
20 menit kemudian, setelah puas menangis di dalam pelukannya, Bumi mengajak Pelangi pergi ke sebuah tempat di mana tempat itu adalah sebuah danau yang cukup luas dan bisa membuat fikirannya tenang seketika.
“Elo kenapa, Ngi? Cerita sama gue, siapa yang sudah membuat lo menangis seperti ini?”
Pelangi akhirnya membuka suara. Sambil meneteskan air matanya, ia mulai menceritakan kejadian hari ini yang membuatnya menangis seperti ini.
“Apa? Tega banget sih Cinta nampar adiknya sendiri! Di sini kan yang salah dia sendiri. Sakit jiwa itu anak!”
“Gue gak nyangka, gue malah dikhianati oleh saudara kembar gue sendiri. Dan, ini adalah pertama kalinya Cinta nampar gue. Gue sangat terkejut dan gue sedih banget, Bom. Kenapa harus kakak gue sendiri yang menampar gue seperti itu?”
“Tapi, elo nggak apa-apa, kan?” tanya Bumi tampak khawatir.
“Gue paling gak suka kalau gue dibohongi seperti ini. Kalau memang Cinta suka sama Awan, kenapa dia gak bilang sama gue dari awal? Asalkan dia bilang, gue gak akan marah karena selama ini gue dan Cinta tidak pernah menyukai pria yang sama. Kali ini, gue sangat kecewa kepadanya dan ini adalah pertengkaran terhebat yang pernah gue alami dengannya.”
Bumi menghampiri Pelangi dan menggenggam erat kedua tangannya. Ia juga mencoba untuk menghapus air matanya dan memegang kepalanya dengan lembut.
“Jangan nangis lagi, yah? Gue paling gak suka lihat lo nangis. Kalau elo sedih atau butuh seseorang untuk menemani lo, gue siap dan akan selalu ada untuk lo.”
“Thank’s yah, Bom.”
Bumi tersenyum tipis dan memeluknya begitu erat. Sementara itu, Langit yang kehilangan jejak adiknya terpaksa pulang ke rumah dengan tanpa hasil apa pun.
“Elo udah ketemu sama Pelangi?” tanya Cinta yang sejak tadi menunggu kedua adiknya pulang.
“Belum, gue gak tahu dia pergi ke mana. Mana dia belum fasih bawa mobil lagi, gue takut dia kenapa-kenapa. Telepon gue aja gak dia angkat sama sekali. Kalau ada apa-apa di jalan gimana coba? Mamih sama papih pasti bakalan ngamuk sama gue. Mereka belum pulang, kan?”
“Belum, mamih sama papih belum pulang.”
“Kalau sampai ada apa-apa sama Pelangi, lo harus tanggung jawab!” katanya yang kemudian pergi hingga membuat Cinta terdiam sesaat.
Sementara itu, Awan yang sedang berada di dalam rumahnya terlihat sedang tersenyum-senyum sendiri saat ia mengingat kembali moment di saat Cinta yang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang dan mengatakan untuk jangan meninggalkannya. Namun, di saat ia sedang mengingat moment manis itu, tiba-tiba saja ayahnya datang dan masuk begitu saja ke dalam kamarnya.
“Awan, ini sudah saatnya kamu mengambil keputusan,” katanya tiba-tiba.
“Apa maksud papih?”
“Papih tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kalau kamu masih belum bisa mengambil keputusan, kali ini papih yang akan bertindak. “
__ADS_1
“Tapi, mamih sendiri kan yang bilang kalau aku diberi dua kali lagi kesempatan untuk memikirkan semua ini.”
“Cukup satu anak yang sudah mengecewakan kedua orang tuanya. Kali ini, papih tidak akan membiarkan kamu mengecewakan kami lagi.”
“Pih, aku juga ingin bebas seperti kak Ronald. Aku juga punya jalan kehidupanku sendiri.”
“Tidak Awan, jalan hidupmu sudah papih atur. Dalam waktu 1 bulan ini kamu persiapkan diri kamu. Kamu akan segera terbang ke Jerman.”
“Pih, papih tidak bisa mengatur kehidupanku seenaknya saja! Aku ini sudah dewasa, aku ini pria, Pih!”
“Kalau kamu memang sudah dewasa, kamu tinggal pilih, Wan. Pergi ke Jerman dan meneruskan perusahaan papih di sana sebagai penerus atau kamu menikah muda dengan calon yang akan papih jodohkan denganmu?”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, pria separuh baya yang tampak tegas dan dingin itu, pergi begitu saja tanpa menatap wajah anaknya kembali.
Awan terlihat kecewa sekali dengan keputusan sepihak ayahnya itu. Sejak kecil Awan dan kakak laki-lakinya di didik sangat keras dan penuh kedisiplinan. Mereka berdua memang di didik untuk menjadi penerus ayahnya yang terkenal sebagai pria nomor 5 paling sukses dan terkaya di Asia. Semua orang tidak akan menyangka, dibalik wajahnya yang dingin dan berotak cerdas, Awan merupakan anak dari seseorang yang paling kaya di Asia.
Meskipun jadi idola di kampusnya dan banyak perempuan yang mengejar-ngejarnya, Awan tidak pernah sekali pun terlihat menggandeng seorang perempuan atau pun terlihat memiliki teman. Latar bekalang yang tidak diketahui orang banyak, membuatnya harus menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya.
Meski menjadi salah satu anak dari orang paling kaya nomor 5 di Asia, tapi Awan sama sekali tidak pernah memperlihatkan kekayaanya pada siapa pun. Menjadi penerus ayahnya di Jerman, membuat dirinya sangat tertekan selama ini. Itulah yang menyebabkannya selalu sendiri dan selalu menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan di kampus.
Sementara itu, Cinta yang sedang memberi makan kedua anjingnya di halaman rumahnya, begitu terkejut karena ia baru saja melihat Bumi mengantar Pelangi pulang.
“Elo udah nggak apa-apa, kan?” tanya Bumi.
“Gue baik-baik aja ko, thank’s banget yah untuk hari ini.”
“Kalau ada masalah, elo tinggal hubungi gue aja.”
Pelangi menganggukkan kepala sambil tersenyum kemudian pergi. Namun, tiba-tiba saja Bumi menarik tangan Pelangi hingga membuat langkahnya terhenti.
"Kenapa, Bom?" tanya Pelangi sambil menatap wajah Bumi hingga membuat keduanya saling beradu pandang dengan cukup lama.
Cinta yang melihat hal itu terbakar api cemburu dan langsung memalingkan wajahnya.
“Gue suka sama lo, Ngi,” ucapnya yang membuat Cinta juga Pelangi sangat terkejut mendengarnya.
Pelangi yang mendengarnya terdiam sejenak. Diam tanpa kata dan membisu dalam keheningan.
__ADS_1
“Gue suka sama lo sejak kita masih Sma. Gue sayang sama lo, Pelangi.”
“Tapi, gue kira lo suka sama Cinta.”
“Yang gue suka itu elo, Ngi. Bukan Cinta,” tegasnya kembali.
Cinta terdiam dalam keheningan malam. Ia mulai menundukkan kepalanya dan meneteskan air matanya. Sementara Pelangi, ia terdiam membisu di tempatnya dan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Gue bingung harus mengatakan apa,” jawab Pelangi yang terlihat bingung.
“Tidak usah terburu-buru, gue tidak butuh jawaban dari lo atau pun status dari lo. Gue hanya ingin mengungkapkan perasaan gue yang selama ini gue pendam. Gue akan berusaha membuat lo untuk menyukai gue dan melupakan Awan. Jadi, izinkan gue untuk mencintai lo, Ngi."
“Bumi . . . . ”
Bumi menatap wajah Pelangi dengan penuh kasih sayang. Ia pun mencium keningnya dengan lembut hingga membuat Cinta kembali menelan kekecewaannya begitu melihat sikap manis sahabatnya terhadap adiknya sendiri.
“Masuk sana, udah malem. Di sini dingin. Nanti lo sakit lagi.”
“Gue masuk dulu,” pamitnya.
Pelangi pun pergi meninggalkan Bumi dan segera bergegas masuk ke dalam rumahnya. Namun, belum sempat masuk ke dalam rumahnya, ia berpapasan dengan Cinta yang sedang bersama dengan Billy dan juga Boby yang merupakan anjing kesayangannya. Untuk beberapa saat mereka berdua saling beradu pandang dengan pandangan mata yang terlihat seperti berhadapan dengan musuh.
“Apa lo menyukai Bumi?” tanya Cinta membuka suara.
“Itu bukan urusan lo!” tegasnya kemudian pergi dan melewati kakaknya begitu saja.
Tidak terasa, butiran air mata Cinta mengalir begitu deras. Ia segera menghapus air matanya dan berusaha untuk tetap terlihat tegar dan juga kuat. Cinta pun kemudian pergi dan mengendarai motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
“Udah pulang lo?” tanya Langit yang baru saja selesai mandi begitu melihat adiknya.
Pelangi mengangguk pelan dan langsung merebahkan tubuhnya yang mungil di sofa.
“Dari mana aja baru pulang? Telepon gue gak diangkat, pergi begitu saja. Elo bikin gue khawatir!” teriaknya tampak cemas.
“Gue habis jalan sama Bumi.”
“Jalan sama Bumi?”
__ADS_1