
1 bulan berlalu begitu cepat, rumah yang tadinya penuh keceriaan kini berubah menjadi sebuah rumah yang penuh dengan kesedihan. Hanya ada kesunyian, tangisan, bahkan nyaris tidak ada suara tawa yang menghiasi rumah itu lagi.
Semua sudah berubah, semenjak kejadian kecelakaan yang merenggut nyawa Nindi dan juga Faris, Langit dan Pelangi hidup penuh kesedihan dan tak ada lagi garis tawa yang terlihat di wajah mereka.
“Ngi,” panggil Bumi pelan saat ia baru saja membuka pintu kamar tempat Cinta di rawat.
Melihat Pelangi yang baru saja menangis dan menghapus air matanya agar tidak terlihat olehnya, Bumi begitu sedih melihat keadaan gadis yang ia cintai saat ini. Tubuhnya terlihat kurus sekali, kurang tidur, kurang makan dan istirahat, bahkan membuat wajah cantiknya kini memudar. Melihat Pelangi yang seperti itu, Bumi menghampiri gadis yang ia cintai itu dan memeluknya dari belakang.
"Are you oke?"
“I’m fine, Bumi.”
“Bagaimana keadaan Cinta saat ini?”
“Masih seperti biasanya, tidak ada perkembangan.”
“Jangan menyiksa tubuh lo seperti ini, Ngi. Elo harus tetap makan, kalau sampai Cinta sadar dan melihat keadaan lo seperti ini, pasti dia bakalan marah besar sama lo, terutama gue. Karena gue tidak bisa menjaga lo dengan baik.”
“Bagaimana gue bisa makan enak kalau kakak gue sendiri terbaring lemah seperti ini!”
“Gue sayang sama lo, Ngi. Karena rasa sayang inilah yang membuat gue selalu ingin berada di samping lo. Kalau lo sakit, gue lebih sakit dari lo. Kalau lo sedih, hati gue lebih sedih. Jadi, lo harus menjaga kesehatan lo.”
“Gue baik-baik aja. Gue . . . gue . . . .”
Tiba-tiba saja Bumi menarik tangan Pelangi dan memeluknya dengan begitu erat. Seketika Pelangi meneteskan air matanya dan kembali menangis dalam pelukan Bumi. Melihat gadis yang ia cintai menangis seperti itu, Bumi ikut menangis bersamanya dan membelai-belai rambutnya dengan penuh kasih sayang.
Cepatlah sadar, Ta! Kami semua menunggu lo, kami semua merindukan lo. Kembalilah Cinta, ayo kita membuat 100 balon impian bersama-sama. Batin Bumi.
Sementara itu, Langit, Regan dan Kejora tampak sedang makan bersama di kantin kampus. Melihat mantan kekasihnya yang tak berselera makan seperti itu, membuatnya begitu khawatir dengan kondisinya saat ini.
“Makanlah, nanti kamu sakit, Lang.”
“Aku mana bisa makan, Ra. Fikiran aku kacau sekali akhir-akhir ini, aku hampir putus asa karena Cinta tak kunjung sadar juga.”
“Cinta pasti akan sadar, Lang. Gue percaya itu!” tutur Regan yang berusaha untuk menghibur sahabatnya.
“Tapi, kapan Cinta akan sadar? Banyak hal yang ingin gue tanyakan padanya. Bagaimana caranya supaya gue bisa membuat Cinta bangun dari komanya?”
Kejora dan Regan terdiam. Mereka saling beradu pandang. Mereka sendiri bingung tidak tahu harus bagaimana lagi membuat Langit bahagia. Yang bisa membuat Langit bahagia hanya kesembuhan Cinta. Tapi, keadaan Cinta saat ini sedang koma. Dan, mereka semua tidak pernah tahu kapan Cinta akan terbangun dari komanya.
“Aku tahu bagaimana membuat Cinta cepat sadar!” seru Kejora tiba-tiba hingga membuat Regan dan Langit menatapnya.
“Benarkah itu?” tanya Regan tak sabaran.
“Iya, hal ini pasti akan membuat Cinta terbangun dari tidurnya yang panjang. Lang, kamu percaya padaku kan?" tanya Kejora sambil menggenggam erat tangan Langit.
"Aku percaya padamu, Ra."
“Lang, apa mungkin cara ini berhasil?” tanya Pelangi saat ia sedang berada di dalam mobil bersama dengan Langit.
“Gue masih belum yakin, tapi kenapa kita tidak mencobanya saja? Hal ini sebelumnya tak pernah terfikirkan oleh gue. Tapi, entah kenapa tiba-tiba saja Kejora terfikirkan hal ini. Tapi gue yakin, Pe. 40% kemungkinan Cinta akan terbangun dari komanya.”
__ADS_1
“Elo yakin Cinta akan sembuh?”
“Kita harus yakin, Pe. Walau gue takut Cinta akan pergi, tapi hati kecil gue mengatakan kalau Cinta pasti akan sembuh.”
“Gue sudah cukup terpukul dengan meninggalnya papih dan juga mamih. Gue belum siap kalau sampai-sampai Cinta juga akan pergi meninggalkan kita. Apa jadinya hidup kita, kalau kita kehilangan tulang rusuk kita sendiri? Rasanya, gue seperti akan kehilangan organ tubuh gue.”
“Elo percaya sama gue, kan?”
Pelangi mengangguk pelan walau wajahnya tampak terlihat ragu.
“Gue percaya Cinta akan sadar. Kalau gue bilang Cinta gak akan pergi, Cinta pasti gak akan pergi!”
“Gue takut, Lang.”
“Elo nggak usah takut, Pe. Gue ada bersama lo, jadi kita hadapi sama-sama, yah?”
Tampak seseorang memakai jas hitam terlihat berlari-lari di koridor rumah sakit. Dengan nafas yang terengah-engah, seseorang yang memakai jas hitam itu berlari dengan membawa sebuah harapan dan juga keajaiban.
“Pelangi! Langit!” teriak seseorang hingga membuat Pelangi dan juga Langit yang sedang berada di ruang tunggu langsung melirik ke arah sumber suara.
“Elo sudah datang?” tutur Pelangi dengan mata berkaca-kaca.
Seorang pria tinggi dengan menggunakan jas hitam yang tampak gagah itu ternyata adalah Awan. Dengan mata berkaca-kaca dan nafas yang terengah-engah, ia berlari menghampiri Langit dan juga Pelangi yang tengah menunggu kedatangannya.
“Bagaimana keadaan Cinta sekarang? Begitu mendengar kabar dari Langit, gue langsung terbang ke Indonesia. Selama di perjalanan gue sama sekali tidak pernah bisa tenang, bagaimana keadaannya sekarang? Cinta baik-baik aja, kan?”
“Elo tenang dulu, Wan. Sekarang, Cinta sedang diperiksa dokter. Sudah selama 1 bulan ini Cinta mengalami koma. Semenjak kedua orang tua kami meninggal, Cinta tidak pernah terbangun dari komanya,” papar Langit menjelaskan.
__ADS_1
Awan terlihat begitu sedih mendengar penjelasan dari Langit. Ia berjalan menghampiri pintu kamar tempat Cinta di rawat. Dari balik jendela, ia menatap ke arah Cinta yang sedang terbaring lemah di ranjangnya. Alat-alat medis yang mengelilingi seluruh tubuh Cinta, membuatnya meneteskan air matanya sedihnya.
1 minggu yang lalu, Langit berusaha untuk mencari tahu kontak Awan. Mulai dari meneleponnya via *Whatssapp*, DM via *Instagram*, *Twitter* dan juga email secara terus menerus. Selama 3 hari menghubunginya dan menunggu balasannya, akhirnya Awan membalas pesannya juga.
Begitu pesannya di balas, Langit langsung menghubungi Awan dengan memberi tahu keadaan Cinta dan keadaan keluarganya saat ini. Begitu mendengar kabar tersebut, Awan menangis sejadi-jadinya sembari memandangi foto dirinya bersama dengan Cinta. Tanpa banyak fikir lagi, setelah menyelesaikan urusannya di Jerman, Awan langsung terbang ke Indonesia.
Begitu melihat Cinta terbaring lemah seperti itu, hatinya terasa sangat sakit. Rasanya seperti separuh nyawanya pergi begitu saja. Rasanya, hatinya sangat hancur berkeping-keping. Rasanya, seperti kehilangan sebelah tangannya. Seperti itulah perasaan yang tergambarkan oleh Awan saat ini.
Begitu dokter keluar dari ruangannya, Awan langsung masuk ke dalam kamar tempat Cinta di rawat. Begitu melihat wajahnya, tak terasa butiran air matanya kembali berjatuhan. Sambil menggenggam tangan Cinta yang tampak lemah, ia mencium telapak tangan Cinta dengan penuh kehangatan kasih sayangnya.
“Aku di sini, Ta. Aku sudah kembali, jadi cepatlah sadar. Aku akan menunggumu, menunggumu untuk kembali. Kamu sudah berjanji akan menjadi ibu dari anak-anak kita kelak, kan? Jadi, aku mohon sadarlah, bangunlah, aku ingin kamu selalu berada di sampingku sampai kita tidak bisa benafas lagi. Jadi aku mohon, bangunlah!”
Melihat Awan bersama dengan Cinta, Pelangi dan Langit ikut meneteskan air mata haru mereka. Kini mereka sadar, kalau cinta Awan untuk kakaknya itu tulus dan juga murni. Karena dengan cinta yang murni itulah, seseorang yang terlihat lemah sekali pun akan terlihat kuat.
“Ternyata, Awan sangat mencintai Cinta, yah?” tutur Pelangi pelan saat ia dan juga Langit berada di taman rumah sakit.
“Masih cemburukah?”
“Tidak, malahan gue merasa bahagia sekali melihat mereka berdua bersama.”
“Elo tenang aja, Pe. Walau mamih dan papih udah nggak ada, elo masih ada gue sebagai kakak. Elo juga masih ada Bumi yang tulus mencintai lo dan menunggu lo. Jadi, jangan pernah berfikir elo sendirian atau pun kesepian lagi. Mengerti?”
“Iya, gue ngerti. Rasanya, kalau suasananya seperti ini, gue ingin pergi ke Rumah PelangiT Cinta.”
“Rumah PelangiT Cinta? Apa elo ingin ke sana?”
“Kalau Cinta sudah sadar, ayo kita ke sana sama-sama. Kita ke sana bersama dengan orang yang kita cintai seperti apa yang dibilang papih dan mamih dulu.”
__ADS_1
“Iya, ayo kita ke sana bersama orang yang paling kita cintai.”