
1 minggu berlalu dengan begitu cepatnya, kini Cinta sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Dengan di jemputnya Cinta oleh kerabatnya, sebelum pulang mereka semua pergi berzirah ke pemakaman Nindi dan juga Faris.
Sambil memandangi dua makam yang saling berdampingan, Cinta yang duduk di atas kursi roda dengan dibantu di dorong oleh Langit tampak meneteskan air matanya kembali. Dengan membawa bunga mawar putih kesukaan Nindi dan mawar merah kesukaan Faris, Cinta menyimpan bunga tersebut di atas pusaran yang bertuliskan nama Nindi juga Faris.
Sambil memegangi pusaran nama Nindi dan juga Faris, Cinta mencium pusaran nama tersebut dengan penuh kasih sayang.
“Maaffkan Cinta Mih, Pih. Cinta akan selalu mengingat semua yang pernah kalian ajarkan untuk Cinta. Cinta juga janji akan menjaga Langit dan juga Pelangi. Sampai kapan pun kalian akan selalu ada di hati kami, love you my parents. Love you so much and always remember you.”
Setelah cukup lama di pemakaman kedua orang tuanya, Cinta dan yang lainnya pergi.
“Gue ingin ke rumah PelangiT Cinta. Boleh, kan?” tanya Cinta kepada saudaranya.
Pelangi dan Langit saling beradu pandang. Namun, pada saat itu juga mereka mengangguk tanda setuju. Dengan di temani Kejora, Bumi, Awan, Cinta beserta kedua saudaranya berpamitan kepada tante dan omnya dan meminta izin untuk tidak pulang ke rumah mereka.
Setelah mendapatkan izin, dengan di temani pak Rudi supir pribadi keluarganya, Cinta segera bergegas pergi menuju rumah impian mereka.
Sesampainya di sana, Cinta beserta kedua adiknya mengenang kembali kenangannya bersama dengan kedua orang tuanya. Semua kenangan itu terasa baru saja terjadi beberapa hari yang lalu. Namun, kenangan itu akan hanya menjadi kenangan terindah yang tak akan pernah mereka lupakan.
“Cinta,” panggil Bumi pelan.
“Hmm??”
“Ayo, kita wujudkan impian kita saat Sma dulu. Masih ingat, kan?” tanya Bumi sambil menatap wajah sahabatnya.
“Impian kita? Maksudmu soal 100 balon itu?” tanya Cinta hingga membuat Bumi menganggukkan kepalanya pelan. “Tapi, bagaimana bisa? Balonnya?”
“Sudah disiapkan!” seru Kejora yang membawa segerombolan balon yang begitu banyak.
“Kenapa balon-balon itu?”
“Kami sudah menduga kalau lo akan meminta kita ke sini. Makanya, kita sudah menyiapkan surprise ini untuk lo dengan di bantu oleh Bumi juga. Jadi, ayo kita terbangkan 100 balon impian kita di sini,” tutur Pelangi pelan sambil tersenyum lebar.
Dengan bantuan kedua saudaranya dan juga teman-temannya, akhirnya impian Cinta yang ingin menerbangkan 100 balon impian terwujud juga. Setelah semua balon itu sudah terkumpul, dengan bantuan pak Rudi dan juga Awan, ke-100 balon itu sudah siap di terbangkan.
“Hitungan ketiga kita terbangkan sama-sama, yah!” seru Langit tampak bersemangat.
“1 . . . .” ucap Kejora.
__ADS_1
“2 . . . .” tutur Bumi.
“3 . . . .” lanjut Awan.
Ke-100 balon itu pun terbang bersama-sama. Seketika, rumah PelangiT Cinta pun dipenuhi dengan balon-balon impian tersebut yang berterbangan di atas langit.
“Ayo, mohon permohonan sekarang juga!” seru Pelangi tampak bersemangat.
Mereka langsung memejamkan mata dan melipat kedua tangan mereka seraya memanjatkan doa. Cinta pun melakukan hal itu dan mulai memejamkan matanya.
“Semoga orang-orang yang gue sayang bahagia selamanya dan semoga mamih dan juga papih bahagia di Surga sana,” harap Pelangi.
Gue hanya minta Cinta untuk tetap ceria seperti sebelumnya dan gue minta Cinta cepat sembuh dan bisa berjalan lagi seperti dulu. Batin Langit.
“Aku hanya minta untuk tetap bersama dengan orang yang aku sayangi sampai maut memisahkan kami. Dan aku berharap, semoga kak Rasya masih hidup dan dapat berkumpul kembali bersama kami. Ini adalah permintaan terakhir papih sebelum meninggal, jadi harus aku kabulkan,” doa Cinta penuh harap.
Flash Back . . . .
Saat kecelakaan 1 bulan yang lalu, sebelum Faris meninggal ia sempat meminta permohonan terakhirnya kepada anaknya. Di bawah mobil yang sempat terbalik dengan darah yang mengalir terus di seluruh tubuhnya, Faris berusaha untuk menggenggam erat tangan anaknya yang jatuh pingsan. Setelah berhasil menggenggam tangan anaknya, perlahan Cinta membuka matanya. Melihat anaknya membuka mata, Faris tersenyum kecil dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Mendengar suara ayahnya yang terdengar parau dan melihat ayahnya terjatuh pingsan seperti itu, Cinta menesteskan air mata sedihnya. Mengingat kecelakaan itu, membuat luka yang sangat dalam untuk Cinta dan saudara-saudaranya. Maka dari itu, Cinta harus berhasil menemukan kakaknya itu.
Kak, di mana kakak sekarang? Apa kakak bisa mendengar suaraku? Apa kakak bisa merasakan getaran hatiku? Kami semua menunggumu, Kak. Mamih dan papih juga menunggumu. Batinnya dengan mata berkaca-kaca.
Setelah menerbangkan 100 balon impian tersebut, Cinta dan juga yang lainnya masuk ke dalam rumah. Dengan di temani semua orang yang ia sayangi, Cinta merasa mempunyai semangat dan kekuatan barunya lagi.
“Jangan menangis dan tetaplah tersenyum, aku selalu ada di sampingmu,” ucap Awan pelan sembari mendorong kursi roda Cinta.
“Jangan tinggalkan aku lagi, yah?”
“Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi.”
“Terimakasih karena selalu berada di sampingku.”
Awan tersenyum lebar dan menggenggam erat tangan Cinta dengan penuh kasih sayang.
“Hey, ayo makan!” teriak Bumi yang sudah berada di dalam rumah.
__ADS_1
Cinta dan Awan mengangguk pelan. Mereka segera masuk ke dalam Rumah PelangiT Cinta tersebut. Dan di rumah inilah, sebuah langkah baru menuju kehidupan baru akan segera di mulai. Rumah penuh kenangan dan juga impian ini akan menjadi saksi hidup mereka yang baru.
“Cinta?” panggil Kejora pelan.
“Iya, ada apa?”
“Terimakasih sudah kembali dan membuat Langit tersenyum lagi.”
Cinta tersenyum dan menggenggam erat tangan mantan kekasih adiknya itu.
"Sama-sama, Ra. Terimakasih juga sudah hadir di sini dan masih menjadi sahabat adik gue walau gue tahu kalian sudah berpisah."
"Menjadi sahabat lebih baik dari pada tidak sama sekali."
Cinta dan Kejora saling melempar senyum kemudian bergandengan tangan.
"Kalian membicarakan apa?" tanya Langit penasaran.
"Rahasia. Eh, elo nggak bilang sama Sasha soal gue, kan?"
"Awalnya gue mau bilang. Tapi, gue ragu. Setelah menimbang-nimbang dan berdiskusi dengan Bumi, kami memutuskan untuk tidak memberi tahunya. Kita tidak ingin Sasha khawatir, biarkan dia fokus dengan pengobatannya saja."
"Itu lebih baik, kau memang adik yang hebat."
"Kau juga kakak yang hebat."
Cinta dan Langit saling melempar senyum dengan senyuman hangat mereka.
"Sayang, ayo masuk!!" teriak Awan dari dalam rumah.
"Cieee sayang!!" teriak anak-anak yang lain menggoda.
Sasha cepatlah kembali. Aku ingin mengajakmu ke sini. Aku di sini akan menunggumu. Batin Langit seraya mendorong kursi roda Cinta.
Note : Terimakasih untuk kalian yang sudah dengan setia menjadi readers untuk story Rumah PelangiT Cinta. Jangan lupa like dan komennya yah. Jangan malu-malu untuk memberikan kritik dan saran untuk story ini. Sampai jumpa di Rumah PelangiT Cinta Season 2 .
Jangan lupa untuk tetap saling mencintai dan tetap menebarkan cinta bersama dengan orang-orang terkasih. Tetap sayangi kedua orang tua kalian juga kakak dan adik kalian. Jangan pernah membenci sang mantan, karena itu hanya akan membuang waktumu saja. Ayo, utarakan perasaanmu sebelum semuanya terlambat. Seperti Pelangi yang berwarna indah, juga langit yang begitu cerah. Ayo, kita sebarkan cinta bersama-sama (。♥‿♥。)
__ADS_1