
Citra terbangun jam 6 pagi. Dia masih berada dalam dekapan Prambudi saat membuka mata. Moodnya pagi ini terasa jauh lebih baik dibanding hari hari sebelumnya. Memang harus diakui, aktivitas ranjang menjadi salah satu hal yang sangat menentukan kualitas hubungan pasangan suami istri.
Citra dan Prambudi berada dalam satu selimut. Sementara pakaian mereka masih tercecer di lantai atas. Citra menatap wajah suaminya yang masih tidur itu. Dia mengusap alis mata Prambudi yang begitu tebal, membuat sang pemilik alis membuka matanya perlahan.
Mata Prambudi dan Citra bertemu dalam diam. Senyum Citra terkembang begitu manis. Bibirnya yang tipis semburat kemerahan benar benar membuatnya semakin cantik.
"Cit?," Prambudi memanggil Citra setengah berbisik.
"Hmm?," Citra masih tersenyum. Wajah mereka begitu dekat satu sama lain, tatapan mereka begitu lekat. Mata adalah bagian tubuh manusia yang tak dapat berbohong. Perasaan cinta dan sayang tergambar jelas dari setiap sorot mata pasangan suami istri itu.
"Terimakasih, telah mewujudkan salah satu mimpiku," Prambudi mengecup kening Citra.
"Mimpi?," Citra meletakkan telapak tangannya yang mungil di pipi Prambudi.
"Iya. Aku yang sedari kecil tak pernah tahu seperti apa keluargaku. Aku yang tak pernah mengerti bagaimana rasanya memiliki orang orang terdekat. Aku yang tak pernah tahu apa artinya sebuah rumah. Kini aku mulai mendapatkannya. Aku mulai tahu, aku mengerti. Rumah bukanlah sekedar bangunan fisik tempat bernaung, tapi rumah adalah bangunan hati yang dibangun bersama orang orang tercinta," Prambudi mengucap kalimatnya, bola matanya terlihat bergetar dan berkaca kaca.
"Rumah adalah kamu, kita. Melakukan hal hal sepele, berdebat kecil, bermanja manjaan, dan menghabiskan sisa usia bersamamu," Ada bulir bulir hangat yang menetes di sudut mata Prambudi.
"Mas," Citra memanggil Prambudi lirih. Namun dengan cepat jari telunjuk Prambudi dia letakkan di bibir Citra, menyuruhnya untuk diam.
"Saat aku mulai kehilangan rasa percaya pada manusia, saat aku mulai tidak percaya pada keadilan dunia, kamu datang Cit. Kamu melengkapi kepingan di hatiku yang kosong," Prambudi membiarkan telunjuknya berada di bibir Citra.
"Begitupun aku Mas. Saat aku merasa duniaku telah runtuh, kamulah yang membawaku keluar dari keputusasaan," Citra memeluk Prambudi.
Banyak hal yang telah mereka lewati. Banyak air mata yang tumpah, sakit hati, dan rasa putus asa yang telah mereka lupakan. Kini, Prambudi hanya ingin hidup bahagia bersama anak dan istrinya. Apapun caranya dia telah bertekad untuk menempuhnya. Keluarga kecilnya itu adalah rumah, dunia dan hidup Prambudi saat ini.
Citra mendekap Prambudi begitu erat, kulit mereka saling bersentuhan. Dan seperti lelaki normal lainnya, pagi hari adalah waktu yang rawan untuk bersentuhan. Prambudi ingin melakukannya lagi. Dia menengok Amanda di tempat tidurnya, masih terlihat pulas. Prambudi menutupi dirinya dan Citra dengan selimut. Dan begitulah, pagi ini udara yang dingin kembali menghangat.
* * *
Selepas Prambudi berangkat kerja, Citra masih membereskan meja makan dan mencuci piring yang kotor. Saat itulah Amanda, putri kecilnya yang imut terbangun. Dengan masih berwajah bantal, dia berjalan ke dapur sambil menyeret boneka doraemonnya.
__ADS_1
"Aduuhh, anak mamah baru bangun," Citra menghampiri Amanda dan menggendongnya.
"Aku mau minum susu Mahh," Amanda merengek meminta susu.
"Oke sayang," Citra mengedipkan sebelah matanya.
Citra menurunkan Amanda dari gendongan, kemudian dengan cekatan menyiapkan susu hangat untuk putri kecilnya itu.
"Mah, tadi malam mamah sama yayah kemana sih?," Amanda bertanya sambil mengucek ngucek dua bola matanya.
"Eh? Tadi malam?," Citra sedikit kaget dengan pertanyaan Amanda. Jadi saat dia dan Prambudi bermesraan di lantai atas anak kecil itu terbangun.
"Iya Mah. Tadi malam aku kebangun, kebelet pipis. Mamah sama Yayah nggak ada. Padahal aku kan nggak berani kalau pipis sendirian," Amanda terasa memprotes pada Citra karena ditinggal sendirian di kamar.
"Ah, itu . . .Mamah sama Yayah ngopi sama ngobrol di lantai atas Nak. Maafin Mamah ya," Citra akhirnya berbohong, dia menjawab asal asalan saja. Citra meletakkan segelas susu hangat di hadapan Amanda.
"Terus, kamu ngompol berarti Nak?," Citra membelai lembut rambut Amanda yang panjang dan hitam legam.
"Ke kamar mandi sendiri?," Citra kembali bertanya pada putrinya itu.
"Enggak," Amanda menggeleng cepat.
"Lha terus?," Citra makin nggak ngerti dengan perkataan Amanda.
"Aku dianterin tante," jawab Amanda sambil meneguk susu hangatnya.
"Tante? Tante siapa Nak?," Citra sedikit meninggikan nada bicaranya. Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Tante yang baik hati Maaah," Jawab Amanda dengan wajah polosnya. Segelas susu telah habis tak tersisa setetespun.
"Siapa namanya Nak?," Citra menggenggam tangan Amanda, tengkuknya mulai meremang, dia merinding ketakutan.
__ADS_1
"Nggak tahu. Bukannya temennya Mamah?," Amanda balik bertanya pada Mamahnya.
"Tante itu ngapain kamu sayang? Ngomong apa dia?," Citra sedikit menggoncang goncangkan tangan Amanda. Rasa takut dan penasaran bercampur aduk di benaknya.
"Cuma ngantar Manda ke kamar mandi kok Mah. Tante itu senyum terus ke Manda. Oh iya, Tante itu ngomong kalau sering nginap disini Mahh," Amanda terlihat mengingat ingat. Citra menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.
"Memangnya Tante itu kalau menginap disini tidur dimana Nak?," Citra menatap Amanda dengan tajam. Dalam hatinya dia bisa menebak jawaban dari pertanyaannya sendiri.
"Di kamar atas Mah," Amanda menjawab cepat.
Citra mengambil gelas dan menuangkan air putih dari dispenser. Dia merasa harus membasahi tenggorokannya. Citra meminum air dengan terburu buru, menghabiskan satu gelas penuh dalam satu tegukan.
"Manda sayang . . .kamu harus berjanji sama Mamah, kalau ada Tante itu lagi, panggil Mamah. Kamu nggak boleh bicara ataupun berteman dengan Tante itu. Kamu mengerti?," Citra melotot pada Amanda. Terlihat jelas raut wajah yang teramat ketakutan.
"Kenapa Mah?," Amanda merasa sedikit takut pada Mamahnya. Amanda hafal betul, Mamahnya jarang marang tapi kali ini Mamahnya itu memelototinya.
"Kan Manda nggak boleh berteman sama orang asing. Kita nggak tahu Tante itu baik atau jahat Nak," Citra memberi alasan.
"Tapi Tante itu baik Maahh. Cantik, murah senyum juga," Amanda memprotes.
"Manda!," Citra semakin melotot, nafasnya memburu.
Amanda langsung menunduk ketakutan. Anak kecil itu menahan tangis. Citra yang menyadari dirinya telah membuat takut Amanda akhirnya mendekap putri semata wayangnya itu. Dia membelai lembut rambut Amanda.
"Manda . . , Mamah hanya nggak ingin Manda bergaul sama orang yang nggak dikenal. Mamah janji deh, nggak akan meninggalkan Manda sendirian lagi. Oke sayang?," Citra mengecup pipi Amanda.
"Iya Maahh," Amanda mengangguk setuju.
"Yasudah, habis ini kita ke tempat Bu Utami saja yuk," Citra tersenyum, berusaha menenangkan dirinya. Amanda diam saja kali ini tak menjawab.
Citra bergegas membereskan meja makan, kemudian mengunci pintu belakang. Sedikit terburu buru Citra mengajak Amanda keluar dari rumah menuju ke tempat Bu Utami. Citra merasa lebih baik menunggu suaminya pulang kerja di rumah tetangga seperti biasanya.
__ADS_1
Bersambung . . .