Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Halusinasi??


__ADS_3

"Mandaaaa," Citra berteriak sambil terus berlari.


Nafasnya memburu, perasaannya campur aduk. Meskipun dia tidak yakin yang dilihatnya melompat dari balkon tadi adalah Amanda putri semata wayangnya, namun Citra terlanjur panik. Dia merasa bersalah meninggalkan Amanda di rumah itu sendirian. Bulir bulir air mata menetes, membuat penglihatannya buram. Tapi dia tetap sekuat tenaga berlari tak peduli piyamanya tersangkut dahan ataupun salah satu sandalnya terlepas.


Sementara Prambudi yang basah kuyup karena terjengkang di sungai, berusaha mengejar Citra yang lari kesetanan. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tiba tiba saja istrinya itu berteriak histeris dan lari tunggang langgang. Dan jadilah pasangan suami istri itu berlarian di kebun orang di pagi hari.


"Mandaaa," Citra terus memanggil manggil anaknya saat sampai di halaman belakang rumah.


Nafas Citra tersengal, dadanya terasa sesak. Halaman belakang kosong, tidak ada apapun disana. Padahal Citra tadi yakin betul ada anak kecil melompat dari balkon. Citra mendongak menatap balkon di atas tempatnya berdiri, kosong.


Citra kemudian berlari masuk ke dalam rumah langsung menuju tangga. Dengan tergesa gesa Citra menaiki tangga, menuju lantai atas. Citra sampai di balkon, kosong. Tidak ada apapun tidak ada siapapun. Citra melongok, memperhatikan sungai tempatnya tadi berfoto. Di batu tempat dia bersandar dan berpose tadi nampak seorang perempuan berbaju putih lusuh dengan rambut terurai, berdiri diam mematung.


Citra merasakan dingin di tengkuknya. Citra mundur beberapa langkah.


Dug


Badan Citra menabrak sesuatu di belakangnya. Keringat dingin mulai menetes, suaranya tercekat. Citra secepat kilat menoleh dan bersiap berlari, namun dia urungkan niatnya. Ternyata Prambudi, suaminya yang ada di belakangnya. Dengan seluruh tubuh yang basah kuyup dan ekspresi wajahnya yang masam. Citra kembali menoleh melihat ke arah sungai, dan perempuan berbaju putih yang dia lihat tadi telah lenyap.


"Kamu kenapa sih Cit?," Prambudi bertanya heran dengan kelakuan istrinya.


"Manda Mas, Manda," Citra kembali teringat pada putrinya. Dia sekali lagi berlari menuruni tangga. Sial bagi Citra, karena terburu buru kakinya terpeleset, dia jatuh berguling di tangga.


Bruuggg


"Auuwwww," Citra mengerang kesakitan.


"Citraaa," Prambudi terpekik, berlari tergopoh gopoh dan segera menghampiri Citra.


"Mas, kakiku. . .," Citra memegangi kakinya, terlihat memar di bagian tulang kering dan tumitnya. Prambudi segera membopong dan membawa Citra masuk ke dalam kamar.


Ternyata Amanda masih berada di dalam kamar. Anak itu terlihat mengucek ngucek matanya. Dengan segala kehebohan orangtuanya pagi ini, Amanda baru saja terbangun dari tidur lelapnya.

__ADS_1


"Mamah kenapa yah?," Amanda bertanya dengan muka bantalnya.


"Manda, Manda. . .kamu nggak pa pa Nak? Sini Nak, peluk Mamah Nak," Citra terlihat menangis, tubuhnya telah ditidurkan Prambudi di atas kasur.


Amanda berjalan mendekat, melihat kaki Mamahnya yang terluka. Anak kecil itu menatap Citra dengan wajah heran dan bingung. Citra tiba tiba saja memeluk Amanda dengan erat. Tangisnya pecah.


"Huuu huuu. . .Kamu nggak pa pa Nak?," Tanya Citra sambil mengusap usap rambut Amanda.


"Aku kan baru bangun tidur Mah," Amanda menjawab dengan wajah polosnya.


"Cit, udah deh. Kamu kenapa sih?," Prambudi pun sangat heran dengan kelakuan istrinya itu.


"Tadi tadi. . .aku lihat anak kecil jatuh dari balkon Mas. . .huu huu. . .kupikir itu Manda Mas," Citra menangis tersedu, dia masih kesulitan menguasai dirinya. Citra terlihat masih sangat syok.


"Mamah kenapa sih Yah?," Amanda kembali bertanya pada Prambudi. Dia nampak kebingungan melihat Mamahnya yang menangis heboh seperti itu.


"Mamah tadi jatuh Nak," Prambudi mengelus rambut Amanda.


"Mas nggak percaya sama aku?," Citra menatap Prambudi, wajahnya sembab.


"Bukan nggak percaya. Tapi aku yakin kamu itu berhalusinasi. Kamu butuh hiburan," Prambudi membalas tatapan Citra.


"Maafin aku ya, mungkin memang kamu perlu beradaptasi lebih lama dengan lingkungan baru. Kamu kecapek an harus mengurus aku dan Manda. Maafin aku karena telah membawamu pergi dari istana dan mengajakmu tinggal di gubuk bersamaku," Prambudi menggenggam tangan Citra dengan erat. Citra jadi merasa bersalah mendengar permintaan maaf suaminya itu.


"Tidak Mas. Istanaku adalah saat bersama kalian berdua," Citra merangkul Prambudi dan Amanda.


"Yaudah kamu istirahat saja dulu. Nanti, hari minggu kita jalan jalan deh ke mall di kota," Prambudi menatap Citra, ekspresi dan senyumnya terasa meneduhkan. Citra mengangguk pelan.


"Manda yok ikut yayah. Kita ke dapur bikin susu. Biarkan Mamah istirahat dulu," Prambudi mengangkat Amanda, menggendongnya menuju dapur.


"Mamah kok aneh sih yah?," Amanda masih terlihat bingung. Wajar saja, dia baru bangun tidur langsung melihat Mamahnya yang menangis seperti itu.

__ADS_1


"Sudah, nggak pa pa. Mamah butuh liburan saja kok," Prambudi membuatkan gadis kecilnya segelas susu.


"Yayah nggak kerja?," Amanda kembali bertanya. Anak itu terkadang memang terasa lebih dewasa untuk ukuran balita.


"Oh iya ya," Prambudi melirik jam di dinding. Sudah setengah tujuh lebih.


"Yayah tak mandi dulu ya. Kamu habiskan susu, terus temenin Mamah di kamar ya," Prambudi mencium pipi Amanda.


Prambudi berjalan ke halaman belakang, mengambil handuk yang tergantung di tali jemuran. Dia mendongak menatap ke balkon. Prambudi melihatnya. Melihat sosok sosok yang menatapnya dengan penuh kebencian. Prambudi merogoh saku celananya, memejamkan mata.


Kekuwunge byar padhang ketrawangan


Lenyap, beberapa pasang mata yang mengawasi Prambudi hilang.


Selesai mandi, Prambudi sudah mengenakan pakaian seragamnya. Bahkan memakai pakaian gratisan dengan warna hijau terang dari perusahaan pun, Prambudi terlihat gagah dan keren. Prambudi mendekati Citra dan Amanda yang masih berada di atas kasur. Citra kelihatan sulit untuk bergerak karena kakinya yang terasa nyeri dan linu.


"Aku mau berangkat kerja. Biar tak panggilin Bu Utami ya, buat nemenin kalian," Prambudi mengelus elus lengan istrinya. Citra mengangguk setuju.


"Emm, ini HP mu Cit. Rusak, kecelup air sungai tadi," Prambudi meletakkan HP Citra yang mati di atas meja sebelah tempat tidur. Citra menghela nafas, HP nya rusak, kakinya pun terasa sakit dan susah untuk digerakkan.


"Nanti sore kita ke dokter. Tak nyari pinjaman mobil," Ucap Prambudi pelan.


"Jangan pinjam ke Linda ya Mas," Citra buru buru berpesan pada Prambudi. Prambudi mengangguk setuju. Kali ini dia tidak ingin mendebat istrinya.


Prambudi mengecup kening Citra, kemudian beralih mencium pipi Amanda. Prambudi berangkat bekerja. Dia terlebih dahulu menyempatkan diri mampir ke rumah Bu Utami, meminta tolong untuk menemani Citra dan Amanda. Bu Utami setuju dan segera berkunjung ke rumah tetangga barunya itu.


Seharian bersama Bu Utami dan Amanda, Citra tidak merasakan atau melihat keanehan apapun di rumahnya. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Prambudi, Citra berhalusinasi karena kecapek an atau mungkin butuh liburan???


Bersambung. . .


Jangan sampai karena capek kalian juga berhalusinasi ya gaes, banyakin istirahat dan tetap bahagia :)

__ADS_1


__ADS_2