Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Cobaan yang Begitu Berat


__ADS_3

“Pelangi!” teriak Bumi memanggil begitu tiba-tiba hingga membuatnya terkejut ketika ia sedang memandangi gelang miliknya yang tergeletak di lantai dan membuat Bumi juga ikut melihat ke arah gelang miliknya yang terjatuh.


“Ada apa? Itu gelang punya lo yang samaan dengan Cinta, kan? Kenapa nggak elo ambil?” tanya Bumi bingung.


Pelangi dan Bumi tampak saling beradu pandang satu sama lainnya. Karena melihat gadis yang berada di hadapannya itu tampak bingung, Bumi mengambil gelang milik Pelangi tersebut dan langsung memberikannya.


“Ngi, elo baik-baik aja?” tanya Bumi kembali.


“Feeling gue gak enak, Bom. Gue musti pulang,” katanya yang langsung bergegas pergi.


“Tunggu, gue anter lo pulang!” katanya yang langsung menarik tangan Pelangi dan menatapnya.


“Gue bawa mobil sendiri.”


“Gue ikuti lo dari belakang pake motor gue.”


Pelangi mengangguk pertanda setuju dan langsung bergegas menuju parkiran. Karena fikirannya kacau dan melayang kemana-mana, ia mempercepat arah laju mobilnya dan mencoba untuk menghubungi handphone Cinta. Namun, teleponnya sama sekali tidak ia angkat.


“Cinta angkat dong, elo ke mana, sih?”


Sesampainya di rumah, Pelangi dan Bumi langsung bergegas masuk ke dalam rumah. Namun, tiba-tiba saja Pelangi berpapasan dengan supir pribadi kedua orang tuanya dan juga kedua pembantunya di depan rumah yang terlihat panik dan begitu terburu-buru.


“Bibik? Pak Rudi? Kenapa kalian pada panik gitu? Kalian mau ke mana?”


“Mbak, ibu sama bapa, Mbak!” tangis si bibik mulai tak karuan dan terdengar gugup.


“Mamih sama papih kenapa?” tanya Pelangi tidak sabaran.


“Ibu sama bapa mengalami kecelakaan besar saat menuju Bandara. Ada kecelakaan beruntun di dekat Bandara, Mbak,” jelas pak Rudi yang tergagap karena saking bergetarnya hatinya begitu mendengar kabar buruk yang menimpa majikannya .


“A . . . apa? Kecelakaan besar?” seru Pelangi terlonjak kaget yang hampir saja terjatuh, namun dengan sigap Bumi langsung menangkap tubuh Pelangi yang kebetulan berada di belakangnya.


“Terus, bagaimana keadaan mereka sekarang?” tanya Bumi yang ikutan panik.


“Tadi kami mendapat kabar dari pihak rumah sakit dan kepolisian, kami akan segera menuju rumah sakit.”


“Aku ikut, bapak hubungi Langit aja dulu. Aku ke rumah sakit sekarang,” ucapnya terbata-bata.


Pelangi langsug bergegas pergi dan mencoba untuk membuka pintu mobilnya. Namun, karena tangannya bergetar hebat, ia tak dapat membuka pintu mobilnya hingga membuat Bumi langsung mengambil kunci mobil miliknya dan membukakan pintu untuknya.


“Biar gue yang nyetir!” katanya yang membuat Pelangi hanya mengangguk dan terlihat tampak kebingungan.

__ADS_1


Pelangi dan Bumi pun segera menuju rumah sakit, sementara pak Rudi langsung menghubungi Langit seperti yang diminta Pelangi.


“Iya ada apa, pak?” tanya Langit disebrang telepon sana yang baru saja keluar dari kelasnya.


Begitu mendengar cerita dari pak Rudi di telepon, Langit langsung menjatuhkan hanphonenya hingga membuat Kejora yang berada di belakangnya tampak terkejut dengan sikap Langit yang aneh sekali.


“Ada apa, Lang?” tanya Regan yang berdiri di samping Langit dengan bingung.


“Keluarga gue masuk rumah sakit, Gan. Mereka mengalami kecelakaan beruntun tadi pagi saat menuju Bandara,” jawabnya yang masih telihat syock.


“Kecelakaan? Terus, keadaan mereka sekarang gimana?”


“Gue nggak tahu, gue harus ke rumah sakit!” katanya yang langsung bergegas pergi.


“Gue temani, Lang!” seru Regan yang langsung diberi anggukan Langit.


Mendengar ada kecelakaan yang menimpa mantan kekasihnya, Kejora terlihat begitu terkejut sekali. Bahkan, ia sendiri memutuskan untuk mengikuti Langit dan Regan yang hendak menuju rumah sakit.


Begitu sampai di rumah sakit, Pelangi dan Bumi tampak berlari-lari di koridor rumah sakit. Melihat banyaknya korban kecelakaan di rumah sakit, Pelangi langsung mencari kedua orang tuanya dan juga kakaknya dengan panik.


“Cinta mana . . . Cinta mana?” teriak Pelangi yang mulai cemas dan bercucuran air mata.


“Tenang Ngi, elo harus tenang!” seru Bumi berusaha untuk menenangkan.


“Gimana caranya gue bisa tenang, orang tua gue sama kakak gue gak ada!” teriaknya yang masih terus menangis.


Begitu melihat ada pasien yang baru saja diturunkan dari ambulance, Pelangi langsung melihat ke arah tangan pasien yang ditutupi kain putih itu. Begitu melihat tangannya, mata Pelangi langsung membelalak ketika melihat jam tangan milik Nindi, ibunya.


“Mamih? Mamih!!” teriak Pelangi yang langsung menghampiri korban yang sudah meninggal itu.


Begitu membuka kain putih tersebut, Pelangi semakin menjerit histeris karena mayat tersebut adalah mayat ibunya sendiri.


“Andwe! Mamih!” jerit Pelangi dengan air mata yang sudah mulai keluar dan terus mengalir deras dari pelupuk matanya.


“Pelangi, tenang Pelangi, sabar!” seru Bumi berusaha menenangkan.


“Mamih, kenapa mamih harus meninggalkan Pelangi secepat ini? Kenapa mih kenapa?” tangisnya yang mulai pecah.


“Pelangi sadar Pelangi!”


“Mamih!”

__ADS_1


Melihat Pelangi yang mulai tak bisa menjaga emosinya, Bumi semakin mempererat pelukannya. Pelangi menjerit histeris hingga terjatuh pingsan. Karena mendadak jatuh pingsan, Bumi beserta pak Rudi dan kedua pembantunya tampak panik dan segera membawanya ke dalam rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Langit, Regan dan juga Kejora berlari-lari di koridor rumah sakit. Begitu mendapat kabar Pelangi pingsan, ia langsung menuju ruangan tempat adiknya di rawat.


“Bagaimana keadaan Pelangi? Adik gue gak kenapa-kenapa, kan?” tanya Langit setelah bertemu Bumi di UGD.


“Adik lo nggak apa-apa, Lang. Tapi, nyokap bokap lo . . . .”


“Kenapa dengan mereka? Apa yang telah terjadi?” potong Langit tak sabaran.


“Nyokap lo . . . .”


“Kenapa dengan nyokap gue?” tanya Langit kembali yang mulai tidak enak hati.


“Nyokap lo meninggal di lokasi, Lang!” jawab Bumi sembari menundukkan kepalanya.


Begitu mendengar kabar ibunya telah meninggal, sontak Langit langsung terjatuh hingga membuat Kejora juga Regan tampak terkejut mendengarnya.


“Lang, elo nggak apa-apa?” tanya Regan yang ikut sedih mendengar kabar buruk dari keadaan keluarga sahabatnya.


“Mamih . . . mamih!!” tangisnya yang mulai pecah.


Melihat Langit yang menangis hebat seperti itu, membuat Kejora, Regan dan Bumi ikut menangis bersamanya. Bahkan kedua pembantunya dan juga pak Rudi ikut menangis bersama majikannya dan terlarut dalam suasana menyedihkan ini.


Kejora berjalan menghampiri Langit. Ia memeluk erat mantan kekasihnya itu dan menangis dalam pelukannya. Melihat semua orang menangis, Pelangi yang sudah siuman tampak terlihat sedang menangis dari balik tirai putih.


“Lang,” panggil Pelangi pelan saat melihat kakaknya itu tengah menangis hebat dalam pelukan Kejora di lantai rumah sakit.


“Pelangi?”


“Mamih Lang, mamih udah gak ada!” tangisnya kembali.


Langit langsung berdiri dan memeluk adiknya begitu erat. Pelangi kembali menangis dalam pelukan kakaknya. Mereka berdua menangis bersama dan mengenang kembali semua kenangan indahnya bersama dengan sang ibu.


Setelah mendapat kabar ibunya telah tiada, Langit dan Pelangi harus menelan kekecewaan kembali karena ayah dan kakak mereka mengalami luka parah terutama, Cinta.


Cinta langsung mengalami pendarahan hebat karena ginjalnya mengalami kerusakan parah dan mengalami cedera parah di kepalanya sehingga membuatnya koma. Sedangkan ayah mereka tampak berada di ruang operasi karena mengalami kerusakan dalam beberapa organ-organ tubuhnya.


Setelah menerima kabar kecelakaan yang merenggut nyawa ibunda mereka, beberapa kerabat jauh datang silih berganti ke rumah sakit untuk melihat keadaan Faris dan juga Cinta. Pelangi dan Langit sendiri tidak dapat tidur dengan nyenyak dengan apa yang telah terjadi dalam waktu yang sesingkat ini


Kenapa Tuhan memberikan cobaan begitu berat seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2