
"Kamu ingat malam dimana panti tempat tinggal kita terbakar?," Prambudi bertanya pada Mas Adi. Wajahnya terlihat sendu.
Mas Adi duduk mendekat pada Prambudi. Dia masih cukup waspada, mengingat sosok Prambudi terlihat tidak lagi seperti manusia pada umumnya.
"Malam itu Mbak Retno hendak dijemput oleh kumpulan orang orang yang sekarang sedang kau hadapi Di," Prambudi menarik nafas panjang, matanya mengawang.
"Siapa sebenarnya orang orang ini?," Mas Adi kali ini berinisiatif untuk bertanya.
"Sebuah sekte. Yang sangat besar jumlah pengikutnya. Mereka sudah menguasai hampir semua sektor kehidupan di tempat tinggal kita Di. Anggota mereka tersebar dimana mana. Malam itu, pemilik panti berusaha melindungi Mbak Retno agar tidak dibawa oleh orang orang ini. Aku melihatnya sendiri bagaimana pemilik panti dikepung oleh orang orang berbaju hitam. Pemilik panti yang kita pikir adalah sosok yang jahat, namun nyatanya dia begitu melindungi Mbak Retno," Prambudi tersenyum sekilas, lebih terlihat seperti seringai hewan buas.
"Entah bagaimana pemilik panti tahu kelemahan orang orang ini. Kelemahan mereka adalah api. Namun sayang, karena kalah jumlah pemilik panti pada akhirnya terkepung, dia dibunuh dengan keji. Mbak Retno dengan keberaniannya memungut obor dari pemilik panti dan menyulut korden kamar. Hingga akhirnya terjadilah kebakaran itu," Prambudi kembali menghela nafas.
"Sekte ini mewajibkan anggotanya untuk mengorbankan wanita yang sedang dalam keadaan datang bulan dalam sebuah ritual. Mereka menyebutnya sangang mantu. Sembilan mantu, jadi untuk menyelesaikan ritual tersebut harus disiapkan 9 orang korban," Prambudi menatap Mas Adi.
"Terus kenapa Mbak Retno hendak dijemput oleh orang orang ini? Apa hubungan Mbak Retno dengan sekte?," Mas Adi kembali bertanya.
"Itu karena orangtua Mbak Retno adalah anggota dari sekte. Orangtua Mbak Retno tewas gantung diri sebelum menyelesaikan ritual. Sehingga ritual sangang mantu diwariskan pada anak keturunannya. Orang orang dari sekte ini bisa mendeteksi darah keturunan anggotanya. Makanya mereka bisa menemukan Mbak Retno," Prambudi menghentikan ceritanya sejenak
"Lalu, akibat kebakaran pada malam itu orang orang dari sekte gagal membawa Mbak Retno. Mbak Retno lari dari panti, begitupun aku. Dan waktu itu kupikir kamu sudah tiada, terjebak di dalam kamar yang terbakar. Ternyata kamu masih dinaungi keberuntungan," Prambudi terkekeh.
"Dan akhirnya, kita bertiga memiliki kehidupan masing masing. Aku yang berusaha bekerja keras untuk memperoleh kebahagiaan. Kamu dan Mbak Retno juga menjalani hidup yang akupun tak tahu seperti apa. Kupikir masa lalu kita sudah selesai, lembaran baru telah datang dan kebahagiaan bisa aku raih. Namun, harapan itu sirna saat aku mendapatkan sepucuk surat dari Mbak Retno," Prambudi menghela nafas kembali.
__ADS_1
"Surat?," Mas Adi mengernyitkan dahi.
"Sepucuk surat, yang isinya menceritakan bagaimana awalnya Mbak Retno bisa berbahagia menikahi orang yang menerima dan menyayanginya secara tulus. Hingga orang orang dari sekte datang kembali, mereka berhasil menemukan Mbak Retno untuk kedua kalinya. Mereka mengingatkan bahwa Mbak Retno memiliki hutang sangang mantu yang harus diselesaikan. Tidak ada pilihan lain bagi keturunan pengikut sekte. Jika dia tidak menyelesaikan sangang mantu, hidupnya takkan pernah tenang. Dia akan menerima teror, arwah arwah wanita yang telah menjadi korban mantu, akan terus mengganggu hidupnya. Dan satu hal lagi, orang orang dalam sekte yang sudah mencapai usia dewasa dengan angka sama yaitu 22 tahun, akan secara tiba tiba menderita lebam dan memar di sekujur tubuhnya. Tanda lebam hanya bisa berkurang dan hilang ketika ritual mantu dilakukan," Prambudi memegangi keningnya yang terasa pusing. Kesadarannya semakin terasa memudar.
"Terus sekarang, dimana Mbak Retno Pram?," Mas Adi memotong penjelasan Prambudi. Mas Adi menjadi tidak sabaran, kala mendengar penjelasan Prambudi.
"Mbak Retno hanya sanggup menjalani satu kali ritual mantu. Hatinya yang lembut, membuatnya merasa bersalah. Dari surat terakhir yang dia kirimkan padaku, dia menceritakan kalau dia sudah tak tahan lagi hidup dalam ketakutan seperti itu. Dan beberapa hari setelahnya Mbak Retno menghilang, di rumah ini. Bagai ditelan asap," Prambudi termenung sesaat, begitupun Mas Adi.
"Aku pindah kesini, menyelidikinya. Hingga kutemukan sebuah makam di kebun belakang rumah ini. Aku yakin itu Mbak Retno, dia sudah tidak ada di dunia ini, dia telah bunuh diri," Prambudi menitikkan air mata. Mas Adi pun nampak terpukul dengan penjelasan Prambudi.
"Lalu, bagaimana dengan suaminya yang kabarnya pergi keluar negeri? Apa kamu tidak curiga, mungkin saja kan suaminya yang mencelakai Mbak Retno?," Mas Adi kembali bertanya. Prambudi menggeleng pelan.
"Dalam suratnya, Mbak Retno menceritakan kalau suaminya begitu sayang padanya. Menurutku, suami Mbak Retno tahu kematian istrinya itu. Mungkin dia begitu terpukul melihat Mbak Retno bunuh diri. Dan Mbah Kadir, mertua Mbak Retno yang merupakan seorang dukun memantrai anaknya agar terlupa pada sosok istrinya. Dia lupa istrinya bunuh diri, dia juga lupa bagaimana wajah istrinya. Kenapa aku menyimpulkan demikian? Itu tergambar dari lukisan pengantin tanpa wajah yang terpasang di ruang tamu. Suami Mbak Retno rindu sosok istrinya, tapi tidak mampu mengingat wajahnya," Prambudi tersenyum masam.
"Logis? Kamu berbicara logika, padahal di hadapanmu aku berwujud siluman harimau seperti ini?," Prambudi terkekeh, mencibir Mas Adi.
"Lalu, kenapa kamu yang tahu cerita Mbak Retno sedemikian tragis malah masuk ke dalam sekte ini? Apa yang kamu dapatkan dari sekte dan ritual sialan ini?," Mas Adi geram, tangannya terkepal erat.
"Harta, kekayaan, dan kebahagiaan," jawab Prambudi cepat.
"Bagaimana mungkin kamu bisa bahagia, dengan menghilangkan nyawa orang lain brengs*k?," Mas Adi mencengkeram kerah baju Prambudi.
__ADS_1
"Kalau aku tak melakukan ritual sangang mantu, maka ritual ini akan terus diwariskan pada keturunanku. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk menyelesaikan ritual ini," Prambudi menatap Mas Adi begitu dalam. Bola matanya nampak bergetar.
"Apa maksudmu Pram? Jangan berbelit belit," Mas Adi masih mencengkeram kerah baju Prambudi.
"Mbak Retno dan aku adalah saudara kandung. Saat Mbak Retno tiada, maka kewajiban menyelesaikan ritual sangang mantu menjadi tanggung jawabku," Prambudi setengah berbisik.
"Hah? Kebohongan apa lagi ini? Darimana kamu mendapat kesimpulan gila semacam ini?," Mas Adi melepaskan cengkeraman tangannya, dia berdiri menjauhi Prambudi.
"Ya itulah faktanya Di. Aku dan Mbak Retno dibuang ketika orangtua kami merasa tak sanggup menyelesaikan ritual sangang mantu. Orangtua kami berpikir, hal itu bisa menyelamatkan kami. Namun, nyatanya sekte benar benar bisa mengendus keberadaan kami. Bahkan donatur terbesar dari panti tempat tinggal kita adalah salah satu pengikut sekte," Prambudi merasa kepalanya berdenyut hebat.
"Hidup ini lucu Di. Salah dalam mengambil suatu keputusan, maka akan berefek bukan hanya pada hidup kita sendiri, tapi juga pada garis keturunan kita," Prambudi berpegangan pada dinding. Dia mencoba untuk berdiri.
"Satu hal lagi. Kupikir, mungkin kalau kamu bisa menghentikan sekte ini. Karena kamu orang baik, rasa keadilanmu tinggi. Kuberitahu cara menemukan pengikut sekte. Mereka yang menjadi pengikut sekte, yang sudah menyelesaikan ritual sangang mantu memiliki tanda memar kebiruan di pergelangan tangan kirinya," Prambudi tersenyum.
Prambudi memegangi kepalanya, terasa kesadarannya semakin menghilang. Suara geraman yang keras dan menakutkan terdengar keluar dari mulutnya.
"Sekarang tembak aku Di. Bunuh aku, sebelum kesadaranku diambil alih oleh iblis. Meskipun aku adalah seorang penjahat, setidaknya biarkan aku mati sebagai seorang manusia," Prambudi memohon, beberapa butir air mata menetes membasahi pipinya yang mulai tumbuh bulu bulu halus secara instan.
Mas Adi merogoh pistol di celananya. Dia menodongkan senjata itu pada Prambudi. Tangannya gemetar, hatinya sakit. Sahabat sekaligus orang yang dia anggap sebagai adik, meminta padanya untuk diantarkan pada kematian.
DOOORRRRR
__ADS_1
*Be*rsambung . . .