Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Kasih Sayang Seorang Anak


__ADS_3

Malam hari sudah tiba, Faris mengajak istri dan ke tiga anaknya untuk makan malam bersama di sebuah restoran berbintang dengan suasana yang terlihat sangat romantis sekali.


Kehangatan keluarga tampak sangat terlihat ketika mereka berlima berkumpul bersama sambil saling bercerita dan mengobrol satu sama lainnya.


Di tengah-tengah obrolan, tiba-tiba saja ada seseorang sambil memainkan biola datang menghampiri keluarga Faris dan juga Nindi. Pemain biola itu memainkan sebuah alunan nada yang begitu indah dan juga romantis. Tiba-tiba saja Faris memberikan sebuket bunga mawar kepada Nindi dan memberikan sebuah hadiah kalung berbentuk bunga mawar kepada istrinya itu


“Sayang? Ini?” seru Nindi dengan mata berkaca-kaca dan terlihat sangat terkejut.


“Happy anniversary sayang, semoga kita selamanya bisa bersama sampai maut memisahkan kita. I love you,” ucap Faris sambil mencium telapak tangan istrinya.


“Love you to,” jawab Nindi sambil memeluk suaminya dengan erat dan mencium hidung juga kening suaminya dengan penuh cinta.


“Ouuu, so sweet!” seru Pelangi, Cinta dan Langit bersamaan.


Faris melepaskan pelukan istrinya dan membantu istrinya untuk memakaikan kalungnya. Setelah itu, Faris mencium kening istrinya kembali dengan lembut dan menggenggam erat tangannya.


“Jadi iri!” ucap Pelangi manyun.


“Makanya cepet married, cepet lulus dan berikan kami berdua cucu,” tutur Faris sambil menarik hidung anak bungsunya itu.


Pelangi hanya bisa merenggut hingga membuat ke dua orang tuanya tertawa lebar begitu melihat ekspresi anak bungsunya itu.


“Eh, gimana kalau kita nyanyiin lagu buat mamih sama papih di depan?” bisik Langit.


“Ide bagus, kalau begitu ayo kita ke depan,” jawab Cinta yang menyetujui ide saudaranya itu.


Pelangi dan Langit mengangguk pelan dan segera bergegas pergi. Mereka bertiga berjalan menuju atas panggung dan berbisik ke arah salah satu manajer di restoran tersebut. Setelah diberi anggukan, Pelangi, Cinta dan Langit bersiap-siap untuk menyanyikan sebuah lagu.


“Selamat malam semuanya, sebelumnya mohon maaf bila kami mengganggu. Di sini, kami mau menyanyikan sebuah lagu untuk ke dua orang tua kami yaitu Mrs. Nindi dan Mr. Faris yang duduk di meja belakang sana. Hari ini adalah hari pernikahan mereka yang ke-25. Ini persembahan lagu dari kami bertiga. Semoga suka dan selamat menikmati,” tutur Langit yang langsung diberi tepuk tangan begitu meriah oleh tamu-tamu yang hadir.


Nindi dan Faris juga sepertinya terlihat sangat terkejut, karena ke tiga anak mereka sudah berada di atas panggung dan ingin menyanyikan sebuah lagu untuknya.


*Engkaulah Nafasku...


Yang menjaga didalam hidupku...


Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik...


Kau tak pernah lelah......


Sebagai penopang dalam hidupku....


Kau berikan aku semua yang terindah.....


Aku hanya memanggilmu ayah....


Disaat ku kehilangan arah....

__ADS_1


Aku hanya mengingatmu ayah.....


Jika aku tlah jauh darimu....


(Seveenten - Ayah*)


Tidak menyangka sama sekali, semua penonton termasuk Nindi dan juga Faris menangis saat Cinta, Pelangi dan Langit menyanyikan lagu tersebut. Meski tidak beruraian air mata, Faris terlihat berkaca-kaca dan merasa sangat bangga kepada ke tiga anaknya itu.


Setelah menyanyikan lagu tersebut, kali ini ke tiga saudara kembar itu menyanyikan lagu terakhir. Suara dentingan piano yang dimainkan Pelangi, membuat orang-orang mendesah dan terlihat kembali meneteskan air mata mereka.


Kubuka album biru, penuh debu dan usang


Ku pandangi semua gambar diri, kecil bersih belum ternoda.


Fikirku pun melayang, dahulu penuh kasih


Teringat semua cerita orang tentang riwayatku..


Kata mereka diriku selalu dimanja..


Kata mereka diriku selalu ditimang..


Nada-nada yang indah selalu terurai darinya..


Tangisan nakal dari bibirku takkan jadi deritanya


Tangan halus da suci tlah mengangkat diri ii


Oh, bunda ada dan tiada dirimu kan slalu ada di dalam hatiku.....


(Potret - Bunda)


Entah kenapa, saat menyanyikan lagu tersebut, Cinta dan Pelangi mulai meneteskan air mata mereka. Cinta yang selama ini selalu tegar dan kuat, jika menyangkut soal keluarganya, ia pasti sensitif dan akan berubah menjadi wanita yang cengeng.


Langit juga terlihat berusaha untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh. Suasana mulai hening, Cinta tidak melanjutkan nyanyiannya. Ia terdiam sejenak dan menundukkan kepalanya.


“Terima kasih, Mih, Pih, kalian sudah mendidik kami, membesarkan kami dan menjadikan kami sebagai anak yang berguna. Tanpa kalian, kami bukanlah apa-apa. Tanpa kalian, kami bertiga tidak akan ada di sini dan tanpa kalian juga kami tidak akan berdiri di sini,” tutur Cinta pelan sambil menatap kedua orang tuanya dengan kedua bola matanya yang sudah mulai berair.


“Kami akan selalu menyayangi dan mencintai kalian sampai kapan pun. Kalian adalah orang tua terhebat yang kami miliki. I love you so much,” ucap Langit dengan terbata-bata dan dengan mata berkaca-kaca mencoba menahan tangis.


“Love you to, Anakku!” teriak Nindi dan juga Faris.


Langit, Cinta dan Pelangi tersenyum lebar dan berlari ke tempat orang tuanya berdiri. Mereka memeluk ke dua orang tua mereka dengan penuh kasih sayang. Semua orang mulai bertepuk dengan sangat meriah, bahkan beberapa dari mereka ada yang menangis terharu melihat kebersamaan mereka.


“Ternyata begitu rasanya memiliki keluarga sempurna yang selalu ada di saat kita butuhkan,” gumam seseorang sambil memperhatikan ke arah Cinta dan juga keluarganya.


Tanpa disadari, dari kejauhan sana ada seorang pria yang tersenyum tipis dan meneteskan air mata harunya melihat kehangatan keluarga tiga saudara kembar itu.

__ADS_1


“Sekarang aja, Ta,” bisik Pelangi.


Cinta mengangguk dan segera pergi untuk mengambil sesuatu. Saat Cinta mengambil kue yang ia sengaja titipkan di resepsionist, Cinta tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang hingga membuat kuenya hampir saja terjatuh.


“Eh, sorry,” katanya pelan.


“Oh, no problem,” jawab Cinta sambil tersenyum.


“Kuenya gak rusak, kan?” tanyanya tampak cemas.


“Untungnya kuenya gak apa-apa.”


“Ada apa, Ian?” tanya seorang perempuan setengah baya yang tampak cantik hingga membuat Cinta begitu terpesona dengan kecantikannya.


“Akh, nggak, Mah. Ian gak sengaja nabrak orang,” jawab pria itu.


Wah, ibu itu cantik sekali. Batin Cinta.


“Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya pria itu kembali.


“Nggak apa-apa, ko,” jawab Cinta ramah, “oh iya, mamahmu cantik.”


“Terima kasih banyak,” katanya sambil tersenyum tipis.


“Sama-sama, kalau gitu duluan, yah?” pamit Cinta yang diberi anggukan pria itu.


Cinta kemudian pergi. Namun, pandangan laki-laki itu masih terus menatap ke arah Cinta pergi.


“Ian, yuk, masuk sekarang. Papah udah nungguin kita di dalam,” kata perempuan setengah baya itu lembut kepada anaknya.


“Oh, oke.”


Setelah membawa kuenya, Cinta langsung datang menghampiri ke dua orang tuanya setelah diberi aba-aba oleh Pelangi dan juga Langit.


“Mamih, papih, happy anniversary!” seru Cinta sambil membawa kue dari arah belakang hingga membuat kedua orang tuanya kembali terkejut.


Untuk kesekian kalinya, Nindi dan Faris sangat terkejut dan berterima kasih sekali kepada anak-anaknya karena sudah memberikan hari yang sangat luar biasa.


“Terima kasih banyak, Sayangku!” seru Nindi sambil merangkul Cinta dan juga Pelangi, seraya mencium kening ke tiga anaknya itu.


“I love you Mih, Pih!” seru Langit, Cinta dan Pelangi bersamaan sambil memeluk mamih dan papihnya.


“Love you to, Honey,” jawab Nindi dan Faris sambil memeluk erat ke tiga anaknya.


“Tiup lilin sama potong kuenya dong Mih, Pih!” pinta Pelangi dengan antusias.


Nindi dan Faris mengangguk pelan. Mereka langsung meniup lilinnya dan memotong kue tersebut sambil menyuapi satu sama lainnya dan menyuapi ke tiga anaknya.

__ADS_1


“Mih, Pih, bergaya, dong!” seru Langit yang sudah siap dengan kameranya.


Faris tersenyum dan mencium kening istrinya. Setelah sukses besar merayakan hari jadi ke-25 orang tua mereka, Langit dan ke dua saudaranya menghabiskan malam itu bersama-sama.


__ADS_2