Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Ekspresi Dingin itu lagi


__ADS_3

Esok harinya, karena bangun kesiangan Pelangi dan Cinta tampak heboh sekali. Seharian mengerjakan tugas, membuat Bumi dan juga Sasha menginap di rumah Cinta.


Melihat ke tiga anaknya, Sasha dan juga Bumi tampak sangat heboh, sang ibu yang baru saja selesai memasak menatap ke tiga anaknya dengan ekspresi wajah yang terheran-heran.


“Kalian ini kenapa?” tanya mamih yang melihat Langit tampak sedang mengikat rambut Cinta, Cinta yang tengah sibuk melepas rollan rambut yang menempel di rambut Pelangi, Pelangi yang tengah sibuk merapihkan isi tas Bumi juga Bumi yang nampak sedang merapihkan pakaian Langit yang terlihat berantakan itu. Dan, ada pula Sasha yang bertanggung jawab merapihkan tugas yang ia kerjakan semalam bersama teman-temannya.


“Kesiangan, Mih!” jawab Langit pendek.


“Kenapa kalian bisa kesiangan? Kalian mengerjakan tugas sampai jam berapa memangnya?” tanya papih yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Sampai jam 10 malam, tapi ini semua gara-gara Cinta, sih. Semalaman ngajakin nonton film horor, jadi aja kita semua telat. Udah tahu kan, kalau hari ini kita semua itu masuk pagi!” sewot Pelangi yang membuat Cinta menjitak kepalanya kasar.


“Heh, kenapa malah nyalahin gue? Salah sendiri kenapa mau aja nonton film horor bareng gue!”


“Aduh, berantemnya nanti lagi aja deh, yah. Kita semua udah telat banget ini!” seru Bumi yang terlihat terburu-buru.


“Tahu nih anak kembar, berantemnya simpen dulu, deh. Sekarang, kita lagi buru-buru banget,” tutur Sasha yang diberi anggukan Langit.


“Eh, udah-udah jangan ribut. Ya udah, kalian semua sarapan aja dulu. Kalian kan belum pada sarapan.”


“Udah telat banget ini, Mih!” seru Cinta tampak heboh.


Sang ibu langsung membawakan beberapa roti yang sudah diberi selai. Roti yang baru saja mamihnya buat, langsung beliau berikan kepada ke tiga anaknya, tak lupa juga untuk Sasha juga Bumi sambil memasukkannya ke dalam mulut mereka secara paksa.


Karena sudah terbiasa dengan Bumi dan juga Sasha yang sering berkunjung dan menginap di rumahnya, kedua orang tua Cinta sudah menganggap mereka berdua sebagai anak mereka sendiri. Maka dari itu, sang ibu sudah tidak aneh melihat kericuhan di pagi hari kalau Bumi dan Sasha sudah menginap di rumah dan menonton film horor bersama-sama.


“Mih, ini gak pakai selai kacang, kan?” tanya Langit.


“Tenang, buat anak mamih yang satu ini rotinya gak pake selai kacang. Mamih kan tahu kamu alergi kacang.”


Langit tersenyum lebar dan memakan roti panggang yang diberikan ibunya kepadanya.


Setelah memakan roti, sang ibu memberikan beberapa gelas susu kepada anak-anaknya. Setelah meneguk habis susunya, Langit, Cinta, Bumi, Sasha dan juga Pelangi langsung berpamitan kepada kedua orang tua mereka sembari melakukan ritual rutin setiap mereka pergi.


“Bye Mih, bye Pih!” pamit Langit, Cinta dan Pelangi bersamaan kemudian pergi.

__ADS_1


“Pamit ya Om, Tante!” seru Bumi dan Sasha setelah mencium telapak tangan kedua orang tua sahabatnya.


Kali ini, Langit mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Bagaikan seorang pembalap Formula 1 Michael Shumackher, ia mengemudikan mobilnya dengan begitu cepat.


Pelangi yang duduk di belakang sudah mulai berteriak histeris hingga membuat Bumi juga Sasha harus menenangkannya. Sedangkan Cinta, ia hanya duduk manis sambil berteriak heboh dan terlihat gembira sekali


“Langit!!” teriak Pelangi kencang.


Langit ngerem mendadak hingga membuat Pelangi, Sasha dan juga Bumi yang berada di belakang, sampai terdorong ke depan. Pelangi terlihat sangat syock, ketika ia melihat ke luar, ternyata mereka semua sudah sampai di tempat parkiran kampusnya.


“Elo mau ngebunuh gue!” teriaknya kesal.


“Aduh, berisik banget, deh! Kalau Langit nggak ngebut, kita nggak akan bisa sampai kampus dengan cepat. Elo mau telat? Hari ini dosen gue itu killer banget. Kalau sampai gue telat, gue nggak bisa masuk kelas tahu!” sewot Cinta yang tak kalah keras suaranya dari adiknya.


“Iya, tapinya kan gak usah pake acara kebut-kebuttan di jalan. Gila gak sih, kita cuma menghabiskan waktu 15 menit aja di jalan. Biasanya juga, 30 menit kalau waktu normal tanpa macet.”


Pelangi tampak memandangi jam tangannya. Dia begitu syock, karena jarak dari rumah sampai kampusnya yang biasa di tempuh 30 menit dalam waktu normal, kini ia menghabiskan sisa perjalannya hanya dalam kurun waktu 15 menit saja.


“Keren kan gue?” seru Langit membanggakan dirinya.


Langit hanya cengengesan dan segera keluar dari mobilnya hingga membuat Bumi dan Sasha hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat aksi heboh tiga bersaudara itu.


Pelangi yang sepertinya masih tampak kesal, malah terlihat sedang merapihkan rambutnya, kemudian pergi tanpa pamit kepada saudara-saudaranya.


“Kenapa dia?” tanya Bumi bingung.


“Ngambek lagi kali,” jawab Cinta pendek.


“Ya udah, ke kelas, yuk?”


Cinta mengangguk dan segera menuju kelasnya setelah berpamitan kepada Langit yang tengah sibuk memperbaiki topinya.


“Ke kelas duluan, Lang,” pamit Cinta dan Bumi yang membuat Langit hanya manggut-manggut dan masih sibuk merapihkan rambutnya juga topi yang ia pakai.


“Udah ganteng ko, Lang,” tutur Sasha yang masih sibuk merapihkan tugas-tugasnya di dalam mobil.

__ADS_1


“Gue emang ganteng kali,” katanya membanggakan diri hingga membuat Sasha hanya tersenyum tipis sambil mengacak-ngacak rambut Langit. “Sha, jangan di acak-acak lagi. Udah rapih ini!” teriaknya kesal sambil menepis tangan Sasha dari rambutnya.


“Iye dah yang ganteng,” katanya sambil menyubit kedua pipi Langit dan tidak disengaja terlihat oleh Kejora dan juga Keke; temannya.


“Pacarnya Langit?” tanya Keke yang masih memperhatikan ke arah Langit dan juga Sasha.


“Nggak tahu,” jawab Kejora yang tampak kecewa begitu melihat keakraban pria yang disukainya itu dengan perempuan lain.


“Sasha!!” teriak Cinta, “buruan, lama banget!” katanya kembali yang tersadar sahabatnya tertinggal di belakang.


“Bentar!” sahutnya setengah berteriak. “Dah, Langit!” pamitnya sambil melambaikan tangannya dan di balas oleh Langit sambil memandangi kepergian temannya Cinta itu.


“Cewe aneh,” gumam Langit pelan.


Bumi terlihat sedang merangkul kedua sahabatnya sambil mengobrol dengan asyiknya saat perjalanan mereka menuju kelas. Namun, siapa sangka Cinta malah berpapasan dengan Awan saat ia berada di depan pintu kelasnya.


Awan terlihat sangat dingin dan dia sama sekali tidak melirik Cinta sekali pun, meski Cinta sempat melirik ke arahnya sampai ia memasuki kelasnya.


“Jangan dilihatin terus. Nanti lo suka lagi,” tutur Sasha yang langsung diberi anggukan Bumi.


“Suka sama dia? Awan bukan style gue!” katanya mengkilah hingga membuat Sasha tersenyum lebar mendengarnya.


“Gue ketemu Guntur dulu di kantin, yah? Bye!” teriaknya sambil menyubit pipi kedua sahabatnya.


“Pacaran mulu lo kaya burung love bird!” teriak Cinta hingga membuat Bumi tertawa begitu mendengarnya.


Saat Cinta hendak masuk ke dalam kelas, tiba-tiba saja ada teman sekelasnya yang keluar dari dalam ruangan sambil berlari dan hampir saja menabraknya. Namun, Bumi yang sempat melihat hal itu langsung menarik tangan Cinta hingga membuatnya jatuh ke dalam pelukannya.


“Wuih, kenapa itu anak? Pagi-pagi udah maraton aja di kelas!” seru Bumi yang masih memeluk Cinta dari samping.


Cinta sendiri masih terlihat syock karena Bumi tiba-tiba saja menarik tangannya dan memeluknya dari samping hingga mereka sedekat ini. Suara detak jantungnya terdengar begitu jelas oleh Cinta, hembusan nafasnya pun bisa ia rasakan saat ini. Entah kenapa, Cinta merasa sangat gugup bisa sedekat ini dengannya.


“Lo nggak apa-apa?” tanya Bumi sambil menatap wajah Cinta begitu dekat.


Cinta menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum kecil. Ia langsung melepas pelukan Bumi dan segera masuk ke dalam kelasnya. Saat berada di dalam kelas, Cinta nampak masih terus memandangi Bumi dari samping. Bumi yang tersadar sahabatnya itu menatapnya terus, langsung menatap balik sahabatnya itu. Namun, Cinta langsung mengalihkan pandangan matanya dengan cepat hingga membuat Bumi menjadi bingung sendiri melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2