
Awan tampak sedang berdiam diri di dalam kamarnya. Ia memandangi sebuah foto di dalam handphonenya. Foto tersebut adalah foto Cinta yang tengah menggunakan perlengkapan ospek. Foto tersebut diambil saat 3 tahun yang lalu, di mana saat mereka pertama kali bertemu dan melakukan kegiatan ospek bersama-sama.
Sejak Awan pertama kali melihat Cinta, ia merasa ada yang berbeda di dalam dirinya. Melihat Cinta yang pertama kali tersenyum dan tampak begitu ceria saat berbincang-bincang dengan temannya, itulah pertama kalinya dirinya menyukai Cinta. Dan, sejak saat itulah Awan sering memperhatikannya selama 3 tahun terakhir ini.
Saat Cinta dan kedua saudaranya yang baru saja keluar dari dalam mobil, mata Awan tertuju menatapnya. Saat Cinta dan Bumi baru saja keluar dari kelas mereka, matanya juga masih tertuju ke arah Cinta.
Saat Pelangi tengah memandangi wajahnya tempo lalu ketika ia berteriak Prince Lee min ho, Awan masih tetap saja menatap ke arah Cinta dan tersenyum tipis saat ia melihat pertengkaran kecil tiga bersaudara itu sembari membalikkan badannya.
Bahkan, saat tempo lalu Cinta dan Bumi yang membicarakan dirinya di kantin ketika perempuan-perempuan yang berada di kantin itu membicarakannya, Awan masih saja memperhatikannya.
Ketika Cinta yang membantunya berlari dari kejaran orang-orang suruhan ayahnya, Awan masih saja tetap memperhatikannya. Selama ini, diam-diam Awan menaruh perhatian lebih kepada Cinta tanpa sepengetahuannya.
Awan yang diam-diam datang melihat turnamen pertandingan karate Cinta, Awan yang diam-diam membantu memperbaiki senar gitar milik Cinta saat ia mewakili Fakultas Hukum untuk performs. Bahkan, Awan yang diam-diam memberikan payung untuk Cinta saat ia tengah menunggu Bumi di depan kampus ketika hujan deras.
Saat Cinta cedera akibat terjatuh dari motor, diam-diam Awan memberikan sebuket bunga dan menyimpannya di balik pintu rumah sakit. Bahkan, saat mereka terjebak di ruang serba guna tempo lalu, ia berbohong kepada Cinta.
Sebenarnya, handphone miliknya berada di dalam tasnya, namun ia terpaksa berbohong agar ia bisa lebih lama bersama dengan gadis yang disukainya itu.
Semua itu ia lakukan semata-mata untuk Cinta. Walau harus melakukannya secara diam-diam, tapi Awan senang melakukannya demi melindungi gadis yang ia cintai selama 3 tahun terakhir ini.
“Elo nggak pernah tahu kalau selama ini, gue diam-diam sering memperhatikan lo sejak pertama kali bertemu, Ta. Bahkan, gue rela menyimpan perasaan ini selama 3 tahun lamanya. Tapi, gue sudah tidak bisa menyimpan perasaan ini lebih lama lagi karena waktu gue semakin dekat, Ta,” ucapnya pelan seraya memandangi foto Cinta yang sedang berlatih karate.
“Gue sayang sama lo, Ta. Gue sayang banget sama lo dan gue bahagia bisa mengenal lo lebih dekat meski sangat singkat. Kebersamaan singkat kita tidak akan pernah gue lupakan seumur hidup gue, Ta. Karena gue baru sadar, kalau ternyata elo itu adalah gadis yang pertama kali gue lihat di rumah sakit 15 tahun yang lalu,” katanya pelan.
Awan kembali mengenang kejadian 15 tahun yang lalu. Saat itu, Ronald; kakaknya masuk rumah sakit karena mengalami kecelakaan. Ketika di rumah sakit, kedua orang tuanya tampak khawatir dan begitu pun Awan yang sangat sedih karena takut kehilangan kakak kesayangannya.
Dan, untuk pertama kalinyalah Awan bertemu dengan Cinta di rumah sakit yang saat itu adiknya; Pelangi masuk rumah sakit karena tenggelam. Awan melihat Langit dan kedua orang tuanya menangis sedih, tapi tidak untuk Cinta. Gadis kecil yang ia lihat saat itu tidak sama sekali menangis. Ia malah menghibur keluarganya dan menyemangati mereka.
Sejak saat itulah, Awan mengagumi sosok Cinta yang begitu hebat. Berkali-kali datang ke rumah sakit, akhirnya Awan bertemu kembali dengan Cinta. Saat itu, kondisi Ronald dalam keadaan kritis. Kedua orang tuanya panik dan Awan tampak menangis sendirian di ruang tunggu. Dan, saat itulah Cinta datang menghampirinya dan memberikannya permen lolipop.
Awan menatap wajah Cinta dengan bingung. Ia juga terkejut karena Cinta berdiri di hadapannya dan menghapus air matanya.
“Jangan menangis, orang yang kamu sayang pasti akan sembuh. Tersenyumlah!”
Awan menghapus air matanya dan tersenyum lebar. Cinta juga membalas senyuman Awan kemudian pergi seraya melambaikan tangannya. Kini, Awan tersadar kalau perempuan yang ia sukai sekarang adalah cinta pertamanya yang telah lama hilang.
Saat Awan menghadiri undangan makan malam untuk pertama kalinya dengan keluarga Cinta, saat itulah Awan tidak sengaja melihat foto semasa kecil Cinta bersama saudara-saudaranya. Sejak saat itulah, Awan mengetahui kalau Cinta adalah gadis yang sama pernah ia temui 15 tahun yang lalu di rumah sakit.
“Jodoh tidak akan ke mana. Kalau sudah di takdirkan bertemu, kita pasti akan di pertemukan kembali,” ucap Awan pelan sambil memandangi dua tiket pesawat ke Jerman di atas meja belajarnya.
Cinta duduk termenung di ruang tv, ia tengah memikirkan semua kejadian yang belakangan ini membuatnya tidak bisa tidur. Saat melihat Cinta tengah sendirian di ruang tv, Faris yang baru saja selesai mandi menghampiri anaknya dan duduk di sampingnya.
“Nggak bisa tidur?”
“Eh, Papih. Iya, nih, udah berusaha tidur tapi nggak bisa.”
Faris tersenyum dan menggenggam kedua tangan anak perempuannya itu begitu erat.
“Cinta, ada yang ingin papih bicarakan denganmu.”
“Apa itu, Pih?”
“Soal rahasia yang hampir 25 tahun terakhir ini papih dan mamih rahasiakan darimu dan juga adik-adikmu,” katanya pelan seraya menatap wajah anaknya itu begitu lekat.
“Rahasiakan? Rahasia apa, Pih?” tanya Cinta tidak mengerti.
__ADS_1
“Sudah saatnya kamu tahu, Nak. Ini soal kakakmu," katanya pelan.
“Kakak?” ulang Cinta bingung dan masih tidak mengerti.
Faris menghela nafas panjang dan menatap wajah anaknya itu dengan ekspresi yang terlihat serius.
“Sebenarnya, kalian bertiga itu mempunyai satu kakak laki-laki,” tutur Faris yang membuat Cinta begitu terkejut mendengarnya.
“A . . . apa? Kami bertiga mempunyai kakak laki-laki?”
Faris mengangguk pelan, ia membawa sebuah album lama dari kamarnya dan memperlihatkan beberapa lembar foto bayi laki-laki kepada anaknya.
“Namanya Rasya. Rasya terpaut 3 tahun dari kalian semua, Rasya adalah anak pertama kami. Kami berdua sangat menyayangi Rasya dan begitu mencintainya. Setelah 3 tahun kelahiran Rasya, mamihmu melahirkan kalian bertiga hingga membuat Rasya sangat bahagia sekali.
“Keluarga kita begitu sempurna dan sangatlah bahagia, kebahagiaan itu membuat hati kami sangatlah senang. Rasya juga sangat menyayangi kalian bertiga dan selalu menjaga kalian dengan menemani kalian tidur. Apa kamu sudah lupa, saat usiamu 4 tahun kamu pernah bermain dengan kakakmu di halaman belakang rumah?”
Cinta terdiam dan mencoba dengan keras untuk mengingat kenangan itu. Cinta teringat sesuatu, kalau dia memang pernah bermain bersama dengan seorang pria di halaman belakang rumahnya. Bahkan, pria itu pernah memandikannya saat masa kecil dulu.
“Jadi, kenangan yang pernah terlupakan olehku itu adalah kakakku sendiri?”
Faris menggangguk dan memperlihatkan foto keluarga mereka saat anak-anaknya masih kecil dulu. Di dalam foto tersebut, terdapat beberapa lembar foto Cinta bersama kedua saudaranya dan juga Rasya.
“Ini foto kalian berempat, manis sekali bukan?” katanya pelan dengan mata berkaca-kaca.
“Pih, sekarang kak Rasya di mana?” tanya Cinta tak sabaran.
“Saat usia kalian menginjak 5 tahun, papih dan mamih merayakan hari ulang tahun kalian di taman. Saat itu kalian tengah bermain bersama-sama. Namun, saat itu Pelangi berjalan menjauh dari kami dan hampir pergi bersama orang lain. Dan, itu membuat papih dan juga mamih mencarinya karena panik. Dan, karena itu jugalah kami malah meninggalkan kalian.
“Saat kami kembali, suasana taman saat itu sangat kacau karena terjadi kebakaran besar. Kami mencoba untuk menyelamatkan kalian semua dan tidak untuk Rasya.”
“Lalu, bagaimana dengan kak Rasya?”
“Rasya hilang, kami sudah mencoba untuk mencarinya. Tapi, sampai sekarang papih masih belum bisa menemukannya. Walau kebakaran itu tidak merenggut nyawa korban, tapi kami kehilangan anak kami. Sejak itulah, mamihmu trauma akan kebakaran. Melihat atau mendengar kata kebakaran saja, mamihmu pasti akan menangis dan berteriak histeris. Selama hampir 15 tahun ini, papih masih berusaha dan berdoa agar bisa dipertemukan kembali dengan Rasya.
“Namun, tetap saja kami tak menemukan keberadaan kakakmu itu. Walau papih dan mamih tampak bahagia di depan kalian, tapi sebenarnya hati kami sedih dan menjerit menahan tangis. Bahkan, saat kalian memberikan surprise saat anniversary pernikahan papih dan mamih, kami menangis pilu di dalam kamar kami.”
Flash back . . . .
“Kenapa mamih menangis?”
“Mamih ingat Rasya, Pih. Mamih tidak bisa melupakan Rasya, anak kita yang paling tua tidak ada di sini untuk merayakan hari pernikahan kita. Mamih merindukan Rasya, Pih! Mamih merindukan anak kita!” tangis Nindi hingga membuat Faris memeluknya begitu erat.
“Mih, papih sedang berusaha mencarinya. Sampai saat ini papih tidak pernah lelah mencari anak kita.”
“Mamih merindukan Rasya, Pih. Mamih sangat menyayangi Rasya!” tangisnya kembali.
Mendengar cerita tentang kakaknya, tak terasa butiran air mata Cinta berjatuhan. Cinta tidak menyangka sama sekali kalau ia akan melupakan kakaknya yang dulu pernah menjaganya dan juga melindunginya.
“Cinta akan bantu papih mencari kak Rasya. Cinta janji akan menemukan kak Rasya, Pih!” katanya seraya menggenggam erat kedua tangan ayahnya
Faris tersenyum lebar penuh harap dan memegang lembut kepala anak gadisnya itu dengan mata berkaca-kaca. Cinta pun memeluk Faris dengan erat dan menangis dalam pelukannya.
“Kamu memang anak papih yang bisa diandalkan, Cinta!” ucap Faris dengan terbata-bata. “Tolong rahasiakan ini dulu dari adik-adikmu. Jika waktu sudah memungkinkan, biarkan papih yang menceritakan dan menjelaskan semuanya kepada adik-adikmu.”
Cinta mengangguk pelan hingga membuat Langit yang baru saja keluar dari kamar mandi tidak sengaja melihat kakaknya dan juga Faris sedang berpelukan sambil menangis bersama.
__ADS_1
Ada apa dengan mereka berdua malam-malam begini? Kenapa mereka menangis? Batinnya.
Semenjak pembicarannya dengan papihnya semalam, keesokan harinya Cinta lebih banyak terdiam hingga membuat Pelangi bertanya kepada Langit ada apa sebenarnya dengan kakaknya? Bahkan, Langit sendiri mengangkat kedua bahunya karena bingung harus menjawab apa.
Sesampainya di kampus pun, Cinta masih saja terlihat murung dan tidak bersemangat sama sekali.
“Ada apa dengannya?” tanya Pelangi yang baru saja keluar dari mobil begitu melihat kepergian Cinta yang terlihat lesu itu.
“Entahlah, mungkin dia ada masalah,” jawab Langit yang teringat kejadian semalam saat kakaknya tengah menangis bersama dengan ayahnya.
Apa karena kejadian semalam? Batinnya.
“Gue pergi duluan,” tutur Pelangi saat melihat Bumi berada di kantin seorang diri. “Bumi!” panggilnya setengah berteriak.
“Pelangi? Ada apa?” tanya Bumi saat melihat wanita yang ia cintai itu datang menghampirinya.
“Ada hal ingin gue bicarakan sama lo.”
“Soal apa?” tanyanya pendek.
“Soal Cinta,” jawab Pelangi hingga membuat Bumi terdiam sejenak.
“Cinta? Kenapa dengannya?” tanyanya yang tampak enggan ketika mendengar nama Cinta disebut.
“Ikut gue," ucap Pelangi pelan hingga membuat Bumi mengikutinya dari belakang
“Ada apa?” tanya Bumi saat mereka berada di taman kampus.
“Lupakan gue dan berhenti untuk mencintai gue!” tutur Pelangi tiba-tiba hingga membuat Bumi begitu terkejut saat mendengarnya.
“Tapi, kenapa tiba-tiba? Apa hak lo melarang-larang gue untuk berhenti mencintai lo?”
“Akan ada hati seseorang yang terluka kalau lo terus mencintai gue, Bumi.”
“Siapa? Siapa yang terluka? Gue tidak peduli dengan orang itu karena orang yang gue cinta cuma lo, Ngi,” katanya seraya mengguncang-guncangkan tubuh Pelangi.
“Cinta akan terluka, Bumi. Dia akan terluka karena gue,” jawab Pelangi yang membuat Bumi terdiam beberapa saat.
“Cinta? Kenapa dia harus terluka dengan perasaan gue terhadap lo? Cinta itu sangat mendukung perasaan gue, Ngi."
“Dia bohong, dia menutupi itu semua karena Cinta suka sama lo, Bom. Cinta itu suka sama lo sejak kalian masih Sma!” seru Pelangi hingga membuat Bumi begitu terkejut hingga melepaskan genggaman tangannya dari tubuh Pelangi.
“Cinta sayang sama lo, Bom. Dia memendam perasaannya selama ini. Apa elo tidak pernah sadar, elo yang sering bertemu dengannya setiap hari, tidak pernah mengetahui perasaan Cinta yang sebenarnya terhadap lo?”
“Cinta suka sama gue? Itu mana mungkin, elo pasti bohong kan sama gue?” teriaknya yang masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Gue mana mungkin bohong sama lo. Cinta itu memang mencintai lo Bumi, sejak dulu!”
Bumi memalingkan wajahnya. Ia terlihat begitu syock, bahkan ia sampai memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan dengan ekspresi wajah yang terlihat frustasi.
“Tapi, orang yang gue suka itu lo, Ngi!”
“Bom, gue sama sekali tidak menyukai lo. Gue hanya menganggap lo sebagai sahabat dan elo tahu sendiri kan siapa orang yang gue suka selama ini?”
Bumi terdiam dan tak menjawab. Ia menatap nanar wajah Pelangi. Namun, ia masih terlihat syok dan tidak menyangka sama sekali jika sahabatnya sendiri menyimpan rasa suka untuknya.
__ADS_1
Apa yang harus ia lakukan setelah ia mengetahui perasaan sahabatnya itu?