
Wiryo mengambil sebatang rokok kretek dari saku bajunya. Kemudian dia menyalakan rokok dengan korek api, dan menyesapnya dalam dalam. Asap mengepul diantara rintik hujan pagi ini. Sudah hampir jam delapan pagi, namun langit nampak gelap gulita, majikannya belum terlihat keluar dari rumah utama.
"Kok belum berangkat Mas?," Seorang perempuan di belakang Wiryo bertanya, sembari merapikan bajunya yang berantakan.
"Bos kita masih enak enakan tidur di kasur empuknya mungkin," Wiryo memicingkan matanya, memperhatikan Irah yang bersiap kembali ke rumah utama.
Irah adalah juru masak keluarga Doto. Perempuan berusia tiga puluh tahunan itu memang memiliki hubungan asmara dengan Wiryo. Mereka kerap memadu kasih di kamar sopir yang terletak terpisah dengan rumah utama.
Begitupun pagi ini. Selesai memasak untuk tuan dan nyonyanya, Irah mengendap endap ke tempat Wiryo. Merasa aman, majikannya belum bangun dari tidurnya, mereka berdua menyalurkan hasratnya di pagi hari. Mereka tidak memberitahukan hubungan yang terjalin karena khawatir dilarang dan dipecat oleh majikannya. Yang penting bisa puas, begitu yang ada di benak dua orang yang sedang dimabuk cinta itu.
"Mas, aku tak balik dulu ya. Siapa tahu Nyonya sudah bangun," Irah berbisik pada Wiryo.
"Sun dulu dong," Wiryo menatap Irah dengan genit.
"Iihhh," Irah mencubit lengan Wiryo manja dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir Wiryo.
"Dih, bau rokok Mas," Irah mengibas ngibaskan tangannya, dan setengah berlari segera pergi meninggalkan Wiryo.
Untung saja bagian kamar sopir tempat Wiryo beristirahat itu tidak dipasang cctv oleh sang majikan. Jadi, dia cukup aman untuk bertemu dengan Irah sewaktu waktu.
Wiryo kembali menyesap rokok kretek di tangannya. Hari ini mungkin hari keberuntungannya, dia tidak perlu pergi mengantarkan Pak Doto kemana mana. Tidak ada tanda tanda sang majikan keluar dari kamarnya.
"Huuaaahhhh," Wiryo menguap lebar, dan meregangkan badannya.
__ADS_1
Wiryo hendak kembali tidur di kasur bekas pergumulannya dengan Irah tadi, saat terdengar langkah kaki berjalan di teras depan rumah utama. Pak Doto, dengan kumis tebalnya terlihat berjalan menuju garasi mobil.
"Duh, nggak bisa lihat orang lagi nyante tuh Pak Tua," Wiryo bergumam sendiri.
Wiryo segera berlari di tengah gerimis yang mulai berubah menjadi titik besar air hujan. Wiryo mendahului Tuannya menuju garasi dan segera membukakan pintu mobil.
"Silahkan Tuan," Wiryo mempersilahkan Pak Doto masuk ke dalam mobil. Majikannya itu hanya diam saja, tak melirik sedikitpun pada sopirnya yang telah berusaha cekatan.
"Mohon maaf, . .hari ini kita kemana Pak? Kantor atau . .," Wiryo bertanya sesudah masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman. Kalimatnya tidak selesai ketika melihat Pak Doto melotot padanya.
"Nggak usah banyak tanya. Jalan saja dulu," Pak Doto berkata ketus. Wiryo langsung terdiam tak berkutik. Mobil meluncur keluar dari rumah dan Wiryo masih merasa bingung sebenarnya majikannya ini hendak kemana.
"Wiryo, antar aku ke desa N. Kamu masih ingat kan tempat Ki Sapta?," Pak Doto bertanya pada Wiryo yang terlihat berkonsentrasi menyetir.
"Emm, masih Tuan," Jawab Wiryo tidak terlalu yakin.
Ki Sapta merupakan seorang dukun yang bisa dikatakan sebagai penasehat spiritual Pak Doto. Seingat Wiryo, Pak Doto sudah cukup lama tidak mengunjungi Ki Sapta. Mungkin sudah hampir satu tahun tidak ke rumah Dukun dengan cincin akiknya yang segedhe gaban itu. Meski demikian setahu Wiryo, tiap bulan Pak Doto masih rutin mengirim 'jatah' pada Ki Sapta. Masih rutin juga berkonsultasi melalui sambungan telepon.
Wiryo tahu betul ketika Pak Doto berkunjung ke rumah Ki Sapta, pasti ada sesuatu hal yang gawat ataupun mendesak. Terakhir kali ke rumah Ki Sapta, Pak Doto meminta Dukun itu untuk menyingkirkan salah satu saingan bisnisnya. Ya, Ki Sapta memang biasa melakukan praktek ilmu hitam, santet, klenik dan semacamnya. Wiryo sadar, untuk menjadi seorang Doto Wignyo Kusumo tidak senyaman yang dibayangkan. Banyak yang harus dikorbankan, bahkan rasa kemanusiaan itu sendiri.
Wiryo begitu penasaran, siapa lagi yang mau dihabisi secara 'halus' oleh majikannya itu. Namun, sekali lagi dia tidak berani bertanya. Dia hanya bisa fokus memperhatikan jalanan yang kali ini cukup lengang. Hujan selalu menjadi pemicu rasa malas bagi tiap orang yang ingin beraktifitas pagi.
Menyusuri jalanan beraspal halus yang panjang berkelok, mobil mewah Pak Doto berbelok di jalan pedesaan dengan bebatuan terjal yang tidak terlalu tertata. Beberapa kali kolong mobil terdengar menghantam bebatuan. Wiryo berusaha berhati hati mengendarai mobil majikannya. Kemahirannya mengemudi benar benar diuji di jalanan seperti itu.
__ADS_1
"Aduh Tuan, mohon maaf jalannya benar benar sulit dilalui," Ujar Wiryo khawatir, karena beberapa kali Pak Doto terantuk.
"Kamu tahu, kenapa jalanan ke tempat Ki Sapta sesulit ini? Tidak berubah dari dulu," Pak Doto tersenyum sinis, bertanya pada Wiryo.
"Iya, tidak berubah. Kenapa bisa begitu Tuan?," Wiryo bertanya sambil tetap berkonsentrasi pada jalan di depannya.
"Karena Ki Sapta ditolak oleh lingkungannya. Ki Sapta diasingkan oleh warga sekitar dan membangun rumah di tengah tegalan seperti ini. Warga takut pada Ki Sapta yang memiliki ilmu hitam," Pak Doto bercerita dengan tatapannya yang mengerikan.
"Aku berhasil menemukan Ki Sapta dari salah seorang kenalan. Dengan uangku, Ki Sapta sampai saat ini menjadi pion yang melindungi dan mendukungku," Pak Doto tersenyum bangga.
"Padahal Tuan tidak perlu seperti itupun sudah kaya raya," Wirya bergumam, keceplosan.
"Ha ha ha ha. . .Wiryo Wiryo, pemikiran seperti itulah yang tidak akan pernah bisa membuatmu maju," Pak Doto tergelak, tawanya pecah, serak.
"Kaya saja tidak cukup. Untuk menjadi orang yang dihormati, disegani dan berpengaruh kamu harus punya kekuatan. Kekuatan untuk selalu bersaing menjadi yang teratas dalam rantai makanan. Di dunia ini, kalau bukan kamu yang menerkam maka kamu yang akan diterkam," Pak Doto tersenyum bengis.
Wiryo tidak mengerti jalan pikiran Pak Doto. Buat apa kaya raya, tapi kehilangan hati nurani sebagai seorang manusia. Wiryo sendiri sebenarnya juga bukan orang yang lurus lurus banget. Tapi setidaknya dia merasa tidak se melenceng pola pikir majikannya itu.
"Uang memang bisa memberimu kekuatan. Tapi uang selalu terbatas, ada orang orang yang memiliki kekuatan uang di atas kita. Makanya kita butuh kekuatan penunjang yang lain selain uang. Dan untunglah aku bertemu dengan Ki Sapta," Pak Doto mengepalkan tangannya.
Wiryo begidik ngeri, majikannya itu benar benar sudah gila. Gila harta, gila kekuatan dan kekuasaan. Manusia memang akan selalu tidak pernah puas dengan segala yang dimilikinya. Namun demikian, bukan berarti kita melupakan hati nurani dan rasa kemanusiaan karena keserakahan. Bersyukur adalah cara terbaik untuk menikmati apa yang sudah kita capai dan miliki saat ini.
Bersambung . . .
__ADS_1
Mohon maaf beberapa hari tidak sanggup untuk update. Kebetulan banyak deadline kerjaan di akhir bulan. Tetap diusahakan untuk update setiap hari.
Terimakasihh . . . jaga kesehatan, tetap bahagiaa :)