Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Memulai Interaksi


__ADS_3

Esok harinya, Pelangi, Cinta dan Langit pergi masing-masing menuju kampus mereka. Karena jam untuk mata kuliah mereka hari ini berbeda, maka dari itu Langit pergi menggunakan mobil Jeepnya, sementara Pelangi pergi pagi-pagi sekali bersama dengan ke dua orang tuanya.


Lain halnya dengan Cinta, ia pergi menggunakan motor Ninja merahnya. Layaknya seorang pembalap, ia mengemudikan motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Cinta terlihat memakai jaket kulit hitam kesayangannya. Rambutnya yang ikal dan juga panjang selalu ia ikat meski dengan keadaan yang sangat berantakan sekali.


Dengan memakai sepatu kets belel berwarna Navy kesayangannya yang selalu diejek Pelangi seperti sepatu anak jalanan, sepatu itu selalu menemani langkahnya setiap hari.


Cinta memang paling nyaman memakai sepatu kets Navy dan tas ransel berwarna abu-abu hadiah dari ibunya saat berulang tahun yang ke 17. Meski berantakan, tapi itulah ciri khasnya. Berbeda dengan adiknya yang selalu tampil rapih, wangi dan juga modis dalam berpakaian.


Pelangi yang cantik dan digilai oleh pria-pria di kampusnya, memang selalu membuat perempuan-perempuan di sana iri melihatnya. Tapi, tidak untuk Cinta. Menurutnya, cantik itu tidak harus dilihat dari fisik semata. Cantik itu bisa dilihat dari hatinya. Dan, menurutnya kembali, percuma saja kalau wajahnya cantik tapi hatinya tidak secantik wajahnya.


Setelah memparkirkan motornya di parkiran dan membuka helmnya, Awan yang baru saja sampai di kampus dan baru saja memparkirkan motornya, tidak sengaja melihat Cinta yang baru saja memparkirkan motor Ninjanya juga.


Awan nampaknya sangat terkejut ketika ia melihat perempuan seperti Cinta mampu mengendarai motor besar seperti itu. Karena sadar sejak tadi Awan memperhatikannya terus, Cinta menoleh ke arahnya hingga membuat Awan langsung memalingkan wajahnya dengan cepat.


“Kenapa lo dari tadi ngelihatin gue terus?” teriak Cinta sambil menatap sinis ke arah Awan.


“Elo ngomong sama gue?” tanya Awan setengah berteriak.


“Menurut lo?” sahut Cinta kemudian pergi.


Awan hanya bisa memandangi punggung Cinta yang sudah pergi menjauh dari pandangan matanya. Entah apa yang difikirkan olehnya saat ini. Tetapi, sepertinya ia terlihat sedang memikirkan sesuatu hal dengan matanya yang mulai menyipit.


Di tempat yang berbeda, Langit yang baru saja keluar dari kelasnya tidak sengaja melihat Kejora sedang bersama Keke di taman kampus sambil bermain gitar. Karena untuk mata kuliah yang sekarang mereka tidak satu kelas, Kejora yang sedang bermain gitar dan bernyanyi bersama Keke, membuat Langit sedikit tertarik dan mendekat ke arah mereka berdua.


Kejora tampak sedang menyanyikan sebuah lagu dari Ed Sheeran yang berjudul Happier. Mendengar suara Kejora bernyanyi besama dengan Keke, Langit terlihat tersenyum kecil dan menikmati lagu tersebut.


Keke yang tersadar Langit sedang memperhatikan mereka berdua yang tengah asyik bernyanyi, langsung menyenggol lengan sahabatnya itu yang sedang memetik gitar.


“Lihat deh Ra, Langit lagi merhatiin kita berdua nyanyi.”


“Hah? Serius lo, Ke?”


“Serius gue. Lihat, sekarang Langit ke sini lagi. Duh, gue cabut duluan, yah?”


“Lah, ko malah pergi duluan, sih? Keke!” teriak Kejora seraya berdiri.


Sepeninggal Keke, Langit menghampiri Kejora yang duduk sendirian di taman dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat tegang .


“Elo Kejora, kan?” tanya Langit membuka suara hingga membuat Kejora tampak sangat gugup karena Langit tiba-tiba saja menghampirinya dan mengajaknya berbicara.


Kejora mengangguk pelan dan terlihat seperti sangat sulit untuk bernafas.


“Elo bisa main gitar juga?”


“I . . . iya gue bisa sedikit. Kenapa, Lang?”


“Lagu yang elo nyanyiin itu lagu favoritnya gue dan ke dua saudara gue. Gue dan saudara-saudara gue sering banget nyanyiin lagu itu, nggak nyangka kalau elo juga suka lagu itu. Suara lo juga bagus,” puji Langit yang membuat Kejora tersipu malu begitu mendengar lelaki yang disukainya itu memujinya.


“Terimakasih banyak atas pujiannya.”


“Kapan-kapan bisa dong kita collabs?” tanya Langit sambil tersenyum simpul.

__ADS_1


“Apa? Collabs?” ulang Kejora begitu terkejut. “Elo bercanda, Lang?”


“Gue serius, gue sangat menyukai warna vokal lo. Itu sangat unik.”


Kejora dan Langit saling melempar senyum. Mereka berdua juga sesekali saling melirik satu sama lainnya dengan malu-malu.


“Gue sama sekali tidak menyangka kalau elo itu bakalan suka dengan warna vokal gue. Gue sangat tesanjung, loh.”


“Kapan-kapan lo main aja ke rumah gue, mungkin kita bisa bikin band bareng saudara-saudara gue.”


“Saudara-saudara lo pasti suaranya lebih bagus dari gue, Lang. Gue mana mungkin bisa menyaingi mereka.”


“Siapa pun yang mempunyai suara bagus yang pasti itu anugerah terindah yang diberikan Tuhan untuk umat-Nya, Ra."


♪♪♪


Di lapangan sepak bola, terlihat Cinta dan Bumi sedang bermain bersama. Mereka terlihat begitu gembira sekali dengan saling memperebutkan bola satu sama lainnya dan mencoba untuk memasukkan bolanya ke dalam gawang. Karena sudah terlihat begitu lelah, mereka berdua sama-sama berbaring di tengah lapangan sambil melihat ke arah langit yang tampak begitu cerah.


“Sasha ke mana, sih? Selesai kuliah dia langsung ngilang gitu aja,” tutur Cinta membuka suara.


“Biasa, dia pacaran sama Guntur. Ngapain lagi coba kalau dia tiba-tiba hilang gitu?”


Cinta yang mendengarnya hanya tertawa kecil dan kembali menatap langit yang begitu cerah dan juga indah.


“Ta,” panggil Bumi pelan.


“Hm?”


“Sekarang, gue lagi merenungkan sesuatu.”


“Soal perasaan gue. Gue sedang mencoba untuk menata hati gue dan meyakinkan hati gue.”


Cinta tersenyum kecil. Ia mencoba untuk duduk sambil menatap wajah Bumi yang tengah berbaring seraya menatap ke atas langit.


“Emangnya hati lo kenapa?”


“Gue lagi meyakinkan hati gue, Ta. Sebenarnya gue itu suka apa nggak sama cewe itu?”


“Gue jadi penasaran, sebenarnya cewe yang lo suka itu siapa, sih?” tanya Cinta yang terlihat sangat penasaran itu.


“Elo kenal dia ko, bahkan lo dekat dengannya.”


“Siapa? Teman satu kelas?”


Bumi tersenyum lebar hingga membuat Cinta tampak terlihat sumeringah dan bahagia sekali. Ketika Bumi dan Cinta sedang berduaan dan menikmati kebersamaan mereka, Pelangi tiba-tiba saja datang dengan membawa begitu banyak makanan.


“Guys, gue bawa makanan, loh!” teriaknya dengan membawa sekantong plastik yang dipenuhi dengan makanan-makanan ringan.


“Wuih, cemilan, nih!” seru Bumi yang terlihat gembira sekali dan langsung menghampiri Pelangi yang berada di tepi lapangan. “Gue heran deh sama lo, Pe.”


“Kenapa emangnya dengan gue?” tanyanya bingung.


“Elo itu kan hobby ngemil dan kuliner, tapi kenapa badan lo gak gemuk-gemuk, sih? Heran gue.”

__ADS_1


“Itulah hebatnya gue.”


“Hebat apanya? Biasa juga!” seru Cinta yang langsung mencomot snack keju yang dibawa adiknya itu.


“Iya hebat, dong. Cewe secantik, seimut dan selucu gue yang mirip banget sama Song Hye Kyo ini, suka banget yang namanya ngemil dan juga kuliner. Tapi, tubuh gue ini masih bisa tetep langsing seperti Lindsay Lohan!” tuturnya yang membuat Cinta juga Bumi langsung membuang muka.


“Astaga, lama-lama gue bisa frustasi mendengar celotehannya!” seru Cinta sambil memegang kepalanya.


“Main lagi, yuk?” ajak Bumi yang langsung beranjak, kemudian berdiri.


Cinta mengangguk dan langsung beranjak sambil melempar bungkusan snack ke arah Pelangi. Pelangi yang dilempari begitu saja, hanya bisa tersenyum kecut dan mendelik tajam ke arah saudara kembarnya itu.


Melihat Cinta dan Bumi dengan asyiknya bermain sepak bola, Pelangi hanya bisa duduk manis di tepi lapangan sambil bedakan seperti biasanya. Bumi yang melihat Pelangi sejak tadi sibuk dandan, langsung tersenyum jahil dan berbuat usil kepadanya dengan melemparinya bola.


“Hey!” teriak Pelangi kesal.


“Sorry,” tawa Bumi hingga membuat Cinta yang melihatnya juga ikut tertawa.


Karena Bumi dan Cinta terus saja mengganggunya, Pelangi memutuskan untuk berlari menghampiri mereka berdua yang tengah berada di lapangan. Ia langsung melompat ke arah punggung Bumi sambil memukul-mukul punggungnya dengan kasar dan menjambak-jambak rambutnya hingga berantakan.


Bumi yang dianiaya begitu oleh Pelangi tidak terima begitu saja. Dengan jurus karatenya, ia mengambil lengan Pelangi dan menjatuhkannya ke tanah. Langsung saja Bumi merangkul lehernya dengan begitu kasar hingga membuat Pelangi sulit untuk bernafas.


Cinta yang sejak tadi menertawakan aksi mereka, langsung melompat ke arah mereka berdua. Pergulatan pun tidak dapat dihindari lagi hingga membuat Pelangi berteriak begitu kencangnya dengan suaranya yang sangat memekakkan telinga itu.


“Hey, apa-apan ini?” teriaknya.


“Ini kasih sayang bentuk militer, Pe!” tawa Cinta yang mulai merangkul leher adiknya juga Bumi dengan kasar.


Dari jauh, Awan terlihat sedang memperhatikan aksi kekanak-kanakan Cinta dengan Pelangi dan juga Bumi. Dengan ekspresinya yang sangat dingin, ia sempat menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


Cinta yang tidak sengaja mendapati Awan sedang memperhatikan dirinya, membuat Awan langsung mengalihkan pandangan matanya, kemudian pergi.


Melihat Awan pergi begitu saja, membuat Cinta ikut pergi juga meninggalkan Pelangi dan juga Bumi yang tengah bersenda-gurau. Ia mengikuti ke mana Awan pergi secara diam-diam dari belakang. Karena penasaran dengan ekspresi wajah Awan yang sangat sulit diartikan itu, ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri.


Karena jejak Awan tiba-tiba saja menghilang, Cinta menghela nafas panjang dan terlihat sangatlah kecewa.


“Ke mana dia pergi?” gumam Cinta sambil celingak-celinguk.


“Elo cari gue?” seru Awan yang tiba-tiba muncul dari belakang.


“Astaga, lo ngagetin gue aja, deh!”


“Elo ngapain ngikutin gue?” tanya Awan sinis.


“Nggak ko, siapa juga yang ngikutin lo.”


“Nggak usah bohong, kelihatan banget lo itu bohong.”


“Ikh, aneh lo!”


Cinta melengos pergi, tetapi langkahnya harus terhenti ketika Awan tiba-tiba saja menarik tangannya hingga membuatnya jatuh ke pelukan Awan. Tiba-tiba saja Cinta menjadi gugup karena wajahnya dengan wajah Awan terlihat sangat dekat sekali.


Hembusan nafas Awan pun dapat terdengar dengan begitu jelas olehnya. Untuk beberapa saat, Awan dan Cinta saling beradu pandang dengan sangat lama. Namun, karena takut Pelangi melihatnya sedang bersama dengan Awan, ia langsung melepaskan tangan Awan dan mendorongnya dengan kasar.

__ADS_1


“Gila lo!” teriak Cinta kemudian pergi.


__ADS_2