Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Best Friend


__ADS_3

“Cinta!” panggil seseorang hingga membuat Cinta membalikkan badan dan menatap seorang pria yang tengah berdiri di belakangnya seraya menatapnya ketika ia sedang berada di kantin kampus.


“Bumi?”


Bumi mendekatkan dirinya ke arah Cinta dan duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat, suasana tampak sangat hening. Sejak kejadiaan tempo lalu, hubungannya dengan Bumi memang merenggang dan tidak pernah saling bertegur sapa walau mereka bertemu sekali pun.


Dalam waktu 10 menit, mereka diam tanpa kata dan tak bersuara sama sekali. Cinta tampak sibuk dengan fikirannya sendiri, sedangkan Bumi hanya bisa menundukkan kepalanya dan mulutnya seolah-olah terkunci hingga tak dapat berbicara.


“Maaffin gue, Ta,” katanya pelan membuka suara.


Cinta menatap ke arah Bumi dan memandangi wajahnya dengan ekspresi bingung namun penuh kerinduan akan sahabatnya itu.


“Maaf, kalau selama ini gue tidak pernah peka terhadap perasaan lo,” sambungnya yang kembali membuat Cinta sangat terkejut begitu mendengar perkataan sahabatnya itu.


“Gue sudah tahu semuanya, Ta. Pelangi sudah mengatakan kejadian yang sebenarnya dan tentang perasaan lo juga,” katanya seraya menatap wajah sahabatnya itu dengan mata sendu dan perasaan bersalahnya.


“Gue tidak menyangka sama sekali kalau selama ini lo memendam rasa yang sangat luar biasa untuk gue, Ta. Gue sangat terkejut dan gue dengan bodohnya mengatakan kalau gue menyukai adik lo. Tapi, di sisi lain elo malah menyimpan rasa untuk gue."


Bumi memalingkan wajahnya, namun ia kembali menatap wajah sahabatnya dengan lirih. Ia menggenggam tangan Cinta dan menatapnya penuh arti.


“Gue memang bodoh, Ta. Gue bukan sahabat yang baik karena gue tidak pernah peka tentang perasaan lo. Kalau saja gue tahu, kalau saja elo bilang, kejadian semua ini tidak akan pernah terjadi.”


Cinta tersenyum tipis dan membalas genggaman tangan Bumi sambil menatap wajahnya dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa, Bumi. Gue bisa mengerti itu."


"Elo tahu, Ta. Gara-gara pertengkaran kita, hubungan gue dengan Sasha pun merenggang.


"Kenapa bisa begitu?"

__ADS_1


"Tapi, semalam dia datang ke rumah gue, Ta."


"Ke rumah lo?"


Bumi menganggukkan kepalanya dan menceritakan pertemuannya dengan Sasha semalam.


"Maaffin gue, Bom," ujar Sasha membuka suara ketika dirinya tengah berada di teras depan rumah Bumi saat malam hari.


"Harusnya gue yang minta maaf sama lo, Sha. Saat itu, gue tidak bermaksud menyakiti lo."


"Kita berdua sama-sama salah, Bom. Pertengakaran lo dengan Cinta membuat hubungan persahabatan kita juga terkena dampaknya."


Bumi menundukkan kepalanya dan terlihat sangatlah menyesal.


"Inget gak waktu awal kita saling kenal? Saat itu, kita bertiga sama-sama di hukum oleh senior karena sama-sama tidak membawa lengkap perlengkapan ospek. Gara-gara hukuman itu, kita menjadi akrab dan sering melakukan hal-hal gila."


Bumi tertawa lebar dan kembali mengenang masa awal pertemuannya dengan Sasha hingga mereka bisa menjadi akrab seperti sekarang ini.


"Iya, gara-gara itu kita di minta polisi untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya."


Mereka berdua saling melempar tawa dan kembali mengenang masa persahabatan mereka.


"Gue akan selalu ingat di mana lo, gue dan Cinta nekad tawuran dengan pembalap motor lain karena mereka tidak terima kemenangan Cinta saat balapan motor tempo lalu."


"Iya, gue juga tidak akan lupa di mana kita sering telat masuk kelas, beberapa kali tidak mandi saat ada kuliah pagi, mengerjakan tugas kuliah sampai subuh. Ah, kenangan yang begitu indah."


Sasha dan Bumi mengenang kembali kenangan singkat persahabatan mereka yang indah selama 3 tahun lebih bersama. Mungkin, kita tak dapat kembali ke masa indah itu, tapi kenangan itu akan selalu ada bersama kita selama kita hidup.


"Berbicaralah dengan Cinta, Bom. Jangan terus seperti ini. Gue tidak suka melihat kalian bertengkar seperti ini. Gue harap kita masih bisa seperti dulu. Bukankah kekecewaan akan hilang jika kita mengingat keindahan dan kebaikan persahabatan kita?"

__ADS_1


Begitu mendengar cerita dari Bumi, Cinta menitikkan air matanya. Ia sangat berterima kasih sekali kepada Sasha yang begitu peduli kepadanya.


"Sasha sahabat yang baik, Bom."


"Iya, dia peduli akan persahabatan kita. Jadi, maaffin gue sekali lagi ya, Ta."


Cinta menganggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul.


“Tapi, sebelumnya maaffin gue, Ta. Gue sekarang benar-benar tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa. Gue memang mencintai adik lo, tetapi di sisi lain gue sayang sama lo, Ta. Gue memang egois, gue tidak ingin kehilangan orang yang gue sayang selama ini. Tapi, gue . . . ."


“Gue tahu elo sayang sama gue sebagai sahabat dan tidak lebih, gue tahu itu, Bom," potongnya cepat hingga membuat Bumi menatap kembali wajah sahabatnya.


“Gue hargai itu, gue tidak memaksa lo untuk membalas perasaan gue, Bom. Sekarang, elo bahagiakan saja adik gue, jangan sia-siakan dia dan kita kembali sahabatan lagi seperti dulu.


“Lupakan kejadian yang pernah terjadi, gue juga akan menghapus perasaan gue selama ini terhadap lo. So, best friend?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya.


Untuk beberapa saat, Bumi terdiam dan memandangi wajah sahabatnya itu. Namun, selang beberapa waktu kemudian Bumi membalas uluran tangan Cinta dan memeluknya begitu erat.


“Thank, Ta. Elo memang sahabat gue yang paling baik dan paling bisa mengerti gue. Gue berharap, semoga lo mendapatkan seorang pria yang baik dan mencintai lo seperti lo mencintainya.”


Cinta tersenyum lembut. Pelangi yang baru saja datang dan melihat kebersamaan kakaknya bersama Bumi langsung mengalihkan pandangan matanya. Saat ia membalikkan badan, ia tak sengaja bertemu dengan Awan yang sedang berdiri dan menatap ke arah Bumi dan juga Cinta yang sedang bersama.


“Awan, are you oke?” tanya Pelangi saat mereka berdua berjalan bersama menuju taman kampus dan melihat ke arah tangannya yang tengah memegang sesuatu, seperti dua lembar tiket pesawat.


“Ngi, apa sudah saatnya gue untuk melupakan Cinta? Apa ini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan?” katanya membuka suara.


“Mau itu cinta bertepuk sebelah tangan, mau itu rasa cinta yang dipendam beberapa tahun lamanya, rasanya memang sangat menyakitkan. Bertahun-tahun menyimpan rasa yang terpendam rasanya membuat hati ini akan meledak.”


“Iya, elo bener. Menyimpan rasa begitu lama itu sangat menyiksa. Rasanya sungguh menyakitkan dan gue benci perasaan itu!”

__ADS_1


“Kita harus bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia, Wan. Walau kita tidak bisa meraih bintang itu, tapi kita bisa bahagia melihat bintang itu bersinar dari kejauhan,” katanya pelan hingga membuat Awan menatap wajah Pelangi begitu lekat.


__ADS_2