
Awan yang sudah kembali pulang ke rumahnya dan terlihat tengah mengerjakan tugas kuliahnya di dalam kamarnya, sempat memandang ke arah sebuah bingkai foto yang berada di atas meja belajarnya.
Foto tersebut adalah foto kebersamaan dirinya bersama kakaknya, Ronald. Kini, Ronald sudah hidup bahagia dengan istri pilihannya di Singapore. Setelah menikah dan meninggalkan rumah selama 5 tahun, Ronald memang sudah tidak pernah menghubunginya lagi.
Pernikahannya dengan wanita pilihannya itu memang tidak disetujui oleh kedua orang tuanya, apalagi ayahnya. Pernikahan tanpa restu orang tua, melepaskan posisi sebagai penerus ayahnya di Jerman, membuat Awan harus menanggung semua hal yang dibebankan kakaknya kepadanya.
Kekacauan yang dialami oleh kedua orang tuanya, membuat Awan terus di desak ayahnya untuk pergi ke Jerman dengan menjadi direktur tunggal dan pemegang saham terbesar di perusahaan ayahnya. Kini, Awan hanya bisa berlari dari kejaran orang tuanya yang terus memaksanya untuk menjadi seorang penerus.
“Gue harus bagaimana, Kak? Apa gue tidak bisa mengejar kebahagiaan dan impian gue sendiri?” ujarnya pelan.
Esok harinya, suasana yang biasanya rusuh dan berisik di dalam ruang makan sepertinya mendadak berubah menjadi sunyi senyap. Tak ada lagi pertengkaran kecil di antara Cinta dan juga Pelangi. Mereka berdua juga tampak sibuk dengan makanan mereka sendiri dan tidak saling bertegur sapa. Dan, itu membuat kedua orang tuanya terheran-heran sendiri melihatnya.
“Pih, Mih, Pelangi pergi duluan, yah?” pamitnya sambil mencium kedua telapak tangan orang tuanya.
“Loh, nggak bareng sama saudara-saudaramu?” tanya Nindi bingung.
“Pelangi di antar sama pak Erwin aja boleh, kan?”
“Oh, oke kalau begitu.”
“Cinta juga pamit ya Mih, Pih,” pamitnya kemudian pergi.
“Hati-hati di jalan,” nasehat Faris.
Cinta mengangguk pelan kemudian pergi dengan di susul oleh Pelangi dari belakang.
“Ada apa dengan mereka berdua?” tanya Nindi bingung.
“Berantem lagi mereka,” jawab Langit sambil menghabiskan sisa makanannya.
“Berantem kenapa lagi? Ko, sepertinya pertengkaran mereka terlihat serius?” tutur Faris sambil menatap kedua putrinya yang telah pergi.
“Memang, kali ini mereka bertengkar hebat, Pih. Dan, sepertinya mereka akan sangat sulit untuk berdamai,” jawab Langit kembali.
“Kenapa bisa begitu?” tanya Nindi dan Faris bersamaan sambil menatap wajah Langit dengan seksama.
“Mamih sama papih tahu kan hubungan Cinta sama Bumi seperti apa?”
Faris dan Nindi menganggukkan kepala mereka secara bersamaan sambil menatap wajah anak laki-lakinya itu dengan serius.
“Cinta itu suka sama Bumi, tapi Buminya malah suka sama Pelangi. Sedangkan Pelangi suka sama Awan dan Awannya sendiri malah deket sama Cinta,” imbuhnya kemudian.
“Duh, ribet banget! Percintaan segi empat ternyata,” tutur Nindi sambil meneguk segelas susu coklat miliknya.
“Sekarang, Langit bingung harus gimana lagi membuat mereka berdamai. Lagian, susah juga sih membuat mereka damai. Bumi sebenarnya nggak tahu kalau Cinta suka sama dia. Dan, dengan bodohnya, Bumi malah bilang sama Cinta kalau dia suka sama Pelangi,” ungkap Langit kemudian hingga membuat kedua orang tuanya tercengang begitu mendengarnya.
__ADS_1
“Rumit juga masalahnya. Terus, Pelangi sendiri bagaimana?” tanya Faris yang terdengar penasaran.
“I don’t now, but Langit sekarang nggak bisa berbuat apa-apa lagi, Pih, Mih. Mereka berdua sama-sama keras kepala."
“Papih tahu jalan keluarnya apa,” katanya tiba-tiba hingga membuat Nindi dan Langit menatapnya bingung.
“Apa itu?” tanya Nindi dan Langit terdengar penasaran.
Setelah percakapan Langit dengan kedua orang tuanya, ia langung bergegas menuju kampus dengan menggunakan motor Ninja Hitamnya.
Sementara itu, sesampainya di kampus, Cinta dan Pelangi terlihat masih terlibat dalam perang dingin dan tidak saling bertegur sapa satu sama lainnya.
Bahkan, Pelangi jalan begitu saja tanpa menatap wajah kakaknya atau pun tersenyum padanya seperti biasanya. Cinta sendiri hanya bisa pasrah dan menghela nafas panjang melihat sikap adiknya yang seperti itu.
“Cinta,” panggil Bumi saat melihatnya hendak masuk ke dalam kelas.
“Ada apa?” katanya yang langsung menghentikan langkahnya begitu melihat Bumi menghampirinya.
“Elo tega banget sih sama adik lo sendiri! Kenapa lo ngerebut Awan darinya?” serunya tiba-tiba dengan volume suara yang cukup keras.
“Siapa yang ngerebut, sih?” tanya Cinta kembali yang mulai emosi mendengar pernyataan Bumi barusan.
“Buktinya, elo deket banget sama Awan dan kenapa elo nggak pernah cerita kalau lo suka sama Awan?” todongnya menuduh.
“Tapi, elo kan tahu sendiri kalau adik lo itu naksir berat sama Awan!” timpalnya dengan suara yang tak kalah tingginya dengan Cinta.
“Wait, kenapa lo jadi malah nyalahin gue dengan seenaknya? Dan, kenapa elo malah ikut campur urusan gue sama Pelangi? Apa hak lo marah-marah dan nyalahin semuanya sama gue?” seru Cinta yang semakin terlihat emosi.
“Hey, kenapa elo malah jadi nyolot dan marah sama gue? Gue kan hanya bertanya saja. Apa salah kalau gue sebagai sahabat lo bertanya masalah ini sama lo?”
“Dan, apa pantas seorang sahabat marah-marah seperti ini di depan kelas hingga membuat semua orang melirik ke arah kita?” tanya Cinta balik dengan melotot tajam hingga membuat Awan yang baru saja datang, melihat pertikaian Cinta dengan Bumi di depan kelas.
Bumi tersenyum sinis dan melipat kedua tangannya sambil menatap wajah Cinta dengan sorot matanya yang tajam.
“Sekarang, sifat tempramen lo muncul lagi, yah?”
“Terus, kenapa? Masalah buat lo? Elo jangan jadi sensitif gitu, deh. Mentang-mentang lo suka sama Pelangi, lo jadi asal tuduh dan nyalahin gue dengan seenaknya!"
“Cinta, elo jadi berubah, yah? Semenjak lo gaul sama si ketua Bem itu elo jadi tempramen dan sensi banget!”
“Elo yang berubah, Bumi!”
“Elo yang berubah, Cinta!” timpalnya tak mau kalah.
“Elo! Elo yang berubah, sekarang lo udah gak pernah ada waktu lagi sama gue. Elo nggak pernah ada waktu main lagi sama gue, elo yang udah berubah! Elo yang nggak pernah ada di samping gue lagi. Dan, elo? Elo yang udah ngebuat gue sama Pelangi berantem!” teriak Cinta terlihat begitu emosi hingga membuat dadanya naik turun berusaha untuk meredam emosinya yang meledak-ledak.
__ADS_1
“Apa? Gue?” katanya tampak terkejut.
“Iya karena gue . . . karena gue . . . . ”
“Karena gue apa?” potong Bumi cepat.
“Karena gue nggak akan membiarkan seorang pria seperti lo membentak temen gue dengan seenaknya!” seru Awan tiba-tiba yang langsung menghampiri Bumi seraya menghadangnya dengan berdiri di depan Cinta yang sedang beradu mulut dengan Bumi, hingga membuat orang-orang di sekitar melihat ke arah mereka kembali.
“Elo gak usah ikut campur masalah orang lain!”
“Sahabat macam apa lo, hanya karena masalah kecil, elo marah-marah begitu saja dengan sahabat lo sendiri! Apa ini yang namanya sahabat? Elo ngak usah anggap diri lo sebagai sahabat Cinta kalau elo gak pernah ada waktu buat dia. Faham lo?” serunya yang kemudian langsung menarik tangan Cinta dan membawanya pergi.
Cinta yang tangannya di tarik begitu saja oleh Awan hanya bisa terdiam dan menatapnya dengan nanar ke arah wajah sahabatnya itu. Bumi terlihat sangat kesal sekali, sampai ia harus menendang tong sampah yang berada di dekatnya karena saking begitu kesalnya.
Dan, untuk pertama kalinya, baru kali ini ia dengan Cinta bertengkar hebat seperti ini di depan umum secara terang-terangan.
"Elo yang salah, Bom. Kenapa lo malah balik menyalahkan sahabat lo sendiri? Harusnya lo minta maaf sama Cinta," tutur Sasha begitu melihat Bumi tengah duduk seorang diri di depan kelas.
"Kenapa elo malah menyalahkan dan menyudutkan gue?"
"Karena di sini elo yang salah. Harusnya, elo nggak usah ikut masuk ke dalam kamar Pelangi dan juga Cinta. Itu urusan mereka, walau kita sahabat mereka berdua, tapi kita nggak ada hak untuk masuk ke dalam kamar mereka. Itu tidak etis, Bumi."
"Elo sebenernya ada di pihak siapa sih, Sha?" tanyanya penuh emosi.
"Gue nggak ada di pihak siapa-siapa. Gue tidak membela kalian berdua. Tapi, di sini posisinya elo yang salah."
"Urus saja masalah lo sama Guntur. Nggak usah ikut campur masalah gue!" katanya terdengar sinis.
"Kenapa lo menyeret nama Guntur di sini? Jelas dia nggak ada hubungannya dengan masalah lo. Elo kalau lagi sensi menyebalkan, yah?"
"Kalau elo tahu gue sensi, mending lo pergi sana!" usir Bumi yang tidak sengaja mendorong Sasha dengan kasar hingga ia terjatuh. "Eh, Sha, so . . . sorry . . . ."
Bumi hendak membantu Sasha berdiri, namun Langit yang melihat hal tersebut langsung menepis tangan Bumi dengan kasar.
"Nggak usah lo pegang-pegang tangan Sasha!!" seru Langit yang langsung mengulurkan tangannya untuk membantu Sasha berdiri.
"Sha, sorry. Gue tadi nggak sengaja, gue nggak bermaksud untuk . . . ."
"Elo emang gila, Bom! Sha, ayo pergi!!" seru Langit yang langsung menarik tangan Sasha dan mengajaknya pergi.
Karena Fakultas Teknik dan Fakultas Hukum tidak terlalu jauh, Kejora yang hendak melangkahkan kakinya menuju gedung perkuliahannya, tidak sengaja melihat Langit yang tengah menarik tangan Sasha dan membawanya pergi dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal.
"Ra, bukannya elo sama Langit semakin dekat, yah? Kenapa, sekarang Langit malah pergi berduaan pake acara pegangan tangan sama perempuan itu? Mereka pacaran?" tanya Keke penasaran saat melihat kebersamaan Sasha dengan Langit.
"Gue nggak tahu, Ra. Gue tidak bisa mengalahkan perempuan itu. Sepertinya, mereka mempunyai hubungan yang spesial," tutur Kejora yang terbakar api cemburu ketika melihat kedekatan Sasha dengan Langit.
__ADS_1