
Cinta terlihat sedang berada di kantin. Sambil menunggu Sasha yang sedang rapat BEM, ia meluangkan waktunya untuk membaca komik. Namun, saat membaca komik ia tidak sengaja melihat Kejora sedang makan seorang diri. Karena sudah mengenal Kejora saat acara makan malam di rumahnya kemarin lusa, ia pun memutuskan untuk menghampirinya.
"Boleh duduk di sini?" tanya Cinta hingga membuat Kejora menatap ke arahnya.
"Oh, boleh."
Suasana cukup sunyi beberapa detik begitu Cinta datang menghampiri.
"Elo sama adek gue punya hubungan yang spesial, yah, Ra?" tanya Cinta membuka suara.
"Hah? Nggak, ko, kita cuma teman sekelas."
"Nggak mungkin kalo nggak spesial. Langit itu bukan tipe cowo yang mudah jatuh cinta dan membawa perempuan ke rumah. Elo itu perempuan pertama yang Langit ajak ke rumah."
"Benarkah?" tanya Kejora tak percaya.
Cinta menganggukkan kepalanya.
"Langit itu tertutup kalo masalah perasaannya. Tapi, kalo dilihat-lihat, elo perempuan yang spesial untuk Langit.
"Gue tidak sespesial itu, Cinta."
“Langit yang gue kenal itu adalah sosok adik yang selalu menjaga gue dan juga Pelangi. Langit juga selalu menyayangi kami bagaikan sebuah harta yang paling berharga untuknya. Tapi, semenjak Langit mengenal lo, dia bisa menjaga lo dengan baik selain gue dan juga Pelangi.”
“Cinta . . . . ”
“Gue hanya minta, tolong bahagiakan Langit dan jangan membuatnya kecewa atau pun sedih jika suatu hari nanti lo akan mengisi kekosongan hati adek gue. Langit sangat berharga untuk gue dan juga Pelangi. Gue sangat menyayanginya dan tidak ingin melihatnya sedih. Gue menyukai lo, Ra. Karena lo adalah gadis yang baik dan penuh perhatian."
"Tapi, belum tentu juga Langit akan memilih gue, Ta. Sejujurnya, malam itu gue mengutarakan isi hati gue untuk Langit. Gue sudah menyukainya sejak masuk perkuliahan. Tapi, sepertinya Langit menyukai perempuan lain. Dan, itu bukan gue, Ta."
Cinta terdiam. Sepertinya, Cinta tahu perempuan yang dimaksud itu.
"Gue masuk ke dalam kehidupan Langit secara tiba-tiba. Mungkin, akhir-akhir ini gue dekat dengannya. Tapi, gue masih belum mampu untuk masuk ke dalam hatinya. Hatinya masih tertuju kepada yang lain. Mungkin, elo tahu siapa orang yang gue maksud."
"Tapi, gue yakin banget. Langit juga suka sama lo."
"Walau pun memang Langit menyukai gue. Tapi, gue tidak ingin memaksakan kehendak gue untuk memilikinya, Ta. Memaksakan sesuatu tentang perasaan itu bukan cinta namanya, melainkan nafsu yang menjadi keinginan sesaat. Gue tidak ingin seperti itu. Gue cuma ingin, Langit tahu perasaan gue. Karena gue tidak ingin menyembunyikan perasaan gue terlalu lama."
Cinta kembali terdiam dan tak bergeming. Kata-kata Kejora seperti menyindir perasaanya. Itu seperti sebuah tamparan keras untuknya.
__ADS_1
"Elo sangat dewasa, Ra. Gue suka pemikiran lo."
"Gue bercerita seperti ini sama lo karena gue tahu elo pasti akan memahami perasaan gue, Ta. Gue tidak peduli Langit memilih siapa. Cinta yang dewasa itu berani mengambil resiko dengan tindakan yang akan ia lakukan. Bukankah itu sangat elegant?"
"Cinta yang berkelas, Ra."
Kejora tertawa. Mereka berdua tertawa bersama. Cinta seperti menemukan seseorang yang senasib dan mengerti juga akan perasaannya.
"Sepertinya kita bisa menjadi teman baik, Ra."
"Tentu, suatu kehormatan untuk gue bisa berteman baik dengan saudara seseorang yang gue suka."
Mereka berdua kembali tertawa. Setelah pembicaraannya dengan Kejora dan menghabiskan waktu bersama, kini Kejora baru sadar kenapa ia bisa dengan mudah akrab dengan Cinta. Karena menurutnya Cinta gadis yang menyenangkan dan biss mengerti perasaan orang lain.
"Sasha!!" teriak Langit begitu melihat Sasha yang baru saja keluar dari ruang BEM.
"Langit?"
"Gue mau ngomong sama lo sebentar. Bisa?"
"Ini penting, Sha. Bisa, kan?"
Sasha berfikir sejenak. Namun, beberapa saat kemudian ia mengangguk dan mengajak Langit untuk ke atap gedung kampusnya.
"Ada apa?" tanya Sasha membuka suara.
Langit mengehela nafas panjang. Ia mencoba untuk memberanikan diri menatap wajah Sasha dengan penuh percaya diri.
"Gue suka sama lo, Sha," ujar Langit tiba-tiba hingga membuat Sasha tampak terkejut mendengarnya.
"Apa tadi lo bilang?"
"Gue suka sama lo, Sha. Jangan tanya alasannya apa dan kenapa. Karena gue sendiri tidak tahu alasannya apa. Itu terjadi tiba-tiba saja," katanya melanjutkan.
"Lang, gue . . . ."
"Gue nyaman bersama lo, Sha. Entah kenapa, gue selalu ingin melihat lo, selalu ingin melindungi lo dan selalu ingin bersama lo. Semakin gue memikirkan lo, gue semakin yakin kalau gue sayang sama lo. Gue benar-benar sayang sama lo."
__ADS_1
Sasha berjalan menghampiri Langit dan menggenggam kedua tangannya sembari menatap kedua bola matanya.
"Gue berterima kasih karena lo menyukai gue, Lang. Sejujurnya, gue juga nyaman saat bersama lo. Gue merasakan hal yang sama juga, Lang. Tapi, gue baru saja putus dengan Guntur."
"Gue tahu itu."
"Elo tahu?"
"Gue tahu semuanya."
Sasha menundukkan kepalanya. Ia tidak menyangka jika Langit tahu semua tentang dirinya yang sudah putus dengan Guntur. Ia merasa malu sendiri dan tak berani menatap wajah sahabatnya itu.
"Lang, gue tidak ingin kehilangan lo. Gue tidak ingin kehilangan sahabat gue. Kalau kita pacaran, gue takut akan sebuah perpisahan. Gue tidak ingin berpisah dengan lo. Gue masih ingin berteman dan melihat lo. Kalau yang namanya persahabatan kan tidak akan mengenal kata perpisahan. Elo ngerti kan maksud gue?"
Langit menundukkan kepalanya. Namun, ia kembali menatap Sasha dan tersenyum lembut padanya.
"Gue ngerti, Sha."
"Gue sayang sama lo, Lang. Gue tidak ingin kehilangan teman yang selalu ada untuk gue. Gue juga tidak ingin menyakiti lo. Apalagi, elo itu adik dari sahabat terbaik gue. Gue tidak ingin merusak hubungan kita semua. Gue tidak ingin egois, Lang."
"Gue faham maksud lo, Sha," ujarnya terdengar kecewa.
Sasha meneteskan air matanya. Ia menarik tangan Langit dan memeluknya begitu erat.
"Maaffin gue, Lang. Maaffin gue. Jangan tinggalin gue, yah?"
Langit terlihat sedih. Namun, ia membalas pelukan Sasha hingga membuat Sasha menangis dalam pelukannya.
"Nggak apa-apa, Sha. Dengan gue mengatakan semua ini sama lo, ini membuat hati gue tenang."
"Elo masih mau kan temenan sama gue? Please, jangan tinggalin gue."
"Gue nggak akan ninggalin lo, Sha. Gue janji."
Sasha semakin mempererat pelukannya. Langit merasa ada sesuatu yang aneh dengan Sasha. Tapi, ia tidak tahu apa itu. Karena tidak seperti biasanya Sasha seperti ini. Dan, berkali-kali ia mengatakan kepadanya untuk tidak meninggalkannya. Ini seperti tidak biasanya.
Ada apa dengan Sasha?
Maaffin gue, Lang. Gue sayang sama lo, gue benar-benar menyayangi lo. Akan tetapi, gue tidak ingin menyakiti lo lebih jauh lagi. Ada beberapa hal yang tidak bisa gue sampaikan sama lo secara mendetail. Gue terlalu takut untuk menghadapinya. Jadi, maaffin gue, Lang. Batin Sasha.
__ADS_1