
Sementara itu, karena kelas sudah bubar, di dalam kelas hanya tinggal ada beberapa orang saja termasuk Kejora dan juga Langit. Sejak tadi, Kejora terus memperhatikan ke arah Langit yang sedang merapihkan buku-bukunya. Sambil menatap ke arahnya, ia tampak tersenyum-senyum sendiri.
“Lang, gue duluan, yah?” pamit Regan.
“Mau ke mana? Cepet banget?”
“Biasa, pacaran sama Rena,” katanya sambil cengengesan hingga membuat Langit menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Iyee. Selamat berkencan!”
Regan tersenyum ala playboy. Melihat kelakuan temannya itu, Langit hanya tersenyum kecut setelah kepergian sahabatnya itu.
“Lang!” seru seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas Langit sambil merangkulnya sok akrab.
“Jordan? Kenapa?” tanyanya sambil menatap seorang pria bernama Jordan dengan paras yang cukup tampan itu.
“Pelangi belum punya cowo, kan?” tanyanya tiba-tiba.
“Kenapa emangnya?” selidik Langit sambil mengangkat salah satu alisnya.
“Nggak, gue boleh nggak minta whatssapp nya Pelangi?”
“Tanya aja sendiri sama anaknya, gue gak mau asal memberikan kontak Whatssapp saudara gue sama sembarang orang,” jawabnya sinis.
“Pelit banget sih. Ayo dong, bantuin gue. Banyak banget loh anak Tehnik yang suka sama Pelangi. Tapi, salam aja deh sama Pelangi dari gue,” tawanya girang.
Melihat pria yang menyukai adiknya itu tampak tersenyum-senyum sendiri, Langit hanya bisa melipat kedua tangannya dan menatap wajah Jordan dengan tajam.
“Jor, kalau lo emang suka sama saudara gue, elo harus usaha sendiri. Orang-orang yang minta kontak Whatssapp Pelangi tuh nggak cuma lo doang, banyak banget! Nasehat gue, kalau lo udah berhasil dapetin whatssapp nya Pelangi, jangan sampai lo nyakitin dia.”
“Wuih, galak banget sih lo. Kita pacaran aja juga belum.”
“Justru karena belum pacaran gue ngingetin lo. Kalau sampai macem-macem sama pelangi, lo bakalan berurusan sama gue!” tegasnya kemudian pergi.
__ADS_1
Kepergian Langit membuat Kejora terpaku sejenak di tempatnya. Dan juga membuat Jordan sepertinya terlihat sangatlah kecewa.
"Ternyata, Langit sayang banget sama saudara-saudaranya. Pria yang sangat baik dan bertanggung jawab," gumam Kejora pelan.
Cinta yang tengah sibuk makan siang di kantin sambil membaca komik favoritnya, terlihat begitu asyik dan menikmati kegiatannya itu. Sambil menunggu Bumi yang katanya mau mengembalikan buku ke perpustakaan, ia memutuskan untuk mencari makan karena perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi alias kelaparan.
Sementara Sasha, ia sibuk dengan segudang kegiatannya di Bem yang katanya sebentar lagi akan di adakannya event penerimaan anggota baru untuk Badan eksekutif Mahasiswa tersebut.
Sambil menunggu sahabatnya itu datang, Cinta tampak begitu serius membaca komik. Namun, tiba-tiba saja terjadi kericuhan di dalam kantin. Karena kericuhan itu membuat suasana menjadi tidak tenang dan sangatlah berisik, Cinta yang sedang asyik membaca komik pun harus terganggu dengan suara teriakan-teriakan perempuan yang anarkis itu.
“Hey, bisa pada diem gak, sih!” teriak Cinta kesal seraya berdiri.
Semua orang yang berada di dalam kantin seketika terdiam dan menoleh ke arahnya dengan sinis. Cinta sempat melirik ke arah tempat di mana terjadinya kericuhan itu. Ternyata, penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah si ketua BEM yang katanya super duper ganteng. Siapa lagi kalau bukan Awan Mahendra Yudistira.
“Aihh, ternyata dia lagi yang bikin ricuh suasana kantin!” cibir Cinta yang kembali duduk. “Lagian, ngapain dia di kantin? Bukannya ada kumpul Bem, yah?”
Awan sempat melirik ke arah Cinta dengan tatapan dingin dan begitu sinis. Namun, ia kembali memesan makanan dan mencari tempat yang kosong. Karena sudah menemukan tempat yang kosong, ia memutuskan untuk duduk di salah satu meja panjang yang sama di mana tempat Cinta duduk.
Melihat Awan duduk satu meja dengannya, Cinta merasa risih karena mulai merasa terganggu dengan wanita-wanita yang tengah berbisik-bisik hingga membuat ia tidak bisa merasakan kenyamanan di saat ia sedang makan.
“Biasa, sumber keributan itu terjadi gara-gara pria yang di sebelah sana itu, tuh!” tunjuk Cinta ke arah samping.
Bumi dan Sasha langsung melirik ke arah samping Cinta. Terlihat Awan yang sedang dikerumuni oleh perempuan-perempuan yang begitu agresif dan ingin berdekat-dekatan terus dengannya. Awan yang sedang makan pun mulai merasa tidak nyaman dan risih, karena sejak tadi ia tidak bisa menikmati makan siangnya dengan tenang.
“Wah, fansnya si ketua BEM itu ternyata banyak juga, yah?” seru Bumi yang sejak tadi terus melirik ke arahnya.
“Ckk, fans? Lu fikir dia artis? Pake acara banyak fans segala!”
“Buktinya, perempuan-perempuan itu pada heboh gitu!” kata Sasha yang diberi anggukan Bumi.
“Untung aja Pelangi nggak ada di sini. Coba aja kalau dia ada, pasti dia bakalan gak kalah hebohnya sama cewe-cewe itu.”
“Iya, lo bener banget!” kata Sasha dan Bumi bersamaan.
__ADS_1
“Eh, nggak jadi kumpul Bem nya?” tanya Cinta sambil menatap wajah Sasha yang sibuk mencomoti makanan yang di bawa Bumi.
“Udah. Cuma sebentar, ko. Lagian, Awannya juga lagi makan di sini.”
“Nggak pacaran sama Guntur lo, Sha?”
“Gunturnya sibuk ngerjain skripsi. Jadi dia dianggurin. Nasib punya pacar senior, ya gitu jadinya!” ejek Bumi yang langsung mengacak-ngacak rambut Sasha dengan seenaknya.
“Berisik banget lu kaya emak-emak arisan!!” seru Sasha yang kembali membalas mengacak-ngacak rambutnya Bumi.
"Kenapa, bete ya lo?" selidik Cinta sambil cengengesan.
Yang di ejek hanya bisa memasang ekspresi cemberutnya dan memonyongkan mulutnya.
"Ya, siapa sih yang gak bete, Ta? Cowonya sibuk dengan masa depannya. Lah, ini anak masih sibuk main sana-sini. Gak malu lo sama cowo lo yang pinter?" goda Bumi kembali hingga membuat Sasha langsung merangkul leher sobatnya itu dengan kasar.
"Berisik lo!! Lama-lama gue lakban juga ya mulut lo!"
Cinta dan Bumi tertawa lebar. Melihat keasikan ketiga sahabat itu, Awan sempat melirik ke arah mereka dengan pandangan mata yang sangat sulit di artikan.
Cinta sempat melirik ke arah Awan kembali. Namun, Awan kembali sibuk dengan piring isi makanannya dan melahap makanannya itu dengan ekspresi dinginnya.
"Dia emang dingin yah, Sha?" tanya Cinta.
"Siapa?"
"Noh, ketua Bem lo!" tunjuk Cinta dengan dagunya ke arah Awan.
Sasha melirik ke arah Awan. Namun, ia kembali mencomot kerupuk yang berada di dalam piring milik Cinta.
"Dia anaknya memang begitu. Seneng banget menyendiri. Paling, sekali-kali aja dia ngumpul sama anak-anak Bem. Itu pun harus di paksa dulu sama kita. Tunggu, kenapa lo nanya-nanya soal Awan? Tertarik lo sama dia?" selidik Sasha.
"Males banget. Dia bukan tipe gue!"
__ADS_1
"Jelas, tipenya Cikur kan gue, Sha," ujar Bumi membanggakan diri hingga membuat Cinta yang mendengarnya langsung tersedak.