Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Peringatan


__ADS_3

Setelah beberapa hari yang lalu bertemu dengan sosok wanita pemakan daging mentah, Rohmat merasa kurang sehat. Badannya menggigil kedinginan dan terus menerus merasa mual mual. Sebagai pria bujangan, sakit pun Rohmat harus bisa mengurus dirinya sendiri.


"Nasih nasib, badan rasanya kayak digebukin tapi tetep harus kerja. Duit e habis, j*mput!," Rohmat memaki maki dirinya sendiri.


Koyok cabe tertempel di pelipisnya sejak kemarin malam. Pagi ini Rohmat bertekad untuk keliling berjualan kembali. Persediaan uang semakin menipis, hanya tersisa uang modal berdagang.


Rohmat berjalan gontai menuju ke dapur, menghidupkan kompor dan memasak air. Dia perlu membasuh tubuhnya yang sudah berhari hari tak menyentuh air dan sabun. Aroma menyengat keringat yang bercampur aroma obat, asem asem pahit.


Setelah air terasa hangat suam suam kuku, Rohmat menuangkannya ke bak mandi. Kemudian dia gosok gigi, cuci muka dan membasuh tubuhnya dengan air hangat. Beberapa kali dia bersin, meskipun airnya cukup hangat namun udara pagi benar benar terasa dingin menusuk tulang.


Rohmat memakai baju tebal dan sebuah jaket berbahan parasit tahan air. Tak lupa dia memasang koyok cabe di keningnya, juga di bagian leher. Berharap semua itu bisa memberikan rasa hangat di tubuhnya.


Rohmat menyambar motor bututnya yang terparkir di halaman depan rumah. Motor keluaran tahun 2008 dengan lecet disana sini, serta debu dan lumpur yang menempel tebal hampir di seluruh bagiannya.


Setelah dipanasi sebentar, Rohmat menarik gas motornya dalam dalam. Motor butut dengan keranjang wadah sayur di jok belakangnya melesat di tengah pekatnya kabut dan udara dingin pagi hari. Rohmat menutup kaca helmnya, udara dingin membuat bibirnya sedikit membiru.


Sampai di pasar induk, Rohmat segera memilih sayur dan bahan makanan untuk dijual. Dia mengusap usap tangannya sendiri yang terasa dingin.


"Hyuhh, dinginnya . .," Rohmat menggerutu sambil mengambil beberapa sayur kol dan wortel.


"Heh Rohmat, kemana saja kamu? Berhari hari tak nampak batangmu. Eh batang hidungmu maksudku," Penjual sayur cengengesan menggoda Rohmat.


"Nih, matamu nggak lihat!," Rohmat menjawab ketus sambil menunjuk nunjuk koyok yang tertempel di keningnya.


"Apa itu? Ngapain kepala ditempel tempel kayal gitu?," Penjual sayur berlanjut meledek Rohmat.

__ADS_1


"Ku doakan kamu bakalan masuk angin kayak aku biar tahu rasa. Doa orang teraniaya itu mujarab," Rohmat bersungut sungut.


"Ha ha ha. . .doa buruk akan kembali ke yang berdoa kau tahu," Penjual sayur tertawa lebar. Rohmat akhirnya hanya bisa pasrah menerima ejekan para penghuni pasar induk.


"Lagian ya Mat, kamu itu umur juga udah lumayan matang. Kerjaan juga ada, kok nggak segera nyari pasangan? Nunggu apa? Membusuk?," Goda pedagang sayur lainnya.


"Setidaknya kalau kepalamu pusing kayak gitu, bakal ada yang mijitin, ngelus elus, pusingmu ilang Mat Mat," Pedagang lainnya menimpali.


Rohmat diam saja. Bukan berarti dia terbiasa diolok olok seperti itu. Namun, dia tidak punya jawaban ataupun balasan atas ejekan ejekan para pedagang pasar. Rohmat sebenarnya juga sakit hati. Hampir semua orang mengolok olok Rohmat karena tak kunjung menikah. Mereka berdalih hal itu tak lebih dari sekedar guyonan ataupun pemberian motivasi untuk Rohmat. Namun sebenarnya guyonan semacam itu merupakan bentuk perundungan yang membuat mental Rohmat jatuh.


Rohmat sendiri pada dasarnya pengen juga segera menikah, dan berumahtangga. Namun, mencari pasangan tidak semudah yang dikatakan semua orang. Bukan karena dia pemilih, bukan pula karena dia tidak sadar diri, namun lebih karena belum ada yang terasa pas di hatinya.


Rohmat pernah beberapa kali menjalin hubungan. Dengan gadis penjaga warnet, penjaga toko, ataupun anak kuliahan. Namun memang nasibnya lagi apes, semua yang pernah dekat dengannya selalu berakhir dengan pengkhianatan. Para mantan Rohmat lebih memilih mencari laki laki yang lebih mapan secara ekonomi.


Berusaha untuk tidak mendengarkan ejekan orang orang, waktu terasa berjalan lambat. Setengah jam Rohmat memilih bahan masakan, akhirnya gerobaknya telah terisi penuh. Rohmat segera menghidupkan motornya, kupingnya terasa begitu panas di tengah dinginnya udara pagi hari.


"Sayy sayyy sayyuuurrrr," Rohmat berteriak, suaranya serak.


Rohmat masuk di gang demi gang menjajakan dagangannya. Banyak pelanggan tetapnya bertanya, kenapa kemarin dia tak muncul berjualan.


"Badanku sakit semua," Kalimat itu yang terucap dari mulut Rohmat.


Biasanya Rohmat begitu suka bergosip dengan ibu ibu. Membahas tentang kejadian kejadian di lingkungan sekitar ataupun berita artis yang ada di layar kaca. Namun, kali ini dia lebih memilih diam saja. Padahal dia memiliki bahan gosip yang dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Ada seorang perempuan di rumah yang disebut rumah tusuk sate berbelanja padanya dan memakan daging ayam mentah.


Mungkin karena saat ini kondisi Rohmat sedang tidak fit, atau mungkin dia memang enggan menceritakan kisah yang dialaminya sendiri. Rohmat hanya mendengarkan apa yang ibu ibu obrolkan tanpa ikut nimbrung di dalam obrolan.

__ADS_1


Setelah beberapa saat berkeliling, akhirnya Rohmat sampai di jalanan semen. Dan setelah belokan di depan dia akan bertemu dengan rumah tusuk sate yang kemarin membuatnya ketakutan hingga jatuh sakit. Rohmat memacu motornya, berusaha lebih cepat demi menghindari rumah suram nan seram tersebut.


Namun, nyatanya Rohmat harus menghentikan laju motornya. Seorang laki laki memakai kaos oblong berwarna krem memintanya berhenti. Prambudi, sang penghuni Rumah Tusuk Sate terlihat menunggu Rohmat, mengayun ayunkan tangan dan memanggil Rohmat.


"Belanja Mas?," Rohmat bertanya, berusaha ramah. Dia menperhatikan Prambudi. Di mata Rohmat, Prambudi adalah sosok yang tampan rupawan. Badannya tegap dan kekar, dengan garis wajah dan rahang yang terlihat tegas. Sungguh berbeda jauh jika dibandingkan dengannya. Perjaka tambun, dengan aroma minyak angin dan koyok di pagi hari.


"Istrinya kemana Mas?," Rohmat bertanya. Entah kenapa dia ingin mengajak ngobrol Prambudi.


"Lagi tidur," Jawab Prambudi berbohong.


"Mas, maaf maaf nih ya sebelumnya. Sebaiknya Mas sama istri pindah deh dari rumah ini," Rohmat berkata setengah berbisik. Padahal sedari tadi dia nggak membahas sama sekali soal seramnya rumah itu, namun saat melihat Prambudi dia merasa peduli.


"Kenapa Bang?," Prambudi bertanya datar.


"Serem Mas. Kasihan mbak Citra, istrinya Mas kalau tinggal disini terus," Rohmat mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah.


"Bang, aku punya nasehat buatmu," Prambudi telah selesai memilih beberapa potong tempe dan sayuran segar. Rohmat menoleh, menatap Prambudi yang kali ini terlihat menatapnya dengan tajam.


"Jangan suka ngurusin hidup orang. Jangan pernah menatap istri saya dengan pandangan penuh n*fsu yang menjijikkan! Apa kau pikir saya tak tahu? Kau menatap istri saya dan jakunmu naik turun menelan ludah. Itu menjijikkan bangs*t!," Prambudi melotot.


Sebuah kalimat yang sama sekali tidak disangka oleh Rohmat akan keluar dari mulut Prambudi. Sebuah kalimat ancaman dengan sorot mata yang menakutkan. Rohmat mundur beberapa langkah.


"Ini uang untuk sayurnya. Kembaliannya simpan saja buatmu," Prambudi meletakkan selembar uang lima puluhan ribu di gerobak sayur Rohmat.


Tanpa disuruh, Rohmat segera mengambil uang di gerobaknya dan dengan terburu buru menghidupkan motornya. Rohmat segera pergi meninggalkan Prambudi yang masih memelototinya dari kejauhan.

__ADS_1


Bersambung . . .


__ADS_2