Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Jimat Prambudi


__ADS_3

Mobil Pak Doto memasuki halaman sebuah rumah yang cukup lapang. Rumah yang tidak terlalu besar dengan beberapa tumbuhan merambat di temboknya yang belum di plester. Terlihat dinding batu bata yang tersusun kurang rapi disana sini. Samping rumah terdepat beberapa pohon pucung yang cukup besar. Pohon yang seluruh bagiannya mengandung racun.


Meskipun hari masih cukup pagi, cuaca gerimis dan kondisi rumah yang berada di tengah tegalan membuat suasana redup dan muram. Seakan malam sebentar lagi akan datang. Udara dingin yang terasa menusuk kulit juga melengkapi perasaan tidak nyaman berada di rumah tersebut.


"Wiryo, kenapa kamu bengong saja?," Pak Doto menepuk pundak Wiryo dengan kasar.


"Ah, tidak Tuan," Wiryo sedikit gelagapan, lamunannya buyar. Sedari tadi Wiryo merasa ngeri dengan aura rumah yang tidak nyaman.


Pak Doto dan Wiryo berjalan menuju ke teras rumah. Teras rumah dengan lantai tanah yang tidak rata. Ada 3 burung perkutut di dalam sangkar diletakkan tergantung di kayu penyangga genteng. Buruk perkutut dengan warna warna yang kelam.


Hurrr keteku ku ku ku ku


Huurrr keteku ku ku ku kuu


Ketiga burung berkicau bersamaan. Sebuah kicauan yang entah mengapa membuat bulu kuduk Wiryo berdiri. Pintu depan rumah terbuat dari kayu jati dengan ukiran yang sangat indah.


Tok tok tok


"Kulonuwuunn," Wiryo mengetuk pintu. Pak Doto bersedekap di belakang Wiryo.


Suasana hening.


"Kulonuwuunnn," Wiryo kembali mengetuk pintu.


Krieetttt . . .


Pintu dibuka dari dalam. Seorang wanita, memakai daster bercorak polkadot terlihat malu malu membuka pintu.


"Monggo, silahkan masuk," Ujar wanita tersebut, mempersilahkan tamunya masuk.


"Emm, Ki Sapta nya ada mbak?," Wiryo sedikit ragu bertanya. Selama ini setahu Wiryo, Ki Sapta tinggal sendirian. Kali ini tiba tiba saja ada wanita cantik dan masih muda mungkin usianya sekitar 20 tahunan yang membukakan pintu. Mungkinkah anak Ki Sapta?


"Iya ada Pak. Mas Sapta ada di kamar," jawab wanita tersebut.


Wiryo terbelalak kaget. Wanita itu memanggil Ki Sapta dengan sebutan Mas. Berarti mungkin saja dia adalah istri Ki Sapta. Wiryo menelan ludah.


"Hei! Ngapain kau bengong kayak sapi ompong?," Pak Doto menghardik dan memukul bahu Wiryo. Wiryo gelagapan kaget.

__ADS_1


"Ma maaf Tuan," Wiryo membungkuk meminta maaf.


"Ayok masuk," Pak Doto melotot ke arah Wiryo. Wiryo beringsut minggir, mempersilahkan majikannya itu untuk masuk rumah terlebih dahulu. Setelahnya, Wiryo mengekor di belakang Pak Doto.


Wiryo dan Pak Doto duduk di kursi kayu panjang dengan warna pernis yang mengkilat. Mereka menunggu si tuan rumah keluar dari kamarnya. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Ki Sapta keluar dari kamarnya. Ki Sapta mungkin seumuran dengan Pak Doto, terlihat sudah cukup tua dengan dahinya yang penuh kerutan.


Ki Sapta memakai udheng (ikat kepala) berwarna hitam dengan baju batik yang terlihat lusuh. Yang paling mencolok dan unik dari penampilan Ki Sapta adalah cincin dengan batu akik yang sangat besar di seluruh jari tangannya. Ki Sapta juga memakai kalung dengan liontin batu akik yang terlihat besar dan berat.


"Wahh, Tuan Doto. Sudah lama?," Ki Sapta menyalami Pak Doto dan Wiryo.


"Baru juga duduk Ki," Pak Doto tersenyum, terlihat ramah pada guru spritualnya itu.


"Maaf Ki. Yang bukain pintu tadi, siapa?," Pak Doto bertanya, nampaknya dia juga sama penasarannya seperti Wiryo.


"Ha ha ha ha. . .itu istri saya tuan. Baru juga dua minggu saya kawinin," Ki Sapta tertawa serak.


"Ohhh," Pak Doto manggut manggut.


"Tuan mau punya istri muda juga?," Ki Sapta menggoda Pak Doto.


Wiryo mencibirnya dalam hati. Bagi Wiryo, omongan Pak Doto barusan hanyalah sebuah angin lalu, lain di mulut lain pula di hati.


"Oh iya, kersa napa ( ada perlu apa) kemari?," Ki Sapta kali ini bertanya dengan ekspresi yang nampak serius.


"Ini Ki. Saya mau Ki Sapta memeriksa sesuatu," Pak Doto merogoh saku celananya.


Sebuah kertas kecil dikeluarkan Pak Doto dari saku celananya, kemudian menyodorkan kertas tersebut pada Ki Sapta. Wiryo nggak tahu apa isi kertas tersebut. Sepertinya sangat penting, mengingat tuannya sampai jauh jauh ke tempat Ki Sapta untuk berkonsultasi.


"Hmmm, coba tak lihatnya dulu," Ki Sapta membuka bungkusan kertas tersebut dengan berhati hati. Ada beberapa tulisan dengan aksara jawa di dalamnya.


"Ha ha ha ha," Ki Sapta tiba tiba saja tertawa dengan cukup keras.


"Ada apa Ki ?," Pak Doto terlihat begitu penasaran.


"Ini jimat tolak ndemit, tolak setan," Ki Sapta masih terkekeh.


"Memangnya darimana Tuan mendapatkan jimat ini?," Ki Sapta balik bertanya pada Pak Doto.

__ADS_1


"Dari kamar menantuku yang brengsek," Pak Doto merasa geram sendiri, mengingat kembali sosok Prambudi.


"Ha ha ha, berarti menantu anda itu seorang yang penakut," Ki Sapta masih saja terus tertawa.


"Jimat itu mungkinkah ada fungsi lainnya Ki?," Pak Doto kembali bertanya pada Ki Sapta, seakan tidak puas dengan jawaban yang dia peroleh.


"Nggak ada. Jimat ini memang untuk mengusir makhluk lain agar tidak mendekat. Namun, cukup mengherankan juga menantu anda mengerti tentang jimat jimat kuno seperti ini," Ki Sapta manggut manggut.


"Jangan jangan anakku dipelet sama si Prambudi sialan itu," Pak Doto mengumpat, sumpah serapah keluar dari mulutnya untuk Prambudi.


Wiryo manggut manggut, dia akhirnya tahu tujuan majikannya datang ke tempat Ki Sapta. Jadi semua ini ada kaitannya dengan si Prambudi.


"Apa perlu menantu anda itu dilenyapkan?," Ki Sapta memicingkan matanya, terlihat keningnya semakin berkerut.


"Nggak usah Ki. Kasihan anakku nanti bisa stres kehilangan suaminya. Dia begitu sayang pada pemuda kere brengsek sialan itu," Pak Doto mengurut urut keningnya sendiri.


"Ha ha ha. . .terus, anda tadi kemari jauh jauh hanya ingin bertanya soal jimat ini?," Ki Sapta tertawa mengejek.


"Iya Ki. Dan sekalian tolong Ki Sapta, bantu saya untuk mencari anak dan menantu saya itu. Mereka kabur nggak jelas kemana," Pak Doto meminta Ki Sapta mencari tempat tinggal Prambudi.


"Gampang," Jawab Ki Sapta enteng, kemudian berjalan masuk kembali ke dalam kamarnya.


Selang beberapa menit berikutnya, Ki Sapta kembali duduk di hadapan Pak Doto dan Wiryo. Nampak beberapa butir keringat menetes dari keningnya.


"Nggak ketemu Tuan," Jawab Ki Sapta dengan nafas yang sedikit memburu.


"Kok bisa Ki?," Pak Doto nampak kecewa.


"Entahlah, penglihatan saya seperti tertutup jaring jaring hitam. Menantu anda ternyata orang yang cukup berbahaya secara spiritual. Saya harap anda harus lebih berhati hati," Ki Sapta menjelaskan.


Pak Doto terlihat tidak puas dengan jawaban dari Ki Sapta. Pak Doto segera pamit setelahnya. Wiryo hanya bisa menuruti perintah majikannya tanpa banyak bertanya.


"Kita sekarang kemana Pak?," Tanya Wiryo setelah mobil memasuki jalanan yang halus, jalan kabupaten.


"Kita pergi ke markas para centengku!," Perintah Pak Doto dengan ketus.


Bersambung . . .

__ADS_1


__ADS_2