
Saat Rohmat si tukang sayur tancap gas karena ketakutan melihat wanita aneh nan misterius, Citra baru saja terbangun dari tidurnya di sebuah kamar perawatan klinik di pusat kota. Tidurnya terasa nyenyak, badannya juga terasa lebih segar. Dilihatnya Amanda masih tidur di ranjang sebelah tempat tidur Citra. Sementara Prambudi terdengar mendengkur dalam posisi duduk di kursi, berhadap hadapan dengan Citra.
Citra mencoba menggerakkan kakinya, masih terasa nyeri. Namun tidak se nyeri kemarin, Citra sudah mampu mengangkat kakinya. Citra menatap lekat wajah suaminya yang sedang tidur. Wajah yang terlihat lelah. Citra membelai lembut dagu suaminya yang memiliki lesung unik dan khas.
"Mmm," Prambudi menggeliat, merasakan sentuhan lembut dari istrinya. Prambudi membuka mata, Citra ada di hadapannya dengan selang infus yang tertancap di tangan kanannya.
"Gimana? Udah enakan?," Prambudi bertanya dengan lembut, Citra tersenyum dan mengangguk pelan.
"Lhoh Mas, bajumu kok basah?," Citra bertanya ketika menyadari bagian pundak Prambudi terlihat basah.
"Iya, tadi malam pas gerimis aku keluar nyari kopi," Prambudi menjawab kemudian memeriksa bajunya yang memang terlihat basah.
"Nggak kerasa dingin?," Tanya Citra heran. Padahal AC di atas pintu menyala sejak tadi malam.
"Nggak tuh," Ujar Prambudi singkat.
Prambudi beranjak dari duduknya, segera melepas baju yang dia kenakan. Badannya yang tegap dan berotot seolah dia pamerkan di hadapan istrinya. Meskipun belum mandi, aroma tubuh Prambudi tercium wangi, malah terlampau wangi untuk ukuran orang yang baru bangun tidur.
"Mas ganti parfum?," Citra mengendus endus Prambudi.
"Ah, enggak kok. Ini kan baju dari kemarin. Kebetulan di kantor ada itu. . . orang jualan parfum terus dikasih tester," Prambudi ikut mengendus endus badannya sendiri.
"Lhoh Mas, itu kok lebam lebam lagi badanmu?," Citra kembali bertanya. Dia melihat pundak dan pinggang bawah Prambudi yang terlihat lebam menghitam.
"Kecapek an mungkin," Prambudi mengangkat bahunya, tak peduli.
Prambudi mengambil kaos di dalam tas, dan segera memakainya. Prambudi kemudian duduk di ranjang tempat tidur Citra. Dia menatap Citra, menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Ada apa Mas?," Citra bertanya saat melihat tatapan sendu dari Prambudi.
"Maafkan aku ya Cit. Aku belum bisa membahagiakan kamu. Baru beberapa hari kita pindah rumah, kamu terluka kayak gini," Prambudi mengecup tangan Citra. Prambudi tampak memyesal dan merasa bersalah.
"Apakah kamu menyayangiku Mas?," Tanya Citra. Pertanyaan yang terasa tidak nyambung dengan ucapan Prambudi sebelumnya.
__ADS_1
"Iya, selalu," Jawab Prambudi cepat dan singkat.
"Maka, kamu nggak perlu meminta maaf. Karena yang kamu lakukan untukku atas dasar rasa sayangmu," Citra tersenyum.
Prambudi menghela nafas, kemudian mendekap Citra dengan erat. Tidak ada wanita lain di hati Prambudi. Citra adalah cinta pertama dan terakhir bagi Prambudi. Kalaupun beberapa kali dia melirik wanita lain, atau mungkin salah satunya adalah Linda, itu tidak lebih karena dia adalah seorang laki laki. Laki laki selalu memiliki mata yang tajam, mata yang mudah sekali menemukan keindahan dan kecantikan tanpa disengaja. Namun hatinya selalu untuk Citra. Hanya Citra seorang yang terukir di relung hatinya yang terdalam.
"Mas?," Citra memanggil Prambudi.
"Apa?," Prambudi masih mendekap erat istrinya itu.
"Aku merasa nggak nyaman di rumah kita yang sekarang. Kalau kamu sudah ada uang, kita pindah ya?," Ujar Citra lirih, dia sedikit ragu ragu dengan permintaannya.
"Sabar ya Cit. Tinggal sebentar lagi kok," Jawab Prambudi pelan.
"Apanya Mas?," Citra nggak ngerti maksud Prambudi. Dia melepaskan pelukannya.
"Pokoknya percaya sama aku. Kamu sabar aja dulu, biarkan aku yang bekerja, aku janji padamu semua akan indah pada waktunya," Prambudi menatap Citra lekat. Sorot matanya begitu serius.
"Oh iya, Mas nggak kerja?," Citra kembali bertanya pada Prambudi. Menyadari bahwa pagi beranjak pergi.
"Aku sebelum subuh tadi udah WA Linda. Minta ijin untuk nggak masuk kantor sehari ini. Aku kan karyawan baru, dan yang bertanggung jawab mengawasi kinerjaku si Linda itu," Prambudi menjelaskan.
"Huuh Linda lagi," Citra sewot mendengar Prambudi menyebut nama Linda.
"Hmm, kamu kenapa sih?," Prambudi mengelus elus rambut panjang Citra. Istrinya itu tetap terlihat begitu cantik, bahkan dalam keadaan sakit dan belum mandi semenjak kemarin sore.
"Mas sadar nggak sih, Linda itu tertarik sama kamu Mas," Citra melotot menatap Prambudi.
"Ohh, itu. . .ya resiko sih," Ujar Prambudi enteng.
"Resiko?," Citra terbelalak, tak mengerti. Matanya semakin melotot.
"Resiko punya suami ganteng. . ha ha ha ha," Prambudi tergelak, tawanya pecah.
__ADS_1
"Iihhhhh," Citra mencubit perut Prambudi sekuat tenaga.
"Auuww auuww auwwww," Prambudi meringis kesakitan.
"Eheemmm," Terdengar suara deheman dari depan pintu kamar. Perawat datang, dan merasa risih melihat kemesraan pasutri itu di pagi hari. Prambudi dan Citra langsung terdiam, menahan tawa.
"Maaf, Bu Citra akan kami bawa ke ruang rontgen," Ucap perawat perempuan sambil membuka kuncian roda tempat tidur Citra. Kemudian perawat mendorong tempat tidur Citra menuju ruang rontgen. Prambudi tetap berada di dalam kamar, menunggui Amanda yang masih tertidur lelap.
Jam setengah 10 pagi hasil pemeriksaan Citra sudah keluar. Citra dinyatakan baik baik saja, hanya butuh lebih banyak istirahat. Kaki Citra mengalami peradangan pada tendonnya. Citra dianjurkan rawat inap satu malam lagi dan esok hari sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Tuh kan Mas, aku nggak pa pa," Citra tersenyum, mencolek pipi Prambudi.
"Iya, kamu kuat, strong. Jatuh dari tangga lho padahal," Prambudi terkekeh, ada perasaan lega di hatinya.
"Ngomong ngomong Mas, waktu aku jatuh yang kedua, pas nungguin kamu pulang, sebelum pingsan aku seperti melihat beberapa perempuan mengerubutiku Mas," Citra mengingat ingat kejadian sebelum dia pingsan. Citra sendiri ragu, apakah kejadian itu mimpi atau sebuah kenyataan.
"Kan sudah kukatakan Cit. Kamu kemarin itu mimpi. Tidur sambil berjalan, mengigau," Prambudi segera menimpali. Dia terlihat tidak suka istrinya kembali membahas kejadian kemarin.
"Yaahh, si cemong lupa nggak dibawa lho," Amanda tiba tiba saja nyeletuk. Dia teringat kucingnya.
"Nggak pa pa Sayang, cemong kan kucing pintar. Dia bisa cari makan sendiri. Di rumah banyak tikus, biar makan tikus tuh. Besok pas kita pulang pasti lebih gendut si cemong," Prambudi mengusap usap kepala Amanda.
"Ayah yakin? Tahu darimana?," Amanda tidak bisa menerima penjelasan Ayahnya. Bocah satu itu memang cerewet dan kritis.
"Tadi malam ayah lihat pas pulang ke rumah," Jawab Prambudi spontan.
"Mas tadi malam pulang?," Kali ini Citra yang bertanya. Dia terlihat heran dengan perkataan Prambudi.
"Cuma asal jawab Cit," Prambudi segera meralat ucapannya, berbisik pada Citra.
Prambudi berbohong pada Citra. Memang kenyataannya tadi malam saat Citra dan Amanda tidur, Prambudi pulang ke rumah. Dia kembali ke Rumah Sakit di atas jam 2 malam. Prambudi belum bisa mengatakan apapun pada Citra untuk saat ini. Belum waktunya. . .
Bersambung. . .
__ADS_1