
Esok harinya, Cinta tampak sedang sibuk mengerjakan tugasnya di kamar. Karena kemarin lusa dosen memberikan tugas yang begitu banyak, maka dari itu ia harus rela seharian ini mengerjakan tugas demi sebuah nilai. Dengan ditemani 5 cangkir kopi hitam pekat, kedua kantung mata Cinta tampak sudah menghitam dan terlihat kelelahan.
Semalaman melakukan skype dan mengerjakan tugas dengan keadaan video call bersama kedua sahabatnya, pada akhirnya Cinta malah tidakp tidur semalaman dan harus cepat-cepat mengerjakan tugasnya yang banyak itu.
Lain halnya dengan Langit, setelah selesai memberi makan kelinci kesayangannya, ia membantu sang ayah mencuci mobil di halaman depan rumah.
“Pih, Langit minta beliin mobil baru, dong!” katanya yang langsung nyengir.
“Loh, bukannya papih udah beliin kamu mobil Jeep itu, yah?”
“Iya sih, tapi kan itu bukan mobil pribadi. Itu hanya mobil keroyokannya aku bareng Cinta sama Pelangi.”
Sang ayah tersenyum tipis dan menatap wajah anak laki-lakinya itu dengan tatapan mata menyelidik. “Apa buat balapan lagi?”
Langit terdiam beberapa saat, kemudian ia tersenyum menyeringai.
“Kalau buat balapan papih tidak mengizinkan. Lagi pula, kamu kan sudah papih belikan Ninja hitam sama seperti motor Ninja merah kepunyaannya Cinta.”
“Iya, Langit tahu papih juga udah beliin motor buat Langit. Tapi kan, Langit pengen punya mobil sendiri juga, Pih.”
“Kerja dulu, punya uang sendiri, baru beli mobil baru. Dari pada beli mobil, uangnya kamu bisa tabungkan untuk masa depan kamu kelak.”
Langit terlihat manyun dan menundukkan kepalanya karena sepertinya usahanya gagal untuk dibelikan mobil baru oleh papihnya. Sang ibu yang baru saja menyiapkan dua gelas teh hangat untuk suaminya dan anaknya, terlihat begitu terheran-heran melihat ekspresi wajah anak laki-lakinya yang terlihat kusut sekali.
“Ada apa, Pih?” tanya sang istri setelah menyimpan dua gelas teh hangat di atas meja yang berada di teras depan rumah.
“Ini loh, anakmu ingin dibelikan mobil.”
“Mobil? Bukannya, papih sudah belikan kamu mobil, Nak?”
“Katanya anakmu, itu mobil keroyokan. Anakmu ini ingin punya mobil pribadi sendiri,” papar sang suami sambil menyeruput teh hangat buatan istrinya.
“Bukannya mamih dan papih tidak ingin membelikan buatmu, Nak. Pakailah kendaraan yang sudah ada, untuk apa menghambur-hamburkan uang hanya untuk kesenangan belaka?”
“Yes, of course!” seru Pelangi yang baru saja pulang jogging. “Lo tuh jangan seenaknya minta ini itu sama papih dan mamih. Kalau lo punya uang sendiri, lo bisa beli pake uang sendiri, Lang.”
“Iya, gue tahu,” katanya yang masih tetap manyun.
“Honey, mamih baru menyelesaikan buku mamih tadi malam. Mamih minta pendapatmu, Nak. Sini, bantu mamih buat menyunting halaman yang masih rancu.”
__ADS_1
“Oke, Mih!” jawab Pelangi yang langsung menghampiri mamihnya.
“Ingin mobil apa?” tanya sang ayah setengah berteriak sambil menikmati secangkir teh hangat miliknya. “Kalau Ipk kamu 4, papih belikan.”
“Really, Pih?” seru Langit tampak terkejut dan terlihat gembira sekali.
“Asalkan Ipkmu 4, papih belikan.”
“Tentu, aku pasti akan mendapatkan Ipk 4. Mobilnya bebas terserah papih, mobil apa pun aku bakalan terima.”
Setelah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan, Langit terlihat langsung sumeringah hingga membuat papihnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Siang harinya, Pelangi masih terlihat sibuk membantu mamihnya menyunting sebuah buku baru yang hendak di terbitkan. Karena sang ibu adalah penulis yang cukup terkenal, maka dari itu di setiap sudut rumah mereka banyak sekali tertera buku-buku hasil karya mamihnya.
Meski setiap pagi sampai malam bekerja di rumah sakit sebagai dokter anak, tetapi kecintaannya terhadap menulis tidak membuatnya ada kata lelah. Lain halnya dengan sang suami yang bekerja sebagai arsitek, meski jadwal pekerjaannya begitu padat, sang suami ingin sekali di waktu senggangnya ia habiskan untuk bersama keluarga tercinta.
Karena ingin selalu dekat dengan anak-anaknya, sang ayah sering membuatkan sesuatu untuk anak-anaknya. Seperti rumah minimalis yang ia desain sendiri untuk keluarga tercinta.
Beliau membuat dan merancangnya dari nol dengan jerih payahnya sendiri. Dan, beliau sering mengatakan rumah ini adalah hartanya yang paling berharg. Dan, rumah ini juga akan menjadi rumah anak-anaknya kelak.
Bentuk dan arsitekturnya yang mempunyai ciri khas, tentu mempunyai keunikannya sendiri. Maka dari itu, dari pada pergi jalan-jalan keluar, Langit dan keluarganya sering menghabiskan hari-hari mereka di rumah tercinta mereka.
“Permisi!” seru seseorang sambil mengetuk-ngetuk pintu.
“Cinta mana, El?” tanya Sasha begitu ia baru saja datang bersamaan dengan Bumi.
“Di atas, lagi ngerjain tugas. Semalaman begadang, dari tadi cikur nungguin kalian tahu!”
“Iya, gue telat bangun. Soalnya, kita habis skype-an juga sih semalaman. Ya udah, kita ke atas dulu. Om, Bumi sama Sasha ke atas dulu yah ngerjain tugas bareng Cinta,” ujarnya seraya mencium telapak tangan ayahnya Cinta.
“Iya, kalian segera ke atas saja. Kasihan Cinta, dari tadi ngomel-ngomel nanyain kalian terus.”
“Iya Om, ditinggal dulu, Om,” pamit Sasha yang langsung bergegas pergi dengan disusul oleh Bumi dari belakang.
Bumi dan Sasha langsung bergegas menuju lantai dua dan segera menghampiri Cinta yang terlihat sedang tertidur di atas laptopnya. Melihat kamar Cinta yang berantakan, Bumi mengambil buku Ilmu Hukum yang menutupi wajah sahabatnya itu. Sementara Sasha, ia sibuk merapihkan kamar sahabatnya yang terlihat berantakan itu.
“Gila, ini kamar bener-bener udah jadi kapal Titanic!” seru Sasha sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lo sampai ketiduran gini? Kasian, elo pasti capek banget,” tutur Bumi pelan sembari menggendong Cinta dan membawanya untuk tidur di atas tempat tidurnya.
__ADS_1
Pelangi yang hendak menuju kamarnya dan melewati kamar Cinta, tidak sengaja melihat Bumi sedang menatap wajah kakaknya dan membelai-belai rambutnya dengan lembut. Melihat perhatian sahabat kakaknya itu, ia tersenyum kecil.
“Mereka terlihat serasi,” gumamnya pelan kemudian pergi.
Melihat Bumi yang begitu perhatian kepada Cinta, Sasha sempat mengabadikan moment tersebut dalam sebuah foto. Ia langsung mengambil ponselnya dan memotret moment di mana Bumi yang sedang membelai-belai rambut Cinta dengan penuh kasih sayang.
3 jam berlalu dengan cepat, Cinta yang baru saja terbangun begitu terkejut karena sudah ada Bumi dan Sasha di kamarnya yang tengah mengerjakan tugas miliknya.
“Kenapa lo ngerjain tugas punya gue, Bom?”
“Tadi elo ketiduran pas kita datang. Gue gak tega ngebangunin lo, jadinya gue kerjain tugas punya lo. Soalnya, tugas lo dikit lagi juga selesai,” paparnya dan masih sibuk berkutat dengan laptop.
“Tidur lo kaya kebo, pantes aja kamar lo bau kebo!” sindir Sasha yang memang paling ahli mengejek temannya itu.
“Kampret lo! Udah, selesain tugas punya lo. Jangan banyak ngomong!”
“Iya, bawel lo kaya tetangga gue!”
“Tapi, gue gak kenal tuh sama tetangga lo.”
Sasha hanya menggerutu sendiri hingga membuat Bumi juga Cinta tertawa geli melihat sikap Sasha yang hobby mengejek mereka setiap harinya. Cinta menatap wajah Bumi dengan seksama. Kemudian, ia beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil ikat rambut miliknya yang berada di atas meja.
“Kalau begitu, gue selesaikan tugas lo aja gimana?”
“Benarkah?” tanya Bumi girang
"Tentu,” katanya seraya merapihkan rambutnya dan mengikatnya.
“Yang punya gue juga dong, Ta,” pinta Sasha dengan wajah memelas.
“Ogah!” katanya membalas dan langsung menjulurkan lidahnya.
“Pelit lo, Kebo!”
Seharian mengerjakan tugas bersama, Pelangi dan juga ibunya membuatkan makanan untuk teman-temannya Cinta. Bahkan, mereka sampai membawakan cemilan ke dalam kamar Cinta agar bisa di makan oleh mereka.
Karena tugas yang begitu menumpuk, Langit dan Pelangi juga membantu mereka bertiga dengan ala kadarnya.
Melihat anak-anak mereka terlihat kelelahan, sang ibu berinisiatif untuk memotret mereka semua yang terlihat sedang tertidur begitu lelapnya. Dengan keadaan kamar yang sangat berantakan, buku dan kertas berserakan di mana-mana dan keadaan laptop yang masih menyala.
__ADS_1
Cinta tampak terlihat tertidur di atas perut Bumi sedangkan Pelangi yang tertidur diatas lengan Bumi, juga Langit yang tertidur di kaki Pelangi dan Sasha yang tertidur di atas lengan Cinta.
“Selamat beristirahat anak-anakku,” ucap sang ibu lembut kemudian kembali menutup pintu kamar anaknya.