
Sabtu, 31 Desember 2016.
Tiga hari setelah peristiwa terbakarnya Rumah Tusuk Sate. Mas Adi duduk bersantai di pos jaga. Kaki kanannya masih dibalut perban. Ada sedikit bengkak di bagian pergelangannya. Sedari tadi Mas Adi memperhatikan jam tangan yang dia kenakan.
Saat waktu menunjukkan pukul 2 siang, terdengar suara motor berhenti tepat di depan pos jaga. Mas Adi melongok melihat siapa yang datang. Ternyata seorang wanita berpakaian rapi, memakai baju terusan berwarna krem dengan jaket kulit coklat yang terlihat cocok. Saat helm dilepas, rambut pendek sebahu nampak berkilau.
Dialah Sinta, wanita yang Mas Adi selamatkan dari rumah tusuk sate itu kini berusaha menjalani kehidupannya dengan lebih baik. Dia sudah pindah rumah, juga mulai membuka usaha kue kecil kecilan. Hari ini dia memang ada janji bertemu dengan Mas Adi.
"Baru potong rambut?," Mas Adi bertanya, memperhatikan Sinta yang senyum senyum di hadapannya.
"Aneh ya?," Sinta balik bertanya.
"Nggak. Cantik," jawab Mas Adi pendek. Sinta merona mendengarnya.
"Apa? Ulangi lagi dong," Sinta tersenyum manja.
"Ayuk berangkat," Mas Adi melengos mengalihkan percakapan. Dia berjalan mendahului Sinta. Kemudian duduk di jok belakang motor matic Sinta.
"Ayooo," Mas Adi memanggil Sinta yang masih bengong di tempatnya berdiri. Sinta menghela nafas, kemudian menuruti ajakan Mas Adi.
"Seharusnya cowok itu yang di depan, bukan malah minta bonceng," Sinta memakai helm sambil menggerutu.
"Lha gimana, wong kakinya lagi sakit," Mas Adi menjawab cuek.
Sinta diam saja tak menanggapi. Dia menghidupkan motornya kemudian menarik gasnya pelan. Dia sempat melihat kaca spion, nampak Mas Adi tertawa puas.
"Seneng ya, diojekin cewek cantik," Sinta mengejek.
"Gratis pula," Sahut Mas Adi sembari tertawa.
Mas Adi dan Sinta hari ini memang sudah janjian untuk datang ke rumah sakit menjenguk si Tarji. Rekan kerja Mas Adi itu ternyata mendapatkan luka yang cukup serius di bagian belakang kepalanya.
* * *
__ADS_1
"Gimana bro? Kok betah banget dirawat disini?," Mas Adi tersenyum menatap Tarji yang masih terbaring di tempat tidur. Kepalanya diperban, rambutnya dibotaki.
"Betah dong, perawatnya cantik cantik," Tarji mengedipkan sebelah matanya.
"Ehh, si semprul," Mas Adi memukul lengan sahabatnya itu sedikit keras.
"Hallo Mbak Sinta, gimana kabar?," Tarji beralih, bertanya basa basi pada perempuan yang berdiri di sebelah Mas Adi.
"Kabar baik Mas. Mas Tarji gimana?," Sinta tersenyum, terlihat cantik dan anggun.
"Luka begini sih nggak pa pa Mbak. Aku itu lebih kuat dari si Adi lhoo," Tarji mengangkat ibu jari tangannya.
"Halah, prett," Mas Adi mencibir. Sinta tertawa pelan melihat tingkah kocak dua orang di hadapannya itu.
"Di, ngomong ngomong gimana kasus itu? Sudah selesai ya berarti? Prambudi sebagai tersangka utama telah tewas," Tarji nampak serius dengan pertanyaannya kali ini.
"Yah, begitulah," Mas Adi menghela nafas.
"Orang orang pengikut sekte sudah kita jebloskan ke penjara. Namun, mereka semua tidak mau memberikan keterangan apapun. Mereka memilih bungkam, jadi kita tidak pernah tahu siapa sebenarnya dalang dan pemimpin dari sekte ini," Mas Adi berjalan membuka jendela kamar. Udara dan sinar matahari yang hangat langsung menerpa wajahnya.
Ada rasa bersalah di hati Mas Adi hingga saat ini. Dia merasa gagal tak bisa menyelamatkan seseorang yang dia anggap sebagai adik. Teringat kembali kejadian malam itu, Mas Adi terdiam menodongkan pistolnya pada Prambudi. Sejatinya dia tidak benar benar ingin menembaknya. Namun siapa sangka Prambudi malah merebut pistol itu kemudian mengarahkan pada tubuhnya sendiri. Mas Adi hanya bisa tertegun, memandangi tubuh Prambudi bersimbah darah.
"Ngomong ngomong, apa kamu sudah menemukan dimana keberadaan Amanda anak Prambudi dan Mbak Citra?," Tarji kembali bertanya. Mas Adi menggeleng pelan.
"Gadis itu lenyap. Tidak ada jasad anak kecil yang ditemukan di rumah yang terbakar. Aku pun heran, kemana perginya bocah sekecil itu?," Mas Adi mendesah pelan. Kepalanya terasa berdenyut.
* * *
Jam 4 sore Sinta membonceng Mas Adi menyusuri jalanan semen di wilayah kecamatan K. Mereka berhenti di sebuah puing puing rumah di ujung pertigaan. Rumah yang hanya menyisakan bagian temboknya saja yang terlihat hangus di beberapa bagian.
Mas Adi dan Sinta berjalan menuju ke kebun belakang. Seikat bunga yang indah berwarna merah segar dibawa oleh Mas Adi. Dia berjongkok di sebuah gundukan tanah di antara lebatnya tanaman ketela pohon.
"Mbak Retno, maafin aku ya Mbak. Aku terlambat menemukanmu. Aku gagal menjaga keluarga kita. Maafkan aku," Mas Adi meletakkan bunga pada gundukan tanah di hadapannya. Dari sudut matanya terlihat cairan bening yang menetes perlahan. Sinta mengusap pundak Mas Adi dengan lembut.
__ADS_1
Saat Sinta dan Mas Adi hendak pergi meninggalkan puing puing rumah tusuk sate itu, datang seorang pria dengan sorot mata yang tajam. Dia melihat Sinta dan Mas Adi dengan penuh tanda tanya.
"Siapa kalian?," Pria itu bertanya.
"Saya Adi, dan ini Sinta. Saya adalah polisi yang kebetulan bertugas menyelidiki kasus di rumah ini kemarin. Anda siapa?," Mas Adi balik bertanya.
"Aku anaknya Mbah Kadir," jawab pria itu singkat.
"Suaminya Mbak Retno?," Mas Adi bertanya antusias.
"Ya, begitulah. Kamu. . .kenal istriku?," Pria itu kembali bertanya.
"Aku adik Mbak Retno di panti dulu," Mas Adi menjabat tangan dan mencium punggung tangan pria itu. Meskipun ekspresi pria itu terlihat kebingungan Mas Adi tidak mempedulikannya.
"Terimakasih telah memberi kehidupan yang bahagia untuk Mbak Retno. Terimakasih sudah menghadirkan cinta pada Mbak Retno," Mas Adi membungkuk. Dia benar benar tulus mengucapkan kalimatnya.
"Aku, tidak berhasil menjaganya," Pria itu nampak bersedih.
"Aku, setelah kepergiaannya benar benar menjadi pecundang. Aku melupakannya, lupa wajahnya, lupa kejadian sebenarnya, lupa betapa aku mencintainya," Pria itu mengusap matanya yang tampak memerah.
"Anda berada dalam pengaruh mantra kan," Potong Mas Adi.
"Yah apapun itu, aku merasa lemah sebagai seorang laki laki sekaligus suaminya," Pria itu menatap rumah yang hanya menyisakan puing puingnya saja.
"Aku terlepas dari mantra setelah Bapak meninggal. Aku kini bisa ingat lagi bagaimana paras cantik istriku itu," Pria itu bergumam lirih.
"Oh iya, mau mampir ke rumah? Rumah bekas tempat tinggal Bapak maksudku," Pria itu tersenyum ramah kali ini.
"Mungkin lain kali saja pak . . .?," Mas Adi terdiam, dia belum tahu nama pria di hadapannya itu.
"Diran," dengan cepat pria yang bernama Diran itu menjabat kembali tangan Mas Adi. Kali ini terasa lebih erat.
Saat berjabat tangan untuk yang kedua kalinya itulah, Mas Adi melihat di pergelangan tangan pria yang bernama Diran itu terdapat sebuah lebam baru yang membiru.
__ADS_1
Bersambung . . .
Lhooo kok masih bersambung terus? Katanya tinggal 1 bab? uppss sorry, satu lagi ya 😀