
Setelah menceritakan kisah pilu masa kecil anak-anaknya, Nindi pergi meninggalkan Pelangi sendirian. Selama ini, Pelangi tidak pernah tahu kejadian saat dirinya hampir kehilangan nyawanya karena tenggelam.
Yang Pelangi tahu, dia sangat takut akan kolam berenang dan tidak pernah mau berenang lagi sampai kapan pun.
Pelangi juga tidak pernah tahu, alasan kenapa kakaknya tumbuh menjadi sosok seperti pria, tidak pernah berdandan, tidak pernah memakai rok selain ke sekolah dan tidak pernah menangis di hadapannya maupun Langit.
Dengan Nindi menceritakan kisah lama mereka yang kelam kepadanya, Pelangi menyadari akan sesuatu hal tentang kakaknya yang selalu terlihat kuat. Itu semata-mata ia lakukan demi menjadi kakak yang bisa diandalkan oleh adik-adiknya.
Setelah mengetahui semuanya dari Nindi, Pelangi sudah tak kuasa menahan air matanya lagi. Sebegitu besarnya pengorbanan Cinta untuk dirinya hanya untuk melindunginya. Ia tak pernah menyangka, kejadian yang sebenarnya itu akan seperti yang di ceritakan Nindi.
Pelangi mencoba untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh dan bergulir. Ia melihat ke sekeliling rumahnya dan kembali mengenang masa kecilnya dengan melihat barang-barang semasa kecilnya dulu.
Saat melihat sebuah sepeda, Pelangi teringat kejadian saat mereka masuk Smp dulu. Sepeda itu yang membuat Cinta phobia dengan darah dan juga rumah sakit. Saat masih Smp, Langit pernah mengalami kecelakaan fatal. Langit menjadi korban tabrak lari yang pada saat itu tengah bermain sepeda bersama dengannya dan juga Cinta.
Kejadian saat itu sangat menakutkan. Walau mereka bertiga mengalami kecelakaan yang sama, tapi kondisi Langit saat itulah yang paling parah. Ia banyak mengeluarkan darah hingga membuat Pelangi saat itu menangis hebat untuk pertama kalinya.
Melihat Pelangi yang menangis, Cinta mencoba untuk menghiburnya. Karena kecelakaan itu, Langit memiliki luka di kepalanya dan beberapa jahitan yang membuat lukanya membekas.
Langit yang banyak kehilangan darah, membuat Cinta berkorban untuk mendonorkan darahnya untuk adiknya. Dan, pada saat Langit masuk rumah sakit, kakeknya meninggal karena sakit parah. Di hari yang sama, Cinta dan Pelangi harus kehilangan orang yang paling di sayangi.
Meninggalnya sang kakek saat di rumah sakit, membuat Cinta sangat membenci rumah sakit. Dan, itulah alasan Cinta kenapa sangat takut akan darah dan juga rumah sakit.
Mengingat semua kenangan semasa kecilnya memang sangatlah menyedihkan. Pelangi pun bertekad untuk menutup kenangan pahit itu dan menguburnya dalam-dalam.
Malam sudah semakin larut, Pelangi dan keluarganya pun mengadakan party kecil-kecillan dengan acara barbaque di halaman depan rumah mereka.
“Cinta!” panggil Pelangi pelan saat melihat kakaknya tengah membakar jagung.
“Apa?” tanyanya dingin.
__ADS_1
“Bisa ngobrol sebentar?”
Cinta mengangguk pelan dan mengajak Pelangi masuk ke dalam rumah hingga membuat Langit yang melihat mereka berdua pergi terheran-heran.
“Ada apa?” tanya Cinta saat berada di dalam rumah.
Pelangi tiba-tiba saja memeluk Cinta dan menangis di dalam pelukannya. Melihatnya yang seperti ini, membuat Cinta kebingungan sendiri.
“Kenapa? Ko, nangis, Pe?”
“Gue sayang banget sama lo, Cinta. Elo itu kakak yang hebat dan lo itu separuh jiwa gue yang paling gue sayang. Jadi, jangan tinggalin gue, yah? Maaffin gue yang seperti anak kecil dan suka marah-marah nggak jelas sama lo. Gue terima lo tampar gue saat itu, gue yang salah dan gue mau lo maaffin gue!” tangisnya.
Cinta tersenyum tipis. Ia membalas pelukan adiknya itu dengan memeluknya semakin erat dan penuh kasih sayang.
“Gue juga sayang banget sama lo, Pe. Gue nggak mau kehilangan lo. Maaffin gue juga yah, gue udah bohong sama lo dan ngerebut Awan dari lo. Kalau lo memang menyukai Awan, gue janji akan membuat lo dan juga Awan bersama.”
“Yang Awan suka itu elo, bukan gue, Ta. Gue udah gak marah lagi, ko. Gue merelakan Awan untuk lo. Jadi, elo boleh memiliki Awan sepenuhnya. Gue ikhlas dan gue nggak mau karena masalah cowo, elo sama gue harus bertengkar seperti ini.
“Jujur, gue kecewa, gue sedih, gue marah. Tapi, lebih baik gue kehilangan Awan dari pada kehilangan lo. Ini adalah pertengkaran terbesar yang pernah gue alami bersama lo. Gue sayang sama Awan, tapi gue lebih sayang sama lo dan nggak mau kehilangan lo. Lebih baik gue kehilangan pacar dari pada harus kehilangan kakak gue sendiri. Asal lo bahagia, gue rela melepaskan Awan untuk lo."
Cinta terenyuh. Ia sangat terharu mendengar semua kata demi kata yang diucapkan adiknya itu. Ia kembali memeluk adiknya dengan begitu erat.
“Gue mana bisa menerima cinta Awan sedangkan hati gue tidak bersamanya.”
“Maksud lo?” tanya Pelangi bingung sambil melepaskan pelukan kakaknya.
“Gue nggak mau bohong lagi sama lo, Ngi. Jujur, gue suka sama Bumi dan gue sangat cemburu saat lo dan Bumi jalan bersama.”
“Apa tadi lo bilang? Hmm, Cinta . . .gue?” Pelangi tampak gugup.
__ADS_1
“Sudahlah, Pe. Yang Bumi suka itu elo, bukan gue. Justru gue yang akan berkorban untuk lo."
"Maksud lo, Ta?" tanya Pelangi bingung.
"Gue nggak akan pacaran sama Awan, Pe. Gue juga akan merelakan Bumi untuk adik kesayangan gue,” ucapnya sambil tersenyum.
Pelangi tampak begitu terkejut ketika Cinta mengakui kalau dirinya mencintai Bumi. Ia merasa sangat bersalah sekali karena dia seperti merebut Bumi dari kakaknya sendiri. Karena selama ini, Pelangi tidak pernah tahu tentang perasaan kakaknya yang sebenarnya.
"Ta, elo nggak harus sampai melakukan semua itu."
"Itu kewajiban gue sebagai kakak, Pe. Gue ingin membuat adik gue bahagia selalu."
"Tapi, tidak dengan cara seperti ini. Jangan membuat gue merasa bersalah."
"Dengar, gue sama sekali tidak menyukai Awan. Jadi, untuk apa gue pacaran dengan orang yang tidak gue sukai sama sekali. Kalau masalah Bumi, gue nggak mau merusak persahabatan gue dengannya sejak dulu. Biarlah gue dengannya tetap menjadi seorang sahabat. Karena bagaimana pun, yang Bumi suka itu cuma elo, Ngi."
"Cinta . . . "
"Gue nggak mau egois, Ngi. Yang namanya cinta itu tidak bisa dipaksakan. Cinta tidak boleh egois. Cinta itu murni karena itu kita harus menjaga kemurnian itu agar tetap utuh."
"Walau harus ada yang tersakiti?"
Cinta terdiam. Namun, ia kembali tersenyum dan memegang ke dua bahu Pelangi sembari menatapnya begitu lekat.
"Kalau untuk kebaikan bersama, itu tidak masalah. Di dunia ini, kita semua pasti akan merasakan rasanya sakit. Tidak ada yang berjalan mulus, Pelangi. Untuk mencapai sesuatu kita harus tersakiti. Tapi, dengan seiring berjalannya waktu, rasa sakit itu akan sembuh dengan sendirinya. Walau harus dengan proses yang panjang."
"Gue bangga sama lo, Kak!!" ujar Pelangi sambil memeluk kakaknya.
"Gue juga bangga sama lo, Adikku," tutur Cinta yang membalas pelukan hangat adiknya.
__ADS_1