
Jam sudah menunjukan pukul 1 siang. Tak terasa, 2 mata kuliah telah selesai dengan begitu cepat. Setelah menyelesaikan perkuliahan hari ini, Cinta dan Bumi langsung menuju tempat latihan untuk kembali ke rutinitas. Sementara Sasha masih harus disibukkan dengan rutinitasnya di Bem.
Lain halnya dengan Langit yang hari ini memang ada jadwal latihan basket, langsung pergi menuju lapangan untuk melakukan pemanasan. Namun, saat perjalanannya menuju lapangan ia tidak sengaja melihat Sasha yang sibuk menempel pamflet di dinding tembok dan juga beberapa papan pengumuman.
“Sendirian?” tanya Langit yang langsung mengambil beberapa lembar pamflet dari tangan Sasha dan membantunya untuk menempelkannya.
“Yang lain kebagian tugas di Fakultas lain,” jawab Sasha cepat.
“Nggak pacaran sama Guntur lo?”
“Dia lagi sibuk bimbingan sama dosen. Kenapa, lo iri ngelihat gue pacaran?” katanya sambil menunjuk wajah Langit dengan pamflet yang berada di tangannya.
Langit tertawa lebar dan masih sibuk berkutat dengan lembaran pamflet yang sedang ditempelnya.
“Gue nggak tertarik buat pacaran, Sha.”
“Nggak normal lo!” ejeknya hingga membuat Langit langsung menatap sinis perempuan yang berdiri di sampingnya itu.
“Enak aja. Gue normal tahu. Gue lagi males pacaran aja. Kalau gue mau juga, gue bisa pacaran sama cewe tercantik di kampus ini. Gue kan ganteng, idola kampus pula,” katanya membanggakan diri.
“Wuih, hebat! Kalau gitu, lo mau nggak jadi pacar gue? Gue kan, cewe paling cantik di kampus,” katanya yang kemudian tertawa lebar.
“Guntur mau di kemanain? Mau selingkuh lo? Ngajarin nggak bener lo!”
“Guntur gue sakuin dulu, lo gue masukin ke dalam hati gue,” katanya lagi sambil tersenyum menggoda.
“Aneh lo! Udah ah, gue latihan dulu,” katanya yang kemudian pergi hingga membuat Sasha hanya bisa menatap kepergian temannya itu.
"Pria yang unik," ujar Sasha pelan.
__ADS_1
Sementara itu, Pelangi dengan sangat terpaksa harus menunggu saudara kembarnya itu selesai berlatih. Karena ia paling benci untuk pulang sendirian, maka dari itu ia memutuskan untuk menunggu Langit di tepi lapangan dengan keadaan lapangan yang sangat ramai dan berisik sekali.
Pelangi melirik sinis ke arah wanita-wanita yang berteriak-teriak tidak jelas memberikan semangat untuk Langit di tepi lapangan. Karena perilaku mereka sangat anarkis dan mengganggu orang-orang, Pelangi menjadi kesal sendiri dan meneriaki mereka dengan galaknya.
“Hey, kalian bisa pada diem gak, sih? Berisik tahu!” teriaknya emosi.
Seketika mereka semua terdiam, tetapi mereka kembali berteriak dan memanggil-manggil nama Langit dengan hebohnya.
“Hey!!” teriak Pelangi kembali yang teriakannya itu sama sekali tidak digubris oleh mereka.
Pelangi akhirnya menyerah. Dengan ekspresi wajah yang tampak kesal, ia meniup-niup poni rambutnya. Namun, kekesalannya berubah menjadi ekspresi wajah yang tampak begitu gembira ketika ia baru saja melihat Awan muncul dan tengah berjalan seorang diri.
Melihat Awan muncul, Pelangi bagaikan sebuah magnet yang langsung mengikuti arah kemana pun Awan pergi. Melihat Awan tengah sendirian, ia pun memutuskan untuk mengikutinya dari belakang.
Karena merasa diikuti sejak tadi, Awan membalikkan badannya dan melihat ke arah belakang. Namun, ia sama sekali tidak melihat ada seseorang di belakangnya. Karena kebingungan, ia memutuskan untuk kembali melanjutkan langkahnya.
Pelangi yang sadar Awan merasa diikuti terus sejak tadi, langsung bersembunyi ketika pujaan hatinya itu membalikkan badannya. Sambil memegangi dadanya, ia tampak terkejut dan begitu gugup karena Awan tiba-tiba saja menoleh ke arahnya.
Pelangi memutuskan untuk mengikuti Awan kembali, tetapi tiba-tiba saja Awan menghilang tanpa jejak dari pandangan matanya hingga membuatnya kesal sendiri.
“Akh, sial! Hilang kan jadinya sekarang!” gerutunya kesal kemudian pergi sambil membalikkan badannya.
Namun, Pelangi begitu terkejut saat ia membalikkan badannya, ternyata sudah ada Bumi di belakangnya yang sedang menatapnya dengan tajam.
“Astaga!” teriak Pelangi yang hampir saja terjatuh hingga membuat Bumi langsung memegang tangannya agar ia tidak terjatuh. “Bombom, elo ngagetin gue aja, deh!”
“Elo ngapain? Pake acara mengendap-ngendap segala kaya maling?” tanya Bumi sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.
“Ikh, apaan sih lo! Siapa juga yang mengendap-ngendap, sok tahu banget jadi orang. Lagian lo ngapain di sini? Bukannya lo lagi latihan, yah? Akh, gue tahu elo mau kabur dari latihan, kan?” tuduh Pelangi tak beralasan.
__ADS_1
Bumi tertawa, ia malah menodong kepala Pelangi dan mengacak-ngacak rambutnya dengan seenaknya.
“Aishh, Bumi! Rese lo!” teriaknya kesal sambil merapihkan kembali rambutnya.
“Ko, sendirian? Nggak punya temen ya lo?” katanya sambil tertawa.
“Iya. Gue nggak punya temen. Temen gue semuanya cowo, elo kaya yang nggak tahu aja cewe-cewe di kampus ini pada musuhin gue,” katanya manyun.
“Kasian,” katanya kembali sambil menyubit kedua pipi Pelangi dengan gemas. “Elo kan masih punya gue sama yang lain, Pe.”
Pelangi menatap kedua bola mata Bumi dengan mata sendunya. “Gue juga pengen punya temen kaya yang lain, Bom. Temen cewe yang bisa diajak curhat, jalan-jalan atau yang lainnya. Dari dulu, gue emang gak punya banyak temen. Semua cewe pada musuhin gue karena gue cantik. Apa salahnya punya paras yang lumayan seperti gue?” katanya terlihat sedih.
“Jangan sedih, Pe. Cantik itu anugrah dari Tuhan. Harusnya lo bersyukur punya wajah cantik dan semua orang suka sama lo.”
Pelangi terdiam. Yang dikatakan Bumi memang benar, tapi anugrah yang Tuhan berikan itu membuatnya tidak memiliki teman. Sejak kecil, Pelangi memang tidak begitu punya banyak teman. Kalau bukan Langit dan Cinta yang selalu menemaninya, ia pasti akan merasa kesepian.
Karena memiliki wajah yang cantik, ia sering dimusuhi oleh teman-teman perempuannya. Bahkan, sampai ada yang mengajaknya bertengkar hebat hanya karena kekasihnya itu menyukai dirinya.
Pelangi sudah terbiasa dengan mereka yang sering mengatai dirinya sebagai perempuan pengganggulah, tukang tikunglah, cewe pelakorlah dan masih banyak lagi sebutan-sebutan atau kata-kata pedas yang meluncur dari mulut mereka.
“Udah jangan sedih, masa primadona kampus cengeng, sih?”
Mendengar pujian keluar dari mulut Bumi, Pelangi langsung tertawa lebar. Ia langsung kembali memasang ekspresi wajah bahagianya seperti semula.
"Kadang, gue merasa ingin menjadi perempuan normal seperti yang lainnya, Bom. Gue iri sama Cinta, dia punya banyak teman, humble dan semua orang suka dengan kepribadiannya meski dia tomboy."
"Semua orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, Pe. Di balik kekurangan lo, tersimpan satu kelebihan yang gak semua orang punya, Pe."
Pelangi tersenyum tipis. Meski Bumi ini sahabat Cinta, tapi ia dengan Bumi juga cukup dekat. Cintalah yang mengenalkan Sasha dan juga Bumi padanya. Berkat Cinta, Pelangi pun akhirnya mempunyai teman yang bisa ia ajak mengobrol walau tidak seintens dengan kakaknya itu.
__ADS_1
“Gue kebelet, nih. Tuh kan, gue sampai lupa tujuan gue ke sini kan mau ke toilet. Gue duluan ya, bye jelek!” serunya sambil mengacak-ngacak kembali rambut gadis yang berada di hadapannya itu.
“Hey, itu anak bener-bener nyebelin banget!"