Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Rumah PelangiT Cinta


__ADS_3

Setelah menceritakan kisah pilunya kepada Cinta, Sasha terlihat lebih tenang. Karena hari sudah malam Cinta memutuskan untuk mengantar Sasha pulang dengan menggunakan motor Ninjanya.


"Sekarang elo udah agak enakan, Sha?" tanya Cinta begitu sampai di depan rumah Sasha sambil membuka helmnya.


"Iya, makasih yah udah dengerin semua keluh kesah gue. Maaf juga karena gue udah ganggu lo malam-malam gini."


"Nggak apa-apa, ko, Sha. Gue seneng kalau gue berguna buat sahabat gue ini. Jangan sedih lagi yah, jangan pendam lagi semua kesedihan lo seorang diri. Elo masih punya gue, Sha."


Sasha mengangguk. Karena hari sudah malam, setelah berpamitan, Cinta langsung bergegas pergi untuk pulang. Sasha menghela nafas pendek begitu Cinta pergi. Ia membalikkan badan dan cukup lama memandangi rumahnya yang terlihat tua dan begitu sunyi.


Dari jarak yang cukup jauh, Langit memandangi punggung Sasha dengan mata sendunya. Pergerakan tangannya seolah ingin sekali memegang pundak Sasha yang terlihat memikul beban yang begitu berat. Namun, ia tidak mampu untuk melakukannya. Yang bisa dilakukan Langit saat ini hanya bisa memandanginya dari kejauhan saja.


"Elo gak sendirian, Sha. Masih ada gue, masih ada gue di sini bersama lo," ucapnya pelan.


Keesokan harinya, karena hari ini adalah hari minggu, Nindi dan juga Faris mengajak ketiga anaknya untuk pergi berlibur. Karena sudah berjanji mengajak ketiga anaknya untuk pergi bersama, Nindi dan Faris ingin menghabiskan hari ini bersama anak-anaknya.


Melihat ketiga anaknya yang sama sekali tidak bersuara, Nindi yang duduk di samping suaminya terlihat sangat sedih. Langit yang duduk diantara Cinta dan juga Pelangi pun hanya bisa melipat kedua tangannya. Cinta menyibukkan dirinya dengan membaca komik Naruto, sementara Pelangi sibuk dengan membaca novel terbaru yang baru saja ia beli.


Berbeda seperti tahun lalu saat mereka pergi bertamasya bersama, suasana di mobil saat itu sangat ramai dan menyenangkan. Langit sangat merindukan hari-hari itu, karena pada saat itu mereka terlihat seperti keluarga yang kompak. Sambil memakai kacamata hitam, Nindi, Faris dan ketiga anaknya sama-sama menggunakan topi yang sama.


Mereka juga terlihat menyanyikan lagu ABBA - Dancing Queen bersama-sama. Pergi berlibur ke villa dan menghabiskan waktu bersama-sama di dalam villa, itu adalah hal yang sangat menyenangkan sekali. Mengingat semua kenangan itu memang sangat menyenangkan sekaligus menyedihkan.


“Bisa kah kalian bersuara? Apa tidak ada kehidupan di sini?” tanya Langit yang akhirnya membuka suara.


“Gue sibuk!” jawab pelangi dan Cinta bersamaan.


Kali ini Langit tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia sudah benar-benar pasrah, mau mereka bertengkar hebat pun ia tidak ingin ikut campur lagi.


Untuk beberapa saat, Langit menatap wajah Cinta. Merasa diperhatikan, Cinta langsung menatap wajah Langit dengan sorotan mata tajamnya dan terkesan sinis.


"Kenapa elo ngelihatin gue?"


"Ta, gue mau nanya soal . . . ."

__ADS_1


"Soal apa?" potong Cinta cepat.


"Nggak jadi, deh."


"Aneh lo!"


Tadinya, Langit ingin sekali menanyakan kabar Sasha kepada kakaknya. Namun, Langit mengurungkan niatnya dan kembali terdiam. Sesampainya di tempat tujuan, Cinta, Langit dan Pelangi sepertinya sangat terkejut karena mereka mendapati sebuah rumah yang terlihat sangat indah dan cantik sekali.


“Wah, indahnya!!” seru Cinta, Langit dan Pelangi bersamaan.


“Selamat datang di Rumah PelangiT Cinta!” seru Nindi dan Faris terlihat riang.


Rumah tersebut terlihat sangat indah sekali. Dengan warna cat yang berwarna-warni seperti warna pelangi, rumah tersebut memang sangat indah bagaikan pelangi. Belum lagi, dengan halamannya yang luas, juga sebuah ayunan yang terbuat dari rotan juga air mancur yang berada di tengah-tengah halaman rumah tersebut, tampak membuatnya semakin terlihat indah dan juga cantik.


“Yuk, kita masuk!” ajak Nindi sambil menggandeng kedua anak perempuannya.


“Ayo, masuk, Lang!” ajak Faris seraya merangkul anak laki-lakinya itu.


Saat mereka semua masuk ke dalam rumah tersebut, mereka sudah dimanjakan dengan lukisan wajah mereka sekeluarga yang berupa karikatur, tepat berada di dinding-dinding rumah mereka.


“Keren banget, Pih. Langit suka!”


“Ini rumah untuk kalian bertiga, rumah milik kalian. Kalau suatu saat kalian merindukan kami berdua, kalian berkunjunglah ke sini. Di rumah ini, banyak sekali barang-barang kenangan saat kalian masih kecil. Mamih dan papih sengaja tidak membuang barang-barang kalian karena kami ingin membuatnya menjadi sebuah kenangan. Ini adalah tanda cinta kami untuk kalian bertiga,” ungkap Faris yang membuat ketiga anaknya langsung memeluk kedua orang tua mereka dengan erat.


“Thank you so much, Mih, Pih, i love you!” tutur Pelangi dengan mata berkaca-kaca.


“I love you to,” jawab Faris sambil mencium kening anak perempuannya itu.


“Tapi, kenapa kalian memberikan nama rumah ini dengan nama Rumah PelangiT cinta?” tanya Cinta penasaran.


“Sama seperti nama kalian bertiga. Kami berdua ingin rumah ini seperti langit yang selalu cerah dan dihiasi dengan senyuman, rumah yang bisa seindah pelangi yang penuh warna dan diisi dengan kehangatan penuh cinta. Dan, itulah kenapa kami memberikan nama tersebut untuk kalian bertiga,” papar Nindi yang membuat Cinta memeluk Nindi semakin erat.


Karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya bersedih, Pelangi dan Cinta melupakan sejenak pertengkaran mereka. Mereka juga menghabiskan banyak waktu bersama, dengan Langit dan juga Cinta yang pergi bermain bola bersama Faris, sedangkan Pelangi menemani Nindi memasak di dapur.

__ADS_1


“Honey, masih terlibat perang dingin dengan kakakmu?” tanya Nindi yang tengah membuat kue bersama anaknya.


“Ya, seperti yang mamih lihat, Pelangi sama Cinta masih belum bisa kembali ceria seperti dulu.”


“Sayang,” ucap Nindi pelan seraya menggenggam kedua tangan anaknya dengan lembut hingga membuat anak bungsunya itu menatap wajahnya. “Mamih dan papih tahu apa yang menjadi alasan kalian perang dingin seperti ini, mamih juga tidak bisa berbuat banyak karena itu masalah perasaan kalian masing-masing.


“Tapi, mamih tidak ingin melihat anak-anak mamih murung seperti ini. Setidaknya, di hadapan kami berdua kalian harus terlihat ceria dan akur. Melihat kalian bertengkar seperti ini, membuat hati mamih dan papih sedih, Sayang."


“Pelangi juga tidak ingin seperti ini terus, Mih. Pelangi capek harus ribut setiap hari dengan Cinta. Tapi, keadaan yang membuat kita seperti ini.”


Pelangi terlihat sedih. Ia memalingkan wajahnya dan tak berani menatap wajah Nindi.


“Kamu sayang sama Cinta?” tanya Nindi hingga membuat Pelangi menatap wajah mamihnya itu dengan sendu.


“Pelangi sayang banget sama Cinta, Mih. Dia itu kakak Pelangi, saudara kembar Pelangi, belahan jiwa Pelangi dan separuh nyawa Pelangi," katanya dengan berkaca-kaca.


“Kalau Cinta memang belahan jiwa kamu, kenapa kamu tidak bisa memaafkan kakakmu? Kita ini keluarga sayang, bukan musuh. Kalian tumbuh bersama-sama, tinggal bersama dan setiap hari selalu bersama.”


Pelangi terdiam. Ia menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap wajah Nindi kembali.


“Pelangi, masih ingat tidak saat kamu masih kecil dulu? Kamu mempunyai masa lalu yang kelam soal kolam berenang, kan?”


Pelangi mengangguk pelan hingga membuat Nindi merangkul anak kesayangannya itu dengan mata berkaca-kaca.


“Saat itu, mamih hampir kehilangan nyawamu. Usiamu masih sangat kecil, masih 6 tahun. Karena kesalahan mamih, anak bungsu mamih hampir saja tenggelam dan kehilangan nyawanya. Tapi, berkat Cinta yang melihat adik kesayangannya itu tenggelam, ia langsung menyelamatkan nyawamu dan membawa kamu ke rumah sakit.


“Mamih dan papih sangat panik sekali kala itu. Langit tampak menangis terus-menerus, tapi tidak untuk Cinta. Dia sama sekali tidak menangis, anak seusia Cinta saat itu malah menghibur kedua orang tuanya dan adiknya agar tidak bersedih.


“Saat itu, mamih tahu Cinta sangat menyayangimu dan bertekad untuk melindungi adik-adiknya. Melihat kamu yang mempuyai fisik paling lemah dan Langit yang penuh dengan kekurangannya, itu membuat Cinta sebagai kakak yang paling tua harus terlihat kuat dan harus bisa melindungi adik-adiknya tanpa diminta. Cinta juga pernah bilang sama mamih saat kamu di rumah sakit tempo lalu.


“Mih, mulai hari ini mamih sama papih jangan nangis lagi, yah. Cinta janji akan selalu melindungi Langit dan Pelangi bagaikan sepasang tangan Cinta sendiri. Cinta akan tumbuh menjadi seorang wanita kuat dan akan melindungi mereka berdua seperti mamih dan papih yang selalu melindungi kami bertiga,” cerita Nindi sambil beruraian air mata hingga membuat anaknya itu juga ikut menangis.


“Cinta juga sudah berjanji kepada mamih dan juga papih, kalau dirinya tidak akan meninggalkan kalian, tidak akan membuat kalian sedih dan tidak akan menangis di hadapan kalian. Cinta ingin tumbuh menjadi wanita yang kuat. Walau kakakmu itu banyak sekali kelemahannya, namun ia menutupi semua kelemahannya itu dengan sifatnya yang seperti pria.

__ADS_1


“Setidaknya, dulu Cinta juga pernah belajar menjadi wanita yang lemah lembut dan feminim. Tapi, sejak kamu masuk rumah sakit, Cinta mengubur semua barang-barangnya yang terlihat seperti wanita. Itulah alasannya, kenapa kakakmu tumbuh menjadi sosok perempuan yang keras, kasar dan seperti pria," tutur Nindi menceritakan semuanya secara mendetail hingga membuat Pelangi terdiam tak bergeming.


__ADS_2