Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Kecewa


__ADS_3

Setelah acara makan malam bersama keluarganya selesai dan kembali pulang ke rumah, Cinta mengajak Billy dan Boby; kedua anjing kesayangannya itu untuk pergi berjalan-jalan di sekitar taman komplek rumahnya.


“Sepertinya, kalian berdua harus ke salon. Bulu-bulu kalian sudah mulai rontok,” ujar Cinta sambil membelai-belai dengan lembut kepala kedua anjingnya itu.


“Hey!” panggil seseorang dari arah belakang.


Merasa ada seseorang yang menyapanya, Cinta langsung membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara itu berasal.


“Awan? Kenapa lo bisa ada di sini?” tanya Cinta tampak terkejut begitu melihat sosok pria tegap yang berdiri di hadapannya itu adalah Awan; pria yang disukai adiknya.


Awan tersenyum tipis dan kembali membuat Cinta terperangah begitu melihat Awan yang akhir-akhir ini selalu saja tersenyum kepadanya.


“Gue lagi cari angin malam,” jawabnya pendek kemudian memparkirkan motornya di tepi taman.


Setelah memparkirkan motornya, ia langsung duduk di samping Cinta; di tepi air mancur yang berada di taman komplek rumahnya.


“Kenapa lo bisa tahu daerah rumah gue?” tanya Cinta kembali.


“Gue sengaja mengikuti lo saat lo dan keluarga lo ada di restoran untuk merayakan hari jadi orang tua lo.”


“Mengikuti gue? Tadi lo ada di restoran saat gue bersama keluarga gue?”


Awan terdiam tak bergeming. Dinginnya malam, membuat ke duanya terdiam tak bersuara. Suasana yang sunyi senyap, membuat keduanya sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.


“Suara lo bagus juga, pertunjukan lo dengan ke dua saudara kembar lo sangat memukau. Gue sangat menikmati sekali,” katanya membuka suara.


"Thanks."


Mereka berdua kembali terdiam dan saling mengalihkan pandangan mata.


"Kenapa lo ke sini, Wan?" tanya Cinta yang akhirnya memberanikan dirinya untuk membuka suara.


“Gue sedang membutuhkan teman bicara,” katanya yang terlihat muram.


“Emangnya elo gak punya temen di kampus?” Cinta menatap wajah Awan.


Awan menggeleng dan menundukkan kepalanya hingga membuat Cinta tidak percaya begitu mendengar penuturannya itu.


“Sejak Sma, gue tidak pernah merasakan mempunyai seorang teman, Ta. Lagi pula, gue sama sekali tidak berminat untuk mempunyai teman.”


“Pantas saja elo sering banget sendirian di kampus dan selalu dingin terhadap orang lain. Tapi, elo hidup di dunia itu bukan untuk menyendiri, Wan. Elo harus mempunyai teman untuk saling bergantung sama lainnya.”


Awan tersenyum menyeringai. Ia memainkan ke dua kakinya kemudian menatap ke arah langit malam yang berkabut.


“Dulu, gue pernah punya teman. Tapi, pada akhirnya dia mengkhianati gue,” jawabnya dengan ekspresi wajah yang terlihat sendu dan juga kesepian.


“Kenapa bisa begitu?” tanya Cinta yang mulai penasaran dan tertarik akan kehidupan pria yang duduk di sampingnya itu.


Awan menatap wajah Cinta begitu dalam. Tatapan matanya terlihat sendu, wajahnya terlihat sangat lelah. Ia seperti memikul beban yang begitu berat.


Awan kembali tesenyum, kemudian ia mulai membelai kepala ke dua anjing milik Cinta dengan lembut.


“Anjing lo lucu, siapa namanya?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.


“Yang coklat Boby, yang putih namanya Billy.”


“Nama yang bagus.”


“Elo belum jawab pertanyaan gue, Wan.”


Awan kembali terdiam dan memalingkan wajahnya. Ia kembali menatap ke arah langit dengan ekspresi wajah yang tampak sendu.


“Dia berteman dengan gue hanya untuk memanfaatkan gue, Ta. Sejak saat itu, gue tidak pernah percaya lagi dengan apa yang namanya teman,” katanya yang akhirnya menjawab.


“Tapi, itu nggak harus membuat lo untuk menyerah, kan?”


Awan tersenyum tipis dan kembali bermain dengan ke dua anjing milik Cinta.


“Tapi, kenapa lo ceritakan semua ini sama gue? Gue kan bukan teman lo. Kita juga sama sekali tak mempunyai hubungan yang spesial."


"Elo cewe yang berbeda dari yang gue kenal, Ta.”


Cinta terdiam. Namun, ia kembali tertawa dan meninju dada Awan dengan kasar.


“Kasar banget lo jadi cewe, nggak ada lemah lembutnya sama sekali!”

__ADS_1


“Itu yang harus lo tahu, gue itu bukan tipe cewe kebanyakan. Kalau lo mau cewe yang lemah lembut, lo harus ketemu sama Pelangi. Dia cantik, feminim dan lemah lembut. Suaranya juga bagus, jago main piano lagi,” papar Cinta mempromosikan adiknya.


“Gue nggak tertarik cewe seperti itu," katanya menjawab.


“Maksud lo? ”


“Gue tertariknya sama lo,” ujar Awan pelan hingga membuat Cinta begitu terkejut dan menatap wajah Awan dengan ke dua bola matanya yang membulat. “Elo unik, gue seperti berhadapan dengan diri gue sendiri. Gue seperti sedang bercermin.”


“Bercermin?” ulang Cinta tampak bingung, “unik karena gue phobia ketinggian sama phobia darah? Terus gue alergi pedas, itu yang bilang lo unik tentang diri gue?”


Awan tertawa lebar kemudian melepas ikat rambut Cinta sampai rambutnya yang bergelombang terurai.


“Hey!” teriak Cinta kesal.


“Setiap orang pasti mempunyai kelemahannya tersendiri Cinta. Oh iya, elo hutang satu penjelasan sama gue.”


“Penjelasan apa lagi?” tanya Cinta sambil mengikat rambutnya kembali.


“Kenapa lo takut sama darah?”


Cinta terdiam dan kembali merapihkan rambutnya. “Itu rahasia, elo gak usah tahu alasannya apa.”


“Dasar jalu!” ejeknya seraya melepas ikat rambut Cinta kembali.


“Awan! Rese banget sih lo! Tapi, jalu apaan, sih?”


“Jalu itu kalau dalam bahasa Sunda artinya cowo. Elo kan cewe jadi-jadian!” tawanya kembali.


Padahal arti yang sebenarnya dari kata jalu adalah untuk binatang yang berjenis kelamin laki-laki. Hanya saja, Awan tidak ingin Cinta mengetahui artinya lebih jauh dari kata yang di maksud.


“Sialan lo! Terus aja lo bully gue!”


“Elo cantik kalau rambut lo di gerai,” katanya yang membuat Cinta terdiam tak bergeming. “Gue serius, elo cantik kalau rambut lo di gerai. Elo terlihat lebih feminim.”


“Gue emang cantik kali,” tawanya yang kemudian berdiri dan bersiap-siap mengajak anjingnya untuk pulang. “Oh iya, kenapa lo mau jadi ketua Bem?” tanyanya penasaran.


“Biar keren aja,” jawabnya yang membuat Cinta tercengang begitu mendengarnya.


“Beneran sakit jiwa lo! Gue balik dulu. Udah malam, nih.”


Degghh, Cinta sangat terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa ia dan Awan pulang bersama? Kalau Pelangi sampai melihatnya, adiknya itu bisa salah paham. Niat Cinta sebenarnya kan ingin menjodohkan Pelangi dengan Awan, mumpung ia bisa akrab dengan sang pujaan hati adiknya itu.


“Gak usah. Rumah gue deket, lagian elo kan bawa motor. Gue cabut duluan,” katanya terlihat panik kemudian pergi sambil berlari.


“Dasar cewe aneh,” katanya pelan sambil memandangi kepergian Cinta.


♪♪♪


“Lang, gue ada tiket konser gratis, nih,” kata Regan saat ia sedang jalan bersama dengan Langit menuju kelas mereka.


“Tiket konser apa?”


“Tiket konser band indie. Beli dua, gratis dua tiket. Lagi ada promo gitu, sih. Gue sama cewe gue mau nonton. Elo ajak siapa gitu, kek. Ajak salah satu saudara lo atau siapalah itu.”


Langit menatap begitu lama ke dua tiket konser yang diberikan Regan kepadanya. Sepertinya, ia sedang bingung.


“Ajak siapa?”


“Siapa ajalah yang lo mau ajak.”


“Pelangi mana mau di ajak ke konser beginian. Dia nggak suka band indie. Kalau Cinta? Sore ini kayanya dia sibuk, pasti dia nggak bisa.”


“Ajak Sasha aja,” tutur Regan tiba-tiba hingga membuat Langit langsung menoyor kepala temannya itu dengan seenaknya.


“Geblek lu! Pacarnya galak, gue nggak mau ajak Sasha. Lagian, kenapa lo tiba-tiba nyaranin Sasha, sih?”


Regan tertawa dan langsung memasang ekspresi wajah tengilnya. “Elo akrab sama Sasha, kan? Elo suka sama dia, kan?”


“Suka ngarang kalau ngomong. Sasha itu temen deketnya Cinta. Otomatis, ya gue juga akrab sama dia.”


“Bohong. Waktu acara Bem tempo lalu, gue sering lihat lo berduaan sama Sasha. Lo sering banget nolongin dia, diem-diem ngelirik dia. Jujur, lo suka sama Sasha?”


“Berisik lo!!” teriak Langit hingga membuat orang yang dibicarakan, muncul secara tiba-tiba di belakang.


“Kalian ngomongin gue?” tanya Sasha yang membuat Regan dan Langit begitu terkejut dengan kemunculan Sasha yang secara tiba-tiba.

__ADS_1


“Gue nggak ikutan. Cabut dulu, yee??” kata Regan yang langsung pergi begitu saja.


“Rese lo, Gan!” teriak Langit yang langsung salah tingkah begitu Sasha berdiri di sampingnya dan menatapnya.


“Elo kenapa, Lang?”


Langit hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya pelan.


“Ya udah, gue mau ke kelasnya Septi dulu.”


“Ngapain?”


“Ada perlu,” jawabnya pendek kemudian pergi. “Duh,” katanya tiba-tiba yang membuat Langit langsung menghampiri Sasha dengan panik.


“Kenapa, Sha?”


“Perut gue nggak enak. Kayanya magh gue kambuh, gue mau beli obat dulu.”


“Tunggu di sini!” perintah Langit yang langsung pergi begitu saja sambil berlari hingga membuat Sasha kebingungan.


10 menit kemudian, Langit kembali menghampiri Sasha dengan nafas yang terengah-engah sambil memberikan obat magh yang baru saja di belikannya. Sasha yang melihat Langit membelikanya obat, tampak begitu terkejut dengan sikapnya yang menurutnya sangat aneh itu.


“Elo beliin gue obat?”


Langit mengangguk dengan nafas yang masih tersendat-sendat.


“Ya ampun, makasih banyak, Lang.”


“Sama-sama,” jawabnya sambil tersenyum lebar.


Sasha segera mengambil obat dan air mineral yang dibelikan Langit untuknya. Setelah meminum obat tersebut, Sasha kembali menatap wajah temannya itu seraya memegang pipi kanannya dengan lembut.


“Sama temen aja elo care banget. Gimana sama pacar lo sendiri? Pasti yang jadi pacar lo nanti bakalan beruntung banget punya lo yang begitu perhatiannya.”


“Gue gak perhatian sama semua orang, ko, Sha. Elo tahu sendiri kan kalau gue itu cuek banget sama yang namanya cewe.”


“Terus, kenapa lo gak cuek sama gue? Gue juga cewe, loh!”


Langit sesaat terdiam. Namun, ia kembali tersenyum tipis dan mengacak-ngacak rambut Sasha pelan.


“Elo beda,” katanya pelan.


“Bedanya?”


“Lo udah gue anggap cowo.”


Sasha langsung menendang kaki Langit dengan keras hingga membuat orang yang ditendang langsung meringis kesakitan.


“Sakit tahu!”


“Rese lo, jelek!”


“Eh, sore nanti ada acara gak?” tanya Langit ragu-ragu.


“Sore ini?” tanya Sasha yang membuat Langit langsung mengangguk dengan cepat. “Kayanya kosong, kenapa?”


“Nggak, gue mau ngajak lo . . . ."


Belum sempat Langit melanjutkan perkataanya, tiba-tiba saja suara ponsel Sasha terdengar begitu nyaringnya.


“Eh, bentar. Iya, hallo?”


Sasha pergi menjauh dari Langit. Sepertinya Langit tahu itu telepon dari siapa.


“Kenapa, Sha?” tanya Langit begitu melihat Sasha kembali kepadanya setelah menerima telepon.


“Itu Guntur, dia ngajakin gue sore ini jalan. Eh, iya tadi lo mau ngomong apa?”


“Nggak jadi, Sha. Tadinya, gue juga mau ngajak lo makan sore bareng. Tapi, kayanya lo mau jalan sama cowo lo,” katanya yang terlihat kecewa.


“Oh, gitu. Sorry ya, Lang. Mungkin, lain kali kita bisa makan bareng.”


“Santai, kalau gitu gue masuk kelas dulu.”


“Iya, gue juga mau ketemu Septi dulu. Dah, jelek!” katanya yang langsung pergi hingga membuat Langit hanya memandangi kepergian Sasha dengan tatapan mata datarnya.

__ADS_1


__ADS_2