Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Pertemuan Terakhir


__ADS_3

Setelah perkuliahan selesai, Awan terlihat sangat buru-buru sekali. Ia langsung menarik tangan Cinta ketika ia baru saja keluar dari kelasnya dan langsung mengajaknya untuk pergi ke suau tempat.


Cinta yang langsung ditarik tangannya begitu saja tampak kebingungan.


“Elo mau mau bawa gue kemana, Wan?” tanyanya saat Awan memakaikan helm untuknya.


“Ke suatu tempat!”


“Terus, motor gue gimana?”


“Nanti kita balik lagi ke sini, udah cepetan naik. Pegangan yang erat!” perintahnya hingga membuat Cinta ragu-ragu untuk melingkarkan tangannya ke arah pinggang Awan.


Melihat Cinta yang tampak ragu-ragu, Awan langsung menarik tangan wanita yang ia sukai itu hingga membuatnya memeluk tubuh Awan begitu erat. Karena sudah tidak ada waktu yang tersisa lagi, Awan pun mengajak Cinta ke tempat di mana di tempat itu merupakan perbukitan yang cukup tinggi.


“Cinta,” katanya pelan begitu sampai di tempat tujuan.


“Elo kenapa, sih? Kenapa tiba-tiba terlihat serius seperti itu?” tanya Cinta saat melihat ekspresi wajah Awan yang berbeda dari biasanya.


“Elo mau ikut gue?” tanyanya tiba-tiba.


“Ikut ke mana?”


“Ke mana pun, asal hanya ada gue dan lo bersama-sama. Elo mau kan ikut gue?”


“Wan, gue akan selalu ada bersama lo. Gue nggak akan pernah pergi ke mana-mana.”


“Sekali lagi gue tanya, elo mau ikut apa nggak?” tanya Awan kembali sambil memegang kedua bahu Cinta dan menatapnya begitu lekat.


“Ada hal yang harus gue lakukan di sini, ada beberapa hal yang harus gue cari di sini. Gue masih banyak persoalan yang harus gue selesaikan!”


“Lo suka sama gue apa nggak?” tanya Awan tiba-tiba hingga membuat Cinta terkejut dan menatap wajahnya dengan ekspresi yang terlihat serius. “Gue tanya sekali lagi, elo suka sama gue apa nggak?”


“Wan, elo kenapa, sih?”


“Waktu gue udah nggak banyak lagi, Ta. Elo tahu kan latar belakang keluarga gue, elo tahu kan semua rahasia yang gue pendam selama ini? Apa perlu gue katakan lagi sama lo?”


Cinta terdiam dan memalingkan wajahnya. Awan menghampiri Cinta dan memegang kedua bahunya seraya menatap wajahnya begitu lekat.


“Elo mau nggak ikut gue ke Jerman?” tanya Awan kembali hingga membuat Cinta terlonjak kaget begitu mendengarnya. “Elo mau nggak jadi pendamping gue di masa depan? Elo mau gak jadi ibu dari anak-anak gue kelak?” tanya Awan tak sabaran dengan mata berkaca-kaca.


“Gue . . . gue . . . . ”


“Ini pertanyaan terakhir dari gue karena ini akan menjadi pertemuan terakhir kita, Ta. Elo mau ngak hidup bersama gue sampai ajal menjemput kita kelak?”

__ADS_1


“Wan, ini begitu mendadak. Gue mana bisa meninggalkan Indonesia, kuliah gue gimana? Keluarga gue gimana? Gue belum bisa jawab sekarang!”


Awan melepaskan tangannya dari kedua bahu Cinta. Sepertinya ia tampak terpukul dan begitu kecewa setelah mendengar jawaban darinya.


“Dari dulu lo emang nggak pernah cinta sama gue, Ta. Karena lo nggak pernah sekali pun bilang kalau lo suka sama gue. Elo masih mencintai Bumi, kan? Makanya lo gak mau ikut gue? Elo cuma mau menghibur gue kan supaya gue bisa berharap lebih sama lo?


"Sudahlah, anggap lo gak pernah dengar pembicaraan ini. Anggap juga kita tidak pernah bertemu, ini akan menjadi pertemuan terakhir kita. Makasih untuk kenangan singkat kita selama ini, selamat tinggal!” ucapnya pelan kemudian pergi meninggalkan Cinta dengan meneteskan air matanya.


Cinta tak kuasa menahan air matanya. Air matanya mulai berjatuhan saat melihat kepergian Awan. Awan mencoba menghapus air matanya yang terus keluar dari pelupuk matanya, sementara Cinta terus menangis memandangi punggung Awan yang sudah semakin menjauh dari pandangan matanya.


“Maaffin gue, Wan. Gue ingin ikut bersama lo ke Jerman, gue ingin menjadi ibu untuk anak-anak kita kelak, gue ingin lari ke pelukan lo dan gue ingin teriak kalau gue cinta sama lo. Tapi, gue nggak bisa, Wan.


“Gue nggak bisa meninggalkan Indonesia, gue harus mencari kak Rasya, gue harus membantu papih untuk menemukan kakak kandung gue yang sudah lama hilang. Andai gue tidak memegang tanggung jawab berat ini, gue pasti akan ikut bersama lo tanpa banyak berfikir.


“Maaffin gue, Wan. Setelah cukup lama berfikir, lo sudah mengisi hati gue selama ini. Gue sadar, gue menyukai lo, gue sayang sama lo. Bahkan, gue menyukai lo sejak lo mengulurkan tangan lo untuk menjadi teman gue.”


Cinta tampak sangat terlihat sedih karena ini akan menjadi hari terakhirnya bertemu dengan Awan. Karena Awan sudah pergi begitu saja, Cinta memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat yang menjadi pertemuan terakhirnya dengannya. Namun, tiba-tiba saja ada yang berlari menghampiri Cinta dan menarik tangannya hingga Cinta jatuh ke pelukan seseorang yang sudah menarik tangannya itu.


“Awan?”


“Aku akan merindukanmu, Cinta!” katanya yang langsung memeluk Cinta dengan begitu erat.


Awan melepaskan pelukannya, ia memberanikan dirinya untuk mencium bibir mungil Cinta dengan tangan kanannya yang melingkar di atas pinggang gadis yang ia sukai itu.


Awan melepakan ciumannya, ia menatap wajah Cinta dengan seksama. Dengan air mata yang membasahi pipinya, ia mencoba untuk menghapus air mata Cinta agar tidak berjatuhan.


“Tunggu aku, aku pasti akan kembali!” katanya pelan dan kembali memeluk Cinta dengan begitu erat.


Karena hari semakin malam, Awan mengantar Cinta kembali ke kampus untuk mengambil motornya yang terparkir di sana. Ia juga tak lupa mengantar Cinta pulang dengan selamat sampai rumahnya meski dengan menaiki motor yang berbeda.


Setelah sampai di rumah, Awan menggandeng tangan Cinta dan kembali menatap wajahnya dengan tatapan lirih.


“Jaga dirimu baik-baik, Ta. Aku harap, kita bisa bertemu lagi di masa depan.”


Cinta tersenyum simpul sambil menggandeng tangan Awan dengan begitu erat.


“Kapan kamu pergi?” tanya Cinta dengan mata berkaca-kaca.


“Besok siang aku berangkat, aku tidak ingin kamu mengantarku ke bandara. Aku tidak ingin ketika melihat wajahmu, aku tak akan sanggup untuk melepasmu lagi. Jadi, tak usah mengantarku.”


“Baiklah, kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu. Kalau begitu aku masuk dulu, hati-hati dijalan,” tuturnya pelan seraya melepaskan tangan Awan dengan perlahan kemudian pergi.


“Cinta?”panggil Awan kembali hingga membuat langkah Cinta terhenti. “Bolehkah aku mendengar sekali saja kamu mengatakan kalau kamu suka padaku?”

__ADS_1


Cinta kembali meneteskan air matanya. Entah sejak kapan ia menjadi gadis yang cengeng seperti ini. Walau berusaha keras menahan air matanya agar tidak terjatuh, tapi tetap saja air mata itu mengalir deras di pipinya. Cinta mencoba untuk tersenyum dan menghapus air matanya dengan kedua tangannya.


Sambil membalikkan badan, Cinta menatap wajah Awan dengan begitu lekat dan dengan mata berkaca-kaca.


“Aku suka padamu, Awan,” katanya pelan hingga membuat Awan tersenyum kecil begitu mendengarnya.


Setelah mendengar Cinta mengutarakan perasaannya, Awan membalikkan badannya kemudian pergi. Sementara Cinta, ia hanya bisa berdiam diri dan kembali meneteskan air matanya kembali.


Pelangi yang melihat Cinta menangis seperti itu di teras depan rumah, langsung menghampiri kakaknya dan memeluk kakaknya begitu erat.


“Lo kenapa, Ta? Kenapa lo nangis?”


“Gue gak mau kehilangan dia, Pe. Gue sadar kalau gue . . . kalau gue sayang sama dia. Gue nggak mau dia pergi ke Jerman, gue nggak mau dia jadi pewaris tunggal keluarganya. Gue nggak mau kehilangan dia lagi,” tangis Cinta dalam pelukan Pelangi.


“Sabar Ta, lo ceritakan semuanya pelan-pelan biar gue ngerti. Sebenarnya lo kenapa?”


Cinta mengajak adiknya untuk duduk di teras rumah. Sambil menatap wajah adiknya, Cinta mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya selama ini.


“Apa? Jadi, Awan itu anak konglomerat?” teriak Pelangi tampak terkejut.


Cinta mengangguk pelan dan menundukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.


“Kenapa lo baru cerita sekarang, Ta?”


“Gue udah janji sama Awan tidak akan menceritakan latar belakang keluarganya kepada siapa pun. Tapi, sekarang gue udah nggak ada harapan lagi untuk bertemu dengannya, Pe."


“Cinta, jawab jujur pertanyaan gue. Elo cinta sama Awan?” tanya Pelangi sambil memegang kedua bahu kakaknya dan menatap wajahnya begitu lekat.


“Gue nggak tahu perasaan ini kapan munculnya. Tapi, berada di dekatnya membuat gue nyaman dan tenang. Setiap kali gue sedih atau mengalami kesulitan, Awan selalu ada di samping gue dan selalu meminta gue untuk tetap tersenyum.


“Seiring berjalannya waktu, gue mulai terbiasa dengan kehadirannya di sisi gue. Tapi, ada satu hal yang membuat gue sadar betapa gue membutuhkannya dan tidak ingin kehilangannya. Gue teringat ketika dia pertama kali mengulurkan tangannya saat membantu gue di ruang serba guna tempo lalu.”


Cinta kembali mengenang pertama kalinya dirinya dan Awan saling bergantung satu sama lainnya. Kala itu, Awan di kejar-kejar oleh orang-orang suruhan ayahnya dan saat itu pula Cinta dan Awan memulai takdir mereka dengan terus bertemu dan saling membutuhkan satu sama lainnya.


“Gue juga teringat saat Awan yang pertama kali mengatakan kalau dia ingin menjadi teman gue. Entah kenapa, rasanya gue senang sekali saat dia menawarkan dirinya untuk menjadi teman gue. Bahkan, saat untuk pertama kalinya dia mencium kening gue rasanya jantung gue berdebar tidak seperti biasanya.


“Dan, gue menyadari perasaan ini saat Awan mengatakan kalau dia menyukai gue. Gue juga ingin sekali mengatakan kalau gue juga menyukainya, tapi gue tidak ingin terburu-buru. Gue ingin mencoba menata hati gue, apa benar gue menyukainya lebih dari perasaan gue untuk Bumi? Dan ternyata, jawabannya itu gue memang sudah jatuh cinta padanya.”


Pelangi terdiam. Ia tidak menyangka, kalau Cinta sangat mencintai pria yang pernah ia sukai dulu. Perasaanya terhadap Awan pun melebihi rasa sukanya terhadap Bumi yang bertahun-tahun ia pendam.


Kenapa Tuhan merencanakan semua ini? Kenapa Tuhan membuat Pelangi dan juga Cinta mencintai dua pria yang sama tapi dengan cara yang berbeda?


“Apa yang akan selanjutnya lo lakukan, Ta?”

__ADS_1


“Kalau masalah gue sudah selesai, gue akan minta izin papih dan mamih untuk melanjutkan S2 gue di Jerman. Gue akan menyusul Awan, gue nggak peduli Awan miskin, kaya atau anak konglomerat sekali pun. Yang gue pedulikan saat ini hanya perasaan gue untuknya. Tunggu saja, gue pasti akan segera menyusul Awan ke Jerman.”


__ADS_2