yang dikatakan Sasha barusan, mereka saling mengenal karena Cinta, kakak Langit dan juga sahabat Sasha.
Sadar tak sadar, mereka berdua pun saling mencintai dalam diam mereka karena Cinta juga. Dan, mereka berdua juga banyak berhutang budi tentang perasaan mereka kepada Cinta.
"Maaffin gue yah, Lang." Sasha menundukkan kepalanya.
"Maaf untuk apa?" tanya Langit bingung.
"Karena gue, hubungan lo sama Kejora jadi berantakan."
Langit menggeleng kemudian tersenyum tipis.
"Bukan karena lo, Sha. Gue juga di sini salah. Karena gue, Kejora jadi tersakiti. Gue sudah melukai perasaannya, Sha. Tapi, gue juga sangat berterimakasih sekali kepadanya. Dia gadis yang baik dan dewasa. Kalau bukan karenanya gue juga tidak akan ada di sini bersama lo."
"Jaga dirimu baik-baik di sana, Sha. Kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungiku. Aku harap kita bisa secepatnya kembali bertemu. Semoga pengobatanmu di sana berjalan lancar. Maaf kalau aku tidak bisa menemanimu di sana dan aku berharap kita bisa secepatnya kembali bertemu. Aku akan menunggumu di sini."
"Kamu tidak perlu menungguku, Lang. Aku tidak ingin kamu terluka karena telah menungguku."
Langit kembali menggelengkan kepalanya dan menatap wajah perempuan yang disukainya itu begitu dalam.
"Aku akan tetap menunggumu, Sha. Menunggu adalah hal yang mudah untukku. Itu merupakan sebuah kewajiban."
"Langit . . . "
__ADS_1
"Sha?" panggilnya pelan.
"Mmh . . ."
"I love you."
Sasha meneteskan air matanya yang kemudian membasahi kedua pipinya begitu mendengar kalimat pendek yang dilontarkan Langit barusan.
"I love you so much, Anastasya Ardina Cyntia Bella."
"I love you so much, Langit Wibawa Agustin Mukti Pradipta."
Langit semakin memperdekat jaraknya berdiri dengan Sasha. Dia mulai memberanikan dirinya untuk memegang wajah mungilnya Sasha. Sambil meraih tangan kiri Sasha, Langit mencoba untuk mencium bibir tipis Sasha dengan penuh cinta.
Biarkan langit biru yang terlihat cerah dan pohon-pohon yang menjulang tinggi itu menjadi saksi bisu kisah cinta Langit dan juga Sasha yang murni juga suci.
Langit melepaskan ciumannya kemudian memeluk Sasha begitu erat dan penuh kasih sayang. Ia juga mencium kening Sasha dan menatap perempuan yang berdiri di hadapannya itu dengan rasa cinta yang teramat dalam.
"Janji satu hal padaku, Sha."
"Apa?"
"Kembali dengan sehat dan kita mulai lagi dari awal."
"Aku janji padamu."
__ADS_1
Langit kembali tersenyum dan kembali memeluk Sasha dengan sangat erat.