
Cinta terlihat tersenyum-senyum sendiri saat ia baru saja sampai di rumahnya. Begitu membuka pintu rumah, ia begitu terkejut karena mendapati Faris sedang menatapnya dengan sorotan mata tajam.
“Baru pulang?” tanya Faris yang sedang menonton tv.
“Eh, Papih?”
“Habis balapan lagi?” sindir Faris sambil melipat kedua tangannya terlihat kesal.
Cinta menundukkan kepalanya melingkarkan kedua tangannya di depan dan terlihat sangat menyesal.
“Sorry, Pih."
“Cepat mandi sana, kamu udah makan?” tanya Nindi sambil membawa segelas teh hangat untuk suaminya.
“Belum, Mih.”
“Ya udah, kamu mandi dulu aja. Setelah itu kamu makan.”
Cinta menganggukkan kepala dan segera menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, ia segera menuju ruang makan dan menyantap makanan yang sudah dihidangkan. Selagi Cinta makan, ia begitu terkejut karena Langit terlihat bahagia sekali sambil bersiul-siul tidak jelas dan mengambil air minum di dalam kulkas dengan ekspresi wajah yang tampak bahagia.
“Elo kenapa? Elo sehat, kan?” tanya Cinta sambil memakan makanannya.
“Lagi fallin in love dia!” seru Pelangi yang baru saja turun dari lantai 2 kemudian langsung menghampiri Cinta seraya mengambil kulit ayam goreng milik kakaknya.
“Jatuh cinta sama siapa sih anak mamih yang satu ini? Kelihatannya happy banget?” tutur Nindi yang menghampiri anaknya di dapur dan mengambil beberapa makanan untuk dibawa ke ruang tv.
“Akh, mamih, siapa juga yang lagi jatuh cinta. Pelangi ngawur itu,” ujar Langit yang langsung duduk di depan Cinta dan mengambil ayam goreng miliknya.
“Kalian pada nyebelin banget, sih! Ganggu orang makan aja!” teriak Cinta kesal.
“Biarin, wlee!” seru Langit sambil menjulurkan lidahnya kemudian kembali mengambil tempe goreng yang ada di atas piring Cinta.
“Langit! Rese, deh! Balikin tempe gue!” teriaknya kesal.
“Aduh, kalian ini kaya anak kecil aja, deh. Rebutan makanan sampai segitunya!” seru Pelangi yang melihat ke dua kakaknya saling mengejar satu sama lainnya.
Cinta terlihat manyun dan langsung mengejar Langit untuk mengambil tempe goreng miliknya kembali. Sementara Nindi, Faris dan Pelangi hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka berdua sambil menggeleng-gelengkan kepala mereka pelan.
♪♪♪
Besok paginya, Cinta terlihat sedang menyanyikan lagu Michael Buble- Lost dengan begitu kerasnya, sedangkan Pelangi terdengar sedang menyanyikan lagu Wolf - Exo sambil menari-nari tidak jelas saat ia menuruni anak tangga.
Lain halnya dengan Langit sendiri, sambil menggunakan topi terbalik bergaya seperti anak hip hop dan tak lupa dengan kacamata hitamnya yang besar sedang menyanyikan lagu Maroon 5 – Animals.
Nindi dan Faris yang melihat ke tiga anaknya bernyanyi-nyanyi tidak jelas di pagi buta seperti ini, membuat mereka berdua mengernyitkan kening mereka dan terlihat sangat frustasi dengan sikap anak-anaknya yang ajaib.
“Hey, kalian bertiga itu kenapa? Bisa kah kalian hening sejenak? Papih pusing mendengar kalian bernyanyi begitu keras seperti itu!” teriak Faris yang berusaha menenangkan ketiga anaknya.
“Geurae wolf, naega wolf, awooo ah saranghaeyo nan neukdego neon minyeo!” seru Pelangi sambil bernyanyi dan menirukan gaya serigala yang sedang mengaum.
“Pelangi, kamu sehat, Nak? Ada apa dengan keluarga ini sebenarnya?” tanya Nindi dengan membawa beberapa piring isi makanan dan menyimpannya ke atas meja.
“Mungkin mereka lelah, Mih,” jawab Faris sambil melihat ke tiga anaknya yang terlihat sangat miris itu.
“Stop, berhenti sekarang! Dan, cepat sarapan! Kalau kalian tidak berhenti, mamih potong uang jajan kalian semua!” seru Nindi yang membuat ke tiga anaknya tiba-tiba terdiam, tanpa suara dan terlihat duduk manis.
“Cara yang bagus untuk menghentikan mereka, Mih,” tutur Faris sambil melipat koran yang baru saja selesai dibacanya.
Pelangi, Cinta dan juga Langit langsung duduk manis di tempat mereka. Tanpa bersuara dan tanpa ada gerakan tambahan apa pun.
“Sorry, Mih, mendadak kita konser dadakan tadi,” tutur Langit nyengir.
“Baiklah, kalian habiskan makanan kalian. Dan, tetaplah tenang jangan ada yang bernyanyi lagi. Oke?”
Cinta, Pelangi dan Langit mengangguk dan segera memakan makanan mereka bertiga dengan tenang.
“Oh iya, papih dan mamih ada obrolan serius dengan kalian bertiga.”
“Apa itu?” tanya ke tiga anaknya bersamaan.
Faris terlihat menatap ke tiga anaknya dengan silih berganti. Sementara Pelangi, Cinta dan Langit terlihat sudah siap untuk mendengarkan apa yang ingin Faris perbincangkan kepada mereka.
__ADS_1
“Papih dan mamih mau mengajak kalian hari minggu depan nanti ke suatu tempat.”
“Suatu tempat? Ke mana?” tanya Pelangi bingung.
“Rumah, sebuah rumah yang kami berikan nama Rumah PelangiT Cinta,” jawab Nindi yang membuat ke tiga anaknya bingung dan saling berpandangan satu sama lainnya.
“Rumah PelangiT Cinta?” ulang Cinta, Pelangi dan Langit bersamaan.
“Iya, rumah itu sudah kami persiapkan sejak 5 tahun yang lalu. Rumah itu hadiah dari kami berdua untuk kalian,” jawab Faris sambil tersenyum tipis.
“Rumah itu sengaja kami berikan nama Rumah PelangiT Cinta karena rumah itu milik kalian bertiga. Ini peningggalan terakhir kami untuk kalian. Jadi, kalian harus mengisi rumah itu dengan kehangatan cinta keluarga kalian kelak,” jelas Nindi yang membuat Faris tersenyum dan mengangguk-nganggukkan kepalanya.
“Are you sure, Mih?” tanya Pelangi untuk memastikan.
Nindi dan Faris mengangguk kembali hingga membuat ke tiga anaknya saling bertatapan dengan pandangan mata yang terlihat masih kebingungan.
“Mungkin kalian sekarang bingung, tapi kami akan jelaskan saat kita semua pergi ke sana minggu depan nanti. Jadi, kosongkan waktu kalian minggu nanti, oke? Siapa tahu itu akan menjadi waktu terakhir kalian untuk bersama mamih dan papih,” tutur Faris yang membuat ke tiga anaknya terkejut.
“Loh, kenapa jadi waktu terakhir kami dengan kalian? Memangnya kalian mau ke mana?” tanya Langit bingung.
“Kami mau ke New York, mau honey moon lagi,” jawab Nindi terdengar riang.
“Curang! Mih, Pih, Pelangi mau ikut!” rengek Pelangi manja sambil menarik-narik pergelangan tangan Faris juga Nindi seperti anak kecil.
“Kami juga ingin ikut!” seru Langit dan Cinta bersamaan ikut merengek.
“No, kalian nanti saja menyusul. Kami sudah lama tidak pernah pergi berdua bersama. Jadi, kami mau menikmati hari-hari kami di sana,” tutur Faris sambil merangkul istri tercintanya.
Ke tiga anaknya terlihat kecewa sekali. Pergi ke New York adalah salah satu impian mereka sejak dulu. Tapi, sepertinya impian mereka akan kandas begitu saja, karena sepertinya mereka akan sangat sulit untuk pergi ke sana.
“Kapan mamih dan papih berangkat?” tanya Pelangi tak sabaran.
“Sekitar 3 atau 4 bulan lagi,” jawab Nindi.
“Ternyata masih lama. Oh iya, berapa lama mamih sama papih di sana?” tanya Langit yang kali ini terlihat penasaran.
“Sekitar 3 sampai 4 mingguanlah,” jawab Nindi kembali.
“Sudah kami handle, selain honey moon kami juga ada kerjaan di sana, tidak semata-mata hanya untuk holiday saja. So, lain kali baru kita bisa berlibur ke New york sama-sama, yah. Deal ?” tanya Faris sambil menatap ke tiga anaknya silih berganti.
“Deal !” jawab Cinta, Pelangi dan Langit tampak murung dan tidak bersemangat sama sekali.
Setelah pembicaraannya dengan kedua orangnya, Cinta, Langit dan Pelangi berangkat bersama-sama menuju kampus. Sesampainya di kampus, Cinta sangat terkejut karena Bumi tiba-tiba saja datang menghampirinya dengan merangkul Pelangi dan juga dirinya.
“Pagi, guys!” sapanya terlihat riang.
“Pagi! Happy banget kayanya?” selidik Langit yang melihat gelagat temannya itu ada yang aneh dan sedikit berubah tidak seperti biasanya.
“Gue emang lagi happy. Ya udah, gue ke kelas duluan. Cinta let’s go, bye Pelangi!” serunya yang langsung menarik tangan Cinta dan melambaikan tangannya ke arah Pelangi.
“Ada apa dengannya?” tanya Langit sambil memandangi kepergian Cinta dan juga Bumi dengan mata menyipit.
“Gue juga gak tahu kenapa, gue duluan.”
Pelangi langsung pergi meninggalkan Langit dengan terburu-buru. Sedangkan Langit hanya menatap punggung Pelangi dari kejauhan dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Mereka semua sangat aneh," gumam Langit pelan.
Saat Langit membalikkan badan, ia tidak sengaja menabrak seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Kejora.
Tanpa disengaja Langit hampir membuatnya terjatuh. Dengan reflek, Langit langsung menangkap tubuh Kejora hingga ia tak terjatuh. Saat tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Kejora, ia terlihat sangat gugup dan menjadi salah tingkah.
“Elo nggak apa-apa?” tanya Langit yang masih menggenggam tangan Kejora.
“Akh, gue baik-baik aja. Thank’s.”
Kejora langsung melepaskan genggaman tangan Langit dan begitu pun dengan sebaliknya. Langit terlihat menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sementara Kejora tampak memperbaiki posisi kacamatanya dan merapihkan rambutnya.
“Ayo, kita ke kelas,” ajak Langit membuka suara.
Kejora mengangguk pelan dan terlihat salah tingkah. Karena gugup, mereka berdua terlihat menjaga jarak langkah kaki mereka. Saat perjalanan mereka menuju kelas, Langit tidak sengaja melihat Sasha sedang berada di kelasnya Septi yang kebetulan salah satu anak Bem juga.
__ADS_1
Dari sudut pandangannya, Langit merasa ada yang aneh dengan wajah Sasha. Ia seperti terlihat kelelahan, sedih, marah dan juga kecewa. Rasanya, semuanya terlihat bercampur aduk.
“Ra, elo ke kelas duluan aja. Gue ada perlu sebentar,” katanya yang kemudian pergi.
Kejora mengangguk dan melihat Langit berlari ke arah Sasha dengan terburu-buru.
“Perempuan itu lagi. Sepertinya, mereka mempunyai hubungan yang special,” tutur Kejora pelan.
“Sasha!” teriak Langit begitu melihat Sasha pergi.
Merasa namanya di panggil, Sasha langsung membalikkan badan dan menatap ke arah Langit yang berlari menghampirinya.
“Kenapa, Lang?”
“Elo kenapa? Muka lo pucet gitu. Sakit?” tanyanya yang langsung memegang kening Sasha dengan tangannya.
“Gue baik-baik aja. Kenapa emangnya?”
“Jangan bohong sama gue. Magh lo kambuh lagi atau lo lagi ada masalah?”
“Gue nggak apa-apa, Lang. Elo kenapa sampai sekhawatir itu sih sama gue?”
“Yakin lo?”
Sasha menghembuskan nafas pendek. Ia langsung duduk begitu melihat ada tempat duduk yang kosong hingga membuat Langit juga mengikutinya untuk duduk di sampingnya.
“Kenapa? Cerita sama gue.”
“Kemarin gue berantem sama Guntur, Lang. Nyaris putus sih lebih tepatnya.”
“Kenapa bisa? Bukannya, kemarin kalian mau jalan bareng, kan?”
“Guntur sekarang sibuk di dunianya sendiri, Lang. Kita juga udah jarang banget komunikasi, jalan bareng aja sudah benar-benar langka. Bahkan, setiap bertemu saja kami sibuk dengan gadget masing-masing, benar-benar jarang sekali mengobrol. Karena hal itulah yang sering memicu pertengkaran kami akhir-akhir ini. Dan, mungkin puncaknya kemarin. “
“Terus, hubungan lo sama Guntur sekarang gimana?” tanya Langit kembali.
“Ngambang, benar-benar di ujung tanduk. Gak tahu kaya gimana. Kayanya gue mau putus aja sama Guntur.”
“Elo udah yakin sama keputusan lo? Nggak akan nyesel?”
“Gue udah semalaman berfikir jernih, Lang. Kayanya sih, putus.”
Langit menatap wajah Sasha yang terlihat mungil. Sepertinya ada di yang disembunyikan Sasha darinya. Tapi, Langit sendiri tidak tahu percis itu apa.
“Gue percaya, apa pun keputusan lo nanti, itu mungkin jadi yang terbaik buat lo. Kalau ada apa-apa lo cerita aja sama gue, Sha.”
“Thank’s ya, Lang. Elo memang temen gue yang paling baik dan bisa ngertiin gue banget.”
“Sama-sama,” jawab Langit sambil tersenyum dan menatap wajah Sasha dengan lembut.
"Gue ke kelas dulu, Lang."
Sasha kemudian pergi. Namun, langkahnya tiba-tiba saja terhenti. Ia membalikkan badan dan kembali menatap Langit dengan sendu.
"Lo bahagia, Lang?"
"Kenapa lo bertanya seperti itu, Sha?"
"Pernah nggak lo ngerasain rasanya ingin berhenti di sini saja?"
"Berhenti soal?"
"Semuanya. Kehidupan lo dan perasaan lo."
"Gue nggak ngerti maksud lo, Sha."
"Kadang, Tuhan nggak adil terhadap gue, Lang. Tapi, kadang gue mikir lagi. Mungkin, ada rencana Tuhan yang sedang dipersiapkan untuk gue di masa depan."
"Elo ngomong apa sih, Sha? Aneh banget deh lo."
Sasha tersenyum tipis kemudian pergi. Kepergian Sasha benar-benar membuat Langit bingung. Sebenarnya apa yang telah terjadi kepadanya?
__ADS_1