
Di sebuah rumah yang terlihat mewah dan juga megah, tampak terlihat seorang pria sedang membaca buku di sebuah perpustakaan yang cukup besar.
Ia terlihat sedang membaca sebuah buku kanak-kanak tentang kisah si gadis berkerudung merah.
“Awan!” panggil seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam perpustakaan dan menghampiri pria yang sedang membaca buku.
“Mamih?” seru Awan yang langsung menutup buku bacaannya, “ada apa?” tanyanya dingin.
“Mamih dan papih hanya akan memberikan 2 kesempatan terakhir yang harus kamu pergunakan dengan sebaik-baiknya. Mamih dan papih harap, kamu tidak akan mengecewakan kami berdua.”
Awan tampak memalingkan wajahnya dan beranjak dari tempat duduknya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya.
“Keputusanku masih sama seperti sebelumnya dan tidak akan pernah berubah.”
“Kamu sangat keras kepala sekali. Kamu mau mengikuti jejak kakakmu?” tanya perempuan setengah baya yang merupakan ibunda dari Awan.
“Mih, mau mamih menggunakan cara kasar seperti kemarin lusa di kampusku, mau mamih melakukan hal yang lebih parah dari itu pun, aku tidak akan pernah mengubah keputusanku!" tegasnya kemudian pergi meninggalkan ibunya yang terlihat sedang menahan emosi.
“Anak itu!” ucapnya tampak kesal. “Awan! Mamih belum selesai bicara. Dengarkan mamih dulu!” katanya setengah berteriak sambil mengikuti anak laki-lakinya itu dari belakang.
“Apa lagi yang mau mamih bicarakan? Selama ini, aku sudah cukup sabar dan selalu patuh dengan semua perintah mamih dan juga papih. Tapi, apa yang satu ini tidak dapat di fikirkan kembali? Aku tidak mau pergi, Mih!” katanya dengan mata berkaca-kaca dan terlihat putus asa.
“Mamih dan papih punya alasan tersendiri melakukan semua ini untukmu. Ini semua demi kebaikanmu juga, Awan.”
“Kebaikanku? Mih, aku tidak butuh harta kekayaan yang selalu kalian berikan padaku. Aku cuma butuh waktu dan kasih sayang kalian. Itu lebih dari cukup!” tegasnya kembali berteriak kemudian pergi.
Awan mengambil jaket kulitnya sembari mengambil kunci motornya yang berada di dalam kamarnya. Begitu mengambilnya, ia segera menuju garasi untuk mengambil motor Ninjanya. Setelah memakai helm, Awan langsung mengendarai motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
“Kamu tidak akan pernah mengerti maksud perkataan mamih, Nak,” tutur sang ibu pelan sambil memandangi kepergian anak laki-lakinya itu dengan sendu.
Seorang pria separuh baya yang baru saja pulang dan memasuki gerbang rumahnya dan sedang berada di dalam mobilnya, baru saja berpapasan dengan motor Ninja Awan yang ia kemudikan dengan kecepatan yang sangat tinggi.
“Mau ke mana lagi dia? Orang tuanya baru saja pulang, sudah disambut lagi dengan gaya ugal-ugalannya!” gerutu pria separuh baya itu yang ternyata adalah ayahnya Awan yang baru saja pulang.
“Maaf Direktur, tuan Awan memang jarang sekali berada di rumah kalau nyonya juga ada di rumah,” jawab salah satu sekertaris kepercayaan ayahnya Awan itu.
__ADS_1
“Anak itu keras kepala sekali. Bagaimana perkembangan Awan di kampusnya?”
“Pendidikannya masih tetap stabil, nilai-nilainya lebih unggul dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya.”
“Aktivitas apa saja yang dia lakukan akhir-akhir ini?”
“Tuan Awan hanya mengikuti kegiatan organisasi seperti Bem di kampusnya. Karena tuan Awan masih tetap menjabat sebagai ketua Bem, maka dari itu kegiatannya hanya di kampus saja.”
“Terus awasi anak itu dan bujuk dia agar ia mau menjalankan perusahaan.”
“Baik, Direktur.”
Awan mengendarai motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dengan kebut-kebuttan di jalan seperti itu, ia sedikit bisa melupakan semua kepenatannya di rumah. Semakin mengingat semua perkataan ibunya tadi saat di rumah, Awan semakin mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Sementara Cinta yang baru saja selesai mengambil kue dari toko dan bermaksud untuk kembali pulang, harus ngerem mendadak karena tiba-tiba saja ada sebuah motor Ninja dari arah yang berlawanan, hampir saja tertabrak oleh mobilnya.
Cinta langsung ngerem mendadak dan membuatnya hampir saja terpental. Sementara motor Ninja itu hanya tinggal beberapa centi lagi hampir mengenai mobil Jeep milik Cinta. Cinta yang begitu syock, langsung keluar dari mobil bermaksud membuat perhitungan dengan pengendara motor Ninja itu.
“Hey, punya mata gak sih lo? Cari mati lo?” teriak Cinta emosi, “turun lo!”
Pria itu turun dari motornya dan membuka helmnya. Dan, begitu terkejutnya Cinta saat pria itu membuka helmnya, ternyata pria itu adalah . . . .
“Kenapa?” tanyanya dingin.
“Elo beneran gila! Kebut-kebuttan di jalan, mau cari mati lo?”
“Lebih baik gue mati dari pada hidup tapi penuh peraturan,” katanya pelan kemudian memakai kembali helmnya.
Cinta melihat ada percikan darah dari arah kaki Awan. Melihat darah tersebut wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Awan yang tadinya hendak pergi langsung mengurungkan niatnya karena ia baru saja melihat wajah Cinta yang tampak pucat.
Melihat Cinta yang hampir terjatuh, dengan sigap Awan langsung menggenggam tangannya agar ia bisa menyeimbangkan tubuhnya. Melihat ekspresi Cinta yang seperti itu, Awan membantunya untuk duduk di tepi jalan.
“Elo nggak apa-apa?”
“Gue baik-baik aja,” jawab Cinta pelan.
__ADS_1
“Sepertinya elo tidak baik-baik saja. Muka lo pucat, elo sakit?”
Cinta menggeleng pelan. “Kaki lo?”
“Kaki gue?” ulang Awan bingung. Awan langsung melihat ke arah kakinya, ternyata kakinya mengeluarkan tetesan darah.
Seketika Awan teringat pembicaraan Cinta dengan temannya malam hari itu. Awan teringat kalau Cinta itu phobia ketinggian. Dan, kali ini wajahnya tampak pucat saat melihat darah. Apa mungkin?
“Elo phobia darah?” tanya Awan yang mengejutkan Cinta.
“Akhirnya ketahuan juga kelemahan gue di depan lo.”
“Tunggu sebentar.”
Awan pergi menjauh dari Cinta. Ia tampak membuka sepatunya dan membersihkan lukanya yang mengeluarkan darah segar. Setelah mengobati luka kakinya, ia membeli air minum dan segera memberikannya kepada Cinta.
“Buat lo,” tutur Awan sambil memberikan botol minuman kepada Cinta.
“Thanks,” jawab Cinta pelan dan segera meminumnya, “kaki lo udah gak apa-apa?”
Awan mengangguk pelan. “Gue tidak menyangka sama sekali kalau cewe tomboy dan galak seperti lo punya banyak kelemahan yang orang lain sama sekali tidak tahu.”
Cinta tersenyum menyeringai. “Setomboy-tomboynya gue, gue ini seorang perempuan yang banyak kelemahan juga. Gue itu phobia tinggi, phobia darah dan gak suka makanan pedas. Masih banyaklah kelemahan-kelemahan gue yang lain.”
“Kenapa bisa lo punya banyak kelemahan itu?”
“Phobia ketinggian dan alergi makanan pedas itu turunan dari nyokap gue. Sedangkan phobia darah, gue punya masa lalu yang suram dengan darah. Eh, kenapa gue jadi cerita banyak sama lo?”
Awan tertawa lebar dan untuk pertama kalinya Cinta melihat pria sedingin Awan tertawa lebar seperti itu.
“Kenapa lo tertawa? Ada yang lucu?”
“Nggak, lucu aja dengan ekspresi lo itu. Tunggu, gambar dari pakaian lo itu gambar siapa?”
“Oh, ini gambar wajah ke dua orang tua gue. Hari ini hari jadi pernikahan orang tua gue yang ke 25. Gue dan saudara-saudara gue sedang merayakan hari pernikahan ke dua orang tua kami.”
__ADS_1
“Elo deket banget ya sama keluarga lo?”
Cinta mengangguk pelan dan beranjak berdiri. “Gue balik duluan, keluarga gue sedang menunggu gue. Bye!” pamit Cinta kemudian pergi.