Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Hal yang paling bersinar


__ADS_3

Semenjak kejadian di Rumah PelangiT Cinta, hubungan Cinta dan Pelangi mulai membaik seperti sebelumnya. Namun, Pelangi masih terlihat sangat gelisah sekali saat ia berada di dalam kamarnya. Sementara Cinta, ia tampak sedang memandangi selembar foto yang berada di dalam dompetnya, di mana foto tersebut ada keberadaan dirinya bersama dengan Bumi saat masih Sma dulu.


Melihat kedua saudaranya yang terlihat sangat gelisah dan juga bersedih, Langit ikut merasakan juga apa yang mereka rasakan saat ini.


“Apa yang harus gue lakukan untuk melihat kebahagiaan kalian?” ucap Langit pelan sambil memandangi kedua kamar saudaranya.


Karena melihat kedua saudaranya belum juga tidur, Langit memutuskan untuk mengajak mereka berdua keluar kamar dan duduk bersama di halaman depan rumah mereka. Dengan ditemani ribuan bintang yang berkedap-kedip di atas langit sana, mereka bertiga tampak sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.


“Masih ingat kejadian saat kita masih Smp?” tanya Langit membuka suara hingga membuat kedua saudara kembarnya menatap ke arahnya. “Karena kejadian itu, gue tidak akan pernah lupa luka yang pernah membekas di kepala gue,” imbuhnya sambil memegang bekas luka jahitan yang berada di kepalanya.


“Tapi, luka itu sebenarnya bukan berada di bekas jahitan itu. Luka itu ada di sini, "katanya melanjutkan seraya memegang hatinya dan menatap kedua saudaranya dengan mata sendu.


“Gue sedih, gue marah melihat pertengkaran kalian kemarin. Sebagai saudara, gue merasa tidak berguna, gue merasa tidak bisa melakukan apa-apa untuk melerai pertengkaran kalian. Tahukah kalian, walau gue selalu terlihat acuh dan tidak peduli, tapi gue selalu memperhatikan kalian secara diam-diam.


“Gue sayang kalian berdua, gue nggak mau kehilangan kalian. Kalian berdua itu tulang rusuk gue, hidup dan mati, kita harus selalu bersama-sama!” serunya dengan mata berkaca-kaca hingga membuat Cinta dan juga Pelangi meneteskan air matanya.


Untuk pertama kalinya, Cinta dan Pelangi mendengar isi hati Langit yang sejujur-jujurnya. Memang, selama ini Langit terlihat acuh dan seperti tidak peduli dengan kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Namun, Cinta dan Pelangi sama sekali tidak menyangka jika saudara kembarnya itu akan membuka kembali kenangan pahit mereka di masa lalu.


Sejak kejadian kecelakaan itu, Cinta dan Pelangi nyaris tidak pernah membicarakan kecelakaan yang menyebabkan luka di hati mereka bertiga. Karena mereka tahu, Langit akan membenci hal tersebut dan itu akan membuatnya sedih. Maka dari itu, mereka sangat terkejut ketika Langit membicarakan soal luka jahitan itu lagi.


“Lupakan soal permasalahan cinta yang membelit hati kalian, fikirkanlah kebersamaan kita selama hampir 22 tahun ini. Bukankah kalian ingin selalu membuat kedua orang tua kita bahagia, tersenyum dan bangga terhadap kita?”

__ADS_1


“Gue ngerti, Lang. Terima kasih karena lo udah mau jujur dengan isi hati lo. Maaffin gue juga karena menyebabkan suasana yang tidak nyaman untuk kalian. Dan, maaffin gue juga yang tidak bisa melindungi lo karena kecelakaan itu. Gue bersedia menjadi obat penawar yang menyebabkan kepala dan hati lo sakit,” tutur Cinta seraya memegang bekas luka yang berada di kepala Langit dan memegang dada saudara kembarnya itu.


“Cinta,” ucap Langit dengan mata berkaca-kaca.


“Gue sayang kalian berdua, jadi jangan pernah berfikir untuk meninggalkan gue, yah?” tangis Pelangi sembari memegang tangan Cinta dan juga Langit bersamaan.


Langit dan Cinta tersenyum lebar sembari menitikkan air mata kebahagiaan mereka. Mereka bertiga juga saling berpelukan dan menangis bersama dengan bintang yang menjadi saksi kisah hidup mereka selama ini.


Melihat ketiga anaknya saling berpelukan dan menangis bersama, Nindi dan juga Faris yang memang belum tidur, melihat kejadian itu dengan mata berkaca-kaca hingga membuat Nindi kembali meneteskan air mata harunya.


Sambil merangkul istri tercintanya, Faris tersenyum kecil dan menghapus air matanya yang sudah mulai keluar dari pelupuk matanya. Dan berkat kejadian malam itu, semua kembali normal dan lebih terbuka untuk urusan hati mereka masing-masing.


Selama di kampus, Pelangi tampak terlihat murung. Awan yang melihat Pelangi tengah berada di taman kampus, tampak memberanikan dirinya untuk menghampirinya dan duduk di sampingnya dengan menghela nafas panjang.


“Awan?” seru Pelangi saat melihat Awan duduk di sampingnya.


“Ngi, maaffin gue,” ucapnya pelan yang terlihat menyesal.


“Maaf? Maaf untuk apa?” Pelangi terlihat bingung.


“Gue tahu soal perasaan lo terhadap gue. Dan, gue minta maaf kalau gue tidak bisa menerima hal itu. Orang yang gue suka itu Cinta bukan elo, Ngi,” katanya pelan hingga membuat Pelangi terdiam dan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Sejak awal, orang yang sering gue perhatikan dan orang yang gue suka adalah Cinta, bukan lo. Walau kalian kembar, tapi entah kenapa hati gue lebih tergerak untuk melihat Cinta dari pada lo. Sorry, kalau perkataan gue menyakiti hati lo dan sorry juga karena gue hubungan lo dan juga Cinta jadi merenggang.”


Pelangi tersenyum tipis. Ia memberanikan dirinya untuk menatap wajah Awan yang memang terlihat sangat menyesal.


“Maaf lo gue terima, gue juga tidak bisa melarang lo untuk mencintai kakak gue. Gue dukung hubungan kalian, tapi apa elo tahu orang yang Cinta suka itu siapa?”


Awan mengangguk dan menatap ke atas langit dengan mata lirih.


“Iya, gue tahu. Karena gue tahu orang yang Cinta suka, makanya gue rela melihat Cinta bahagia dengan orang yang ia cintai. Pengorbanan itu akan indah jika kita melihat orang yang kita sayangi bahagia. “


“Apa yang akan elo lakukan selanjutnya?”


“Gue ingin Cinta bahagia dengan orang yang di pilihnya. Gue tidak ingin egois dan memaksakan kehendak gue. Sesuatu yang tidak bisa gue raih tidak akan pernah gue paksakan untuk memilikinya. Karena gue akan melepaskannya demi kebahagiaannya. Dan, gue tidak ingin ada goresan luka yang membekas hingga membuat sesuatu yang berharga itu pecah kebahagiaannya,” katanya pelan kemudian pergi.


“Awan!” panggil Pelangi pelan hingga membuat langkah Awan terhenti. “Apa gue harus melepaskan sesuatu yang berharga itu demi orang yang gue sayangi? Apa pohon harus rela melihat daun-daunnya yang berguguran?”


Awan tersenyum dan kembali membalikkan badannya seraya menatap wajah Pelangi dengan lembut.


“Bunga tidak akan layu jika disiram, petir tidak akan datang menyambar jika tak ada hujan. Dan, cinta tidak akan datang jika perasaan itu tak muncul. Sesuatu yang berharga itu akan terlihat bersinar ketika kita berani melepaskannya. Karena cinta itu adalah hal yang paling berharga,” ucapnya sambil tersenyum kemudian pergi.


Pelangi tersenyum puas. Ia mengerti apa maksud dari perkataan Awan tadi. Setelah pembicaraannya dengan Awan, ia memasuki kelasnya dengan riang.

__ADS_1


__ADS_2