
Setelah kejadian Bumi yang tiba-tiba saja mencium bibir adiknya, Cinta tampak berusaha keras untuk melupakan kejadian tersebut sambil mendengarkan lagu-lagu yang bergenre Rock seraya membaca komik Naruto. Walau berusaha melupakannya, namun kejadian tadi masih terus terngiang-ngiang di dalam fikirannya.
Air matanya yang kembali menetes, membuat Cinta semakin sulit untuk melupakan rasa cintanya untuk Bumi. Namun, di sisi lain ia begitu nyaman dengan sosok Awan yang selalu berada di sampingnya.
Berbeda dengan Awan, semenjak kejadian makan malam tadi, ia semakin sadar kalau rasa sayang yang ia miliki untuk Cinta adalah nyata.
Rasa cinta yang semakin dalam dan besar, membuatnya selalu ingin membuat Cinta tersenyum bahagia. Walau rasa suka yang dimiliki Cinta bukan tertuju padanya, namun melihat orang yang disukainya menangis, itu membuat hatinya sakit.
Sambil memandangi foto Cinta yang sedang berlatih karate di dalam handphonenya, Awan telihat sedang merenungkan sesuatu.
Pelangi tampak terlihat begitu bingung. Bumi yang tiba-tiba saja mengutarakan perasaan padanya dan mencium bibirnya, membuat hatinya begitu kalut dan tidak bisa berfikir dengan begitu jernih.
Di sisi lain, ia begitu cemburu melihat perhatian Awan secara diam-diam kepada kakaknya. Ia masih belum bisa melupakan rasa suka dan kagumnya terhadap Awan.
Apa yang harus gue lakukan? Batinnya sambil memandangi sebuah foto.
Langit mengunci dirinya di dalam kamar seorang diri. Melihat kegelisahan dan kisah cinta yang dihadapi saudara-saudaranya, ia juga terlihat bingung harus menyikapinya seperti apa. Belum lagi, tiba-tiba saja Kejora mengutarakan perasaannya kepadanya. Ia bingung menghadapi perasaannya saat ini, ia tidak menyangka kalau gadis yang belum lama ini dekat dengannya memendam rasa suka yang begitu dalam padanya sejak dulu.
Apa gue harus membalas perasaannya? Batin Langit seraya memandangi foto dirinya bersama Kejora saat menonton konser Indie tempo lalu.
Semua orang terlarut dalam kisah cinta mereka yang begitu rumit. Begitu pun dengan Kejora yang terus memandangi sebuah album foto yang berisikan foto-foto Langit sejak dulu, juga Bumi yang terus memandangi layar laptopnya dengan membuka kembali kenangan lamanya bersama foto-foto dirinya dengan Cinta juga Pelangi.
Apa cinta serumit ini? Apa mereka bisa menghadapi kisah cinta mereka yang begitu pelik? Apa mereka bisa menggapai kebahagiaan mereka dengan tidak menyakiti salah satu diantara cintanya mereka?
Handphone Cinta berdering. Begitu melihat di layar handphonenya tertera nama Sasha, Cinta langsung mengangkatnya dengan cepat.
"Kenapa, Sha?"
"Ta . . . . "
__ADS_1
"Sha, elo kenapa? Ko, suara lo terdengar seperti habis menangis?"
"Gue pengen ketemu sama lo, Ta."
"Elo di mana sekarang?"
"Depan rumah lo, Ta," tuturnya pelan sambil menangis sesenggukan.
"Kenapa nggak masuk ke dalam?"
"Bisa ngobrol di luar nggak?"
"Oke, tunggu. Gue ke depan sekarang."
Setelah menutup telepon dari Sasha, Cinta langsung mengambil jaket miliknya dan bergegas ke luar dari kamarnya. Melihat Cinta yang tampak terburu-buru, Langit yang baru saja ke luar dari kamarnya terlihat begitu bingung dan memutuskan untuk mengikuti Cinta dari belakang.
"Sha!!" teriak Cinta begitu melihat Sasha terlihat sangat kusut saat berada di depan rumahnya.
Sasha langsung berlari ke arah Cinta dan memeluknya begitu erat. Ia menangis dalam pelukan Cinta. Bahkan, ia menangis begitu keras hingga membuat Cinta tampak bingung melihat Sasha yang tiba-tiba saja menangis seperti ini.
"Gue putus sama Guntur, Ta," ujar Sasha yang membuat Cinta terkejut begitu pun dengan Langit yang tidak sengaja mendengar pengakuan Sasha.
"Kenapa?"
"Gue udah putus sama Guntur dari beberapa hari yang lalu, Ta. Gue pengen cerita sama lo, tapi gue tahu elo sendiri lagi susah dan banyak masalah. Gue nggak mau membebani lo."
"Ya Tuhan, ya nggaklah, Sha. Kita kan sahabat, masa gue terus yang cerita soal Bumi sama lo. Kalau lo ada masalah juga, harusnya elo cerita sama gue, Sha."
"Guntur ternyata selingkuh, Ta. Bahkan, di belakang gue dia udah tunangan sama selingkuhannya itu. Dan, tadi siang, dia bilang sama gue untuk jangan dekat-dekat dengan dia dan teman-temannya lagi. Dia merasa terganggu, bahkan dia tidak minta maaf sedikit pun sama gue, Ta. Gue . . . gue . . . ."
__ADS_1
Cinta kembali memeluk Sasha hingga membuat Sasha kembali menangis. Cinta tidak menyangka kalau sahabatnya itu mengalami hal - hal menyedihkan seperti ini. Dan, Cinta merasa bahwa ia telah gagal menjadi sahabat yang baik untuk Sasha.
"Gue harus gimana, Ta? Bahkan, hidup gue sekarang sudah hancur. Sekarang, bokap gue membuat masalah lagi di rumah. Dia kembali mabuk-mabukkan dan menyiksa nyokap. Bahkan, saat gue ingin membela nyokap, bokap malah ikut memukuli gue."
Degghh, kali ini Langit benar-benar terkejut mendengarnya. Ia sama sekali tidak tau cerita tentang keluarga Sasha. Bahkan, Cinta sendiri tidak pernah menceritakan hal itu kepadanya.
"Bokap lo balik lagi, Sha?"
Sasha menganggukkan kepalanya.
"Apa yang telah diperbuatnya kali ini sama lo?" tanya Cinta khawatir.
Sasha memperlihatkan luka lebam yang ada di siku tangan kanannya, Sasha juga memperlihatkan luka memar yang ada di punggung kanannya. Bahkan, yang membuat Cinta dan Langit terkejut kali ini adalah ada bekas luka bakar di telapak kaki kanan Sasha yang membekas.
"Sha, ini??"
"Ini sebenarnya luka lama, Ta."
"Sha, kenapa baru cerita sekarang sama gue?? Ini nggak bisa dibiarkan, elo harus lapor polisi!"
"Nggak bisa, Ta. Walau gimana pun, dia tetap bokap gue."
"Nggak bisa, Sha. Ini kekerasan dalam rumah tangga. Dia bokap tiri lo, Sha. Bukan bokap kandung, sudah sepantasnya lo melaporkan ini semua sama pihak kepolisiaan. Kasian nyokap lo, ini benar-benar sudah tidak wajar!"
"Gue gak tahu, Ta. Gue bingung, tempat keluh kesah gue, tempat perlindungan gue sekarang sudah tidak ada lagi. Bokap kandung gue meninggal, bokap tiri gue memperlakukan gue dengan nyokap seperti binatang dan Guntur ninggalin gue. Sekarang, gue bener-bener sendirian. Gue nggak punya siapa-siapa lagi, Ta," tangis Sasha yang semakin pecah.
"Elo nggak sendiri, Sha. Elo masih punya gue, Bumi dan yang lainnya. Elo jangan berfikiran seperti itu."
"Hidup gue udah nggak ada artinya lagi, Ta. Nggak ada yang bener-bener sayang sama gue. Gue . . . "
__ADS_1
Belum sempat melanjutkan perkataannya, Cinta kembali memeluk Sasha begitu erat. Ia tidak menyangka, jika Sasha sudah memikul beban yang begitu berat selama ini. Bahkan, Langit sendiri begitu terkejut dengan pernyataan Sasha tadi kepada kakaknya.
"Elo nggak sendirian, Sha. Masih ada gue, masih ada gue di sini buat lo," ucap langit pelan sambil menatap lirih ke arah Sasha dan juga Cinta.