Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Makan Malam


__ADS_3

Semenjak pertengkaran Bumi dengan Cinta, Awan membawa Cinta pergi dan tidak melepaskan tangannya sama sekali. Ia terus membawa Cinta pergi menuju rooftop gedung kampusnya.


“Cinta, lo bisa jawab pertanyaan gue dengan jujur?” tanya Awan sambil melepaskan tangan Cinta dari pergelangan tangannya seraya menatap wajahnya hingga membuat Cinta mengangguk pelan dan membalas tatapan mata Awan.


“Apa lo suka sama Bumi?” tanya Awan yang membuat Cinta sepertinya terkejut dan memalingkan wajahnya sejenak. “Kalau elo diem, berarti jawabannya bener.”


Cinta masih belum mau menjawab. Ia memalingkan wajahnya hingga membuat Awan memegang kedua bahu Cinta dengan erat dan menatapnya kembali.


“Jadi, ini alasannya elo nolak gue kemarin?”


“Kenapa kita ngungkit-ngungkit masalah ini lagi, sih? Gue ada kelas, gue ke kelas dulu!” ucapnya kemudian pergi.


Namun, Awan tidak tinggal diam begitu saja. Ia langsung menarik tangan Cinta dengan kasar hingga membuatnya terjatuh ke dalam pelukannya.


“Gue terima kalau elo nolak gue. Gue terima kalau elo menyukai pria lain dan gue juga terima kalau kita hanya bisa berteman saja. Tapi, gue nggak terima kalau elo pergi begitu saja dari gue!”


Cinta berusaha melepaskan pelukan Awan, namun pelukannya semakin erat dan sangat sulit untuk di lepaskan.


“Apa tidak ada sedetik pun rasa suka lo untuk gue, Ta? Apa nggak ada sedikit pun rasa debaran jantung lo saat lo bersama dengan gue?” tanya Awan terlihat lebih kasar dan tidak seperti biasanya.


“Gue sudah mengenal Bumi sejak Sma dan gue sudah menyukainya sejak Sma juga. Gue sudah mengenal Bumi lebih awal dan gue sulit untuk melupakannya.”


Awan terdiam. Ia melepaskan pelukannya hingga membuat Cinta menatap wajah Awan yang tengah memalingkan wajahnya.


“Sorry, kalau gue membuat lo kecewa, Wan," katanya pelan dengan mata berkaca-kaca.


Cinta kemudian pergi meninggalkan Awan sendirian di atap gedung. Awan menundukkan kepalanya kemudian menatap kepergian Cinta dengan tatapan lirihnya.


“Waktu gue udah gak banyak lagi Cinta, gue harus segera memutuskan pilihan gue dengan secepatnya. Sekarang, gue sudah tidak ada alasan lagi untuk tetap stay di sini,” katanya pelan sambil menatap kepergian Cinta dengan lirih.


Setelah pertengkaran hebat itu, malam harinya Nindi dan Faris terlihat pulang lebih awal dari pada sebelumnya. Cinta dan Pelangi yang melihat kedua orang tuanya pulang lebih awal terlihat sangat bingung.


“Tumben papih sama mamih udah pulang?” tutur Cinta tampak bingung ketika ia baru saja pulang setelah pergi berjalan-jalan dengan kedua anjingnya dan melihat kedua orang tuanya tengah sibuk mempersiapkan sesuatu.


“Iya, mamih sama papih mau makan malam bareng sama kalian di rumah. Kan, udah lama juga kita gak pernah makan malam bareng,” jawab Nindi yang tengah sibuk mempersiapkan hidangan makanan.


Pelangi yang tengah menonton drama Korea dengan ditemani kucing putih miliknya pun tampak kebingungan sendiri melihat Nindi begitu sibuk menyiapkan makanan yang begitu banyak itu.


“Menu makan malam hari ini kayanya banyak banget, emangnya bakalan habis?” tanya Pelangi bingung.


“Pasti habis, kita kan makannya banyakan,” jawab Faris cepat, “oh ya, Langit mana?”


“Dia lagi ngasih makan Camcan; kelinci kesayangannya,” jawab Cinta pelan.


“Aku udah laper. Kita makan sekarang aja, yuk!” seru Pelangi yang langsung mencari kursi kosong dan mengambil piringnya.


“Eh, jangan makan dulu! Kita harus tunggu seseorang yang belum datang!” seru Nindi mencegah anaknya untuk makan terlebih dahulu.


“Tunggu seseorang? Siapa? Mamih undang orang lain?” tanya Pelangi penasaran.


“Tamu kita datang!” seru Langit yang baru saja datang dan membawa seseorang untuk masuk ke dalam.


“Eh, tamunya udah datang?” seru Nindi sambil tersenyum lebar.


Cinta dan Pelangi langsung membalikkan badan dan menatap ke arah Langit. Mereka begitu terkejut ketika melihat tamu yang baru saja datang ke rumah mereka ternyata adalah seseorang yang mereka kenal.


“Bumi?” seru Pelangi dan Cinta bersamaan.


“Malam Tante Nindi, malam Om Faris,” sapa Bumi terdengar ramah begitu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


“Malam, masuk Bumi,” ajak Nindi yang mempersilahkan tamunya untuk masuk.


“Mamih kenapa ajak dia? Terus, kenapa gak bilang-bilang lagi, apa maksudnya coba?” bisik Pelangi ke arah Nindi.


“Gak apa-apa, jarang-jarang kan kita makan malam bersama someone special kalian.”


“What? Someone special?” seru Pelangi setengah berteriak.


“Yang lainnya mana?” tanya Faris kembali hingga membuat Cinta dan Pelangi menatap wajah ayahnya dengan bingung.


“Masih ada yang lain?” tanya Pelangi dan Cinta bersamaan.


“Malem Tante, malem Om!” seru seseorang dari balik pintu.


Cinta dan Pelangi langsung melirik ke arah pintu utama rumah mereka begitu melihat seorang perempuan bersama seorang pria yang baru saja datang berkunjung ke rumah mereka. Mereka terlihat menundukkan kepala dan tersenyum ramah.


“Eh, udah datang kalian? Masuk, yuk!” ajak Langit begitu melihat tamunya sudah datang, “nggak pada nyasar, kan?”


“Rumahnya sih strategis jadi nggak sulit nyarinya,” jawab seorang perempuan yang tak lain adalah Kejora, “ya nggak, Wan?” tanya Kejora kepada seorang pria yang sejak tadi berdiri di dekat pintu.


Awan mengangguk pelan dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Karena semua orang sudah hadir, acara makan malam pun di mulai setelah Faris mempersilahkan tamu-tamu specialnya untuk bergabung di ruang makan.


Faris memang sudah merencanakan makan malam ini sebelumnya dengan istrinya dan juga anaknya, Langit. Cinta dan Pelangi sepertinya terlihat sangat syock dan tidak percaya jika kedua orang tuanya merencanakan makan malam ini dengan orang-orang yang sangat special untuk keduanya.


Makan malam pun berlangsung dengan suasana yang cukup hening. Yang terlihat hanyalah ketegangan dari ekspresi wajah mereka masing-masing.


“Pasti ini Kejora, yah? Teman sekelasnya Langit, kan?” tanya Nindi membuka suara.


“Iya Tante, saya teman sekelasnya Langit,” jawabnya terlihat malu-malu.


“Pacarnya Langit?” tanya Nindi kembali hingga membuat Langit dan Kejora tampak terkejut mendengarnya.


“Oh, calon pacar kalau begitu?” goda Faris yang membuat keduanya kembali terkejut dan salah tingkah.


“Tidak, kami hanya berteman,” tegas Langit mengklarifikasi hingga membuat semuanya jadi tertawa terkecuali Kejora.


Entah kenapa, ia merasa sangat kecewa dengan jawaban Langit barusan. Kejora sendiri sebenarnya tidak mengerti, kenapa ia di ajak untuk makan malam bersama di rumahnya Langit. Kenapa harus dirinya, bukan Sasha yang terlihat sangat akrab dengan pria yang sangat di sukainya itu?


“Mih, Pih, kami hanya berteman tidak lebih. Iya kan, Ra?”


Kejora menganggukkan kepalanya pelan. Sementara kedua saudaranya Langit, terus menggodanya karena ini adalah pertama kalinya Langit membawa seorang perempuan ke rumah.


“Kalau hanya teman, kenapa kamu mengajak Kejora untuk makan malam bersama kita? Papih kan meminta kamu mengundang teman special kamu untuk malam malam bersama kita. Iya, kan?” goda Faris kembali sambil tersenyum hingga membuat Langit dan Kejora menjadi salah tingkah.


“Papih!!”


“Terus, siapa nih yang pacarnya Cinta dan siapa yang pacarnya Pelangi?” tanya Nindi hingga membuat kedua anak perempuannya tersedak.


“Hah?” seru Pelangi dan Cinta bersamaan.


“Ternyata kalian sudah dewasa, yah? Sekarang, kalian sudah mempunyai pasangannya masing-masing. Papih dan mamih sangat gembira melihat kalian bahagia dengan pasangan kalian masing-masing. Iya nggak, Mih?”


Nindi mengangguk hingga membuat anak-anaknya hanya menunduk dan sibuk dengan makanan mereka masing-masing.


“Mamih dan papih tidak melarang kalian untuk pacaran karena kalian juga sudah dewasa. Mamih dan papih sih berharapnya kalian hidup akur terus.”


“Untuk Awan, Bumi dan Kejora, kalau kalian memang ingin mempunyai hubungan istimewa dengan anak Om, itu tidak masalah. Hanya saja, Om sih berharap kalian tidak akan pernah menyakiti anak-anak Om. Karena mereka bertiga adalah anak-anak kesayangannya Om. Harta berharganya Om dan juga Tante."


Bumi, Awan dan Kejora tampak menundukkan kepala mereka dan hanya bisa manggut-manggut sambil mendengarkan semua perkataan Nindi dan juga Faris.

__ADS_1


“Kalian juga harus tahu kelebihan dan kekurangannya mereka. Om sih berharap, kalian lebih bisa menerima kekurangannya mereka. Dan, Om juga berharap, kalian jangan pernah menyakiti ke tiga anak Om ini. Karena kalau sampai kalian menyakiti mereka, Om tidak akan mengizinkan kalian untuk bertemu dengan mereka lagi.


“Maka dari itu, kalau sampai terjadi apa-apa dengan anak-anak Om, Om pasti akan mencari kalian dan meminta pertanggung jawaban kalian. Apa kalian bisa mengerti?”


“Iya Om, kami mengerti!” jawab Awan, Bumi dan Kejora bersamaan.


Setelah acara makan malam selesai, Kejora tampak membantu Nindi beres-beres di dapur. Sementara Awan dan Bumi terlihat sedang mengobrol dengan Faris di halaman belakang rumah mereka.


“Heh, apa maksud lo ngajak mereka makan malam bersama kita?” tanya Cinta galak sambil menarik tangan Langit untuk menjauh sejenak dari yang lain.


“Itu pemintaan papih sama mamih. Gue gak bisa nolak juga!” jawab Langit menjelaskan,


“dan, gue berharap, lo dan juga elo nggak usah ribut lagi, oke?” pinta Langit sambil menunjuk wajah Pelangi juga Cinta dengan telunjuknya.


Pelangi dan Cinta yang geram langsung menggigit telunjuk Langit secara bersamaan hingga membuatnya menjerit kesakitan.


“Arghh, sakit tahu!” jeritnya kesal.


“Hey, kalian bertiga!” seru Faris memanggil ke tiga anaknya, “sini, coba kalian nyanyi dan hibur kita!”


“Menghibur?” ulang mereka bertiga kompak.


“Eh, Ra, elo ikut nyanyi bareng kita aja gimana?” saran Langit yang disetujui oleh Pelangi dan juga Cinta.


“Gue?” serunya sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Iya, gue denger dari Langit suara lo bagus. Jadi, kita nyanyi bareng aja, yah?” pinta Cinta sambil menggenggam tangannya.


Setelah menimbang-nimbang, Kejora akhirnya menyetujui permintaan Langit dan juga Cinta. Dan, mereka berempat pun bernyanyi bersama dengan Cinta, Langit dan Kejora yang bermain gitar sedangkan Pelangi memainkan keyboardnya.


Karena lagu favorit mereka sama, mereka berempat pun menyanyikan lagu dari Ed Sheeran- Happier.


Melihat Cinta bermain gitar sambil bernyanyi, itu membuat Awan menatapnya dengan mata yang berbinar-binar. Sementara Bumi, ia terlihat sangat kagum saat melihat kelihaian kedua tangan Pelangi dengan tuts keyboardnya itu. Dan, Langit sendiri begitu terkagum-kagum ketika mendengar suara Kejora yang begitu merdunya.


Untuk sesaat, Langit teringat kejadian tadi siang saat ia hendak mengajak Kejora untuk makan malam bersama di rumahnya. Sebenarnya, tadinya Langit ingin mengajak Sasha untuk makan malam bersama dengannya, tapi ia mengurungkan niatnya begitu melihat Sasha sedang bersama dengan Guntur.


Awalnya, Langit tidak ingin mengajak Kejora. Tapi, karena Regan sahabatnya Langit menyarankan Kejora untuk di ajaknya makan malam bersama keluarganya saja, Langit pun akhirnya menyetujui saran Regan itu. Karena ia sendiri pun cukup dekat dengan Kejora akhir-akhir ini.


Setelah menyanyikan lagu favorit mereka berempat, Cinta dan saudara-saudaranya menyanyikan lagu dari One Direction – steal my girl. Melihat Awan yang sejak tadi memperhatikan Cinta yang sedang bernyanyi dan memetik gitar, Pelangi terlihat sangat cemburu sekali. Bahkan, Bumi tampaknya menyadari kalau perempuan yang sangat disukainya itu terbakar api cemburu. Ia pun langsung menggenggam tangan Pelangi dan mengajaknya untuk pergi keluar.


“Ada apa sih, Bom?” tanya Pelangi begitu Bumi menarik tangannya dan membawanya ke teras depan rumahnya.


“Ngi, gue mohon sama lo. Elo bisa kan melupakan Awan? Elo bisa kan hanya melihat gue di mata lo tanpa adanya kehadiran Awan?”


“Gue nggak bisa, Bom. Gue cemburu melihat tatapan mata Awan untuk Cinta. Gue nggak suka melihat kedekatan mereka. Walau pun gue dan Awan tidak pernah dekat, tapi gue seperti dikhianati oleh saudara gue sendiri!”


“Ngi, please, belajarlah untuk melupakan Awan dan belajarlah untuk menyukai gue!” pintanya setengah berteriak seraya memegang kedua bahu Pelangi dengan erat.


“Tapi, bagaimana caranya?”


Bumi menatap wajah Pelangi dengan sorotan matanya yang tajam. Tiba-tiba saja, ia menarik tangannya Pelangi dengan kasar dan mencium bibirnya secara paksa.


Cinta yang bermaksud mencari Pelangi dan juga Bumi, tidak sengaja melihat Bumi yang tiba-tiba saja mencium bibir adiknya itu.


Ia yang melihat hal tersebut begitu terkejut. Bahkan, Awan yang sempat menyusul kepergian Cinta dan melihatnya terdiam terpaku langsung menghampirinya dan menarik tangannya seraya memeluknya dengan erat.


“Jangan lihat kalau lo gak sanggup melihatnya. Elo jangan lihat pemandangan buruk itu!”


“Tapi, gue . . . . ”

__ADS_1


Cinta berusaha untuk membalikkan badannya, namun Awan kembali mempererat pelukannya dan mengajaknya untuk pergi.


__ADS_2