
Langit dan Kejora terlihat sedang duduk bersama di taman kampus. Setelah menyelesaikan mata kuliah selama 3 sks, mereka duduk bersama di taman dengan suasana yang cukup sunyi dan juga hening.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Ra," tutur Langit pelan.
"Apa itu?" Kejora menatap wajah Langit dengan seksama.
"Kenapa kamu nggak bilang sama aku soal Sasha, Ra? Kenapa kamu menyembunyikan tentang penyakit Sasha dariku?" tanya Langit dengan mata berkaca-kaca.
Kejora menundukkan kepalanya. Hatinya mulai bergejolak dan ia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak menetes.
"Ini permintaan Sasha, Lang. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya ingin membantunya. Aku tidak bermaksud apa-apa."
"Tapi, kenapa? Kau tahu, aku merasa sedih karena kenapa aku harus menjadi orang terakhir yang tahu tentang keadaan Sasha. Semua orang tahu, bahkan kau tahu. Sedangkan aku? Aku baru tahu dari Regan, bahkan kedua saudaraku pun tahu," katanya yang terlihat sedih dan putus asa.
"Maaffkan aku, Langit." Kejora menundukkan kepalanya.
"Ra, bolehkah aku jujur padamu?"
Kejora menghela nafas pendek. Ia sepertinya tahu apa yang akan dikatakan Langit kepadanya. Matanya mulai memerah menahan tangis, namun ia berusaha untuk tetap kuat dan juga tegar.
"Sebelum kamu jujur, boleh aku berbicara sesuatu dulu padamu, Lang?" Kejora menatap wajah Langit dengan mata sendunya.
Langit membalas tatapan kekasihnya kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Kejora mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya kemudian memberikan selembar foto Langit yang tengah bermain basket kepada kekasihnya itu.
"Apa ini?" Langit tampak bingung.
"3 tahun yang lalu aku sudah menyukaimu dan mengagumi dalam kesunyian. Aku bisa berpacaran denganmu seperti ini saja membuatku masih belum bisa percaya sampai saat ini, Lang.
"Ini hadiah yang paling indah untukku, Lang. Kamu tahu? Foto itu adalah foto di mana pertama kalinya aku menyukaimu, foto yang membuatku bersemangat setiap kali aku ke kampus.
__ADS_1
"Tapi, di sisi lain aku tak ingin bermimpi lebih. Aku tahu banyak sekali perempuan lain di luar sana yang lebih cantik dan lebih pantas dariku untuk bersamamu. Aku juga tak percaya kalau kamu lebih memilihku dari pada perempuan-perempuan itu.
"Tapi, tahukah kamu, tanpa kamu sadari aku tahu kamu dan Sasha saling menyimpan rasa suka."
Kejora kembali mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. Kemudian ia memberikan kotak itu kepada Langit.
"Bukalah."
Langit awalnya ragu untuk membukanya. Namun, ia dengan perlahan membuka kotak itu. Tanpa ia sadari, di dalam kotak itu banyak sekali foto-foto dirinya bersama dengan Sasha.
"Ini?" seru Langit tampak terkejut.
"Iya itu foto dirimu dengan Sasha."
"Tapi, kenapa bisa?" tanya Langit tak mengerti.
"Sejak kecil, impianku adalah menjadi seorang fotographer. Sejak aku menyukaimu, aku menjadikanmu sebagai objek dari kameraku. Tapi, saat aku melihat Sasha menonton pertandingan basketmu, aku melihat objek yang sangat indah.
"Oh, aku sadar. Kalau kalian itu saling menyukai satu sama lainnya. Aku juga merasa menjadi semilir angin yang menyaksikan cinta dalam diamnya kalian. Aku tak bisa mengalahkan rasa suka Sasha terhadapmu. Aku juga tak bisa merebut sepenuh hatimu untuk kamu berikan padaku."
Kejora kembali meneteskan air matanya. Ia memalingkan wajahnya hingga membuat Langit merasa bersalah terhadap perasaan Kejora selama ini padanya.
"Maafkan aku, Ra. Sejujurnya, aku memang sangat menyukai Sasha. Sejak dulu, aku belum pernah yang namanya merasakan rasa cinta itu seperti apa. Sejak mengenal Sasha, oh aku tahu rasanya mencintai seseorang itu seperti apa.
"Dia membuatku selalu tertuju padanya, dia yang membuatku selalu berani bermimpi. Mungkin memang benar Sasha itu cinta pertamaku, tapi kamu adalah pacar pertamaku, Ra."
Kejora menatap Langit tak percaya.
"Benarkah?"
__ADS_1
Langit menganggukkan kepalanya.
"Aku memang menyukai Sasha, tapi aku mengagumimu, Ra. Sebelum aku tahu hal apa yang dihadapi Sasha, aku memang memutuskan untuk menyerah atas perasaanku terhadap Sasha. Dan, aku belajar untuk menyukaimu. Aku memang menyukaimu dan perlahan aku mulai menyayangimu. Kamu adalah pilihanku, aku tak pernah bermain-main dengan pilihanku.
"Tapi, Ra. Maaffkan aku bila aku mengecewakanmu. Aku belum bisa sepenuhnya melupakan Sasha. Kau boleh mencaci maki aku, membenci aku atau apa pun itu bentuknya. Aku memang tulus menyayangimu, tapi aku harus bersama Sasha sebelum dia pergi.
"Aku tidak ingin menyakitimu lebih jauh, Ra. Aku ingin berada di sisi Sasha sebelum dia pergi."
Kejora meneteskan air matanya. Air matanya yang terasa hangat mengalir deras di kedua pipinya.
"3 bulan bersamamu adalah hal yang paling indah untukku, Lang. Walau itu terasa singkat tapi aku bahagia."
Langit menundukkan kepalanya pasrah.
"Maaffkan aku, Ra."
Kejora menghapus air matanya. Ia mengenggam kedua tangan Langit hingga membuat kekasihnya itu menatapnya.
"Pergilah ke sisi Sasha dan temani dia, aku mengizinkanmu."
"Kejora. . . "
"Pergilah, Lang. Kejarlah kebahagiaanmu. Aku bahagia bila melihatmu bahagia."
Langit memeluk Kejora begitu erat. Kejora kemudian menangis dalam pelukan hangat Langit.
"Maaffkan aku dan terima kasih, Kejora."
Mereka berdua berpelukan begitu erat. Langit sadar jika perbuatannya akan menyakiti Kejora, mungkin dia adalah salah satu pria brengsek yang berani menyakiti kekasihnya. Namun, ia berusaha untuk jujur di depan kekasihnya itu.
__ADS_1
Sementara Kejora sadar kalau kekasihnya itu memang mencintai Sasha dan dia tak akan bisa mengalahkan perasaan Langit terhadap Sasha. Tapi, Kejora tak ingin egois. Dia tahu perasaan mereka berdua sangat tulus bahkan tidak ingin menyakiti perasaannya.
Dengan kejujuran Langit dan Sasha, Kejora belajar untuk menghargai apa itu cinta. Dan, kali ini ia berani melepaskan Langit untuk menggapai kebahagiaannya.