Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Kesalahan fatal


__ADS_3

Prambudi berjalan menaiki anak tangga, disusul oleh Sinta dengan tatapan matanya yang kosong. Beberapa langkah di belakang mereka berdua, laki laki dengan tongkat kayu berbentuk ukiran indah, nampak berjalan terseok seok membuntuti.


Kriieetttt


Prambudi membuka pintu kamar atas. Aroma wangi dan anyir langsung menyeruak keluar, menimbulkan sensasi tak nyaman di indera penciuman. Dengan sedikit kasar Prambudi menarik tangan Sinta ke sudut kamar, kemudian mengikat tangan dan kakinya. Kini Sinta terikat sempurna, dengan ekspresi yang masih linglung. Sementara di sebelahnya, Mbah Kadir tergeletak begitu saja dengan nafasnya yang tersengal.


Prambudi menatap Mbah Kadir, tidak terlalu terlihat jelas wajahnya karena pencahayaan kamar yang sangat kurang. Prambudi menyentuh pergelangan tangan kanan kakek tua itu.


"Denyut nadimu masih bagus. Kamu menyulitkanku Mbah. Kenapa tak segera pergi saja ke alam sana?," Prambudi bergumam sendiri. Rasa iba di hatinya benar benar telah tertelan kegelapan.


Prambudi duduk di lantai sebelah Mbah Kadir. Beberapa kali dia menarik nafas panjang. Sementara itu laki laki bertongkat terlihat sibuk di sudut ruangan yang lain. Dia melipat lipat daun pisang untuk diisi dengan bunga setaman. Juga menyulut arang yang ditumpuk di sebuah pecahan genteng. Di hadapannya terdapat 8 buah bejana yang terbuat dari tanah liat tertutup rapat.


"Persiapannya beres mbah?," Prambudi bertanya memecah kesunyian.


"Ya, sudah genep jangkep," jawab laki laki bertongkat.


"Siapa ka mu sebenarnya," Mbah Kadir tiba tiba saja bersuara. Dengan nafasnya yang tersengal dan terbata bata dia menatap Prambudi. Tangannya bergerak mencoba meraih tubuh Prambudi, namun tenaganya begitu lemah.


"Waahh, masih sadar toh?," Prambudi tersenyum masam.


"Kamu ternyata anggota kumpulan orang sesat," Ucap Mbah Kadir lirih.


"Kamu tak tahu apa apa Mbah," Sergah Prambudi.


"Apa yang nggak kutahu? Kamu anak kemarin sore yang ingin mendapatkan harta dengan cara yang kotor. . .cara cara keji, asalkan cepat,. .uhuk uhukk," Mbah Kadir terbatuk batuk, suaranya semakin lirih.


"Jangan menilai aku dari sudut pandangmu Mbah. Kamu memang lebih sepuh dariku, tapi kamu tak pernah merasakan pahitnya takdir kehidupan. Orang sepertimu yang ditakdirkan memiliki lahan luas, kaya dari lahir, nggak akan tahu rasanya jadi orang yang dipandang hina, sebelah mata sepertiku," Prambudi menyandarkan kepalanya pada dinding.


"Jangan memelototi aku dalam keadaan sekarat seperti itu Mbah. Aku takkan gagal seperti Mbak Retno. Tekadku lebih kuat, rencanaku lebih matang," Prambudi menarik nafas pelan.


"Kau? Kenal Retno? Si siapa kau?," Mbah Kadir bertanya, pandangannya mulai kabur. Kesadarannya semakin susah dipertahankan.

__ADS_1


"Yah, kupikir mungkin tak ada salahnya memberitahumu. Semoga setelah ini, kamu bisa istirahat dengan tenang di alam sana ya Mbah," Prambudi membungkuk, mendekatkan bibirnya pada telinga Mbah Kadir.


Prambudi membisikkan sesuatu yang membuat Mbah Kadir melotot. Kakek renta itu kaget dengan ucapan Prambudi. Nafasnya semakin jarang. Sambil menatap wajah Prambudi, Mbah Kadir mulai merasakan sensasi dingin menjalar dari ujung kakinya perlahan naik seperti tertarik sesuatu. Hingga akhirnya energi kehidupan hanya terasa tersisa di pangkal tenggorokannya. Beberapa detik berikutnya, tubuh kakek tua dengan tubuh kurusnya itu, terbujur kaku tak bernafas lagi.


Prambudi menarik nafas panjang, dia kembali menyandarkan badannya pada dinding. Dia memang sudah seringkali melihat kematian di depan matanya. Namun setiap kali itu terjadi, rasa sedih dan bersalah selalu datang mengusik hatinya.


"Jangan lemah Prambudi. Takdir yang terjadi padamu tidak ada jalan untuk menghindari atau menghentikannya. Kecuali kamu menyelesaikan alurnya," Laki laki bertongkat bergumam menatap Prambudi.


Prambudi diam saja tak menyahut.


"Semua telah siap Prambudi. Tinggal satu lagi. Setelah itu kamu akan menjadi orang yang tak tersentuh oleh kesedihan," Laki laki bertongkat tersenyum, terlihat bengis dan jahat.


"Emmhhh," Sebuah suara melenguh, membuat Prambudi terkesiap.


Sinta mulai terbangun, sadar dari pengaruh mantra Prambudi. Buru buru Prambudi mengambil lakban dan merekatkan pada mulut wanita itu.


"Mmhhh mmhhh mmhhh," Sinta mulai bergerak liar. Menghentak hentakkan kaki dan tubuhnya yang terikat sangat kuat.


"Tenanglah," Ucap Prambudi pelan.


Sinta menatap Prambudi. Dia tak mengenalinya sama sekali. Dalam benaknya muncul banyak pertanyaan, siapa laki laki itu? Untuk apa laki laki itu menculiknya?


"Kamu pasti bingung. Kita tak saling kenal. Tapi aku membawamu ke tempatku dengan cara seperti ini. Aku tak mengharapkan kamu akan memaafkanku untuk apa yang akan terjadi. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku melakukan ini karena terpaksa," Prambudi mendekati tubuh Sinta. Sedikit kasar dia menarik celana pendek Sinta.


"Mmhhh mmhhmm mhhmmmm," Sinta berusaha menolak dan melawan, namun percuma. Tenaganya begitu lemah.


Prambudi berhasil melepaskan celana Sinta. Dan saat itulah dia terbelalak kaget. Dia tak menyangka telah melakukan kesalahan yang fatal. Prambudi berjalan mundur beberapa langkah, kemudian duduk bersimpuh di lantai.


"Ada apa?," laki laki bertongkat bertanya pada Prambudi.


"Dia tidak sedang datang bulan," Prambudi menggaruk garuk kepalanya meski tak terasa gatal.

__ADS_1


"Bodoh! Bagaimana kamu bisa keliru? Bukankah selama ini kamu selalu tepat?," laki laki bertongkat sedikit membentak. Dia terlihat kesal.


"Mana kutahu! Aku sudah mengawasi tempat itu cukup lama untuk mempersiapkan semua ini. Selama ini setiap rumah dengan lampu teras padam artinya mereka tidak menerima 'tamu'. Yang berarti mereka sedang datang bulan. Brengsek!," Prambudi mengumpat.


Sinta terdiam mendengarkan percakapan dua orang di hadapannya. Kini dia tahu cara penculik itu memilih targetnya. Sedikit bisa bernafas lega, karena Sinta bukan orang yang diharapkan oleh sang penculik.


"Terus, sekarang gimana Mbah?," Prambudi bertanya, masih dengan menggaruk garuk kepalanya.


"Ada dua pilihan, pertama cari wanita lain. Atau yang kedua kita tunggu wanita ini sampai datang bulan," Laki laki bertongkat menawarkan solusi.


"Siaalll! Brengsek!," Prambudi memukul lantai beberapa kali.


* * *


Sementara itu, di rumah Mbah Kadir beberapa warga berkumpul membawa obor. Prapto, orang yang biasa mengurus Mbah Kadir terlihat berdiri di hadapan para warga. Ekspresinya nampak begitu serius. Di depannya ada Sumini dan sang suami.


"Kamu yakin Sum, Mbah Kadir pergi ke rumah tusuk sate itu?," Prapto bertanya, kumisnya terlihat naik turun sesuai gerak bibirnya.


"Mbok ya sumpah. Aku ketemu sendiri kok. Malah sempat tak tanya juga. Katanya mau ke rumah itu. Aku nggak bohong. Kalau sampai aku bohong suamiku boleh deh samber bledeg," jawab Sumini enteng.


"Ayo kita periksa rumah tusuk sate itu Pak!," Teriak salah satu warga di barisan belakang


Satu perkataan yang langsung menyulut semangat warga yang lain. Semuanya setuju untuk segera menuju rumah di ujung pertigaan itu.


"Mbat Retno dulu hilang juga di rumah itu. Dan sekarang Mbah Kadir. Besok siapa lagi? Jangan jangan semua warga nanti akan kena imbasnya. Nah, makanya monggo kita geledah rumah Tusuk Sate itu!," Warga yang lain menimpali.


Suasana semakin riuh, dibarengi rintik hujan yang sedari tadi enggan untuk berhenti. Akhirnya warga pun memutuskan untuk segera bergerak, berjalan menuju Rumah Tusuk Sate.


*B*ersambung . . .


Catatan: Untuk yang lupa dengan karakter Prapto, bisa dibuka lagi BAB 5.

__ADS_1


__ADS_2