
Langit terlihat baru saja turun dari mobilnya bersama dengan Kejora. Setelah memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Kejora, Langit dengan kekasih barunya itu memang terlihat sering jalan berdua apalagi setelah mobil Jeep milik Langit bersama kedua saudaranya yang sudah dijadikan hak paten olehnya setelah berpacaran dengan Kejora.
"Aku ke perpustakaan dulu, yah. Mau mengembalikan buku yang kemarin aku pinjam," tutur Kejora pelan.
"Oke, aku juga mau ketemu Regan dulu di kantin. Sampai jumpa di kelas."
Kejora tersenyum simpul kemudian pergi. Langit pun langsung bergegas pergi menuju kantin untuk menemui Regan. Belum juga sampai kantin, Langit berpapasan dengan Sasha di tengah perjalanannya.
Mereka berdua terlihat saling beradu pandang cukup lama. Melihat sorotan mata Langit yang terlihat tajam, Sasha mencoba untuk tersenyum cerah padanya.
"Mau ke mana, El?" tanya Sasha ramah.
"Kantin. Elo mau ke mana?"
"Nyamperin Bumi sama Cinta di perpus. Kita mau ngerjain tugas bareng."
"Oh, gitu."
Mereka berdua terlihat canggung. Semenjak Langit meresmikan hubungannya dengan Kejora, hubungannya dengan Sasha memang sempat merenggang. Merenggang bukan tanpa alasan, tapi Sasha sendiri seperti berusaha untuk menjauhi dirinya terus.
"Gue duluan yah, El," tutur Sasha pelan kemudian pergi.
Saat Sasha pergi, Langit membalikan badan dan menatap kepergian Sasha sambil memandangi punggungnya dengan mata sendunya.
"Kenapa lo?" tanya Regan saat melihat Langit yang sejak berada di kantin hanya diam saja.
"Apa gue salah mengambil keputusan ya, Gan?"
"Keputusan untuk menjalin hubungan dengan Kejora maksud lo?"
Langit menghela nafas pendek dan meminum cola miliknya dengan ekspresi wajah yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Elo sebenernya suka gak sama Kejora? Kalau nggak suka kenapa lo pacarin dia?"
"Gue suka sama Kejora. Dia gadis yang baik dan gue nyaman saat bersamanya. Tapi . . . ."
"Tapi?" ulang Regan yang mengikuti perkataan temannya.
"Apa gue terlalu terburu-buru yah, Gan?"
"Kenapa, harusnya lo pacaran sama Sasha gitu maksud lo?"
"Gue nggak ngerti sama cewe. Sebelum pacaran sama Kejora, gue emang pernah mengutarakan perasaan gue sama Sasha dan secara gak langsung dia nolak gue juga, sih."
"Terus, kenapa? Elo menjadikan Kejora pelarian gitu maksudnya?"
__ADS_1
"Gue nggak bermaksud seperti itu, Gan."
"Ya, terus apa masalahnya?"
Langit kembali menghela nafas pendek. Dan, memikirkan beberapa hal yang menganggu fikirannya selama ini.
"Sasha kaya yang ngejauhin gue gitu, Gan."
"Ya, maksud Sasha mau menghargai cewe lo aja kali. Ya, masa iya Sasha nempelin lo terus. Kan, elo udah punya cewe sekarang. Kenapa? Nggak suka Sasha ngejauhin lo?" tanya Regan yang membuat Langit terlihat sedih.
"Sejujurnya iya. Aneh aja tiba-tiba dia ngejauhin gue."
"Elo mau tahu alasannya apa?"
"Apa? Elo tahu sesuatu tentang Sasha?" tanya Langit yang langsung menatap wajah sahabatnya itu dengan sorotan mata tajamnya.
Cinta terlihat tengah memikirkan sesuatu selama di perjalanan di atas motor Ninja merahnya. Banyak sekali hal-hal yang ia fikirkan akhir-akhir ini. Karena tidak terlalu fokus mengerjakan tugas di perpustakaan, ia meminta izin kepada kedua sahabatnya untuk pulang duluan.
Sebenarnya, Cinta sedang memikirkan permasalahan Rasya, kakaknya yang hilang beberapa tahun silam. Ia sudah melakukan banyak cara untuk membantu ayahnya mencari kakaknya yang hilang. Setelah menerima kabar itu dari ayahnya, Cinta memang tidak pernah bisa tidur nyenyak.
Mencari beberapa sumber informasi, bahkan ia sampai rela mencari informasi dari kebakaran taman kota beberapa tahun silam hanya untuk mencari keberadaan kakaknya.
Cinta juga sampai mencari info ke setiap panti asuhan dan kantor polisi tentang kasus anak hilang. Tapi, sampai saat ini hasilnya masih sia-sia saja. Apa mungkin kakaknya itu masih hidup?
Cinta pergi mengunjungi bukit tinggi tempat di mana ia pertama kali berciuman dengan Awan dan menjadi kenangan terakhir dengannya sebelum Awan pergi ke Jerman. Sambil mengenang kembali kenangannya bersama dengan Awan, ia kembali meneteskan air matanya.
Tanpa disengaja, Cinta menginjak sesuatu saat tengah berdiri di dekat sebuah pohon besar. Karena penasaran akan sesuatu, Cinta memutuskan untuk mencari tahu dan menggali sebuah lubang yang menurutnya sangat mencurigakan itu.
Setelah menggali lubang tersebut, ia begitu terkejut karena di dalam lubang itu terdapat beberapa lembar foto yang tidak asing untuknya.
Beberapa lembar foto tersebut merupakan beberapa foto dirinya saat pertama kali masuk kuliah, ketika sedang masa orientasi, latihan karate, performs bersama kedua saudara kembarnya dan yang terakhir fotonya saat masih kecil.
“Kenapa ada foto gue sewaktu kecil?”
Ketika Cinta membalikkan fotonya saat masih kecil dulu, di dalam foto tersebut terdapat sebuah tulisan yang bertuliskan ‘My first love in hospital’.
“My first love in hospital? Tunggu dulu, rasanya ini ada yang aneh.”
Ketika Cinta memeriksa kembali foto tersebut, ia menemukan kembali dua lembar foto dan selembar kertas kecil. Foto tersebut adalah foto dirinya bersama seorang pria sewaktu kecil di rumah sakit dan foto dirinya bersama dengan Awan saat mereka menghabiskan waktu bersama.
Dan, begitu terkejutnya Cinta. Saat ia membaca selembar kertas kecil itu, matanya kembali membelalak dan berkaca-kaca.
Aku rasanya ingin sekali mengubur kenangan ini. Kenangan semasa kecilku dengan wanita yang kini aku cintai tanpa dia tahu perasaanku yang sesungguhnya. Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan, karena-Nya aku dipertemukan kembali dengan cinta pertamaku, Cinta.
Kini aku sadar, gadis yang aku cintai diam-diam selama 3 tahun terakhir ini adalah gadis yang sama, gadis yang aku kagumi saat di rumah sakit dulu. Terima kasih Tuhan, terima kasih telah mempertemukanku dengannya kembali. Karenanya, aku kembali merasakan hidup yang berwarna. Karenanya, aku pernah merasakan rasanya jatuh cinta.
__ADS_1
Setelah membaca surat tersebut, Cinta meneteskan air matanya kembali. Ia tidak menyangka sama sekali, kalau dirinya itu adalah cinta pertama Awan dan mereka pernah dipertemukan sejak mereka kecil dulu.
“Kini aku sadar, Wan. Aku juga tidak salah untuk memilihmu, aku tidak salah untuk tetap mencintaimu. Karena kamu juga merupakan cinta pertamaku,” katanya pelan dengan berlinangan air mata.
Kejadian beberarapa tahun yang lalu saat di rumah sakit, itu adalah pertama kalinya Cinta bertemu dengan Awan. Sejak Cinta tahu Awan berada di rumah sakit untuk merawat kakaknya yang mengalami kecelakaan, diam-diam Cinta sering melirik Awan dan mengikutinya tanpa sepengetahuannya.
Dan, untuk pertama kalinya, Cinta melihat Awan menangis, ia juga ikut menangis bersamanya. Karena tidak ingin melihat pria yang ia sukai menangis, ia memutuskan untuk menjadi guardian angel Awan dan memberikannya sebuah permen lolipop untuk pertama kalinya.
Dan, semenjak kejadian itu, Cinta dan Awan sering kali bertemu. Meski akhirnya mereka berpisah karena Pelangi saat itu sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
Semenjak Cinta tahu kalau Awan adalah cinta pertamanya juga, ia jadi sering melamun di rumahnya.
“Ta, elo kenapa?” tanya Langit ketika melihat kakaknya melamun saat sedang memberi makan kedua anjingnya.
“Hah? Nggak ko, nggak apa-apa!”
“Ta, inget yah besok lo kosongin jadwal lo. Besok kita kan mau jalan bareng mamih sama papih.”
“Iya gue inget, ko."
“Oh iya, gimana? Udah ada kabar dari Awan di Jerman?” tanya Langit tiba-tiba.
“Awan? Semenjak kepergiaannya selama 3 bulan ke Jerman, Awan sama sekali tidak menghubungi gue lagi, El.”
“Elo baik-baik aja kan, Ta?”
“Gue? Tentu, kenapa emangnya?”
“Akhir-akhir ini, gue lihat elo seperti lagi banyak fikiran dan kebetulan ada yang ingin gue tanyakan juga sama lo.”
“Soal apa?” tanya Cinta bingung.
“Soal papih” jawabnya pendek.
“Papih?” ulang Cinta bingung.
Langit mengangguk pelan. Belum sempat Langit menjawab, Pelangi datang menghampiri mereka berdua yang sedang berbincang-bincang di halaman belakang rumahnya.
“Kalian lagi ngomongin apa, sih? Serius banget kayanya!” seru Pelangi tiba-tiba.
“Hah? Nggak, ko,” potong Langit cepat.
“Ada telepon dari Kejora tuh, angkat gih sana!”
Langit menganguk pelan dan segera masuk ke dalam rumahnya untuk menerima telepon dari kekasihnya itu. Sementara Pelangi, ia langsung mengikuti Langit dari belakang dan membuat Cinta jadi bingung sendiri.
__ADS_1
“Apa yang mau Langit tanyakan soal papih, yah?” gumam Cinta terlihat bingung.