Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Rindu


__ADS_3

Liburan singkat Cinta dan Bumi terpaksa harus diakhiri dengan cerita menyedihkan dari Sasha. Begitu mendengar cerita Sasha, Cinta dan Bumi memeluk sahabatnya itu begitu erat dan menangis bersama dalam sebuah pelukan persahabatan.


"Elo pasti bisa sembuh, Sha. Gue yakin itu," tangis Cinta.


"Gue gakut, Ta, Bom. Gue takut," tangisnya pilu.


"Jangan takut, Sha. Ada kami yang akan selalu bersamamu, kami akan selalu bersamamu sampai kapan pun itu," tutur Bumi pelan dengan kedua bola yang sudah terlihat berkaca-kaca menahan tangis.


Mereka bertiga menangis bersama. Walau semua orang memandang ke arah mereka dengan sinis, tapi mereka tak peduli itu. Karena dengan menangis, setelah itu mereka akan menjadi kuat kembali.


Begitu mendengar cerita Cinta tentang Sasha, Pelangi dan juga Langit meneteskan air mata mereka. Langit dan Pelangi tidak menyangka kejadian yang sebenarnya akan seperti itu. Dan, itu benar-benar di luar dugaan mereka selama ini.


"Jadi, gue mohon sama lo, Lang. Bahagialah bersama Kejora," tutur Cinta pelan.


Langit menghapus air matanya. Ia langsung pergi meninggalkan kedua saudaranya. Ia langsung menuju halaman depan rumahnya begitu mengambil kunci motornya di kamarnya.


"Langit mau ke mana, Ta? Ini sudah malam," tutur Pelangi begitu melihat kakaknya pergi dengan menggunakan motor Ninjanya.


"Biarkan dia pergi, Pe. Mungkin, Langit ingin pergi menemui Sasha. Biarkan mereka bertemu dan melepas rindu."


Selama di perjalanan, Langit terus mengenang pertemuan pertamanya dengan Sasha di kantin saat awal-awal masuk perkuliahan. Mereka pertama kali bertemu saat diperkenalkan oleh Cinta, kakaknya.


"Sasha," ujar Sasha sambil mengulurkan tangan kanannya dan tersenyum simpul kepada Langit.


"Langit," ucap Langit membalas uluran tangan Sasha dan memasang ekspresi wajah juteknya.


Langit juga kembali mengenang kembali di mana, ia pertama kalinya mengagumi sosok Sasha. Saat itu Sasha yang menjadi anggota Bem tengah melakukan orasi di depan kampus, di mana saat itu mereka sedang demo untuk menurunkan biaya pembangunan kampus yang terlalu mahal.


Melihat Sasha yang sedang orasi, di sanalah awal mula Langit tersenyum dan mengagumi sosok Sasha yang pintar. Bahkan, Saat Pelangi baru putus dengan pacarnya, Sasha menasehati adiknya itu dengan kata-katanya yang cukup bijaksana dan dewasa.


Bahkan, saat pentas seni yang diadakan anak Bem di kampus, Sasha unjuk kebolehannya dengan melakukan musikalisasi puisi dengan dirinya yang memetik gitar. Langit juga tak lupa dengan Sasha yang mendokumentasikan saat dirinya dan kedua saudaranya perform di atas panggung.


Langit juga sering kali menonton konser indie bersama dengan Sasha, Cinta dan juga Bumi. Membantu Sasha menghafal UUD setiap kali mereka ujian.


"Udah bener belum, El?"

__ADS_1


"Salah, ulangi!" seru Langit sambil memukul kepala Sasha pelan dengan menggunakan buku.


"Hah? Serius?"


"Iya, ulangi lagi."


Langit juga teringat ketika dirinya, Regan, Sasha dan juga Pelangi yang menonton pertandingan karate untuk mendukung kakaknya dan juga Bumi. Mereka juga yang selalu setia menonton dan menemani Langit setiap kali ada pertandingan basket.


Suara Pelangi dan Sasha yang melengking selalu terdengar paling keras jika mereka mendukung teamnya agar memberi semangat kepadanya.


Ada pula setiap kali Langit ulang tahun, Sasha selalu saja hadir. Sasha selalu menomor satukan Langit, walau dia ada janji dengan Guntur atau yang lainnya, Sasha selalu menyempatkan waktunya untuk memeriahkan ulang tahunnya. Dan, setiap kali Langit berulang tahun, Sasha selalu memberikan hadiah yang sama. Yaitu bola basket dan miniatur miniatur mobil kesukaannya.


Kadang kala, mereka sering kali pergi menonton film berdua, menghabiskan waktu bersama membuat benih-benih cinta itu muncul sendirinya di dalam hati Langit.


Langit berhenti tepat di depan rumah Sasha. Ia melihat ke arah kamar Sasha yang lampunya terlihat masih menyala.


"Kenapa elo nggak pernah bilang semuanya sama gue, Sha? Kenapa elo malah bilang sama Kejora? Sekarang, gue merasa bersalah sama lo, Sha," tutur Langit pelan.


Langit melihat jendela kamar Sasha terbuka. Ia juga melihat ada sosok Sasha yang muncul di balik jendela itu sambil menatap ke arah langit malam yang berbintang.


Gadis yang cukup lama ia sukai itu terlihat sedang tersenyum tipis saat melihat bintang-bintang malam yang berkedap kedip menunjukan cahaya abadi mereka.


Merasa ada seseorang yang berjalan, Sasha menatap lurus ke depan. Begitu melihat ada sosok Langit yang berdiri dan menatapnya dari balik pagar rumahnya, Sasha terdiam tak bergeming.


Mereka saling beradu pandang cukup lama. Seperti ada tersirat rasa rindu yang mendalam dari balik kedua bola mata mereka yang sendu.


Langit mengambil handphonenya dari balik kantong jaketnya. Mendengar handphonenya berdering, Sasha langsung mengangkatnya dan kembali menatap Langit yang tengah memandanginya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Langit disebrang telepon sana.


"Gue baik-baik saja."


"Sudah makan?"


"Udah. Elo udah makan?"

__ADS_1


"Bagaimana gue bisa makan, orang yang selalu menemani gue makan sudah tidak ingin duduk bersama gue untuk makan seperti biasanya."


Sasha tersenyum kecil. Kedua bola matanya yang sendu mulai menyipit dan kembali menatap Langit dengan penuh kerinduan.


"Aku rindu," tutur Langit pelan hingga membuat Sasha menitikkan air matanya.


"Aku juga rindu."


"Aku sudah tahu semuanya, Sha. Kenapa kamu melakukan semua itu padaku? Kau tak menganggapku?"


"Kau sudah tahu?" tanya Sasha tampak terkejut.


"Mmhh, aku sudah tahu semuanya."


"Kau menyukai Kejora?"


"Kejora gadis yang baik, tentu aku menyukainya."


"Kalau kau menyukainya, bahagiakan dia seperti kau pernah membahagiakan aku dulu."


Langit terdiam. Ia menahan air matanya agar tak terjatuh. Namun, air matanya tetap mengalir membasahi kedua pipinya.


"Jika Kejora gadis yang baik, kau harus mempertahankannya. Dia pantas dicintai dan dimiliki olehmu, Langit "


"Lalu, bagaimana perasaanku? Selama 3 bulan ini, aku mencoba untuk melupakanmu. Tapi, hatiku selalu menuntun ke arahmu."


"Jangan menyakiti Kejora dengan perasaanmu terhadapku, Lang. Jika kau melakukannya, itu sama saja kau menyakitiku juga."


"Apa kau sudah melakukan pengobatan?"


"Mmhh, minggu depan aku dan mamah akan pergi ke Singapore. Aku akan melakukan perawatan dan pengobatan di sana. Katanya, di sana ada dokter spesialis kanker mata yang bagus. Jadi, aku akan ke sana."


"Berapa lama di sana?" tanya Langit kembali.


"Aku tidak tahu. Mungkin cukup lama, bisa sampai satu atau dua tahun."

__ADS_1


Langit kembali terdiam. Apakah Langit sudah siap untuk merindukan gadis yang ia sukai itu? Apa Langit siap tidak bertemu dengan Sasha selama 2 tahun? 3 bulan saling menjauhi dan jarang bertemu saja bagaikan neraka untuknya, bagaimana mungkin 2 tahun ia bisa bertahan?


"Sebelum kau pergi, maukah kau menghabiskan sisa hari-harimu di Indonesia bersamaku?" tanya Langit kembali dan menunggu jawaban Sasha dengan harap-harap cemas.


__ADS_2