Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Good Bye


__ADS_3

3 hari sudah berlalu dengan begitu cepatnya, rekan-rekan kerja ibu mereka dari pihak rumah sakit mulai berdatangan dan ikut berbela sungkawa dengan apa yang telah terjadi dan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu suami dan anak rekan kerja mereka.


Sementara Cinta yang masih dalam keadaan koma, Faris baru saja selesai menjalani operasi besar dan masih belum sadarkan diri.


Mata panda sudah mulai terlihat begitu jelas dari raut wajah Pelangi dan juga Langit. Dengan ekspresi wajah yang tampak kelelahan, Pelangi terlihat sedang duduk termenung di ruang tunggu. Sementara Langit sendiri, terlihat sedang berada di ruang dokter.


“Bagaimana keadaan ayah saya, Dok? Harus berapa kali lagikah ayah saya dioperasi? Apa operasi dapat menyembuhkan ayah saya?” tanya Langit tak sabaran.


“Keadaan ayahmu sangatlah tidak memungkinkan untuk kembali seperti semula. Kerusakan dalam organ-organ tubuhnya dan pecahnya pembuluh darah membuat ayah anda sangat sulit untuk bisa sembuh. Masih bisa bertahan sampai sekarang ini saja, ini merupakan suatu anugerah dari Tuhan. Saya sebagai dokter hanya bisa berusaha untuk menyelamatkan ayahmu, tapi urusan nyawa seseorang itu sudah menjadi kehendak Sang Maha Pencipta.”


“Jadi, maksud dokter ayah saya tidak bisa diselamatkan lagi?”


“Operasi hanya untuk menanggulangi apa yang sudah terjadi bukan untuk menyembuhkan secara total. Jika kami melakukan operasi lagi, kami dari tim medis tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan dan kami takut akan memperburuk keadaan.”


“Jadi, saya harus bagaimana sekarang, Dok?”


“Berdoalah, minta kepada Tuhan semoga akan ada kejaiban. Kami dari pihak rumah sakit sudah berusaha semaksimal mungkin dan berusaha yang terbaik. Dokter Nindi adalah sahabat kami juga, kami berusaha untuk membantu. Dokter Nindi adalah dokter yang baik dan sangat luar biasa. Sebagai penghormatan terakhir dan kewajiban kami sebagai dokter, kami berusaha untuk menyelamatkan ayah dan kakakmu, Nak. Banyak-banyaklah berdoa, minta kuasaNya," tuturnya pelan sambil memegang bahu Langit pelan hingga membuat Langit langsung menundukkan kepalanya dan terlihat lemas.


Setelah pembicaraanya dengan dokter, Langit keluar dari ruangan tersebut dengan mata yang sudah mulai memerah. Ia melangkahkan kakinya menuju ruangan ICU tempat ayahnya di rawat. Melihat Pelangi yang tengah menggenggam tangan ayahnya, Langit kembali meneteskan air matanya.


“Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa semua kebahagiaan yang gue miliki harus sirna begitu cepat?”

__ADS_1


Langit masuk ke dalam kamar tempat Cinta di rawat. Beberapa selang dan alat-alat medis yang ada di rumah sakit ini menempel diseluruh tubuh kakaknya. Melihat kakaknya terbaring lemah tak berdaya seperti itu, ia merasa sedih dan tak sanggup untuk menahan air matanya lagi. Tangisannya pecah seketika, kenangannya bersama sang kakak membuatnya selalu ingin kembali ke masa lalu.


Ketika Cinta tersenyum, ketika Cinta sedang menangis, Cinta yang sedang tertawa, Cinta yang sedang marah dan pelukan hangat Cinta untuknya, semua begitu terasa hanya mimpi untuknya.


Melihat Langit yang sedang menangis, Bumi yang tadinya hendak masuk ke dalam ruangan mengurungkan niatnya. Ia menyandarkan tubuhnya di balik tembok sembari mengenang kembali persahabatannya dengan Cinta.


Flash Back . . . .


“Bom, kalau gue udah gak ada di dunia ini elo jangan pernah lupakan persahabatan kita, yah?” ujarnya saat berada di atas gedung sekolah ketika mereka tengah menikmati masa-masa terakhir mereka dengan menggunakan seragam putih abu.


“Kenapa elo tiba-tiba ngomong kaya gitu, Ta? Elo gak akan pergi kemana-mana, kan?” tanyanya seraya menatap wajah Cinta yang sedang memandang langit.


“Panjang pendeknya usia manusia kita tak akan pernah tahu. Siapa tahu esok hari atau lusa gue pergi meninggalkan semua orang yang gue sayangi.”


“Kalau gue pergi nanti, elo jangan nangis, yah? Dan, tolong jagain Langit juga Pelangi sebagai permintaan gue yang terakhir. Gue mau elo tetap tersenyum dan selalu mengenang persahabatan kita setiap saat,” tuturnya pelan sambil tersenyum dan menatap wajah Bumi dengan tatapan hangat.


Bumi membalas senyuman Cinta dan memeluk sahabatnya itu dengan erat.


"Janji ya, sebelum lo pergi ninggalin gue ataupun sebaliknya, kita harus menciptakan hari yang paling indah dan kita harus pergi ke atas bukit untuk menerbangkan 100 balon impian kita. Janji?”


“Gue janji,” jawab Bumi pelan sembari membalas pelukan hangat sahabatnya itu.

__ADS_1


Mengenang semua kenangan itu, terasa sangat menyakitkan untuk Bumi. Banyak masa-masa indah yang mereka lewati bersama-sama dalam kurun waktu 6 tahun terakhir ini. Sekarang, sahabat yang paling ia sayangi terbaring lemah di rumah sakit. Sambil meneteskan air matanya, Bumi memandangi layar handphonenya yang terdapat sebuah foto dirinya, Sasha dan juga Cinta.


"Kenapa sahabat-sahabat gue harus mengalami semua hal ini?" katanya terdengar lirih.


Dunia terasa sangat tidak adil untuk Pelangi dan juga Langit. Baru saja kehilangan sang ibu, keadaan ayah mereka semakin kritis dan mengalami anfal.


Beberapa dokter mulai berdatangan dan berusaha untuk menyelamatkan ayah mereka. Namun, dokter hanya bisa menundukkan kepalanya dan mengatakan mereka hanya tinggal menunggu waktu dan harus mengikhlaskan ayah mereka.


“Pe, ikhlaskan kepergian papih. Jangan buat papih menderita lagi!” tutur Langit pelan.


Pelangi yang duduk di samping ayahnya dan menggenggam tangan ayahnya dengan erat hanya bisa diam dan tidak menjawab.


“Ngi, biarkan papihmu pergi, Nak! Biarkan ayahmu hidup tenang!” ucap seorang perempuan cantik yang merupakan tante mereka.


“Ngi, biarkan om Faris beristirahat dan hidup bahagia dengan tante Nindi. Kasihan om Faris kalau kamu tidak mengizinkannya pergi. Itu akan menjadi beban untuknya,” ucap Bumi sembari memegang bahunya.


Pelangi memejamkan matanya untuk beberapa saat. Sambil mengambil nafas panjang, ia kembali mempererat genggaman tangan ayahnya.


“Pelangi izinkan papih pergi untuk hidup bahagia dengan mamih. Pelangi sayang papih dan juga mamih. Karena rasa sayang inilah, Pelangi izinkan papih hidup bahagia di sana. Jadi, berbahagialah untuk Pelangi dan juga Langit. Jangan khawatirkan kami dan jangan lupakan kami. Love you, Pih. Love you so much, papih dan mamih adalah orang tua terhebat yang Pelangi miliki. Pelangi bangga menjadi anak papih dan juga mamih.”


Setelah menyelesaikan kalimatnya, entah keajaiban apa yang terjadi. Tiba-tiba saja air mata mengalir dari pelupuk mata Faris yang terpejam. Dan, kini Faris pun pergi menyusul Nindi untuk mengejar kebahagiaan mereka di Surga sana.

__ADS_1


Semua orang yang berada di dalam ruangan mulai menangis, begitu pun Langit, Regan juga Bumi. Kejora yang berada di samping Langit pun menggenggam tangan mantan kekasihnya itu dan memeluknya begitu erat.


“Good bye, Pih. Papih adalah ayah terhebat yang Pelangi miliki,” ucapnya pelan dengan meneteskan air matanya.


__ADS_2