
"Apa maksud lo, Ta?" tanya Langit tidak mengerti.
"Sasha menjauhi lo karena dia tidak ingin lo jadi perbincangan anak-anak sekampus. Masalah pertengkaran lo dengan Guntur sudah menyebar luas. Nama Sasha juga sudah jelek akibat perbuatan Guntur. Dan, alasan lainnya adalah Sakit, Lang."
"Sakit?" seru Pelangi dan Langit bersamaan.
Cinta menganggukan kepalanya.
"Kejora juga tahu, bahkan Sasha minta bantuan Kejora agar lo bisa melupakan Sasha."
Cinta menghampiri Pelangi dengan Langit yang sedang berada di balkon. Cinta pun memutuskan untuk mulai menceritakan tentang Sasha yang sama sekali tidak diketahui Langit maupun Pelangi.
"Gue sakit, Ra," tutur Sasha pelan saat dia dan Kejora saling bertemu di kantin tempo lalu.
"Sakit?"
"Gue sebenarnya tidak ingin menceritakan ini semua sama lo. Tapi, gue minta bantuan lo agar gue bisa melupakan Langit, Ra. Gue juga ingin minta bantuan lo supaya gue dengan Langit saling berjauhan."
"Tapi kenapa? Dan, sebenernya elo sakit apa, Sha?"
"Kanker mata, Ra."
Begitu mendengar hal tersebut Kejora terdiam dan tak bergeming. Ia tidak menyangka sama sekali kalau gadis seperti Sasha mengidap penyakit tersebut.
"Beberapa minggu lalu gue sudah melakukan check up ke rumah sakit. Penyakit ini bisa menyebabkan kebutaan karena kornea mata gue rusak. Seperti almarhum ayah, gue mengidap penyakit itu. Karena kanker mata itu penyakit turunan yang diturunkan ayah gue ke gue."
"Tapi, kenapa bisa, Ra?" tanya Kejora yang mulai terlihat sedih.
"Waktu Sma, gue pernah mengalami kecelakaan parah hingga menyebabkan kornea mata gue rusak dan melemah. Seiring berjalannya waktu pandangan mata gue mulai kabur dan gue sering mengalami sakit kepala. Dokter bilang itu bisa jadi katarak dan gue harus di operasi. Tapi, dulu gue menolaknya hingga beberapa minggu yang lalu dokter bilang kedua mata gue ada tumor dan gue harus melakukan operasi mata."
__ADS_1
Begitu mendengar cerita tersebut, Kejora meneteskan air matanya. Ia pun menggenggam kedua tangan Sasha dengan lembut.
"Tapi, pasti sembuh kan, Sha?"
"Gue nggak tahu, Ra. Maka dari itu bantulah gue. Elo gadis yang baik, Ra. Elo pantas bahagia dan elo pantas mendapatkan Langit. Gue yakin, Langit juga menyukai lo."
"Tapi, gue yakin banget. Rasa suka Langit terhadap lo lebih besar dari pada gue, Sha. Gue tidak ingin mendapatkan hal yang lebih besar. Gue bisa dekat dengan Langit saja itu lebih dari cukup. Gue bahagia jika gadis yang bersanding dengan Langit itu lo."
"Tapi, itu tak mungkin. Usia seseorang tidak ada yang tahu, Ra. Gue tak ingin membuat Langit sedih karena gue. Masa depannya masih panjang, dia harus mendapatkan seorang gadis yang bisa bersamanya sampai tua dan tidak menyusahkannya. Bantu gue, Ra. Gue mohon, bahagiakan dia, buat Langit melupakan gue. Buatlah Langit mencintai lo lebih dalam lagi, bantu gue untuk menjauh dari nya dan melupakan perasaan ini. Gue mohon, Ra. Demi Langit, demi kebahagiaannya. Demi kebahagiaan lo juga."
Setelah bertemu dengan Kejora dan menceritakan semuanya serta meminta bantuan darinya, Sasha menghampiri Bumi dan Cinta yang tengah melaksanakan ujian karate.
"Udah selesai?"
"Udah, gue berhasil mengalahkan Cinta loh, Sha!" seru Bumi terlihat bahagia.
"Iya, kali ini Bumi peringkatnya di atas gue, Sha. Dia berhasil mengalahkan gue dan gue mengakui kehebatannya."
"Makasih, Sha. Karena gue lagi bahagia, gue traktir kalian berdua. Apa pun gue bayarin, deh."
"Serius?" tanya Sasha dan Cinta bersemangat.
"Jalan, yuk? Udah lama kita nggak jalan bareng."
"Sasha bener, Bom. Gimana kalau besok kita nonton, makan terus jalan-jalan ke mana pun yang kita suka."
Setelah merencanakan perjalanan mereka, esok harinya Cinta, Bumi dan Sasha menghabiskan hari mereka dengan pergi ke Dunia Fantasi. Menaiki semua wahana yang ekstream membuat ketiganya terlihat bahagia sekali dengan persahabatan yang mereka miliki.
Berteriak sekencang mungkin, melakukan hal konyol dan berfoto bersama membuat ketiganya terlarut dalam kebahagiaan mereka. Setelah dari Dufan, malam harinya mereka menonton film horor bersama di bioskop. Menghabiskan seharian ini bersama membuat ketiganya seperti sebuah keluarga bukan sebagai sahabat.
__ADS_1
Dengan Bumi yang merangkul kedua sahabat perempuannya, mereka bertiga melupakan kejadian buruk beberapa hari lalu yang menimpa mereka. Pertengkaran Bumi dengan Cinta memang membuat persahabatan sempat mereka merenggang
Tapi, seiring berjalannya waktu, mereka semakin dewasa. Dengan adanya pertengkaran itu, persahabatan mereka pun semakin kokoh.
"Ada yang ingin gue bicarakan sama kalian berdua," tutur Sasha saat mereka tengah makan malam bersama di sebuah cafe.
"Ada apa, Sha?"
"Gue mau jujur soal keadaan gue sekarang, Ta, Bom."
"Maksudnya?" tanya Cinta tak mengerti.
"Bokap tiri gue ternyata benar selingkuh dari nyokap, Ta. Nyokap sempat ingin menceraikan bokap. Tapi, bokap gue nggak mau. Dia berjanji tidak akan selingkuh dan membahagiakan nyokap. Tapi, yang nyokap dapat hanya kekerasan dari bokap tiri gue. Setiap kali membahas perceraian, bokap sering memukuli nyokap. Kadang, setiap ki gue membela nyokap, gue sering kena imbas kena pukulan bokap.
"Sebenarnya, kalian tahu percis juga kan hubungan gue sama Guntur dulu seperti apa. Setahun lebih pacaran, hubungan kami baik-baik saja. Sampai akhirnya gue tahu Guntur sering mabuk-mabukkan dengan temannya.
"Mungkin dia salah pergaulan. Gue tahu betul, dulu Guntur anak yang baik. Tapi, semenjak dia bergaul dengan Reyhan dia jadi sering mabuk-mabukkan. Gue berusaha sabar, tapi lama-lama dia makin menjadi-jadi. Gue sering kali meminta putus, tapi tiap kali membicarakan putus, Guntur selalu berkata kasar dan memperlakukan gue layaknya sampah.
"Berkali-kali gue maafkan dia sampai dia selingkuh dan bahkan dia sudah tunangan dengan selingkuhannya itu. Kesabaran gue ada batasnya juga, Ta, Bom. Pada akhirnya, Gue memutuskan hubungan kami secara sepihak. Gue makin depresi ketika Guntur menyebarkan gossip miring tentang gue. Dia menyebarkan berita soal keluarga gue, bahkan dia sampai memfitnah gue jalan dengan om-om.
"Nama gue jadi buruk di kampus, Ta, Bom. Gue . . ."
Sasha tak melanjutkan pembicaraannya. Dia menangis hingga membuat Cinta berdiri kemudian duduk di samping Sasha sembari memeluknya juga Bumi yang menggenggam erat tangan sahabatnya itu.
"Gue janji sama lo, Sha. Kalau Guntur sampai macam-macam sama lo, gue akan membalasnya," tutur Bumi pelan.
"Ta, jujur gue sayang sama adek lo. Rasa gue untuk Langit sudah ada di saat Langit selalu ada di setiap kali gue susah. Perhatiannya yang tidak kalian ketahui membuat gue nyaman dengan adek lo. Sejujurnya, gue dengan Langit sudah saling mengetahui perasaan masing-masing. Tapi, gue tidak ingin berhubungan lebih dari teman dengannya, Ta. Karena gue . . . gue sakit, Ta, Bom."
Mendengar kata sakit Bumi dengan Cinta begitu terkejut dan langsung melotot tajam.
__ADS_1
"Apa? Sakit? Elo sakit apa, Sha?" tanya Bumi tak sabaran.
"Kanker mata, Bom."