Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Melawan Rasa Takut


__ADS_3

Cinta masih berusaha untuk mendobrak pintu dan mengeluarkan semua jurus karatenya untuk keluar dari ruangan ini. Namun, usahanya sia-sia saja karena pintunya merupakan pintu besi yang memang sangat sukar untuk di buka maupun didobrak.


“Kita keluar dari jendela ini saja,” katanya pelan.


“Lo serius? Kita keluar dari jendela itu?”


“Kalau lo emang nggak mau dan masih pengen diem di sini silahkan saja, gue lebih baik keluar lewat jendela ini.”


“Oke, kita keluar lewat jendela ini. Kita nggak usah berdebat lagi bisa, kan?”


“Kalau gitu gue yang keluar duluan, baru lo.”


Cinta terpaksa mengangguk karena ia sudah mulai lelah untuk berdebat dengan pria yang disukai adiknya itu. Awan menghela nafas panjang dan mulai menaiki meja tersebut. Cinta yang sejak tadi hanya diam saja, akhirnya memegangi meja yang dinaiki oleh Awan agar ia tidak terjatuh.


Setelah Awan berhasil mencapai jendela yang cukup tinggi itu, ia meminta Cinta untuk mengikutinya dari belakang dan segera naik ke atas meja.


“Naik!” perintahnya.


Cinta mengangguk pelan dan segera naik ke atas meja dengan tumpukan kursi yang sengaja di simpan di atas meja olehnya.


“Sepertinya lo tidak takut sama sekali.”


“Ini sih gampang, nggak terlalu tinggi. Kalau sedikit agak tinggi, gue mana mau naik.”


“Elo takut ketinggian?” tanya Awan kembali.


Cinta terdiam dan memalingkan wajahnya. Melihat ekspresinya yang seperti itu, Awan tak melanjutkan pertanyaannya lagi.


“Ayo cepat!” katanya sambil mengulurkan tangannya.


Cinta sesaat menatap wajah Awan dan melihat uluran tangannya. Awan ini adalah pria yang sangat disukai oleh Pelangi. Sejak adiknya pertama kali masuk kuliah, Pelangi memang sudah menyukai Awan yang katanya tampan itu.


Sejak dulu, Pelangi ingin sekali bisa dekat dan berbincang-bincang dengannya. Namun, hal itu belum pernah terjadi sampai saat ini. Kini, malah ia sendiri yang sudah mulai berinteraksi dengannya, bahkan selain berbicara dengannya, Cinta malah berduaan dengan lelaki pujaan adiknya itu di dalam ruangan gelap.

__ADS_1


Sedikitnya, Cinta merasa bersalah dengan kejadiaan hal yang tak terduga ini. Tapi, mau bagaimana lagi? Kejadian ini terjadi begitu saja dan begitu darurat. Sampai akhirnya, Cinta sendiri harus saling bersentuhan dengannya.


Karena tidak ingin terjebak di ruangan serba guna itu, akhirnya Cinta menerima uluran tangan Awan karena ingin segera keluar dari ruangan gelap itu.


“Gue turun duluan, yah? Gue nanti bakalan lompat, baru nanti elo yang lompat setelah gue. Bisa, kan?”


“Ckck, hal gampang itu, mah. Masa anak karate gak bisa? Itu sih gampang banget.”


“Ya udah, lo tunggu dulu di sini. Gue turun duluan.”


Awan terlihat mengambil nafas panjang. Setelah cukup lama bersiap-siap, ia akhirnya berhasil turun juga ke bawah. Kali ini, sudah giliran Cinta yang harus segera melompat. Sebenarnya, dalam hati yang paling terdalam, ia sedikit gugup dan takut untuk turun ke bawah.


Jendelanya memang tidak terlalu tinggi, tapi Cinta memang paling takut yang namanya melompat walau itu tidak terlalu tinggi. Walau Cinta itu tomboy dan jago karate, kalau sudah mengalami hal yang seperti ini ia harus melawan rasa takutnya terhadap ketinggian.


Akanlah Cinta berhasil melawan rasa ketakutannya?


Sementara itu, Langit dan Pelangi yang sudah pulang duluan ke rumah terlihat kebingungan karena Cinta yang masih belum pulang juga.


“El, si Cikur kemana, sih?” tanya Pelangi yang langsung duduk di samping Langit.


“Masih jam 7, mungkin Cinta ada urusan pribadi atau main sama temen-temennya?”


“Nggak mungkin, gue udah telepon Bumi tadi. Katanya, Cinta niatnya emang mau langsung pulang. Lo gak khawatir gitu sama Cinta sekarang dia ada di mana? Mana handphonenya mati lagi!”


“Cinta udah gede, dia juga bisa karate. Jadi lo tenang aja gak usah khawatir.”


“Heh, nggak khawatir gimana? Gak biasa-biasanya dia kaya gini. Kalau mau pergi juga, biasanya Cinta kan suka ngasih kabar dulu ke kita. Kali ini nggak ada kabar sama sekali, lo jangan cuek kenapa, sih. Dia itu kakak lo, saudara kembar lo sendiri!” sewot Pelangi yang terbawa emosi.


Langit menghela nafas panjang dan menatap wajah Pelangi dengan sorotan mata tajam. Mereka berdua terlihat saling beradu pandang dengan sangat lama.


“Makanya lo jangan mikir yang aneh-aneh. Kalau gue bilang nggak apa-apa, Cinta pasti gak bakalan kenapa-kenapa. Jadi jangan ribut, deh.”


Sementara itu, Bumi terlihat sedang mengendarai motornya untuk mencari sahabatnya yang katanya belum pulang juga. Mendengar kabar Cinta yang masih belum pulang, ia langsung segera bergegas mencari sahabatnya itu, bahkan sampai kembali lagi ke kampus.

__ADS_1


“Itu anak nyusahin banget kerjaannya. Lagian ini juga masih jam 7 malam, masih dalam batas wajar. Dasar anak kembar, ikatan batin emang sudah melekat di diri mereka!” celoteh Bumi yang baru saja sampai di kampus dan memparkirkan motornya.


“Handphonenya kenapa pake acara mati segala sih, bikin khawatir orang aja itu anak satu.”


Sementara Bumi yang masih mencari sahabatnya, Cinta sendiri sedang melawan rasa takutnya untuk melompat ke bawah.


“Lama banget, sih? Berani gak?” tanya Awan dari bawah sana.


“Berani, tunggu bentar kenapa!” sahut Cinta yang terlihat sudah berkeringat dingin.


“Elo nggak akan kenapa-kenapa, gue bakalan nangkep lo di sini kalau lo jatuh. Cepetan turun!”


Cinta tampak menelan ludah dan menyeka keringatnya yang sudah mulai bercucuran. Dengan keberanian yang hanya 30%, ia memberanikan dirinya untuk melompat ke bawah sambil memejamkan matanya.


Melihat Cinta yang sudah mulai melompat, Awan langsung berlari dan menangkapnya yang akhirnya terjatuh di pangkuannya.


“Hey, elo nggak apa-apa?” tanya Awan yang melihat Cinta begitu banyak mengeluarkan keringat dingin.


Cinta masih memegang erat pakaian Awan dengan tangan kanannya dan dengan mata yang masih terpejam.


"Hey?? Elo baik-baik aja, kan? Kita udah di bawah. Hey??"


Cinta membuka kedua matanya. Begitu matanya terbuka, ia segera melepaskan dirinya dari pangkuan Awan yang sudah menolongnya.


“Elo nggak apa-apa?"


"Gue nggak apa-apa."


"Yakin? Ini kan nggak terlalu tinggi? Masa anak karate gitu aja takut, sih?” ejeknya sambil tertawa mengejek.


“Diem lo, nggak usah bawel!” seru Cinta seraya merapihkan rambut dan pakaiannya.


“Bukannya bilang makasih kek gitu, malah marah-marah nggak jelas! Elo sangat menyusahkan!"

__ADS_1


“Berisik lo, nggak usah banyak ngomong. Gue mau pulang,” katanya yang kemudian pergi meninggalkan Awan seorang diri.


“Dasar cewe aneh!”


__ADS_2