
Tubuh tambunnya berjalan perlahan membuka tirai jendela yang berwarna putih bersih. Seorang perempuan terbaring tanpa busana di sebelah tempat tidurnya. Perempuan muda itu terlihat cantik, dengan rambut tergerai, tertidur begitu pulas. Sebatang cerutu dihisap dan dihembuskan sambil memandangi wajah perempuan yang mungkin seusia dengan putrinya.
Pak Doto tersenyum puas, laki laki tua itu merasa benar benar beruntung bisa menikmati masa tuanya. Harta yang terasa tak habis tujuh turunan, bisnis lancar dan pesaing yang selalu ketakutan setiap mendengar namanya. Jika dia menginginkan apapun, hanya tinggal tunjuk saja. Makan enak, tidur nyenyak, wanita wanita muda yang menggoda, dia sudah mendapatkan segalanya.
Drrtt drttt drttt
HP nya di atas meja bergetar, sebuah pesan masuk.
"Halah, ngapain juga si nenek ini. Ngeganggu semangat pagiku saja," Pak Doto menggerutu, mengetahui pesan WA yang masuk dari istrinya.
Istrinya bertanya pada Pak Doto, kemana saja kok belum juga pulang ke rumah. Padahal Pak Doto ditunggu di rumah oleh anak dan cucunya. Pak Doto membalas pesan istrinya itu, bahwa dia harus ke rumah Ki Sapta untuk memperlancar kegiatan bisnisnya.
"Kenapa Om? Kok kelihatan kesal?," Perempuan cantik di hadapan Pak Doto bertanya, dia terlihat duduk membiarkan tubuh indahnya di tatap Pak Doto dengan senyuman tipis di balik kumisnya yang lebat.
"Biasa, istriku banyak tanya," Pak Doto kembali menyesap cerutunya.
"Kalau udah nggak cocok kenapa nggak berpisah saja? Daripada bertahan tapi saling menyakiti," Perempuan itu tersenyum nakal, kulitnya begitu putih bersih tertimpa sinar matahari pagi.
"Ha ha ha, kamu jangan sok tahu. Begini begini, aku itu terkenal sebagai pengusaha kaya raya, setia dan sayang sama istri," Pak Doto terkekeh.
"Untuk apa gelar ataupun ketenaran seperti itu om?," Perempuan itu beranjak dari tempat tidurnya. Berjalan berlenggak lenggok di hadapan Pak Doto tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya.
"Nama baik itu sangat penting dalam sebuah bisnis kau tahu. Konsumen, pelanggan, pihak penanam modal, semua orang itu menyukai seorang pebisnis yang memiliki kehidupan tanpa noda hitam. Makanya dalam duniaku ini, se busuk busuknya bangkai yang kuhasilkan maka harus tertutup rapat dan tak tercium baunya oleh siapapun," Pak Doto menarik tangan perempuan itu, kemudian memangku tubuh langsingnya.
"Jangan banyak tanya, tugasmu kan bukan itu," Pak Doto menyeringai, asap cerutu berputar putar di udara terasa memabukkan.
__ADS_1
* * *
Wiryo berjalan tergopoh gopoh menuju basemen hotel, tempat mobil majikannya terparkir. Sinar matahari terasa menyengat, siang kali ini terasa cukup terik. Wiryo yang baru saja menikmati bersantai di kolam renang hotel mendadak mendapat telepon dari Pak Doto untuk segera membawa mobilnya ke depan lobi.
Wiryo menyalakan mobil, dan dalam sekejap segera meluncur ke tempat yang diminta Pak Doto. Majikannya itu terlihat berdiri di depan pintu lobi hotel dengan ekspresi yang tidak sedap dipandang.
"Lama sekali brengsek! Lemot mu ngalah ngalahin bekicot!," Pak Doto langsung marah marah saat Wiryo turun dari mobil membukakan pintu untuknya.
"Maafkan saya Tuan," Wiryo membungkuk dan menunduk. Dia hafal betul majikannya tidak menerima alasan apapun jadi hanya ucapan maaf yang bisa Wiryo utarakan saat ini.
"Kita ke tempat Ki Sapta sekarang," Pak Doto memberi perintah.
"Baik Pak," Wiryo mengangguk, dengan segera menginjak pedal gas.
Rumah Ki Sapta seperti biasa terasa lengang dan sunyi. Namun ternyata kali ini berbeda dari biasanya. Saat Pak Doto dan Wiryo mengetuk pintu dan memanggil manggil Ki Sapta, tak ada yang menyahut sama sekali. Pintu pun tertutup rapat, sepertinya memang tidak ada orang di rumah. Beberapa kali Pak Doto mencoba menelepon Ki Sapta, juga tak ada jawaban.
"Kelihatannya Ki Sapta tidak ada di rumah Tuan," Wiryo mengintip ke dalam rumah melalui jendela.
"Sudah tahu. Aku juga punya mata, nggak usah banyak omong kamu!," Pak Doto membentak. Dia terlihat masih kesal pada sopirnya itu.
Sreekk Sreekk Sreekkk
Terdengar sebuah suara dari samping rumah. Suara seperti benda yang menggesek gesek tanah. Suara yang awalnya terdengar di kejauhan dan semakin lama semakin mendekat. Wiryo dan Pak Doto saling bertukar pandang dalam diam. Dalam benak mereka berdua timbul pertanyaan yang sama, suara apa gerangan itu?
Pak Doto mengedipkan sebelah matanya, memberi perintah agar Wiryo pergi memeriksanya. Wiryo sedikit ragu, terpaksa dia mengintip dari balik tembok dengan perlahan. Dan ternyata, ada seorang nenek renta terlihat berjalan memakai sebuah tongkat kayu sambil menggendong setumpuk rumput untuk pakan ternak. Nenek itu menoleh memperhatikan Pak Doto dan Wiryo yang diam mematung.
__ADS_1
"Kalian sedang apa? Nyari Sapta?," Tanya nenek tersebut dengan suara serak dan bergetar.
"Ah iya Mbah," jawab Wiryo sambil menelan ludah.
Wiryo sedikit merasa takut dan merinding memperhatikan wajah si nenek. Kulit wajah yang keriput dengan rambut putih seluruhnya, terurai dan menutupi bagian wajahnya. Jalannya pelan dan terbungkuk. Tatapan matanya pun terlihat begitu dingin dan tajam.
"Sapta sudah mati. Kemarin malam tiba tiba saja dia kena serangan jantung. Terus istri muda ne minggat entah kemana," Ucap sang nenek dengan raut wajah yang datar.
"Hidup itu selalu tentang pilihan. Baik dan buruk hidup yang dijalani tergantung pilihan dari manusia itu sendiri. Mengambil jalan buruk dalam hidup selalu ada hukumannya. Bisa jadi hukuman itu ada di dunia ini atau mungkin juga di dunia sana. Yang jelas umur manusia tidak ada yang tahu. Kalian pun belum tentu bisa melihat matahari besok pagi," Ucap nenek itu sambil berjalan terseok seok, pergi berlalu meninggalkan Pak Doto dan Wiryo yang sekali lagi saling bertukar pandang dalam diam.
Sepeninggal sang nenek, Pak Doto dan Wiryo kembali masuk ke dalam mobil. Wiryo menyalakan mobil dan segera pergi meninggalkan rumah Ki Sapta. Sementara Pak Doto terlihat termenung duduk di kursi belakang. Entah bagaimana, ucapan nenek tadi seperti terngiang ngiang di benak Pak Doto dan mempengaruhi hatinya saat ini.
Wiryo mengendarai mobil dengan sangat hati hati. Jalanan berbatu yang mereka lewati begitu terjal. Kondisi diperburuk dengan cuaca yang tiba tiba saja berubah. Mendadak hujan turun dengan lebatnya. Daya cengkeram ban semakin berkurang, jalanan terasa semakin licin.
Derasnya hujan juga cukup mengganggu penglihatan Wiryo. Guntur terdengar bersahut sahutan, sesekali kilat terlihat menerangi langit selama sekian detik.
"Wiryo, maafkan aku jika selama ini ada salah sama kamu," Ucap Pak Doto tiba tiba. Entah apa maksud perkataannya itu.
Belum sempat Wiryo menjawab, sebuah petir yang dahsyat menyambar pohon tepat di sebelah kiri mobil yang sedang melaju. Pohon terbakar sebentar kemudian ujung dahannya jatuh meluncur dari ketinggian.
Wiryo yang terkejut, refleks membanting kemudi mobil ke kanan. Naas, mobil yang dikendarai Wiryo malah terjun bebas ke dalam jurang. Mobil berguling beberapa kali hingga akhirnya berhenti ketika menghantam sebuah pohon pinus besar di dasar jurang.
Hujan lebat terus mengguyur. Dan di sekeliling pohon yang masih terbakar bekas sambaran petir, terlihat beberapa sosok berdiri berjejer memakai semacam jas hujan bertudung hitam.
Bersambung . . .
__ADS_1