Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Orang hilang


__ADS_3

Pagi ini akhirnya Citra mendapatkan telepon dari Prambudi. Rasa cemas, dan kegalauannya sedikit terobati saat sang suami menjanjikan esok hari akan menjemputnya. Ada banyak pertanyaan di benaknya, namun dia tidak ingin membahasnya melalui sambungan telepon. Citra khawatir terjadi perdebatan yang tidak perlu. Dia akan meminta penjelasan ketika sudah bertemu langsung dengan Prambudi.


Sementara Amanda masih tertidur pulas di ranjangnya. Citra beranjak dari tempat tidurnya. Dia berjalan ke kamar mandi, sekedar untuk mencuci muka. Setelahnya Citra mengganti piyama yang dia kenakan dengan setelan baju olahraga. Citra ingin menghilangkan kegundahannya dengan jogging di sekitar rumah.


Citra berjalan menuruni tangga menuju lantai satu saat melihat Nyonya Doto duduk di sofa sambil melamun. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh bundanya itu. Dua orang wanita dalam satu rumah yang sama sama dalam suasana hati yang gundah.


"Bunda, sedang apa?," Citra bertanya melihat Nyonya Doto duduk menopang dagu.


"Ah Citra," Nyonya Doto nampak cukup terkejut.


"Ini, ayahmu seharusnya dari kemarin sudah pulang ke rumah. Tapi sampai saat ini belum ada tuh," Nyonya Doto menghela nafas.


"Ya, di telfon dong Bun," Citra tersenyum. Ternyata dia tidak sendirian galau karena perilaku suami.


"Sudah, katanya masih mau ke tempat ki Sapta," jawab Nyonya Doto.


"Hah? Ayah masih suka pergi ke dukun kayak gitu Bun?," Citra terhenyak mendengar jawaban Bundanya.


"Tau tuh. Gunanya apa juga pergi ke dukun," Nyonya Doto mendengus kesal.


"Dinasehatin lah Bun. Usia semakin bertambah, bukankah lebih baik kalau perbanyak ibadah," Citra akhirnya duduk di sebelah Bundanya.


"Memangnya suamimu sudah rajin ibadah? Kamu kok sok sok an nasehatin ayah bundamu," Nyonya Doto sewot.


"Ya setidaknya Mas Pram nggak main dukun atau yang begituan Bun," Jawab Citra membela diri.


"Ngeles saja kamu," Nyonya Doto berdiri, kemudian berjalan meninggalkan Citra.


Citra beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan ke halaman depan dan tanpa sengaja memperhatikan area garasi. Citra menyadari sesuatu yang ganjil. Dia tidak menemukan motor Prambudi disana. Citra kemudian mencarinya di bagian lain, namun tidak terlihat motor kesayangan suaminya itu dimanapun. Bahkan di garasi belakang yang kotor berdebu, tidak ada motor yang dia cari.

__ADS_1


Setengah berlari Citra menuju ke pos satpam. Citra menemui Pak satpam yang terlihat sedang asyik melihat acara musik pagi di tv.


"Eh, non Citra," sapa pak Satpam dengan ramah.


"Bapak tahu dimana motor Mas Pram?," Citra bertanya, dia terlihat panik.


Pak Satpam mendadak diam membisu. Ekspresi wajah rentanya terlihat bingung dan takut. Citra tahu betul Pak Satpam tak pernah bisa berbohong padanya.


"Bapak jawab saja. Nggak usah takut," Citra mendesak.


"Maaf Non. Waktu Non Citra pergi dari rumah ini diam diam lewat pintu belakang, saya yang tak tahu apa apa kena masalah Non. Jadi, perkara motornya Mas Pram saya nggak mau ikut ikut Non," Pak satpam menunduk ketakutan.


"Aku mohon pak kasih tahu saya. Kali ini nggak akan jadi masalah kok. Saya cuma ingin tahu kemana motor kesayangan Mas Pram," Citra terus memaksa, meminta penjelasan.


Pak satpam menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia tolah toleh sebentar, seakan takut ada orang lain yang melihatnya. Dia menghela nafas perlahan. Pak satpam selalu tak mampu untuk menolak permintaan apapun dari putri majikannya itu. Pak satpam yang selalu melihat tumbuh kembang Citra mulai dari bayi hingga sekarang, memiliki rasa sayang seperti ke anaknya sendiri pada Citra.


"Emm, sebenarnya motor Mas Pram sudah dibakar sama Bapak," Jawab pak satpam setengah berbisik.


"Iya Non. Sama Pak Doto. Waktu itu bapak marah besar karena Mas Pram ngajak Non Citra pergi dari rumah," Pak satpam menunduk, dia mengutuk mulutnya sendiri yang tak bisa menjaga lisannya.


"Keterlaluan! Itukan motor satu satunya milik Mas Pram," Citra terlihat hendak menangis, wajahnya memerah.


"Maaf Non. Saya takut Non," Pak satpam cepat cepat membungkuk di hadapan Citra.


Citra balik badan, berlari ke dalam rumahnya kembali. Niatnya untuk jogging dia urungkan. Amarah, kesal dan rasa bencinya menguar. Citra tak habis pikir dengan orangtuanya itu. Bagaimana mungkin mereka bisa berbuat begitu kejam pada menantunya sendiri?


"Bunda," Citra memanggil Nyonya Doto ketika Bundanya itu tengah sibuk di dapur bersama Bi Irah.


"Ada apa Cit?," Nyonya Doto menoleh. Dia cukup kaget melihat putrinya itu melotot nampak penuh amarah.

__ADS_1


"Apa yang telah ayah dan Bunda lakukan? Kalian apakan motor Mas Pram?," Citra hendak menangis, namun dia menahannya.


"Ohh ituu," Nyonya Doto berpikir sejenak, mencoba mencari cari alasan yang tepat.


"Itu motornya si Pram lagi mogok, kan sudah lama tuh nggak dinyalain. Sekarang posisinya di bengkel," Nyonya Doto berkelit, mencoba menenangkan kemarahan Citra.


"Bunda bohong! Kenapa kalian begitu jahat sama Mas Pram? Motor itu satu satunya harta benda yang Mas Pram punya. Dia beli dari hasil keringatnya sendiri!," Citra benar benar menangis kali ini.


"Kamu kenapa sih? Nanti Bunda transfer deh buat si Budi itu. Biar beli baru saja. Motor butut juga pake ditangisin segala," Ucap Nyonya Doto enteng.


"Ayah dan Bunda nggak pernah tahu apa yang sudah Mas Pram lakukan buat aku. Tanpa Mas Pram mungkin sekarang aku sudah nggak ada di dunia ini. Tapi kalian dengan begitu tega memperlakukan Mas Pram seakan dia sangat rendah dan hina," Citra mengusap air mata dengan punggung tangannya, dia segera berlari menuju kamarnya di lantai atas.


"Apa sih? Drama banget kamu Nak," Nyonya Doto geleng geleng kepala melihat kelakuan Citra.


Citra masuk ke dalam kamar, menutup dan mengunci pintunya. Diliriknya Amanda, putri kecilnya itu masih tidur pulas. Citra mengambil headset di dalam laci kemudian menancapkan di HP nya. Dia duduk di sudut ranjang, mendengarkan radio kesukaannya.


🎶Kau hancurkan aku dengan sikapmu


Tak sadarkah kau telah menyakitiku


Lelah hati ini meyakinkanmu


Cinta ini membunuhku🎶


Citra mendengarkan lagu sambil memandangi cincin pemberian Prambudi. Cincin yang terlihat mengkilap dan begitu indah. Lagu di radio telah selesai diputar, suara penyiar terdengar ceria dan lembut menyapa telinga Citra.


" Sebuah lagu bertajuk Cinta ini membunuhku sudah Dani luncurkan untuk menemani pagi kalian. Meskipun lagunya galau semoga pagi kalian tetap cerah ceria tidak dalam kondisi gundah gulana ya"


"Sebelum kita berlanjut ke lagu berikutnya, Dani punya informasi terkait orang hilang. Dicari orang hilang, bernama Wiwit Syaileni atau Leni. Usia dua puluh lima tahun, dengan ciri ciri, kulit putih, rambut hitam sebahu, memakai cincin emas putih dengan gambar segitiga. . . Untuk yang mengetahui atau melihat orang dengan ciri ciri tersebut dapat menghubungi nomor 082xxxxxxxx"

__ADS_1


Citra tersentak kaget. Orang hilang yang memakai cincin yang sama dengannya. Mungkinkah hanya sebuah kebetulan semata? Citra segera mengetik nomor kontak yang disebutkan. Entah kenapa tiba tiba saja muncul sebuah kecurigaan pada suaminya. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres.


Bersambung . . .


__ADS_2