Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Sebuah Rasa


__ADS_3

Dengan langkah terburu-buru, Pelangi menghampiri Langit yang sedang berada di koridor. Ia langsung memanggil namanya dengan suara khasnya yang melengking begitu melihatnya.


“Langit!” teriak Pelangi hingga membuat saudara kembarnya itu langsung menutup telinganya begitu mendengar teriakan adiknya.


Pelangi langsung berlari-lari kecil menghampiri saudara kembarnya. Setelah bertemu dengan Langit, ia langsung memberikan beberapa lembar surat kepada saudara kembarnya itu.


Gue bingung, kenapa cowo-cowo pada suka yah sama Pelangi? Sampai Jordan aja kesemsem banget sama ini anak? Suara cempreng begitu, apa yang bisa membuat dia disukai oleh semua cowo-cowo di kampus ini? Batin Langit sambil memandangi Pelangi dari atas sampai bawah.


“Why? Kenapa ngelihatin guenya gitu banget?” tanya Pelangi bingung.


“Oh, nggak apa-apa,” jawabnya pendek.


“Nih,” katanya sambil menyerahkan beberapa lembar surat dengan amplop berwarna pink.


“Apaan, nih?” tanya Langit bingung setelah Pelangi memberikan beberapa lembar surat.


“Dari penggemar berat lo,” jawabnya ketus.


“Buang aja, ngapain juga mesti dikasihin ke gue?”


“Elo jadi cowo gak berperikemanusiaan banget sih, pabo!” ejeknya yang membuat Langit bingung seketika dan mengernyitkan keningnya.


“Pabo apaan, Pe?”


“Aigoo, ba’ka!” teriak Pelangi kembali kemudian pergi.


“What? Ba’ka? Hey, gue nggak bodoh, yah!” teriak Langit yang langsung berlari mengejar Pelangi yang sudah berada di depannya begitu ia tahu arti dari perkataan saudaranya itu. “Eh, ada salam lo dari Jordan.”


“Jordan? Who is he ? Perasaan, gue gak kenal.”


“Dia anak IT,” jawab Langit sambil merangkul adiknya.


“Oh . . . . ”


“Cuma, oh?” tanya Langit sambil menatap wajah Pelangi heran.


“So, gue mesti bilang apa? Eel, selama gue kuliah di sini, gue cuma baru dua kali pacaran sama anak kampus. Itu pun gak berlangsung lama, hati gue masih berlabuh sama Awan, sih. So, what should i do?”


“Aihh, alay banget, sih. Awan kan bukan cowo lo, mantan lo juga bukan.”


Pelangi mendelik tajam ke arah Langit hingga membuat Langit membalas mendeliknya dan merangkulnya dengan kasar.


“Sumpah, gue heran, deh. Semua cowo-cowo di sini pada suka sama gue. Tapi, kenapa Awan nggak suka sama gue, yah? Kurang apa lagi sih gue?”


“Kurang waras iya!” cibirnya sinis kemudian pergi.


Pelangi langsung mengejar Langit yang sudah berjalan mendahuluinya. Ia langsung merangkulnya dengan kasar dan menjitak kepalanya dengan sangat keras.


Melihat Cinta, Sasha dan Bumi berada di kantin, Pelangi langsung menarik tangan Langit dan mengajaknya untuk ke meja tempat kakaknya makan bersama dengan kedua sahabatnya.

__ADS_1


“El, pesen makanannya. Biasa, yah!” perintah Pelangi dengan seenaknya hingga membuat Langit hanya tersenyum kecut kemudian pergi.


Melihat Pelangi yang langsung duduk dan mengambil cerminnya sambil bedakan, Bumi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


Sementara Sasha hanya tertawa kecil dan Cinta sendiri, ia hanya tersenyum sinis sambil menatap wajah adiknya itu dengan ekspresi wajah yang tampak seperti melihat hal-hal yang sangat menjijikkan dengan menyunggingkan bibirnya.


“Hay, Pelangi!” sapa beberapa pria yang baru saja melewat ke arahnya.


“Oh, hay?” sahut Pelangi yang kembali berdandan ria hingga membuat Bumi, Sasha, juga Cinta kembali menatap wajahnya dengan tatapan mata sinis dan begitu menusuk.


“Naze desu ka? Kenapa kalian ngelihatin gue dengan ekspresi seperti itu? Gue cantik, yah?” katanya narsis.


“Ckck, mulai kambuh penyakit narsisnya!” ujar Cinta sambil melanjutkan kembali membaca komiknya.


“Tapi, Pelangi memang cantik, Ta. Buktinya, banyak banget kan yang suka sama dia?” seru Bumi yang membuat Pelangi tersenyum centil dan menyimpan kembali cerminnya ke dalam tas.


“Arigatou, tomodachi. Tahu aja kalau gue emang cantik,” tutur Pelangi riang sambil membungkukkan badannya ke arah Bumi.


“Jelas lo cantik, cacar bintik-bintik kan maksudnya?” ejek Sasha hingga membuat Bumi dan Cinta yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak.


“Aishhh, rese lo! Udah ketularan virus menyebalkannya si Cikur ya lo?”


Sasha hanya tersenyum tipis dan kembali memakan makanannya yang belum habis.


“Untung lo baru datang, coba kalau lo datang dari tadi. Pasti lo bakalan sama hebohnya sama cewe-cewe bodoh tadi,” tutur Cinta pelan yang membuat Pelangi bingung seketika.


“Awan baru aja makan siang di sini dan sekarang dia udah pergi.” jawab Bumi yang membuat mata Pelangi begitu membelalak dan terlonjak kaget.


Langit yang baru saja duduk dan menyimpan makanannya begitu terkejut dengan Pelangi yang tiba-tiba saja berteriak sambil menggebrak meja, hingga membuat orang-orang di sekelilingnya menatap ke arah meja tempat Pelangi duduk dengan tatapan seorang musuh.


“Whatt? Awan was just here? Omo, kenapa kalian gak kasih tahu gue dari tadi, sih? Why do not you try to contact me? Bisa kan dengan sms atau telepon kalau Awan ada di sini? Es ist eine groβe hance fur mich, kalau tahu Awan ada di sini kan gue pasti cepet-cepet datangnya.


“Oh, my God my prince Lee minho gue! Il suce!” umpatnya hingga membuat saudara-saudara kembarnya, Sasha dan juga Bumi terlihat terkejut dan tak mengedipkan mata mereka sama sekali.


Pelangi tampak bingung dengan ekspresi Cinta, Langit, Sasha dan juga Bumi yang tampak terheran-heran dengan ucapannya tadi yang mungkin terlalu cepat seperti rel kereta api.


“What wrong?”


“Gue bingung lo tadi ngomong apa, Pe? Lo tadi pake bahasa apa, sih? Bahasa planet, ya? Gue nggak ngerti deh, cepet banget ngomongnya!” tutur Cinta dengan tampang bloonnya.


“Aishh, gue kira lo ngerti gue ngomong apa. Jadi, percuma aja gue dari tadi ngomong panjang lebar.”


“Lo kaya burung beo sih, nyerocos nggak jelas nggak tahu ngomong apa,” kata Cinta yang membuat Pelangi manyun.


“Makanya belajar bahasa inggris yang baik dan benar. Jangan cuma tahu yes or no, doang!” sewot Pelangi hingga membuat Cinta kesal mendengarnya.


“Apa tadi lo bilang? Hey, gue bisa bahasa Inggris, yah. Nilai bahasa Inggris gue 80.”


“80 doang bangga. Gue aja yang 98 biasa aja, tuh,” timpalnya tak mau kalah.

__ADS_1


“Bahasa doang, sekarang kalau gue tanya tentang Ilmu sosial, lo hafal gak? Elo tahu nggak kebudayaan di Jerman itu seperti apa? Tahu tanggal kemerdekaannya Korea Selatan? Tahu isi UUD pasal 28 ayat 3 isinya apa?”


“Aishh, ini kan bukan lagi ujian, Cikur. Untuk apa gue hafal semua itu!”


“Berarti masih tetep gue yang paling hebat soal hafalan.”


“Iya hafalan lo emang hebat, tapi bahasa gue number one. Elo bisa nggak sampai fasih 5 bahasa kaya gue? Nggak, kan?”


Bumi, Sasha dan Langit hanya bisa menertawakan perilaku Cinta dan juga Pelangi yang memang selalu membuat orang lain tertawa dengan sikap dan ekspresi wajah mereka yang kelewat polos kalau sedang beradu mulut seperti itu.


Melihat perdebatan mereka, Bumi, Sasha dan Langit hanya bisa menyantap makanan mereka saja tanpa banyak berbicara.


“Tiap hari mereka selalu seperti itu di rumah?” tanya Sasha penasaran.


“Bukan tiap hari lagi, tapi tiap detik, Sha.”


“Elo gak cape lihat mereka debat mulu?” tanya Sasha kembali.


“Frustasi gue, Sha,” ucapnya dengan ekspresi wajahnya yang sedih.


“Sabar Eel, Tuhan selalu ada buat lo,” tutur Bumi seraya menepuk-nepuk pundak Langit pelan.


Karena sudah malas ribut dengan saudara kembarnya, Cinta pun langsung mengajak Bumi pergi dengan menarik tangannya secara paksa.


“Hey, mau ke mana?” tanya Langit saat melihat Cinta beranjak dari tempat duduknya.


“Kita ada latihan, bye!” jawab Cinta yang langsung menarik tangan Bumi hingga membuat Bumi menatap dengan nanar mangkok isi baksonya yang belum habis.


Sejak kepergian Cinta dan juga Bumi, suasana kantin sudah mulai membaik dan tidak terjadi kericuhan yang di mana bila ada Cinta di sana, pasti akan ada Pelangi yang selalu menjadi biang kerusuhan.


“Mereka berdua kenapa nggak pacaran aja, sih? Dari jaman Sma dulu, mereka berdua selalu bersama dan tak terpisahkan. Kita aja yang kembar tiga, gak selalu bersama terus,” ujar Pelangi sambil menyantap makanannya dan menatap ke arah Cinta dan juga Bumi yang sudah berada jauh di depan.


“Entahlah, mungkin mereka lagi nyaman dengan persahabatan mereka sekarang,” jawab Langit yang masih sibuk berkutat dengan makanannya.


“Cocok, sih. Tapi, kalau keduanya nggak ada yang saling mengungkapkan rasa, mana mungkin mereka bisa pacaran,” kata Sasha yang diberi anggukan Langit.


“Emangnya, mereka beneran saling suka, Sha?” tanya Pelangi penasaran.


Sasha mengangkat kedua bahunya dan kembali memakan sisa nasi goreng miliknya.


“Hanya mereka yang tahu soal perasaan mereka.”


“Emangnya, Cinta nggak cerita soal perasaannya sama Bumi ke elo, Sha?” tanya Pelangi kembali.


“Itu rahasia,” katanya menjawab hingga membuat Pelangi kesal sendiri mendengar jawaban Sasha barusan.


“Gue rasa, ada satu hal yang membuat mereka nggak bisa pacaran,” kata Langit tiba-tiba yang membuat Sasha dan juga Pelangi melirik ke arahnya.


“Apa itu?” tanya Pelangi dan Sasha yang terlihat sangatlah penasaran.

__ADS_1


__ADS_2