
Pelangi dan Bumi terlihat sedang berada di perpustakaan. Karena akhir-akhir ini disibukkan dengan berbagai tugas akhir, mereka berdua banyak menghabiskan waktu mereka di perpustakaan untuk mengerjakan tugas demi mencapai sebuah nilai yang sempurna.
"Elo mau melanjutkan magang di mana, Pe?" tanya Bumi yang berjalan di belakang Pelangi ketika ia sedang memilah-milah buku.
"Kayanya sih di tempat yang direkomendasikan sama wali dosen gue, Bom. Elo sendiri mau magang di mana?"
"Di tempat yang sama dengan Cinta. Soalnya, kita berdua udah di terima di tempat magang yang kita pilih."
"Jadinya di kantor kejaksaan yang di pusat kota itu, Bom?"
Bumi menganggukkan kepalanya dan kembali mengikuti ke mana arah Pelangi melangkahkan kakinya.
"Sesuai sama jurusan sih, Pe. Gue sama Cinta kan sama-sama ngambil Pidana, jadi sekarang kita bakalan fokus sama kasus - kasus kriminal yang terjadi akhir-akhir ini."
"Oh gitu," jawabnya pendek yang tengah berusaha mengambil salah satu buku sastra Jerman di salah satu rak yang cukup tinggi.
Karena buku yang ingin ia ambil ada di rak buku yang paling atas, Pelangi sampai harus menjinjitkan kakinya untuk meraih buku tersebut hingga membuat Bumi dengan mudah meraih buku yang ingin diambil oleh wanita yang ia cintai itu.
"Buku ini yang mau elo ambil?" tanya Bumi sambil mengambil salah satu buku yang hendak di raih oleh Pelangi.
"Iya. Gue mau buku yang itu."
Bumi mengambilkan buku yang diinginkan Pelangi. Begitu mau memberikan buku tersebut kepada Pelangi, jarak mereka berdua begitu dekat sekali hingga membuat keduanya saling beradu pandang dengan jarak wajah yang cukup dekat.
Merasa cukup canggup dengan apa yang telah terjadi, Bumi tidak sengaja mendorong beberapa buku di rak paling atas hingga membuat buku itu berjatuhan dan mengenai kepala mereka berdua.
Merasa sudah membuat kegaduhan dengan suara buku yang berjatuhan, beberapa mahasiswa di perpustakaan itu menegur Bumi dan juga Pelangi meminta agar mereka tidak berisik.
__ADS_1
Sadar akan perbuatan mereka, Bumi dan Pelangi langsung memungut buku-buku yang berserakan di lantai dengan menahan tawa mereka. Setelah selesai merapihkan dan mengembalikan buku-buku itu ke tempat asalnya, mereka berdua langsung bergegas pergi.
"Elo, sih! Kita jadi ditegur mereka, kan!" seru Pelangi yang masih tertawa dengan kejadian di perpustakaan tadi.
"Nggak apa-apa, Pe. Sekali-kali membuat kegaduhan di perpustakaan itu menjadi suatu kewajiban." Bumi kembali tertawa hingga Pelangi ikut tertawa bersamanya.
"Aneh lo, Bom!"
Bumi kembali menatap wajah Pelangi hingga membuat gadis yang berdiri di hadapannya itu membalas tatapannya dengan tatapan lembut.
"Kenapa?" tanya Pelangi yang merasa di tatap oleh Bumi tidak seperti biasanya.
"Gadis pintar, apa yang nanti akan dilakukan setelah lulus nanti?" tanya Bumi sambil memegang lembut kepala Pelangi dengan sentuhan tangan seorang ayah kepada anaknya yang penuh kasih sayang.
"Bekerja setelah itu menikah," jawab Pelangi sambil tersenyum lebar hingga membuat Bumi ikut menyunggingkan senyumannya.
"Iya, gue pengen banget punya banyak anak biar nggak kesepian." Pelangi tampak bersemangat sekali.
"Kau mau menikah denganku?" tanya Bumi tiba-tiba yang mengejutkan Pelangi hingga membuat kedua bola mata Pelangi membulat dan membelalak dengan pertanyaan mengejutkannya itu.
"Bumi?"
"Kita sama-sama sudah saling menyukai satu sama lainnya sejak lama. Untuk menikah, kita tidak perlu untuk berpacaran bukan? Yang penting, kita sudah sama-sama tahu perasaan masing-masing saja itu sudah lebih dari cukup."
"Kau ingin menikah denganku?"
Bumi mengangguk pelan dan kembali mengelus-ngelus rambut Pelangi dengan lembut.
__ADS_1
"Tentu, suatu kehormatan bagiku bila aku bisa menikah dengan gadis pintar dan baik hati sepertimu."
Mendengar kalimat yang dilontarkan Bumi, Pelangi tersenyum begitu lebar.
"Aku bahagia bisa menyukaimu, Bumi. Tidak sia-sia aku menghabiskan hari-hariku untuk tetap menyukaimu walau dengan diamku."
"Perjuangan kita telah mencapai hasilnya, Ngi. Perjuangan kita selama ini tidak sia-sia."
"Apa kau bahagia, Bumi?"
"Tentu. Aku bahagia bila kau juga bahagia. Bahagia itu akan menjadi sebuah kesempurnaan jika kita sama-sama merasakannya. Setelah kejadian yang terjadi beberapa bulan terakhir ini, membuatku tersadar akan sesuatu hal, Ngi."
"Apa itu?"
"Cinta akan membawamu dalam sebuah kebahagiaan dan menuntunmu ke hati yang tepat."
Mendengar pernyataan Bumi, Pelangi tersenyum lebar dan menatapnya dengan mata penuh kehangatan akan cinta.
"Saranghae, Bumi Tirta Purnama. Ich lie bedich, handsome boy." Pelangi mengucapkan kalimat yang cukup mengejutkan itu dengan begitu tiba-tiba.
"Saranghae, Cahaya Pelangi Agustin Mukti Pradipta."
Mereka berdua saling melempar senyum setelah sama-sama saling mengutarakan perasaan mereka masing-masing. Bumi mengulurkan tangannya, Pelangi pun membalas uluran tangan pria yang di sukainya itu kemudian pergi dengan hati yang penuh kebahagiaan.
Tidak sengaja melihat Pelangi dan juga Bumi yang sedang bergandengan tangan, membuat Cinta tersenyum lebar dan ikut merasakan kebahagiaan apa yang mereka rasakan saat ini.
"Gue selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Semoga, kebahagiaan itu akan mengikuti kalian selamanya. Gue juga berharap, kalian akan tetap saling mencintai dan menyayangi sampai maut memisahkan kalian berdua," ujar Cinta pelan sambil memandangi kepergiaan Bumi dan Pelangi dari jauh dengan mata berkaca-kaca penuh rasa bangga dan juga kebahagiaan yang menyelimutinya saat ini.
__ADS_1