Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Kejujuran Hati


__ADS_3

Setelah percakapannya dengan Bumi tadi dan kembali pulang ke rumah, Cinta berdiam diri di dalam kamarnya. Ia kembali membuka sebuah album foto saat masa-masa Sma ketika ia bersama dengan Bumi. Cinta juga membuka sebuah kertas lusuh yang selama ini selalu ia simpan di dalam dompetnya.


Tulisan dikertas itu adalah bentuk tulisan tangan Bumi. Yang isi kalimatnya sangatlah sederhana. I love you and always love you.


Selama ini, Cinta berfikir kalau kalimat dalam surat itu tertuju padanya. Ternyata, selama ini kalimat dalam surat itu ditujukan kepada Pelangi, bukan dirinya.


Selama ini, Cinta menyembunyikan perasaaan yang ia rasakan hampir 7 tahun lamanya. Iya, Cinta mencintai sahabatnya sendiri sejak Sma. Dan, pria yang ia cintai selama ini ternyata menyukai wanita lain. Dan, wanita itu tak lain dan tak bukan adalah saudara kembarnya sendiri.


“Cinta,” panggil Langit dari balik pintu kamarnya.


“Iya?” sahut Cinta yang langsung melipat kembali suratnya dan memasukkannya ke dalam dompetnya kembali.


“Boleh gue masuk?” tanyanya memastikan.


Cinta mengangguk. Langit langsung membuka pintu kamar kakaknya kemudian masuk ke dalam. Melihat Cinta yang sedang membaca komik, ia langsung duduk di samping kakaknya itu.


“Lagi sibuk, Ta?”


Cinta menggeleng pelan dan kembali membaca komiknya.


“Pelangi jalan sama Bumi yah, Ta?”


Cinta kembali mengangguk dan terlihat menyibukkan dirinya dengan membaca komik Naruto favoritnya.


“Tumben banget itu anak jalan sama si Bumi, elo gak cemburu?” tanya Langit tiba-tiba yang mengejutkannya.


“Cemburu? Masa iya gue cemburu sama saudara gue sendiri, lagian gue kan bukan cewenya Bumi.”


“Ta, elo gak usah bohong sama gue. Gue tahu semuanya, gue tahu perasaan lo sama Bumi. Dan, gue tahu kalau lo menyukai Bumi sejak dulu.”


Cinta terdiam dan menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap wajah adik laki-lakinya itu. Yang dikatakan Langit semuanya memang benar. Dan, ia sendiri pun sama sekali tidak bisa menyangkalnya apalagi berbohong .


“Tapi, sepertinya Bumi tidak menyukai gue. Dia menyukai Pelangi, Lang. Jadi, lebih baik gue mengalah saja.”


“Ta, lagi pula Pelangi belum tentu menerima Bumi begitu saja. Pelangi itu menyukai Awan, kalau Pelangi tahu elo suka sama Bumi juga dia pasti akan membantu mempersatukan kalian.”


“Elo gak ngerti, Lang.”


“Gue ngerti Cinta, justru karena gue mengerti makanya gue ngomong kaya gini sama lo.”


“Gue gak mau Bumi terpaksa menerima gue, dia hanya menganggap gue sebagai sahabatnya. Bumi sangat menyukai Pelangi, jadi lebih baik gue saja yang mengalah.”


“Elo mau kaya orang **** lagi seperti dulu?” seru Langit terlihat kesal hingga membuat Cinta menatap tajam ke arah adiknya itu.


“Maksud lo?”


“Inget kejadian saat Sma dulu? Elo tiba-tiba berubah jadi feminim, pakai rok, dandan full make up. Tahu-tahu, pas lo pergi ke Mall elo malah ketemu sama Bumi di sana. Terus, dia malah ngenalin pacarnya sama lo. Elo lupa kalau lo nangis hebat pertama kalinya sama gue?”

__ADS_1


Cinta sesaat terdiam. Ia kembali mengingat kenangan pahit itu. Ternyata, selama ini Langit memang mengetahui perasaan Cinta yang sebenarnya kepada Bumi. Ternyata, selama ini Langit memperhatikan perasaannya.


“Gue tahu lo suka sama Bumi saat kejadian itu. Elo tiba-tiba pulang dengan mata memerah dan mengurung diri seharian penuh. Elo mulai sering pergi balapan motor juga semenjak hari itu, kan?” tutur Langit yang semakin membuat Cinta terkejut dan terdiam beberapa saat.


“Kenapa elo bisa tahu?”


“Saat elo nangis hebat di depan gue waktu itu, elo lupa yah elo bilang sama gue kalau elo itu suka sama Bumi? Saat itu gue tahu perasaan lo yang sebenernya terhadap Bumi. Dan, semenjak patah hati, elo jadi semakin brutal.


“Minta sama papih buat beliin motor gede, elo juga berubah jadi sering pergi malam dan belajar balapan liar. Selama ini gue emang cuek, tapi gue sering memperhatikan lo.”


Cinta terdiam dan menundukkan kepalanya. Ia tersenyum kecil dan mengalihkan pandangan matanya.


“Mungkin memang benar gue suka balapan motor gara-gara kejadian itu. Tapi, gue sangat berterima kasih sekali. Karena berkat kejadian itu, gue tumbuh sebagai perempuan yang kuat.”


Setelah menyelesaikan kalimatnya, Cinta beranjak dan mengambil jaket kulitnya. Sambil memakai jaket kulitnya, Cinta mengikat rambutnya yang panjang seraya mengambil kunci motornya yang tersimpan di atas meja.


“Elo mau balapan lagi?” tanya Langit yang melihat saudaranya itu memakai stelan balap.


“Gue pergi dulu,” katanya yang kemudian pergi.


Langit menatap kepergian saudaranya dengan tatapan mata yang tampak sangat khawatir. Ia menghela nafas panjang, kemudian menatap sebuah foto yang tersimpan di atas meja belajar Cinta.


“Lang,” panggil Cinta yang tiba-tiba kembali menghampiri adiknya.


Langit menatap wajah kakaknya dengan bingung. “Kenapa?”


“Kenapa lo tiba-tiba ngomong gitu?” tanyanya gugup.


“Gue cuma mau nyaranin. Jangan suka Sasha terlalu dalam. Dia udah punya cowo, mereka pacaran udah hampir 3 tahun. Gue nggak mau lo sakit hati berkepanjangan karena lo suka sama Sasha.”


“Gue nggak suka sama Sasha, ko,” kilahnya.


“Jangan bohong sama gue, Lang. Gue bisa lihat cara lo ngomong sama tatap mata ke Sasha itu beda. Lo juga perhatian banget sama dia. Gue harap, apa yang gue fikirkan selama ini tentang lo dan Sasha tidak terjadi. Gue nggak mau jadi diantara saudara dan sahabat gue sendiri,” katanya yang kemudian pergi.


♪♪♪


Pelangi dan Bumi tampak menikmati kebersamaan mereka. Bumi terlihat menemani Pelangi yang sedang memilih-milih novel terbaru di toko buku. Setelah menemukan dan membeli novel yang ia suka, Bumi juga menemani Pelangi yang ingin membeli tas dan juga sepatu terbaru.


“Lucu nggak?” tanya Pelangi sambil memperlihatkan sebuah sepatu dengan hak yang tinggi runcing dengan warna keemasan.


“Lumayan, elo mau beli sepatu itu?”


“Pengennya sih, cuma gue takut diceramahin sama Langit dan juga Cinta gara-gara gue beli sepatu terus. Koleksi sepatu gue kan udah banyak banget, apa lagi tas, udah nggak muat gue simpen di lemari.”


Bumi tertawa lebar dan mengacak-ngacak rambut Pelangi seperti biasanya.


“Kalau elo emang suka, ya udah beli aja.”

__ADS_1


“Hm, kayanya gak, deh. Ya udah, kita pergi aja, yuk,” tutur Pelangi kemudian pergi meski tatapan matanya masih melihat ke arah sepatu itu.


Bumi sebenarnya tahu kalau Pelangi sangat menyukai sepatu itu. Karena tidak tega melihatnya pergi begitu saja tanpa hasil apa pun, ia memutuskan untuk kembali dan mengambil sepatu tersebut.


“Eh, elo mau ke mana?” tanya Pelangi bingung ketika melihat Bumi kembali masuk ke dalam toko sepatu.


Bumi kembali mengambil sepatu keemasan yang sangat disukai Pelangi, kemudian ia menghampiri Pelangi dan menyuruhnya untuk duduk. Tiba-tiba saja, Bumi memakaikan sepatu keemasan itu ke arah kakinya. Pelangi sangat terkejut karena melihat Bumi yang tiba-tiba menunduk dan memakaikannya sepatu keemasan itu.


“Cocok, kan? Ini sangat pas sekali di kaki lo, Pe.”


Bumi tersenyum lebar sambil memegang kepala Pelangi dengan lembut.


“Gue beliin sepatu ini untuk lo, yah?”


“Whatt? Elo mau beliin sepatu ini untuk gue?” tanya Pelangi tampak terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.


Bumi tersenyum lebar, kemudian ia menyerahkan sepatu keemasan itu kepada pelayan toko dan segera membayarnya di kasir. Setelah membayar sepatu tersebut, ia langsung menarik tangan Pelangi dan mengajaknya pergi.


“Bumi, elo kan gak usah sampai membelikan sepatu itu untuk gue,” tutur Pelangi yang tangannya masih digenggam dan ditarik begitu saja olehnya.


“Sekarang kita makan aja, yuk? Elo kan suka banget makan. Jadi, kita makan di restoran seafood aja gimana?”


Pelangi manyun. Ia melepaskan tangan Bumi dari genggaman tangannya dan menatap wajah pria yang ada di hadapannya itu dengan kesal. Bumi yang melihat sikap Pelangi seperti itu bingung.


“Hey!” teriak Pelangi tiba-tiba dengan suara cemprengnya hingga membuat Bumi sangat terkejut.


“Ada apa?”


“Elo tahu kan kalau gue itu alergi seafood? Kalau gue sampai makan seafood, bisa-bisa kulit gue memerah dan bentol-bentol. Elo mau buat gue jadi jelek??" teriaknya kesal.


“Oh iya, gue lupa. Jadi inget waktu jaman Sma, deh,”


“Kenapa emangnya?”


“Inget gak, waktu acara makan-makan anak kelas 10 Ipa 1? Wajah lo kan langsung merah dan bentol-bentol gitu gara-gara alergi. Sumpah, itu muka lo lucu banget,” kenangnya seraya tertawa kecil.


“Sialan lo, orang sakit malah diketawain. Tapi, saat itu ketawa lo paling keras tahu!”


“Tapi, gue kan langsung ngegendong lo dan membawa lo ke rumah sakit terdekat. Malahan gue ngejagain lo sampai orang tua lo datang.”


Pelangi terdiam. Ia teringat kembali kenangan buruknya dengan seafood saat itu.


“Kalau gitu, kita sekarang makan apa, dong?”


“Kue balok kesukaan gue,” katanya pelan sambil tersenyum simpul.


“Oke, let’s go !” serunya sambil merangkul Pelangi.

__ADS_1


__ADS_2