
Seperti biasa, jam empat sore suasana pabrik asbes begitu ramai. Para karyawan berjejal memasukkan kartu absensinya ke mesin yang terletak di depan pintu keluar. Di antara mereka ada Prambudi yang terlihat santai berada di barisan belakang, menunggu agar suasana lebih senggang. Dan dimana ada Prambudi, pasti ada Linda yang mengekornya.
"Mas, seharian ini kita belum ngobrol sama sekali kayaknya," Linda mencolek lengan Prambudi, memulai percakapan.
"Ya kan kita digaji buat kerja Lin. Bukan ngobrol," Prambudi menyahut, terdengar malas.
"Ihh, emang nggak kangen ngobrol sama aku?," Linda terlihat manyun. Prambudi sebenarnya menahan tawa, entah kenapa wajah Linda yang seperti itu terlihat lucu.
"Aku hanya kangen sama Citra dan Amanda Lin," Prambudi menjawab singkat.
"Ya nggak pa pa Mas aku dikangenin di urutan yang ketiga saja," Linda menatap Prambudi yang terlihat acuh tak acuh.
"Udah dulu ya, aku mau absen. Terus pulang," Prambudi melangkah maju, memasukkan kartu absensinya. Dan bergegas hendak menuju tukang becak motor yang telah parkir di seberang jalan.
"Tunggu Mas," Linda menarik lengan Prambudi, mencegahnya berjalan menjauh.
"Apa sih Lin?," Prambudi merasa jengkel kali ini.
"Kamu kenapa terasa menjauh dariku?," Linda menatap Prambudi.
"Enggak kok, biasa saja. Ya kita memang tak pernah dekat. Aku hanya ingin berteman secara biasa saja di tempat kerja, dengan semua orang," Prambudi berkata penuh penekanan.
"Tapi aku pengen kita lebih dekat," Linda semakin berani mengungkapkan isi hatinya.
"Nggak Lin, aku nggak bisa. Aku udah punya istri dan anak," Prambudi mengibaskan lengannya hingga cengkeraman Linda terlepas.
"Aku nggak pernah meminta punya rasa ini padamu Mas. Ini terjadi begitu saja," suara Linda terdengar bergetar.
__ADS_1
"Lupakan. Itu salah Lin!," Prambudi melotot. Dia merasa risih, meskipun saat ini kantor telah sepi tapi dia takut ada orang yang melihat dan menyebabkan kesalahpahaman.
"Aku tahu Mas. Maka dari itu, beri aku kesempatan, satu kali saja. Biar aku bisa meyakinkan diriku bahwa rasa ini hanya sebuah rasa penasaran saja," Linda berkaca kaca. Baru kali ini entah mengapa dia merasa begitu emosional di hadapan seorang laki laki.
"Nggak bisa Lin. Jujur kamu cantik, manis, karier mu bagus. Aku nggak mau bermain api, mungkin bagimu sudah biasa. Tapi aku takut terbakar. Jadi, tuntaskan rasa penasaranmu pada laki laki lain yang tepat! Aku hanya menginginkan Citra, sekarang dan seterusnya!," Prambudi kali ini benar benar melangkah pergi. Meskipun dia sempat menoleh, dan dari sudut matanya dia bisa melihat Linda tertunduk, menangis.
Prambudi segera menyeberang jalan dan naik ke kursi penumpang becak motor. Dia sempat memperhatikan Linda yang masih berdiri mematung dan tertunduk. Ada sebagian kecil hatinya yang merasa iba, namun Prambudi segera membuang jauh perasaan itu dan mengajak si tukang betor untuk secepatnya memacu kendaraannya.
Setelah Prambudi pergi Linda mengusap air matanya.
"Sialan. Capek capek nangis nggak mempan juga," Linda menghentak hentakkan kakinya ke tanah. Dia benar benar merasa jengkel.
Sementara itu Prambudi menikmati suasana jalanan di sore hari. Angin semilir dengan langit yang berwarna cerah menemani perjalanan pulang Prambudi.
"Mbak yang tadi siapa Mas?," Tukang becak motor bertanya, mencoba memulai percakapan.
"Ohh rekan kerja Pak," Prambudi menjawab pendek. Dia sebenarnya enggan membahasnya.
"Huusshh. Jangan ngawur Pak. Saya kan sudah punya istri," Prambudi sedikit membentak.
"He he he. . .becanda Mas," Bapak tukang betor cengengesan.
"Mas, aku tak ke sungai dulu ya kebelet pipis," Tukang betor itu segera menepikan motornya. Dengan tergesa gesa dia sedikit meloncat dari kendaraannya. Kemudian berlari turun dari jalanan menuju ke sungai.
Prambudi menghela nafas, merasa sedikit kesal dan dongkol. Prambudi memperhatikan tempatnya berhenti. Jalanan yang sepi, terlihat rumpun bambu yang begitu lebat di seberang jalan. Angin sepoi sepoi meniupnya hingga menyebabkan masing masing pohon bergesekan dan menimbulkan suara yang khas.
Di antara suara bambu yang bergesekan sayup sayup terdengar suara yang lain. Suara yang terdengar lirih dan sangat jauh. Lama kelamaan suara itu semakin jelas terdengar di telinga Prambudi.
__ADS_1
"Pram bu diii," Suara perempuan bersahut sahutan memanggil nama Prambudi
Prambudi memperbaiki posisi duduknya. Dia mulai merasa nggak nyaman. Keringat sebesar biji jagung mulai menetes di kedua keningnya. Tenggorokannya tercekat, susah untuk bersuara.
"Praamm buu diiii," Terdengar kembali suara perempuan memanggil nama Prambudi.
Prambudi semakin terbelalak kaget dan takut, saat melihat ada beberapa wanita berdiri berjejer di bawah rumpun bambu. Dengan sigap Prambudi merogoh sesuatu di saku celananya. Dia memejamkan mata dan mengucap sebuah mantra.
"Aku jaluk padhang ati. Ora duwe padhang ati. Duweku dimar kurung cumanthol pulung e atiku. Kekuwunge byar padhang ketrawangan,"
Selesai mengucap mantra, Prambudi membuka mata perlahan. Dan ternyata para wanita yang semula berada di bawah rumpun bambu itu telah lenyap tak berbekas.
Plaakkk
Sebuah tepukan mengenai bahu Prambudi. Dia terlonjak kaget dan menoleh. Ternyata bapak tukang betor berdiri di belakang Prambudi dengan senyumnya yang nyengir.
"Ngelamun Mas?," tanya Bapak tukang betor heran melihat Prambudi yang terbengong bengong.
"Bapak ngagetin saja," Prambudi menghela nafas. Wajahnya masih terlihat ketakutan.
"Mas nya pucet, kayak baru lihat setan saja. . .he he," Bapak tukang betor cengengesan. Prambudi diam saja tak menyahut.
Akhirnya becak motor kembali melaju meninggalkan rumpun bambu yang masih berayun ayun dan bersuara terkena hembusan angin. Prambudi masih merogoh saku celananya dan menggenggam sesuatu di dalamnya. Benda yang ada di dalam saku celananya itu sangat penting bagi Prambudi. Jika tidak ada benda itu entah bagaimana hidupnya kini. Hal buruk bisa saja terjadi sewaktu waktu. Setelah kurang lebih lima belas menit, akhirnya becak motor sampai di depan rumah Prambudi.
"Lima belas ribu seperti biasa kan Pak?," Prambudi bertanya memastikan. Bapak tukang betor tersenyum dan mengangguk. Prambudi membayar pas, becak motor segera memutar arah ketika tugasnya sudah selesai.
Prambudi hendak masuk rumah saat terlihat Citra dan Amanda berjalan dari arah rumah Bu Utami. Prambudi tersenyum seraya melambaikan tangannya. Sambil menunggu anak dan istrinya sampai, Prambudi sekali lagi merogoh saku celananya. Begitu kagetnya Prambudi saat menyadari benda yang dia cari tidak ada disana. Prambudi mulai panik, mungkinkah benda itu terjatuh saat di becak motor tadi?
__ADS_1
Prambudi segera mengambil HP nya dan menelepon si tukang betor, namun tidak diangkat. Sekali lagi dia mencoba memencet nomor si tukang betor, menunggunya beberapa detik dan masih juga tidak diangkat. Keringat dingin mulai menetes membasahi sekujur badan Prambudi. Dia ketakutan. Prambudi menggigiti kuku jari tangannya, memikirkan cara untuk keluar dari situasi yang membuatnya panik ini.
Bersambung . . .