
Setelah kepergian Cinta dan kedua orang tuanya, Langit langsung bergegas menuju kampus. Selama mengemudikan mobil, entah kenapa Langit terus memikirkan kebersamaannya bersama keluarganya. Ia juga mendadak teringat kejadian saat ia masuk rumah sakit karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu.
Langit menatap ke arah dashboard mobilnya. Di sana ada sebuah bingkai foto dirinya bersama kedua saudara kembarnya. Langit begitu lama menatap bingkai foto itu, sampai-sampai ia hampir menabrak kucing yang baru saja melintas.
“Astaga!!” teriaknya yang langsung ngerem mendadak. “Kenapa, mendadak gue jadi gak enak hati, yah? Kucing? Jangan-jangan ada apa-apa lagi sama Pelangi. Gue harus cepat ke kampus.”
Langit langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di kampus, ia langsung memparkirkan mobilnya dan segera menuju Fakultas Fisip untuk bertemu dengan adiknya.
“Sorry, lihat Pelangi nggak?” tanya Langit ke beberapa teman adiknya.
“Dia tadi lagi di kantin,” jawab seseorang.
“Terimakasih banyak!” katanya yang langsung berlari menuju kantin.
Saat berada di kantin, Langit langsung mencari sosok Pelangi. Karena perasaannya tidak enak, ia mencoba menghubungi adiknya itu. Namun, teleponnya tak kunjung di angkat juga. Ketika melihat Pelangi sedang bersama Bumi di kantin, ia langsung menghampiri mereka dengan setengah berlari.
“Pelangi!” teriak Langit yang langung menarik tangan adiknya.
“Langit? Elo kenapa lari-lari gitu?”
“Elo nggak apa-apa, kan? Elo baik-baik aja, kan?” tanya Langit tak sabaran sambil memeriksa seluruh tubuh adiknya itu karena ketakutan akan terdapat luka.
“I’m fine, elo kenapa sih kaya yang khawatir gitu sama gue?”
“Syukurlah!” katanya yang langsung memeluk erat adiknya itu.
“Lang, ada apa?” tanya Pelangi bingung.
“Nggak apa-apa, feeling seorang kakak aja yang sedang tidak baik,” jawab Langit sambil mencoba untuk mengatur nafasnya yang tak beraturan.
“Minum dulu, Lang!” tutur Bumi mencoba menenangkan.
Langit mengangguk dan langsung duduk di samping Bumi.
__ADS_1
“Are you oke, Lang?” tanya Pelangi kembali.
“Ya, i’m oke.” Langit terlihat masih tampak khawatir. Tapi, ia sendiri tidak tahu arti dari kecemasannya itu.
“Elo habis dari mana emangnya tadi, Lang?” tanya Bumi yang kali ini bersuara.
“Gue tadi hampir nabrak kucing di jalan. Gue dari tadi kefikiran Pelangi sama Cinta terus, makanya gue hampir nabrak kucing.”
“Elo kangen ya sama gue?” goda Pelangi seraya mendekatkan wajahnya ke arah wajah Langit dan menekuk kedua tangannya.
“Aishh, gue lagi nggak bercanda, Pe!” teriaknya kesal.
“Oh iya, Cinta udah nganter mamih sama papih, kan?”
“Udah, mereka sekarang lagi ada di jalan. Berhubung gue masih ada kelas, gue ke kelas dulu,” pamitnya yang langsung pergi dengan ekspresi wajah yang terlihat gelisah.
“Oke, belajar yang rajin!” seru Pelangi tampak riang.
"Gue mau ke kelas dulu, elo mau gue antar ke kelas?" tanya Bumi terlihat gugup sepeninggalnya Langit.
Bumi tertawa kecil sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya udah, ayo antar gue ke kelas," tutur Pelangi yang langsung menarik tangan Bumi begitu erat.
Setelah mengantar Pelangi ke kelasnya, Bumi langsung menuju kelasnya karena masih ada mata kuliah selanjutnya.
Sementara Cinta, ia tengah mengemudikan mobil milik kedua orang tuanya karena ia harus mengantar Faris dan juga Nindi menuju Bandara.
Selama di dalam mobil, Faris dan Nindi tampak sedang melihat-lihat foto-foto kebersamaan mereka dengan ketiga anaknya yang berada di dalam laptop milik Faris.
“Ini foto waktu perpisahan Sma anak-anak kita ya, Pih?”
“Iya Mih, cantik dan tampan yah mereka?”
__ADS_1
"Iya Pih, siapa dulu dong, anak mamih!”
“Anak papih juga.”
“Anak kita,” tutur Nindi pelan sambil tersenyum hingga membuat suaminya membalas senyuman istrinya.
“Mamih sama papih jangan lupa bawain oleh-oleh buat Cinta, yah?” tutur Cinta yang tengah menyetir.
“Yang kamu fikirkan hanya oleh-oleh saja, cepat selesaikan kuliahmu kemudian menikah!” seru Faris mendelik tajam ke arah anak gadisnya.
“Ikh, papih ngomongnya soal pernikahan mulu, Cinta kan masih muda!”
“Tapi papih sama mamih sudah tidak muda lagi,” jawab Faris yang kali ini membuat Cinta manyun.
“Ini ada apa, yah? Ko, macet banget?” seru Cinta saat tengah mengemudikan mobilnnya.
“Macet? Sudah jam berapa ini? Pesawat kita kan keberangkatannya jam 2 siang!” seru Nindi sambil melirik jam tangannya.
“Kayanya ada kecelakaan deh, tunggu bentar, handphone Cinta bunyi.”
Cinta langsung merogoh-rogoh tasnya untuk mengambil handphone miliknya. Setelah menemukan handphonenya, ia langsung membuka pesan masuk.
Begitu membaca isi pesan tersebut, Cinta terlihat begitu terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.
“Ada apa, Cinta?” tanya Faris ketika melihat ekspresi anaknya yang tampak terkejut itu.
“Cinta, awas ada mobil!” teriak Nindi saat melihat dua mobil yang terlihat saling menabrak satu sama lainnya.
Begitu melihat ke depan, handphone milik Cinta langsung terjatuh dan ia pun langsung membelokkan mobilnya untuk menjauh dari dua mobil yang hampir menabraknya. Namun, bermaksud untuk menjauhi mobil tersebut, mobil Cinta malah tertabrak mobil besar dari arah sisi kanan.
“Arhghh!!” teriak Nindi dan Faris bersamaan.
Cinta tampak terkejut dan begitu panik. Karena mobilnya oleng dan berbelok arah, ia malah menabrak mobil di depannya. Dan, tabrarakan pun tak dapat dihindari lagi hingga membuat mobil yang dikendarai Cinta terguling.
__ADS_1
“Argghh!!” teriak Cinta begitu syock.
Pelangi yang baru saja keluar dari kelasnya tak sengaja menjatuhkan gelang kembaran kepunyaannya dengan Cinta saat bertabrakan dengan seseorang. Begitu melihat gelangnya terjatuh, untuk beberapa saat ia memandangi gelang tersebut dengan wajah yang terlihat kebingungan.