Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Belahan Jiwa


__ADS_3

Cinta berusaha untuk mengatur nafasnya dan berjalan menyusuri lorong kampus. Bumi yang kebetulan sedang mencarinya dan melihat Cinta sedang berjalan seorang diri, terlihat begitu senang ketika ia melihat sosok sahabatnya itu.


“Cinta!” teriak Bumi hingga membuat Cinta langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara.


Bumi langsung berlari menghampiri Cinta begitu melihatnya dan ia terlihat begitu lega sekali karena akhirnya ia berhasil menemukan sahabatnya itu.


“Akhirnya ketemu juga, elo ternyata masih di kampus?” seru Bumi yang langsung memeluk sahabatnya itu karena saking senangnya.


“Lo ngapain ada di kampus jam segini, Bom?” tanya Cinta bingung.


“Justru gue yang harusnya nanya gitu sama lo, elo ngapain jam segini ada di kampus? Elo kan bukan anak organisasi, ngapain coba malam - malam di sini?”


“Ceritanya panjang.”


“Tunggu, kenapa elo keringetan gitu? Habis maraton lo?” tawanya mengejek hingga membuat Cinta yang mendengarnya pun manyun seraya meninju perut Bumi pelan.


“Sialan lo! Gue haus, beliin gue minum sana!” perintahnya galak.


“Iyee, miss galak! Tunggu di parkiran sana!”


Cinta mengangguk dan segera menuju parkiran, sementara Bumi langsung berlari dan membelikannya minuman. Setelah membelikannya minuman, Cinta langsung menceritakan semuanya secara mendetail kepada sahabatnya itu.


“Wah, kalau Pelangi tahu dia pasti bakalan teriak-teriak gak jelas, tuh!”


“Maka dari itu, jangan bilang sama Pelangi.”


“Terus, nanti elo bilang apa sama dia? Pelangi kelihatan khawatir banget, loh.”


“Nanti gue cari alasan, deh. Makanya, sebelum lo nganterin gue balik, kita beli kue balok kesukaan si Pelangi dulu, ya? Biar dia nggak marah dan ceramah lama-lama sama gue.”


“Oke. Tapi, aneh juga yah, kenapa si Awan bisa dikejar - kejar pria ber jas hitam itu?”


Cinta mengangkat kedua bahunya dan terlihat langsung menghabiskan sebotol minuman yang dibelikan Bumi tadi.


“Ta, beneran lo nggak apa-apa? Elo kan phobia sama ketinggian,” tutur Bumi yang tidak sengaja terdengar oleh Awan yang baru saja sampai di tempat parkir.


“Nggak ko, gue nggak apa-apa.”


“Beneran, elo nggak mau periksa gitu ke dokter?”

__ADS_1


“Alay banget sampai periksa ke dokter segala!”


“Gue bukannya alay, gue khawatir sama lo. Waktu kita flaying fox tempo lalu juga elo sampe pingsan malah gara-gara takut banget sama ketinggian. Phobia lo itu udah parah banget, Ta.”


“Gue sebenarnya pengen banget ngilangin phobia ini, tapi susah banget.”


“Ya udah, kalau gitu kita pulang, yuk?”


Cinta mengangguk dan langsung memakai helm yang baru saja diberikan oleh Bumi. Mendengar pembicaraan Cinta dan juga Bumi tentang phobhia ketinggiannya itu, Awan terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“Kalian bisa keluar sekarang,” tutur Awan dengan ekspresi datarnya.


Pria asing berjas hitam yang sejak tadi mengejar-ngejarnya pun langsung keluar dari tempat persembunyiannya, setelah Awan memerintahkan mereka untuk keluar.


“Ada apa kalian sampai mengikuti saya ke kampus? Apa itu perintah dari Direktur?” tanya Awan sambil menatap pria-pria berjas hitam itu satu persatu.


“Maaf tuan, kami diperintahkan Direktur untuk membawa tuan ke Bandara,” jawab salah satu pria berjas hitam itu.


“Berapa kali harus saya bilang, saya tidak akan pernah pergi meninggalkan Indonesia. Dan, bilang kepada Direktur kalian itu, kalau saya sama sekali tidak suka dengan caranya. Sekarang, kalian pergi!” perintahnya kasar.


“Tapi, Tuan?”


Tanpa banyak kata lagi, pria-pria berjas hitam itu pun pergi setelah diancam olehnya. Awan pun menghela nafas pendek dan memandang kepergian pria berjas hitam itu dengan mata sendunya.


♪♪♪


“Cepetan masuk, nanti nyonya Hello Kitty bakalan ngamuk berat sama lo lagi!” tutur Bumi yang sudah berada di depan rumahnya sahabatnya itu.


“Iya, thank’s ya udah nganterin gue pulang,” katanya seraya mengembalikan helm yang baru saja ia pakai.


“Iya, Cintaku sayang,” katanya pelan sambil menyubit ke dua pipi sahabatnya itu. “Good night, Cikur.”


“Night, hati-hati di jalan.”


Dengan langkah perlahan, Cinta membuka pintu rumahnya. Namun, saat ia membalikkan badannya, ia begitu terkejut karena ia baru saja disambut oleh Pelangi dengan ekspresi wajahnya yang dingin dan dengan kedua tangannya yang sudah melipat.


“Eh, Pelangi? Ngagetin aja deh lo!”


“Dari mana aja lo? Jam segini baru pulang, untung mamih sama papih belum pulang. Nggak kasih kabar, handphone mati, bagus banget sekarang baru pulang!” sewotnya galak.

__ADS_1


“Aduh, maaf handphone gue lowbet, Pe. Gue tadi habis makan dulu sama anak-anak kelas. Terus, gue habis nonton dulu. Sorry, kalau gue nggak ngabarin.”


“Tahu gak lo, gue sama Langit tuh khawatir banget! Elo malah seenaknya main sama temen-temen lo, kita di sini bingung nyariin lo. Gue takut lo kenapa-kenapa, kalau lo ilang yang kena marah kan pasti gue sama Langit!” serunya galak.


“Lebay banget sampai hilang segala, gue nggak mungkin hilang begitu saja. Nanti kalian berdua malah kangen lagi sama gue,” tawanya bermaksud bercanda.


“Gue lagi nggak bercanda, Cinta!”


“Gue juga lagi serius ko ini. Udah jangan marah terus, gue udah beliin kue balok kesukaan lo,” tuturnya sambil memberikan kue balok yang baru saja dibelinya.


“Elo tuh yah kebiasaan banget? Ya udah, maaf diterima karena lo sudah membelikan gue kue balok,” ujarnya yang langsung mengambil kue balok pemberian dari Cinta, kemudian pergi begitu saja.


"Dasar manusia aneh!"


Setelah kepergian Pelangi, Cinta langsung merebahkan tubuhnya yang ramping di atas sofa sambil menutup wajahnya dengan lengan kanannya.


Ia kembali mengingat kejadian saat dirinya dan Awan terkunci di sebuah ruangan tak terpakai. Ia juga masih terlihat penasaran dengan pria - pria berjas hitam yang mengejar - ngejar Awan tadi.


"Siapa pria - pria itu?" gumam Cinta pelan.


"Ta," panggil Langit pelan hingga membuat Cinta langsung menatap ke arah sumber suara kemudian terbangun.


"Kenapa, Lang?"


Langit duduk di samping Cinta kemudian memasang ekspresi wajah yang terlihat serius.


”Kenapa?" tanya Cinta kembali.


"Soal lo nonton sama temen-temen lo itu bohong, kan?" todong Langit yang membuat kakaknya itu terdiam dan mengalihkan pandangan matanya. "Cerita sama gue yang sebenernya, Ta. Apa yang baru saja terjadi sama lo? Gue nggak bisa dibohongi, Ta. Sasha bilang sama gue, kalo anak-anak di kelas lo itu gak ada sama sekali ngajak lo nonton hari ini. Kenapa, lo bohong sama Pelangi?"


Cinta menghela nafas pendek. Ia membungkukkan setengah tubuhnya dan mengaitkan kedua tangannya sambil menundukkan kepalanya.


"Terjadi sesuatu, Lang. Dan, gue belum bisa cerita soal itu sama lo."


"Tapi, elo baik-baik aja, kan? Kalo lo ada apa-apa, lo harus cerita sama gue, Ta. Gue nggak mau lo kenapa - kenapa. Karena kalo sampai lo kenapa - kenapa, gue yang nantinya akan merasa bersalah. Elo itu kakak gue, saudara kembar gue, belahan jiwa gue."


Cinta tersenyum tipis dan memegang pipi kanan adiknya itu dengan lembut.


"Elo sudah dewasa, Lang. Gue bangga sama lo."

__ADS_1


__ADS_2